Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 034: Wajah Asli Serena
"Cukup."
Satu kata dari Darren membuat udara di rumah buku berhenti bergerak.
Serena berdiri di samping meja dengan ponsel masih menyala di tangan. Wajahnya kehilangan warna begitu cepat sampai bibirnya tampak biru di bawah cahaya sore.
Di layar, panggilan masih tersambung.
"Halo? Serena?"
Darren tidak menaikkan suara.
"Rio."
Rio masuk dari belakang Pak Ji, mengambil ponsel Serena dengan gerakan yang bersih dan cepat. Serena baru bereaksi setelah benda itu sudah lepas dari tangannya.
"Pak Darren, ini..."
"Diam."
Serena membeku.
Pak Ji berdiri di ambang pintu bersama dua petugas keamanan. Jalan keluar tertutup. Jendela rumah buku menghadap kebun teh, tetapi di luar sana juga ada bayangan pengawal yang berdiri di posisi masing-masing.
Tidak ada celah.
Darren berjalan ke meja kerja. Ia tidak menyentuh dokumen palsu yang berserakan. Ia juga tidak melihat flash drive yang baru saja disalin Serena.
"Keira."
Serena berkedip.
Dari balik screen kayu, Keira keluar.
Langkahnya pelan. Wajahnya tenang. Di telapak tangannya ada bekas merah kecil yang mulai mengering, tetapi matanya jauh lebih dingin daripada luka itu.
Serena mundur setengah langkah.
"Cici... kamu..."
Keira tidak menjawab.
Ia hanya menatap Serena.
Tatapan itu tidak berteriak. Tidak mencaci. Tidak meminta penjelasan. Justru karena begitu diam, Serena tampak seperti seseorang yang baru sadar bahwa semua kata manis yang pernah ia ucapkan sudah mati sebelum sempat membela dirinya.
Darren duduk di kursi kerja.
"Bawa semua orang ke ruang keluarga utama," katanya kepada Pak Ji. "Jessica juga."
Serena langsung mengangkat wajah.
"Jangan bawa Jessica. Dia sedang sakit. Aku bisa jelaskan di sini."
Darren menatapnya.
"Kamu sudah cukup lama menjelaskan di belakang orang."
Serena terdiam.
Sepuluh menit kemudian, ruang keluarga utama Villa Puncak berubah menjadi ruang sidang.
Mama Lian duduk di kursi utama dengan wajah kaku. Felicia berdiri di dekat jendela, selendangnya tergenggam erat. Rossa Santoso duduk di sudut, tenang, punggungnya lurus, seolah ia hanya diundang untuk menonton pertunjukan. Jessica duduk di sofa dengan selimut tipis di pangkuannya. Ningsih berdiri di belakangnya dengan mata merah. Ratna dan Andi berada di sisi pintu.
Serena berdiri di tengah ruangan.
Keira duduk di samping Jessica. Darren berdiri di depan meja rendah, sementara Rio meletakkan beberapa folder, tablet, dan kantong bukti di atas permukaan kaca.
Darren mulai bicara.
Suara pria itu tidak keras, tetapi setiap kata jatuh jelas.
"Pertama. Catatan akses compound."
Rio menyalakan tablet.
Di layar muncul daftar tanggal dan lokasi. Kamar tamu. Sayap Giok. Koridor administrasi. Dekat ruang arsip. Pintu servis halaman belakang. Beberapa waktu ditandai merah.
"Ini semua catatan sejak Serena Suwandi masuk compound," kata Darren. "Sebagian akses terjadi di luar alasan kunjungan yang ia berikan."
Serena segera berkata, "Aku tersesat. Compound terlalu besar. Kadang aku mencari Cici Keira atau Ci Jessica."
Darren tidak menanggapi.
"Kedua. Kesaksian staf."
Rio membuka folder berikutnya.
"Tiga staf mengaku menerima uang dari Serena untuk memotret dokumen di area kerja. Satu orang mengaku diminta mengirim jadwal pengiriman vendor. Dua orang mengaku diminta menyampaikan posisi Pak Darren dan Keira setiap hari."
Wajah Serena berubah.
"Mereka bohong. Mereka pasti takut, lalu menyalahkan aku karena..."
"Ketiga."
Darren memotong tanpa emosi.
Rio menampilkan beberapa tangkapan layar komunikasi.
