Rumah tangga bahagia yang semua orang inginkan, tapi tidak untuk rumah tangga Safira dan Rayan suaminya..sekian tahun mengarungi bahtera rumah tangga tak membuat hati Rayan mencintainya hingga Safira memberikan kesempatan kedua untuk suaminya, tapi lagi-lagi ia di patahkan oleh kenyataan yang membuat Safira sakit hati dan juga kenyataan masa lalu suaminya yang belum usai, apakah Safira akan terus bertahan, atau melepaskan. ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilaimuet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Hari ini Zain akan kembali lagi keluar pulau. Ia menahan Rayan untuk ikut hanya saja waktu temunya ia tidak di izinkan Zain bersamanya karena ia tidak ingin Safira menjadi curiga dan marah kepadanya, Zain juga menjaga hati Safira apalagi ia sekarang sedang hamil besar, dan untuk mereka bertemu Zain akan pulang dahulu saat Rayan ke rumah itu mencari Safira.. begitu pikirnya..
"Pagi ma, pagi pa.." Zain duduk di depan mamanya.
"Pagi nak, adikmu tidak ikut sarapan. juga.." mama Lita yang menanyakan. Anaknya..
"Belum tahu ma, oh ya ma, buatin aku ikan gurame asam manis dong. karena nanti jam 9 aku akan kembali ke luar pulau lagi ." ucap Zain yang meminta mamanya untuk memasak makanan yang ia mau..
"Tumben Minta itu lagi.." mama Lita yang heran.
"Gak gitu juga ma, hanya saja aku ingin bekal di bawa kesana nantinya.." ucap Zain yang makan sarapan pagi..
"Baiklah nanti mama bikinin. tapi tunggu tukang sayur ya mama gak punya ikannya soal nya.." ucap mama Lita
Setelah selesai makan Rayan turun dengan ajah lesunya.. Ia langsung duduk di meja makan dekan kakaknya..
"Baru bangun kamu nak, sarapan, ich mukanya kok lesu amat.." ucap mama Lita yang melihat anaknya terlihat tak bersemangat.
"Capek ma, habis lembur, hari ini rayan izin city dulu ya ke kantor. Rayan ada urusan.." ucap Rayan yang melirik papanya..
"Kerja gak kerja terserah kamu Rayan, papa juga gak tahu kerja apa keluyuran.." ucap papa Rayan yang asik makan..
Dalam hati Rayan merasa capek dengan semuanya papanya tidak pernah menganggap dirinya ada, hingga ia juga jengah. Jika saja ia sudah menemukan Safira dan ingin kembali padanya ia ingin sekali keluar dari keluarganya agar ia tak semena-mena di remehkan oleh papa nya..
"Pa... " mama Lita yang memperingati suaminya agar diam dan tak banyak bicara .
Dan seketika papa Rayan langsung diam.. Zain pergi ke kamarnya dan di susul oleh Rayan sementara papa Rayan di omeli habis-habisan oleh istri nya..
"Apa papa masih juga belum paham akan ucapan mama kemaren, apa papa mau di tinggalkan oleh anak bungsu papa." mama Lita yang sudah muak dengan suaminya..
"Maaf ma,, papa keceplosan.. maafin papa." papa rayan meminta maaf kepada istrinya..
"Selalu saja begitu. jika papa sudah bosan dengan ucapan mama. Mama akan pergi ikut dengan Rayan kemana dia pergi. walaupun mama hidup melarat sekalipun mama akan tetap ikut. bukanya papa sudah mama peringatan agar tidak semena-mena merendahkan anak kita dan juga membandingkan satu dengan yang lain, kita hanya mempunyai dua anak saja tapi apa papa selalu berlaku buruk dengan Rayan. Apa salahnya sehingga selalu saja Rayan salah di mata papa apa papa sudah bosan dengan kehadiran kita." mama Lita Yang sudah naik pitam..
Papa Rayan hanya mendengarkan saja, ia juga bingung dengan ucapan istrinya walaupun ia juga tahu akan ia salah bicara tadi, dan papa Rayan hanya menunduk saja.. Ia tidak berani mengangkat kepalanya jika pawangnya sudah berkata..
"Maaf ma.." papa Rayan hanya berkata itu saja. Mama Lita pun. pergi dari hadapan papa Rayan yang selalu membuat rumah menjadi runyam.
