Baru kali ini Edna merasa sangat takut. Dia menyesali kebodohannya yang ngga minta ditemani Luna.
Tolong...... Mama....., tolong Edna.
Mata Edna terpejam dan tubuhnya terkulai dalam pelukan seseorang.
Satu jam kemudian Edna tersadar. Dia terkejut melihat dirinya sedang terbaring di atas tempat tidur dengan pakaiannya yang sudah ngga melekat lagi di tubuhnya.
sequel my ex crush
semoga suka ya.....♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesabaran Eriel
Zayn tersenyum senyum melihat kepergian Sandra. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya, saat menyandar di badan mobil yang ngga tau punya siapa.
Senyumnya tambah melebar keika menyadari kehadiran Nathan, Kaysar dan Jef yang sedang berdiri ngga jauh dari tempatnya berada. Mungkin sejak tadi ketiga sahabatnya sudah berada di sana.
Kini ketiganya mendekat.
"Jadi itu alasanmu mau cepat cepat pulang," sindir Kaysar dengan nada sarkastik. Dia mengira Zayn membalas perbuatannya tadi, yang berangkat duluan tanpa menunggu kedatangannya.
"Pasti oma Qonita langsung setuju," timbrung Nathan. Teringat kalo dulu Om Sudjatmoko ingin menjodohkannya dengan Sandra. Tapi dia dan Sandra sama sama ngga berminat.
"Kelihatannya tinggal kamu aja yang belum ada hilal jodohnya," tawa Nathan mengejek Kaysar.
"Si Kaysar sudah ada, tapi lagi dia ingkari," ganti Zayn mengejek.
"Siapa?" tanya Nathan dan Jef berbarengan, sekaligus penasaran.
Si kembaran Eriel juga sudah tobat? Batin Nathan. Kaget baru tau info penting ini dari Zayn.
Dunia ladies bakalan aman dari para buaya, batin Jef ngakak.
"Ngga ada! Ngarang dia," pungkas Kaysar sambil mendelikkan matanya.
Zayn tertawa melihatnya. Dia hanya asal bicara, ternyata reaksi Kaysar sangat sensitif. Dia pun semakin curiga aja.
Nathan dan Jef saling pandang. Ngga biasanya Kaysar langsung emosi jika disinggung hubungannya dengan perempuan.
Tapi baik mereka berdua dan Zayn sudah ngga mau memperpanjang lagi karena melihat wajah masam Kaysar.
*
*
*
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Eriel setelah kedua bocilnya tertidur karena kecapean.
Edna masih mengusap kepala Shakti yang tidur lebih dulu dari pada Shaka.
"Ngga ada."
Eriel menghembuskan nafas panjang, mencoba sabar menghadapi sikap datar Edna.
"Jangan terlalu khawatir. Olah raga renang sangat bagus untuk kesehatan jantung Shakti."
"Ya."
Asal jangan terlalu kecapean, lanjut Edna dalam hati.
Dia masih mendengar suara nafas Shakti yang masih teratur.
"Apa yang dikatakan Fanny saat menemuimu?"
Edna menatap Eriel terkejut
Dia tau?
"Aku mengirimkan banyak pengawal untuk menjaga kalian," jawab Eriel seolah tau apa yang Edna pikirkan.
Pegawainya melaporkan kalo melihat Fanny ke perusahaan Edna tadi pagi.
Buat apa dia ke perusahaan Edna kalo ngga punya maksud buruk.
Melihat Edna yang ngga setenang biasanya, mungkin Fanny mengatakan sesuatu yang kejam. Mengancanya mungkin. Eriel yakin sekali dengan dugaannya.
"Dia mengancammu?" tanya Eriel lagi karena Edna seoerti ragu untuk menjawab.
Edna menghembuskan nafas dengan perlahan.
"Aku ngga takut padanya. Terserah dia mau melakukan apa. Tapi yang aku takutkan kalo dia membuat mental Shaka dan Shakti down," jelas Edna menatap Eriel lekat.
Jantungnya berdetak ngga menentu karena terbawa perasaan khawatirnya. Pandangan keduanya seolah saling berusaha menggali isi hati masing masing yang terdalam.
"Aku ngga akan membiarkan itu terjadi, percayalah." Eriel sudah meminta orang orangnya mengawasi Fanny begitu mendapat laporan pengawalnya.
Dia sengaja ngga menemuinya lagi. Jangan ada rumor buruk tentang pernikahannya yang akan berlangsung nanti. Bagi Eriel, di pertemuan terakhir mereka sudah cukup jelas dia mengatakan keinginannya.
Selama ini mereka open relation. Fanny bisa memanfaatkan dirinya demi karir modelingnya. Eriel hanya sedikit memanjakan tangan dan bibirnya saja saat gadis itu memberikannya imbalan yang ngga pernah dimintanya.
Eriel memang melakukan hal hal kurang ajar, tapi dia ngga pernah memaksa. Mereka sendiri yang memberikannya. Bagi Eriel, apa salahnya, kan. Dia pun memberikan apa pun yang perempuan perenpuan itu butuhkan. Apartemen, tender proyek, bahkan kesempatan menjadi model ambasador di perusahaan perusahaan orang tuanya, juga di perusahaan sahabat sahabatnya juga. Hingga karirnya bisa moncer hingga ke luar negeri.