"Aplikasi terenkripsi. ID penerima terkait perusahaan luar yang selama ini dipakai jaringan Yuwono. Pesan berisi permintaan jadwal, foto dokumen, dan laporan pergerakan orang di compound."
Mama Lian menarik napas tajam.
Felicia memandang Serena seolah baru pertama kali melihatnya.
Serena menggeleng.
"Aku tidak tahu itu Yuwono. Aku cuma..."
"Keempat."
Kali ini Darren mengambil kantong bukti berisi foto Gelang Akik Merah dan laporan laboratorium.
Jessica menegang.
Keira meraih tangannya.
"Gelang Akik Merah," kata Darren. "Dibeli dari Toko Emas Permata Jaya di Surabaya. Pembayaran melewati pihak yang terhubung dengan keluarga Santoso. Barang itu kemudian sampai ke tanganmu sebelum kamu berikan kepada Jessica."
Serena menatap Jessica cepat.
"Aku tidak tahu gelang itu berbahaya. Sumpah, aku tidak tahu."
Darren membuka halaman lain.
"Laporan permukaan gelang menunjukkan residu senyawa berbahaya. Laporan medis Jessica menunjukkan kerusakan fungsi reproduksi."
Ruangan itu menjadi sangat sunyi.
Darren menatap Serena.
"Infertilitas. Karena gelang yang kau berikan."
Jessica tidak menangis.
Itu justru lebih menyakitkan.
Tubuhnya hanya bergetar pelan, seperti daun yang tidak punya tenaga untuk jatuh. Ia berdiri dengan bantuan Keira, lalu berjalan ke depan Serena.
Serena menatapnya dengan mata basah.
"Ci Jessica..."
Jessica berhenti tepat di depannya.
Suaranya kecil.
"Kenapa?"
Serena membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Jessica menatapnya seolah masih mencari teman yang ia kenal di balik wajah itu.
"Aku menganggapmu teman."
Kalimat itu lebih tajam daripada tamparan.
Untuk sesaat, Serena tampak benar-benar goyah.
Lalu nalurinya mengambil alih.
"Aku juga korban," katanya cepat. "Aku tidak punya pilihan. Yuwono mengancam keluargaku. Rossa juga... mereka semua memaksaku. Aku cuma melakukan apa yang mereka suruh. Aku tidak tahu akan separah ini."
Rossa yang duduk di sudut tidak bergerak.
Keira menatap Serena.
Begitu cepat.
Begitu mudah.
Ketika topeng pertama hancur, ia langsung memakai topeng kedua: korban.
Darren memberi isyarat kecil kepada Rio.
Rio menampilkan rekaman audio dari rumah buku.
Suara Serena memenuhi ruangan.
"Jessica? Jangan khawatir. Gadis itu masih percaya aku. Dia bahkan bilang bukan salahku. Lucu, kan? Orang kaya memang gampang hancur kalau disentuh dari tempat yang tepat."
Jessica memejamkan mata.
Ningsih menutup mulut, air mata jatuh tanpa suara.
Serena membeku.
Rekaman berlanjut.
"Anak panti asuhan bodoh itu percaya semua yang kukatakan. Cukup panggil dia Cici, ceritakan sedikit tentang keluarga miskin, lalu dia lunak."
Mama Lian menatap Keira.
Untuk pertama kalinya, tidak ada jijik dalam mata perempuan tua itu. Hanya keterkejutan yang berat, dan sesuatu yang hampir menyerupai rasa bersalah.
Keira tetap diam.
Kata-kata itu sudah mengenai tubuhnya tadi di balik screen. Sekarang, saat diputar ulang di depan semua orang, anehnya ia tidak merasa lebih kecil.
Ia justru merasa lebih kosong.
Dan lebih kuat.
Serena mulai gemetar.
"Rekaman itu bisa dipotong. Kalian bisa membuat apa saja. Hendrawan punya uang, punya orang, punya..."
"Cukup," kata Darren lagi.
Kali ini, Serena tertawa kecil.
Tawa itu pecah dan buruk.
"Tentu saja cukup. Karena kalian sudah memutuskan aku bersalah."
Ia menoleh ke Keira.
Matanya berubah.
Air mata palsu itu mengering. Wajah lembut itu retak sepenuhnya, memperlihatkan sesuatu yang lama membusuk di bawahnya.
