Aku menjalani kehidupan yang baru setelah mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawaku.
Beruntung ada seseorang yang menolongku dan memberikan kehidupan dengan identitas yang baru.
Akankah kehidupan ku kali ini akan lebih baik?
🌸🌸🌸🌸
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leticia Arawinda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Setelah 4 bulan berlalu aku tak kunjung bertemu dengan Rafael.
Selama berbulan-bulan aku hidup di pulau yang entah dimana tepatnya.
Meskipun Leon memberikan fasilitas yang terbaik dan menjagaku setiap saat tapi hatiku terasa sangat kosong.
Perutku sudah sangat besar tinggal hitungan minggu bayi ini akan lahir.
"Hiks.. hiks.."
"Rafael aku sangat merindukanmu"
Selama tinggal di tempat ini aku tahu bahwa Leon memang sangat mencintai Alexa.
Dia sama sekali tidak menyentuhku karena menghargai Alexa.
Dalam benakku.
"Untuk apa dia membawa seseorang yang nggak akan pernah dia miliki hanya berada di sampingnya, apakah itu arti cinta baginya?"
Banyak hal yang sudah kulalui dan yang sangat ku khawatirkan adalah kondisi bayiku yang merasakan kesedihan dari ibunya tanpa kasih sayang ayahnya.
Saat ini Leon sedang pergi entah kemana tapi menurut Zed, ada hal yang mendesak sehingga dia harus pergi.
Sementara itu disisi lain.
"Kepung semua tempat ini" ucap Rafael dengan keras
Brak!
Seseorang menendang pintu ruangan yang sedikit kumuh.
Drap.. drap.. drap..
Mereka berlari dan membentuk barisan di depan Rafael dengan pistol di tangan masing-masing.
Kemudian Rafael berjalan maju di tengah barisan itu.
Terlihat seseorang yang sudah duduk menanti kedatangan Rafael.
"Cepat ikat dia!!!" teriaknya sangat marah
"Haha.." pria itu tertawa mengejek
Meskipun dalam kondisi yang terdesak dan berbahaya pria itu dengan santainya menerima perlakuan anak buah Rafael.
Kemudian Rafael mendekat kearahnya.
Grep!
"Kau pikir akan bertahan berapa lama sampai tawamu itu hilang! hah?!"
Rafael menarik rambut pria itu dengan kencang dan mencengkramnya.
"Haha..ini lah wajah aslimu bukan?" ucapnya mencoba melawan
"Benar! cepat katakan dimana si brengs*k itu menyembunyikan Alexa!" teriak dengan kencang
"Hemm.. baiklah karena kali ini aku berbaik hati akan ku beritahu dimana istrimu tapi mungkin sudah terlambat karena mungkin dia sudah tidak selamat"
Buk!
"Diam!! atau ku robek mulut kotormu itu!!"
Rafael memukul wajah pria itu karena terlalu memancing emosinya.
"Cepat katakan kalau nggak mau peluru ini bersarang di kepalamu!!" teriak sangat frustasi
Rafael menodongkan pistol di kepala pria itu.
"Ya, ya.. pergi lah ke pulau terpencil di kota C..disanalah Leon menyembunyikan istrimu" jawabnya dengan tenang
"Kalian singkirkan dia kalau informasi darinya hanya omong kosong, kurung dia di tempat lain karena dia masih berguna untuk saat ini!"
"Siap bos!!"
Rafael langsung pergi setelah mendapatkan informasi mengenai keberadaan Alexa.
"Max, kita langsung pergi ke pulau yang di maksud penghianat itu"
Rupanya pria itu adalah orang yang bekerja di rumah Rafael sebagai mata-mata.
"Alexa, tunggu aku akan segera menemukanmu"
Kota C berada cukup jauh sehingga butuh waktu sehari untuk kesana tapi karena Rafael memiliki segala hal dia bisa sampai dengan cepat menggunakan helikopter pribadinya.
Sementara itu Leon sudah pulang setelah pergi seharian.
"Alexa, gimana kondisimu?" tanya Leon yang baru sampai
"Aku baik-baik aja" jawabku merasa enggan
Setelah melihatku Leon memasang ekspresi yang sedih dan langsung ke kamarnya.
"Zed, apa ada informasi terbaru?"
"Tidak ada bos sejauh ini pihak Rafael belum bergerak lagi" jawab Zed sangat yakin
"Baiklah, Zed! kenapa Alexa sekarang sangat berbeda dengan Alexa yang dulu? semuanya sangat berbeda bahkan kupikir dia bukan Alexa"
"Saya tidak mengerti bos, mungkin karena Alexa hilang ingatan"
Saat ini Leon sudah mulai menyadari bahwa diriku sepertinya bukan Alexa namun dalam lubuk hatinya berharap bahwa aku benar-benar Alexa.
