NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:967
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mata yang Mengawasi

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

Ketiganya hanya menatap layar ponsel Dimas yang masih menyala.

Foto bangunan tempat mereka bersembunyi terpampang jelas di sana.

Tidak buram.

Tidak diambil dari jarak jauh.

Foto itu sangat jelas.

Terlalu jelas.

Seolah orang yang mengambilnya hanya berdiri beberapa puluh meter dari lokasi mereka.

Almira merasakan jantungnya berdetak semakin cepat.

Bukan karena ancaman itu sendiri.

Melainkan karena kesadaran yang muncul sesudahnya.

Seseorang sedang mengawasi mereka saat ini.

Mungkin dari balik bangunan.

Mungkin dari kendaraan yang terparkir di luar.

Mungkin bahkan dari jendela yang tidak mereka sadari.

"Matikan ponselnya."

kata Reynard.

Dimas langsung melakukannya.

"Kita harus pindah."

lanjut Reynard.

Dimas mengangguk.

Kali ini tanpa bantahan.

Mereka bergerak cepat meninggalkan bangunan tua itu.

Tidak ada lagi waktu untuk berdiskusi.

Tidak ada waktu untuk menganalisis.

Prioritas mereka hanya satu.

Pergi sejauh mungkin dari lokasi tersebut.

Senja mulai turun.

Langit Jakarta berubah menjadi perpaduan jingga dan abu-abu.

Bayangan bangunan kosong memanjang di atas tanah.

Menciptakan suasana yang membuat kawasan industri tua itu tampak lebih menyeramkan daripada sebelumnya.

Mereka bergerak melalui jalur sempit di antara gudang-gudang terbengkalai.

Rumput liar tumbuh tinggi di beberapa tempat.

Besi-besi tua berkarat berserakan.

Sesekali terdengar suara seng yang berderit diterpa angin.

"Aku punya tempat lain."

kata Dimas.

"Seberapa aman?"

tanya Almira.

"Tidak ada tempat yang benar-benar aman."

jawab Dimas.

"Tapi setidaknya tidak diketahui banyak orang."

"Jawaban yang menenangkan."

gumam Almira.

"Dia memang tidak pandai membuat orang tenang."

sahut Reynard.

"Dan kamu pandai?"

balas Almira.

"Jelas."

"Mengganggu orang bukan berarti menenangkan."

"Bagiku hampir sama."

Untuk pertama kalinya sejak menerima pesan ancaman, sudut bibir Almira terangkat.

Sedikit.

Sangat sedikit.

Namun Reynard melihatnya.

Dan entah kenapa, hal itu membuat ketegangan di dadanya sedikit berkurang.

Perjalanan menuju lokasi baru memakan waktu hampir empat puluh menit.

Mereka menggunakan kendaraan berbeda yang sudah disiapkan Dimas jauh sebelumnya.

Sebuah mobil tua berwarna abu-abu yang sama sekali tidak menarik perhatian.

Tempat tujuan ternyata sebuah rumah kecil di pinggiran kota.

Rumah sederhana yang tampak biasa dari luar.

Tidak ada pagar tinggi.

Tidak ada kamera mencolok.

Tidak ada tanda-tanda bahwa tempat itu menyimpan rahasia apa pun.

"Aku menyewa tempat ini dengan identitas lain."

kata Dimas.

Reynard mengangkat alis.

"Semakin lama aku mengenalmu, semakin terasa seperti sedang berada di film."

"Percayalah."

jawab Dimas.

"Aku juga tidak menyukai hidupku sekarang."

Begitu masuk ke dalam rumah, mereka akhirnya bisa bernapas sedikit lebih lega.

Meski hanya sedikit.

Rumah itu sederhana.

Ruang tamu kecil.

Dapur mungil.

Dua kamar.

Dan beberapa perlengkapan darurat.

Dimas segera menutup semua tirai.

