"Apa yang terjadi dengan kamu dan cucuku adalah hal yang tidak bisa dianggap sepele. Kalian berdua harus segera menikah."
"Tapi, Nek. aku tidak mau menikah dengan cucu nenek yang playboy itu."
"Bagaimana jika kamu hamil anak dari cucuku karena kejadian malam itu?"
Lana tidak bisa berkata apa-apa. Kejadian satu malam yang terjadi antara dirinya dan Noah membuat dua orang yang saling membenci itu harus hidup dalam satu ikatan pernikahan.
Lana yang sangat membenci Noah karena sepak terjang Noah yang seorang playboy selama ini. Pun dengan Noah yang menganggap Lana bukan gadis yang benar karena pernah melihat Lana menerima uang dari pria paruh baya.
Pernikahan yang seharusnya adalah hal yang bahagia bagi pasangan kekasih, tapi tidak bagi mereka.
Bagaimana mereka akan menjalaninya? Dan apakah mereka akan menemukan arti sesungguhnya dari suatu hal yang sakral, yaitu pernikahan?
Selamat membaca dan semoga jatuh cinta sama ceritaku.
IG : rinitri_87
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajakan Berenang Part 1
Pagi itu Noah sudah bangun dari tidurnya dan dia membangunkan Lana yang masih tidur di atas sofa.
"Ada apa sih, Noah? Aku masih mengantuk." Lana menarik lagi selimut yang dibuka sama Noah.
"Bangun, Lana, kamu tumben sekali masih tidur. Biasanya kamu sudah bangun lebih dulu." Noah membuka kembali selimut Lana.
Lana pun akhirnya membuka kedua matanya, dan melihat pria yang ada di depannya itu. "Aku semalaman memeriksa suhu tubuh kamu, aku takut kalau tengah malam tiba-tiba suhu tubuhmu naik lagi, makannya aku bangun berkali-kali," jelas Lana malas.
"Kamu serius?" Noah terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Lana.
"Iya! Kalau kamu sakit, aku juga yang susah, kemarin saja aku sampai bolos kuliah, padahal badanku yang panas saja masih tetap aku paksa masuk kuliah agar tidak tertinggal pelajaran." Lana bangkit dan duduk bersandar di sofa.
Cup!
Kedua mata Lana seketika membulat saat Noah dengan cepat mencium keningnya.
"Ih! Kenapa menciumku lagi, Anoa?" Lana yang marah memukuli dada Noah.
"Terima kasih karena kamu sangat peduli padaku dan itu sebagai ucapan terima kasihku sama kamu."
"Tapi tidak perlu mencium! Kalau mau mengucapkan terima kasih, kamu bisa berikan uang saja padaku. Huh!" Lana mendengus kesal.
"Uang? Kamu serius meminta uang padaku?"
"Iya! Aku lebih membutuhkan uang daripada ciuman. Kamu tau kenapa aku mau masuk ke kampus kita itu. Pertama karena beasiswa, dan kedua karena banyak anak orang kaya di sana. Bibiku ingin aku menikah dengan pria kaya, sampai aku sering dijodohkan oleh tuan tanah yang sudah tua, tapi kaya." Lana bercerita dengan nada kesalnya.
"Apa kamu sengaja menjebakku waktu itu di hotel?"
"Kalau mau menjebak, aku lebih memilih menjebak pria baik-baik yang kaya agar hidupku menjadi sempurna, daripada pria playboy seperti kamu. Benar kamu kaya, tapi menyakitkan kalau dijadikan suami."
Noah menatap Lana dengan serius. "Kamu kenapa?" tanya Lana heran.
"Apa kamu sangat membenciku, Lana?" tanya Noah tegas, tapi terdengar lirih.
Lana tampak terdiam sejenak. "Aku membencimu, Noah karena kamu sama sekali tidak memiliki perasaan dan suka berbuat seenak jidatmu."
"Bagus kalau begitu. Jujur saja aku takut kalau kamu jatuh cinta denganku, karena kita sering bersama, tapi sayang kamu bukan tipe wanita yang aku inginkan untuk menjadi istri," terang Noah datar.
"Kamu juga bukan tipe suami yang aku inginkan, Noah, tapi kenapa kita bisa menikah seperti ini?" Lana menundukkan kepalanya.
Tangan Noah menaikkan dagu Lana agar mereka berdua bisa saling berpandangan. "Sudahlah! Jangan memikirkan masalah itu. Tunggu beberapa hari lagi. Jika kamu tidak hamil, kita akan segera berpisah."
"Iya, aku akan menunggu hari itu."
"Ya sudah! Bagaimana selama menunggu jam kuliah yang masih beberapa jam lagi karena hari ini kita masuk siang, aku ingin mengajak kamu berenang di lantai atas."
"Apa? Berenang? Kamu sudah gila, Noah? Kamu baru saja sembuh dari sakit panas tinggi, malah mengajak berenang."
"Aku sudah sangat baik dan aku benar-benar ingin berenang untuk menyegarkan diriku, tapi berenang sendirian tidak enak. Makannya, aku mengajak kamu."
"Aku tidak mau, Noah." Lana malah menarik selimutnya lagi menutupi tubuhnya sampai ke leher.
"Ayolah, Lana! Kamu kenapa tidak mau? Apa kamu tidak bisa berenang? Nanti aku ajari." Paksa Noah.
"Aku bisa berenang, Noah, tapi aku tidak mau berenang sama kamu karena pasti aku harus memakai baju renang. Enak saja kamu mau melihat tubuhku," omel Lana.
Noah malah terkekeh. "Bukannya aku sudah pernah melihat tubuhmu, bahkan merasakannya," celetuk Noah yang membuat Lana kembali menundukkan wajahnya sedih.