Perlakuannya tidak jauh berbeda dari pertama kali dia membawaku kemari.
Aku merasa sangat bosan karena tidak ada Niken ataupun pelayan yang seperti dirumah Rafael sebelumnya.
Ditempat ini ada pelayan tapi bersikap sangat kaku dan hanya menuruti perintah Leon saja.
Boom!
Blaarr!
Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari luar.
"Ada apa ini?" ucapku yang merasa takut
Sementara itu Leon dan Zed keluar untuk melihat situasi diluar.
"Sial*n sepertinya itu Rafael" ucap Leon yang kesal
Seketika itu aku mendengar ucapan Leon dan aku mencari cara untuk keluar dari rumah ini melewati pintu belakang karena mereka sibuk mengamati dari depan.
"Rafael? kalau memang benar itu Rafael, aku harus pergi dan menemuinya"
Aku diam-diam mencari jalan keluar dari belakang rumah namun karena dalam posisi hamil besar pergerakanku sangat terbatas.
"Zed, cepat bawa Alexa pergi dari pulau ini, cepat!"
Leon langsung kedepan menghadang Rafael sedangkan Zed mencari keberadaanku yang sudah tidak ada di dalam rumah itu.
Drap.. Drap..Drap..
Aku melangkah lebih cepat dan bersembunyi di semak-semak yang cukup tinggi.
Hosh.. Hosh.. Hosh..
"Semoga Leon nggak menemukanku disini"
Dari tempat persembunyianku terlihat Rafael berjalan ke depan rumah itu dengan anak buahnya dan mengepung rumah itu.
Dor!
Leon bersembunyi di balik tembok depan.
"Keluar!! kembalikan Alexa sekarang juga bajing*n!!" teriaknya sangat marah
"Cepat geledah tempat ini!!" perintah Rafael ke anak buahnya
Drap.. Drap.. Drap..
Mereka berpencar ke seluruh area rumah itu sedangkan Rafael mendobrak pintu rumah itu.
Brak!
Dor!
Beberapa anak buah Leon tewas karena bom yang meledak sebelumnya dan tersisa beberapa orang saja.
Dor!
Dor!
Dor!
Mereka baku tembak dan aku tidak tahu seperti apa situasi di dalam.
Grep!
Tiba-tiba Zed menemukanku yang sedang bersembunyi dan menarik tanganku.
"Kyaa!" teriakku sangat kencang
"Lepas!! lepasin!!"
"Rafael!! tolong aku!!"
Zed membawaku menjauh dari rumah itu.
"Alexa?!"
Rafael mendengar suara teriakanku.
"Max, disana!!"
Drap.. Drap.. Drap..
Rafael berlari mengejar ke arahku dengan Max.
"Lepaskan Alexa!" teriak Rafael yang masih jauh
Dor!
Zed terkena tembakan di lengannya.
kemudian aku terjatuh dengannya.
"Akh"
Dor!
Rafael menembak Zed berulang kali hingga dia tidak bisa bergerak lagi.
Sedangkan aku merasakan sakit di perutku karena jatuh dalam posisi duduk.
"Arrrggghhh!!"
Tanganku menahan perutku yang sangat sakit.
"Aaaa.. hiks.. hiks"
Rasanya sangat sakit.
Rafael berlari kearahku dengan sangat cepat.
"Alexa!!"
"Hiks.. hiks.."
"Sayang, kamu kenapa? maafkan aku baru bisa menemukanmu"
"Hiks.. hiks.."
Rafael menangis dan memelukku.
"Sakit..!!" ucapku yang merintih kesakitan
Kemudian Rafael langsung menggendongku menuju helikopter miliknya.
"Max, urus semuanya dan tangkap Leon jangan sampai dia lolos"
"Baik bos!"
Max berjaga di belakang kami melihat ke belakang dan ke arah lain untuk menghindari serangan dari pihak Leon.
Akhirnya kami bisa selamat sampai masuk kedalam helikopter.
Sedangkan Max masih di pulau itu dengan beberapa orang untuk menangkap Leon.
"Sayang bertahan lah" Rafael mengusap-usap kepalaku
"Sakit!!"
Rafael menjadi semakin panik karena melihat darah yang keluar dari bawah perutku.
Apalagi melihat wajahku yang mengerutkan kening menahan rasa sakit.
"Sayang.. sebentar lagi kita sampai dirumah sakit.. tolong bertahanlah"
Rafael mencium ku dan menggenggam tanganku dengan erat.
Sedangkan aku merasa sudah sangat tidak sanggup menahan rasa sakit ini.
trus si istri hidup kembali mencoba untuk mencintai suami mafianya ituh.
ada yg tau gak judulnya apa.????
plis penasaran sama endingnya
sgt rapi, ga ada typo