Memastikan tidak ada orang yang bisa melihat dari luar.

Sementara itu Almira duduk di sofa tua yang ada di ruang tengah.

Baru saat itulah ia menyadari betapa lelah dirinya.

Dua puluh empat jam terakhir terasa seperti satu minggu.

Ia menyandarkan kepala ke sofa.

Memejamkan mata sejenak.

Lalu tiba-tiba sesuatu mendarat di pangkuannya.

Ia membuka mata.

Sebuah botol air mineral.

Reynard berdiri di depannya.

"Minum."

katanya singkat.

"Aku tidak haus."

"Itu bohong."

"Aku serius."

"Kamu selalu bilang serius saat berbohong."

Almira menatapnya.

"Kamu mulai menyebalkan."

"Aku sudah menyebalkan sejak pertama kali kita bertemu."

"Sayangnya itu benar."

Meski begitu, Almira tetap mengambil botol tersebut.

Dan tanpa sadar langsung meminumnya.

Reynard tersenyum kecil.

"Tuh, haus."

"Aku membencimu."

"Banyak orang mengatakan itu sebelum akhirnya menyukaiku."

Almira langsung melempar bantal sofa ke arahnya.

Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, suasana terasa normal.

Hanya sesaat.

Tetapi cukup berharga.

Malam semakin larut.

Dimas sibuk memeriksa dokumen.

Sementara Almira dan Reynard membantu menyusun informasi yang mereka miliki.

Namun ada sesuatu yang berbeda malam itu.

Bukan misterinya.

Bukan ancamannya.

Melainkan cara mereka berinteraksi.

Tanpa disadari, mereka mulai bergerak selaras.

Ketika Reynard membutuhkan dokumen tertentu, Almira sudah lebih dulu menemukannya.

Ketika Almira kesulitan membaca catatan lama, Reynard membantu mengurutkannya.

Hal-hal kecil.

Namun terjadi begitu alami.

Bahkan Dimas akhirnya menyadarinya.

Pria itu bersandar di kursi sambil memperhatikan mereka beberapa saat.

Kemudian berkata,

"Aku baru sadar sesuatu."

"Apa?"

tanya Almira.

"Kalian aneh."

"Komentar yang sangat spesifik."

balas Reynard.

Dimas menunjuk keduanya.

"Kalian terus bilang hanya rekan kerja."

"Memang."

jawab Almira cepat.

"Ya."

sahut Reynard.

Dimas mengangguk pelan.

"Lalu kenapa kalian bertingkah seperti pasangan yang sudah menikah lima tahun?"

Ruangan langsung hening.

Beberapa detik.

Lalu Almira tersedak air minumnya sendiri.

"Apa?!"

Reynard juga hampir menjatuhkan berkas yang sedang dipegang.

"Itu tuduhan yang sangat serius."

katanya.

"Aku hanya mengatakan apa yang kulihat."

jawab Dimas santai.

"Mataku sakit mendengar itu."

kata Almira.

"Tapi aku benar."

"Kamu tidak benar."

"Baik."

Dimas mengangkat kedua tangan menyerah.

"Kalau begitu aku pasti berhalusinasi."

Namun senyum kecil yang muncul di wajahnya menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak percaya pada bantahan mereka.

Dan yang membuat situasi semakin buruk...

Almira diam-diam menyadari bahwa sebagian ucapannya memang masuk akal.

Sial.

Sekitar pukul sebelas malam.

Listrik di lingkungan sekitar tiba-tiba padam.

Rumah langsung gelap.

"Hebat."

gumam Reynard.

"Kamu yang membawa sial."

balas Almira.

"Tentu saja salahku."

"Selalu."

Dimas menyalakan lampu darurat.

Cahaya kuning redup langsung memenuhi ruangan.

Suasana berubah menjadi jauh lebih tenang.

Lebih pribadi.

Lebih hangat.

Dan entah kenapa, itu membuat Almira teringat masa kecil.

