Hai aku Aram, pekerja kantoran bergaji standar UMR di pinggiran ibukota. Wanita umur 30-an yang sudah dikejar deadline “kapan menikah?” dari orangtuanya.
Orang yang hanya melihat kehidupan romasa orang lain dari balik kursi penonton. Ketika sudah siap menyambut kematian, aku malah diberi kesempatan kedua menjadi Arabella, calon putri mahkota di novel yang kubaca dulu. Klise!
Tentu saja, Arabella adalah antagonis! Double klise!
Mau mengubah takdir? Ngga dulu deh…
Lagipula, aku sudah terjebak dengan skenario takdir yang mendukung peranku jadi antagonis. Jadi, Mmari kita serius menjalani peran antagonis dan mengakhirnya dengan tragis seperti yang sudah ditentukan dalam cerita!
Hip Hip Hore untuk jadi jahat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ESOK., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Baru
“Keluar dari Ibukota Zirconia?” Aku memastikan apa yang barusan kudengar.
“Ya, meskipun di daerah perbatasan kerajaan, letaknya hanya dua kota dari Zirconia.” Ayah menjelaskan.
Tidak, tidak. Ternyata rumah singgah yang dibilang ayah dan ibuku ada di daerah lain di luar tempat cerita ini terjadi. Akan semakin sulit bagiku mencari informasi tambahan.
“Pemberitahuan sayembara akan tetap sampai ke sana. Kami hanya menghindari sabotase dari keluarga kita yang lain jika mengetahui keberadaanmu di sini.” Tambah Ayah.
Aku berusaha memaklumi kekhawatiran mereka. Kedudukan Duke Severin sebagai kepala keluarga Heinstrein tidak bisa dijatuhkan, karena itu, keluarga besar Heinstrein mencoba segala cara untuk merebut posisiku sebagai putri makhota.
“Bersiap-siaplah. Kita akan makan siang bersama sebagai tanda perpisahanmu.” Ucap Ayah sebelum keduanya keluar dari ruangan. Aku menunduk dengan hormat sebagai jawaban.
Hanya denting alat makan yang terdengar dari ruangan makan siang itu.
Airen dan Zioren yang sudah mendengar kabar kepergianku duduk diam sembari menahan tangis keluar dari pelupuk mata mereka. Aku merasa kasihan, mereka pasti dilarang untuk mengeluarkan emosi seperti air mata di depan orang lain.
Setelah acara makan siang selesai, kereta kudaku telah menunggu di depan rumah. Aku bergantian memeluk Airen dan Zioren yang mengantarkanku pergi. Masing-masing kukecup kening mereka dan membisikkan kata-kata semangat.
“Aku janji akan sering mengirimi kalian surat.”
Keduanya mengangguk sembari mengusap cepat air mata yang mengalir.
Butuh satu jam perjalanan dengan kereta kuda dari Istana Beryl ke bukit kediaman Heinstrein. Kupikir itu adalah perjalan terjauhku selama di sini, ternyata hal itu tidak ada apa-apanya dibandingkan perjalanan ke rumah singgah yang makan waktu lima jam, empat jam kalau dari pusat ibukota.
Aku merenggangkan tubuhku sesampainya di rumah singgah. Barang-barangku yang sudah dikurangi setengahnya itu mulai diturunkan oleh kusir, karena tak mungkin kedua orangtuaku menyediakan pelayan, aku meminta bantuan pak kusir untuk memasukkan semuanya ke dalam rumah.
Tidak seperti bayanganku, rumah satu tingkat dengan arsitektur bergaya mediterania ini terkesan sederhana. Bahkan terlalu sederhana untuk seorang Duke yang sangat suka menunjukkan kemewahan gelarnya. Seakan rumah ini seperti baru saja dibeli dari orang lain yang pernah tinggal di sana.
Ruang paling depan berisi sofa sederhana untuk menyambut tamu, ruangan itu dipisahkan dengan kusen pintu terbuka menuju ruang santai yang bersebelahan dengan dapur dan meja makan.
Di bagian kiri, terdapat dua kamar dengan luas kurang lebih sama, dan agak ke belakang, tedapat satu kamar lagi yang lebih luas. Sepertinya, aku bisa tidur di manapun yang aku mau. Tiga hari tidur di kasur kecil membuatku tak ingin lagi pilih-pilih.
Aku lalu mengarah ke halaman belakang, sebagian tanahnya diubah menjadi kebun kecil yang belum terisi. Jika tempat ini akan jadi rumahku untuk waktu yang cukup lama, aku bisa mengisi kebun itu dengan berbagai macam buah dan sayuran.
Tak kalah penting, aku memeriksa bahan di dapur dan segala kebutuhan pokok lainnya. Kosong, tak ada apapun di sini. Sepertinya, hari ini aku harus mengutamakan membeli bahan makanan.
“Nona Arabella, semua barang sudah saya turunkan.” Kusir yang menemaniku di sana sudah menyelesaikan tugasnya.
“Duchess menitipkan satu kantong uang untuk Nona. Setiap bulannya akan dikirimkan dengan jumlah yang sama.” Kusir itu memberikan sekantong besar penuh koin emas kepadaku.
Jumlah yang sangat berlebih untuk memenuhi kebutuhan hidupku sendirian. Sebenarnya, orang tuaku berpikir biaya kota pinggiran akan semahal apa, deh?
“Oh, iya, Pak. Apa ada pasar rakyat di sekitar sini? Sepertinya aku harus membeli bahan makanan.” Tanyaku pada kusir itu.
“Ada Nona, tidak jauh dari sini ada kota kecil bernama Scapo, setahu saya kalau dari sini sekitar sepuluh menit dengan kereta kuda.”
Berarti sekitar dua puluh menit kalau aku berjalan kaki.
“Nona mau saya antar ke sana. Tidak ada tugas yang menunggu, jadi saya bisa membantu Nona sampai semua kebutuhan terpenuhi.” Kusir itu memberikan bantuan yang benar-benar kubutuhkan.
“Boleh, Pak. Terima kasih.” Ucapku langsung setuju dan naik kembali ke kereta.
Terima kasih? Waw. Selama di sini, sepertinya baru kali ini aku mengucapkan kata-kata itu. Aku melirik ke arah si kusir, wajahnya sama terkejutnya denganku.
Di pasar, aku membeli bahan makanan yang sekiranya bisa kumasak dan kukenali rasanya. Beberapa batu sihir penerangan untuk tambahan lampu, buku-buku bacaan ringan dan cara bercocok tanaman untuk hiburanku. Lalu, aku juga mencari sesuatu yang nantinya akan mempermudah kehidupanku. Yup, sepeda dengan keranjang di depannya!
Hari sudah menjelang malam saat aku kembali dan akhirnya ditinggal sendirian di rumah itu. Aku mandi, memasak beberapa makanan seadanya, lalu, segera masuk ke salah kamar untuk beristirahat.
Besok, aku harus bangun pagi untuk membersihkan dan menyusun barang-barangku yang masih tergeletak begitu saja di tengah rumah. Selamat tinggal kehidupan mewah di istana kerajaan. Selamat datang kembali kehidupanku yang miris dan sendirian.