Rayan di dalam kamar ia langsung mengemasi bajunya di dalam koper ia juga akan ikut kakaknya menemui Safira apalagi ia juga ingin dekat dengan buat hatinya..
"Maafkan Rayan ma, jika Rayan harus pergi meninggalkan mama, Rayan juga sudah muak dengan papa, Rayan janji akan selalu hubungi mama. Rayan juga tak akan meminta sepeserpun harta mama dan papa. Doain Rayan ma agar bisa bangkit dengan kaki Rayan sendiri.." guman Rayan yang sudah tekat meninggalkan ibu kota,
Sedangkan Zain juga sama ia mengemasi barangnya dan sudah keluar dari alamatnya menyeret koper ia menghampiri kamar adiknya dan mengajak untuk pergi.
Tok
Tok
"Ray. ayo katanya mau bareng. " ucap Zain Yang ada di depan kamar adiknya..
"Sebentar Kak." ucap Rayan dari dalam..
Ceklek
Rayan keluar dengan membawa koper besar. Membuat dahi Zain mengkerut..
"Kenapa bawa koper Segede itu.." tanya Zain..
"Ya katanya kakak aku suruh meluluhkan hati Safira, jadi aku akan pindah kesana untuk sementara, jika tiba waktunya aku akan kembali ke kota ini lagi.." ucapnya sambil tersenyum.
Zain juga tidak punya firasat apa-apa jika adiknya akan menetap disana ia juga mengembalikan semua fasilitas ia selama ini Rayan pakai, Rayan bertekat untuk meluluhkan hati Safira, dengan caranya dan juga untuk kedepanya ia berjanji akan bekerja keras agar suatu saat anaknya tidak sampai kekurangan apapun lagi.. Ia juga tidak ingin membebani kakaknya..mereka turun dan menyapa mamanya untuk izin keluar pulau Rayan juga berkata kepada mamanya jika ia ingin liburan menenangkan hatinya..
"Ma, apa pesanan aku sudah mama siapkan.." tanya Zain.
"Sudah nak, ini.. Low Rayan juga bareng sama kamu.." selidik mama Lita yang melihat Rayan membawa koper besar.
"Ia ma, aku ikut kakak, katanya di pulau itu ada wisata bagus." jawab Rayan yang tidak ingin membuat mamanya kawatir..
"Baiklah nak, tenangkan. Pikiranmu. tapi jangan lama-lama ya. Mama kangen dengan kamu.." mama Lita mendekat kearah Rayan. Dan memeluknya dengan erat..
"Makasih ma.." air mata Rayan menetes sesaat ia juga tidak tega dengan mamanya tapi ia juga sadar akan ucapan papanya yang selalu merendahkannya..
Setelah berpamitan langkah zain dan juga Rayan keluar untuk pergi menemui pujaan hatinya mungkin hanya kata maaf yang ia ucapkan tapi Rayan akan berusaha untuk berjuang mendapatkan hati istrinya itu..
Zain sedari tadi diam, ia juga tidak mengerti akan Rayan yang membawa koper besar ia juga akan tidak tahu jika Rayan ke kota itu untuk menetap, atau hanya sekedar singgah saja. tapi ia selalu berfikir positif saja terhadap adiknya..
"Ray,, apa kamu siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan kamu lakukan jika suatu saat Safira tidak menerima kamu kembali.."Zain bertanya..
"Aku akan berusaha untuk meluluhkan hati istriku kak tapi jika Safira tidak ingin kembali aku juga tidak memaksa, asalkan ia di beri waktu untuk bersama dengan anak-anak saja Rayan juga bahagia kak, walaupun nantinya kita tidak bersama.." jawab ya sendu..
Zain juga tahu jika Safira pasti akan sulit menerima Rayan kembali tapi ia juga tidak memaksa jika memang Safira tidak ingin kembali kepada adiknya..
"Kak jika kemungkinan nanti aku tidak bersama dengan Safira, kumohon kakak mau ya menjadi pelindung untuk Safira.." ucap Rayan yang nyeleneh.
"Apa yang kamu katakan.. Jangan bicara yang tidak-tidak, kakak berharap kamu akan kembali bersama Safira Rayan.."
Mengapa ucapan Rayan seakan akan pergi jauh, dan Zain tidak ingin itu. Ia akan usahakan adiknya bahagia seperti janjinya waktu kecil dahulu..