Ketika listrik padam dan keluarganya berkumpul di ruang tamu.

Sudah lama sekali ia tidak memikirkan kenangan itu.

"Capek?"

suara Reynard tiba-tiba terdengar.

Almira menoleh.

Pria itu sedang duduk di kursi seberangnya.

Tidak mengejek.

Tidak bercanda.

Hanya bertanya.

Dan untuk pertama kalinya, Almira menjawab dengan jujur.

"Sedikit."

"Hanya sedikit?"

"Mungkin banyak."

Reynard mengangguk pelan.

"Aku juga."

Keheningan yang nyaman muncul setelahnya.

Tidak canggung.

Tidak memaksa.

Hanya dua orang yang sama-sama kelelahan.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, mereka berbicara bukan sebagai pewaris perusahaan.

Bukan sebagai penyelidik.

Bukan sebagai korban konspirasi.

Hanya sebagai Almira dan Reynard.

"Kalau semua ini selesai..."

kata Reynard tiba-tiba.

Almira menatapnya.

"Kenapa?"

"Apa yang akan kamu lakukan?"

Pertanyaan sederhana.

Namun membuat Almira berpikir cukup lama.

Selama beberapa bulan terakhir hidupnya hanya berisi pekerjaan dan misteri.

Ia bahkan lupa kapan terakhir kali memikirkan dirinya sendiri.

"Aku ingin liburan."

katanya akhirnya.

"Ke mana?"

"Mana saja yang tidak ada rapat."

"Itu daftar yang cukup panjang."

"Aku tahu."

"Menarik."

"Kamu?"

Reynard berpikir beberapa saat.

"Lima hari tanpa telepon."

Almira langsung tertawa.

"Itu mustahil."

"Aku tahu."

"Perusahaanmu akan runtuh."

"Benar."

"Mungkin tiga hari."

"Itu lebih realistis."

Untuk beberapa detik mereka hanya saling memandang.

Dan anehnya...

Tidak ada yang ingin mengalihkan pandangan lebih dulu.

Sampai Dimas berdeham keras dari sudut ruangan.

"Kalian sadar aku masih di sini, kan?"

Almira langsung memalingkan wajah.

Reynard mengambil berkas secara acak dan pura-pura membacanya.

Sementara Dimas menatap keduanya dengan ekspresi yang sangat mengganggu.

"Ya."

katanya pelan.

"Aku pasti berhalusinasi."

"Diam."

jawab Almira bersamaan dengan Reynard.

Dan itu hanya membuat Dimas tertawa.

Namun kebersamaan hangat itu tidak berlangsung lama.

Karena beberapa menit kemudian, laptop Dimas mengeluarkan bunyi notifikasi.

Satu email baru masuk.

Tidak ada pengirim.

Tidak ada identitas.

Hanya sebuah lampiran.

Dimas langsung membuka file tersebut.

Lalu wajahnya perlahan kehilangan warna.

"Ada apa?"

tanya Reynard.

Dimas tidak menjawab.

Ia hanya memutar layar laptop ke arah mereka.

Dan jantung Almira langsung serasa berhenti.

Karena di layar terpampang foto rumah persembunyian mereka.

Foto yang diambil malam ini.

Beberapa menit yang lalu.

Dari luar jendela.

Artinya...

Mereka tidak hanya diawasi di kawasan industri.

Mereka telah diikuti sampai ke sini.

Dan di bagian bawah foto terdapat satu kalimat.

KALIAN SEMAKIN DEKAT.

Lalu satu kalimat berikutnya.

ITU SEBABNYA KALIAN HARUS BERHENTI.

Malam yang tadinya mulai terasa hangat kembali berubah dingin.

Karena kini tidak ada lagi keraguan.

Seseorang sedang memainkan permainan yang sama dengan mereka.

Seseorang yang selalu selangkah di depan.

Dan seseorang itu baru saja membuktikan bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!