"Kamu pikir kamu siapa?" desis Serena.
Jessica tersentak.
Serena menunjuk Keira.
"Anak panti asuhan yang beruntung. Kalau bukan karena Darren, kamu bukan apa-apa. Kamu pikir semua orang benar-benar menghormatimu? Mereka hanya takut pada dia."
Keira berdiri.
Serena tertawa lebih keras.
"Aku yang lebih pantas berada di posisimu. Aku tahu cara bicara, tahu cara duduk di meja orang kaya, tahu cara membuat orang percaya. Aku tidak kalah darimu. Satu-satunya bedanya, kamu lebih dulu dipungut olehnya."
Darren bergerak.
Keira mengangkat tangan sedikit, menahannya.
Ia menatap Serena dengan tenang.
"Selesai?"
Serena terpaku.
Keira melangkah maju.
"Aku pernah mendengar kata-kata seperti itu lebih banyak daripada yang bisa kamu bayangkan. Anak panti. Tidak tahu diri. Perempuan yang beruntung. Barang yang bisa dibuang."
Suaranya tidak naik.
"Dulu, aku mungkin akan percaya. Hari ini tidak."
Serena menggertakkan gigi.
Keira melihatnya seperti melihat kaca retak.
"Kamu benar tentang satu hal. Banyak orang menghormatiku karena Darren. Tapi kamu salah tentang hal terpenting."
Ia menoleh sedikit ke arah Jessica, lalu kembali menatap Serena.
"Aku tidak perlu menjadi lebih pantas darimu. Aku hanya perlu tidak menjadi sebusuk kamu."
Ruangan itu hening.
Darren menatap Keira, dan untuk sesaat, dingin di matanya melembut.
Lalu ia kembali kepada Serena.
"Rio."
Rio maju.
"Serena Suwandi akan meninggalkan Villa Puncak sekarang. Suwandi tidak lagi punya kerja sama dengan Hendrawan. Semua akses sosial, bisnis, dan komunikasi yang berkaitan dengan keluarga ini ditutup."
Darren berhenti sebentar.
"Jika satu kata buruk tentang Keira, Jessica, atau Hendrawan keluar dari mulutmu ke publik, tim hukumku akan memastikan kamu tidak punya tempat berdiri."
Serena akhirnya terlihat takut.
Bukan takut kehilangan teman.
Takut kehilangan panggung.
Dua petugas keamanan memegang lengannya.
Saat itulah Rio menunduk melihat ponsel Serena yang sudah diamankan. Wajahnya berubah sedikit.
"Pak."
Darren menoleh.
Rio membuka satu folder pesan dan mengirimkannya ke tablet di meja.
"Ada komunikasi langsung dengan Rossa Santoso. Serena masuk ke compound melalui jalur rekomendasi Rossa."
Semua mata berpindah ke sudut ruangan.
Rossa Santoso tetap duduk tegak.
Wajahnya tidak berubah. Tidak pucat, tidak panik, tidak marah.
Ia hanya menatap Darren dengan dingin, seperti seseorang yang akhirnya dipanggil naik ke panggung.
Serena yang sedang ditahan mendadak berteriak.
"Rossa juga terlibat! Jangan cuma aku!"
Rossa bahkan tidak menoleh.
Darren menatapnya beberapa detik, lalu berkata kepada Rio, "Bawa Serena keluar."
Serena meronta.
"Keira! Jangan kira kamu menang! Kamu tidak tahu mereka akan melakukan apa!"
Pintu tertutup di belakangnya.
Jeritannya terputus.
Namun ketegangan tidak hilang.
Rio mendekat ke Darren dan berbicara rendah, cukup pelan sehingga hanya orang di dekatnya yang mendengar.
"Pak, pihak Yuwono mulai bergerak di Jakarta. Beberapa orang mereka berkumpul sejak siang. Sepertinya mereka mau bergerak."
Darren tidak menunjukkan perubahan ekspresi.
Tetapi tangannya mencari tangan Keira.
Ketika jari mereka bertaut, genggamannya lebih erat daripada biasanya.
Di seberang ruangan, Rossa Santoso akhirnya tersenyum tipis.
Perang kecil di Villa Puncak baru saja selesai.
Perang yang lebih besar baru dimulai.