Mereka semua tau termasuk Fanny, dia ngga pernah menjanjikan apa pun dalam bentuk komitmen.
"Edna, Fanny ngga akan ku ijinkan melakukan apa pun padamu. Maafkan aku ngga ada saat dia mengancammu."
Edna reflek menepis tangan Eriel yamg akan menggenggam tangannya. Ada riak kaget di mata Eriel.
Terjadi lagi penolakan kontak fisik dari Edna.
"Maaf." Edna merasa ngga enak hati juga melihat keterkejutan Eriel.
Aku belum bisa.... Aku masih trauma, jelasnya dalam hati. Dia masih takut melakukan kontak fisik dengan laki laki. Apalagi Eriel yang ternyata jadi penyebab mimpi buruknya.
Eriel menenangkan hatinya, hingga keduanya ngga saling bicara lagi.
Ternyata Fazza benar lagi. Dia harus pelan pelan menghadapi Edna.
"Kamu ngga perlu minta maaf. Semua salahku. Kamu berhak menolakku, tapi jangan jauh dariku. Itu udah cukup buat aku," senyum Eriel tenang, seolah dia baik baik saja.
Edna mau menerimanya secepat ini saja membuatnya sangat beruntung. Edna pun ngga membatasinya bersama anak anak mereka, yang hamilnya saja dia ngga tau. Ngga mengurusi apalagi merawatnya. Dia sudah terlalu banyak berbuat dosa. Edna sudah terlalu baik hanya sedikit saja memberikannya hukuman atas kejahatannya.
Eriel akan perlahan lahan mendekati Edna. Walaupun sekarang dia sudah berkali kali mendapat penolakan. Tapi dia yakin, suatu saat nanti Edna akan luluh juga dengannya. Dia hanya perlu ekstra sabar.
Hati Edna berdesir hangat mendengarnya. Dia masih ngga percaya kalo yang berbicara dengan nada penuh pengertian adalah Eriel. Karena Eriel yang dikenalnya dulu ngga begitu. Apalagi Eriel di malam mengerikan itu.
Tubuh Edna reflek bergetar. Dia memalingkan matanya yang basah. Dia masih takut jika mengingatnya.
Eriel semakin merasa bersalah melihat Edna mengusap air matanya. Dia ingin merengkuh tapi ngga ingin membuat Edna ketakutan. Sekarang aja Eriel.bisa melihat getaran bahu gadis itu.
Sekejam itu dia sudah menyakiti hati dan fisik Edna.
*
*
*
Setelah mengantar Edna dan kedua putranya pulang ke rumah Om Ronnje, Eriel pun melipir ke rumah Fazza. Dibanding yang lain, Eriel merasa Fazza lebih bisa mengerti dirinya.
"Kenapa lagi?" Fazza menatap heran karena Eriel yang masuk ke kamarnya dan langsung berbaring sambil memejamkan mata.
Wajahnya terlihat kusut.
"Edna masih trauma."
"Wajarlah. Dari rekaman yang aku lihat saat Edna keluar dari kamar dengan kepayahan, aku bisa membayangkan sebrutal apa kamu dengannya," omel Fazza panjang lebar. Kemudian dia alihkan lagi perhatiannya pada layar laptopnya untuk mengalihkan emosinya.
Dia aja masih sulit menerima kelakuan Eriel. Lebih baik melihat pergerakan saham. Senyumnya terukir melihat angka kenaikan yang signifikan.
Selama ini indeks kepercayaan pengusaha lain padanya dan papinya masih sangat tinggi. Mereka terkenal profesional dalam pekerjaan dan bersih dari gosip gosip negatif.
Eriel menghela nafas panjang.
"Aku akan sabar, Fazza. Ini bukan apa apa dibandingkan yang sudah aku lakukan padanya."
Fazza menoleh dan manggut manggut. Mungkin karena sudah punya anak, sahabat tengilnya mulai berubah jadi lebih bijak.
"Memang itu yang harus kamu lakukan."
"Yah, walau berat," senyum miringnya tersungging lagi.
"Hemm....," dengus Fazza mengejek . Tapi dalam hati dia penasaran, seberapa luas kesabaran yang Eriel punya untuk Edna.
"Mungkin kamu bisa bawa dia ke psikiater," saran Fazza. Kadang kasus trauma ngga memiliki rentang waktu penyembuhan yang jelas. Ada yabg cepat, tapi bisa juga bertahun tahun atau bahkan seumur hidup ngga bisa sembuh.
Yang Fazza takutkan jika Eriel ngga akan bisa selama itu menahannya.
"Nggaklah. Bisa bisa Edna memutuskan hubungan kami," sahutnya sewot. Eriel yakin, Edna hanya butuh waktu sebentar lagi aja. Mungkin dia bisa sedikit mencuri curi sentuhan atau ciuman sebagai terapi. Membayangkan itu wajah sewotnya sudah berganti dengan seringai nakal.
"Terserah kamu saja." Fazza ngga mau ikut campur. Dia yakin Eriel bisa mengatasinya dengan caranya sendiri.