Bertemu kembali setelah terpisah sekian lama, perasaan cinta itu kembali hadir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pe_na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Rival.
HAPPY READING...
***
Sean kembali masuk ke dalam ruangan dimana Arion tengah dirawat. terlihat Anna dan Mahes duduk sambil menunggu putranya. bahkan kedatangan Sean tak membuat dua orang dewasa itu bergeming sedikitpun. atau mungkin sengaja pura-pura tak melihat Sean.
Ehhmmm...
Sean berdehem. tapi juga tak direspon.
Mereka tuli? batinnya kesal.
Dengan percaya dirinya, Sean ikut mendekat ke ranjang Arion. memperbaiki posisi selimut agar anaknya tidak kedinginan. dan beralih pada infus yang tergantung di atas sana.
Apaan sih nih orang... protes Anna dengan ekor matanya. sedangkan Mahes hanya tersenyum seperti biasa. entah apa yang tengah dipikirkan oleh pria itu. tapi jelas tatapannya hanya tertuju pada tingkah laku Sean.
Memalukan sekali... protes Anna lagi.
"Tidur lah Arion.. sudah malam, kamu juga perlu istirahat..." ucap Sean. menekankan pada kata istirahat. yang berarti pasien tidak boleh dibuat lelah seperti saat ini.
Sana pergi, cepat pulang sana... batin Sean bicara. mengusir Mahes yang tak kunjung meninggalkan tempat Arion di rawat.
"Iya...". sang anak pun memang seperti itu. selalu berpihak pada Sean. bahkan menuruti kemauan Sean dan langsung memejamkan mata.
"Baiklah, Aku pulang dulu ya..." ucap Mahes. bangkit dari duduknya dan berpamitan.
Sana pulang... Sean masih mencoba untuk mengintimidasi.
"Maaf sudah merepotkan mu Mahes..." sesal Anna.
karenanya juga Mahes akhirnya mengantarkan Anna ke RS. bahkan pria itu tidak pulang lebih dulu.
"Jangan khawatir..." ucap Mahes menyentuh bahu Anna.
Ck... beraninya sentuh-sentuh dia!
Sean membuang muka. kesal dengan tingkah Mahes yang seenak jidatnya menyentuh wanita yang bukan siapa-siapa baginya.
"Ayo Aku antarkan..." ajak Anna. setidaknya mengantarkan Mahes sampai di parkiran RS.
Mendengar ucapan Anna, otomatis membuat Sean kelabakan. pria itu segera memutar otak untuk mengagalkan rencana tersebut. dengan segera, Sean menyenggol Arion. berharap putranya itu bisa membantu menggagalkan rencana Anna mengantarkan Mahes pulang.
"Mama...". panggil Arion.
membuat Mahes dan Anna mengalihkan perhatiannya.
"Tetaplah disini..." rengek bocah itu. dan jangan heran, Sean tertawa penuh kemenangan. lihatlah wajah menjengkelkannya kali ini.
Hahaha...
"Benar kata Arion, tetaplah disini... aku bisa pulang sendiri..." ucap Mahes. tapi seperti mencium gelagat aneh dari pria di dekat ranjang sana.
menatap Sean dengan aneh.
"Maaf ya Mahes..." sesal Anna. dan semakin merasa bersalah. tapi mau bagaimana lagi, sedangkan Arion memaksa Anna untuk tetap tinggal disini menemaninya.
"Tak apa..." jawab Mahes masih sambil menepuk bahu Anna. membuat Sean semakin kesal.
2x... Apa dia memang terobsesi untuk menyentuh Anna? Kesal sendiri dibuatnya.
Sean kembali menampakkan wajah tak sukanya.
"Sampai ketemu besok..." ucap Mahes pamit.
"Hm, kabari kalau sudah sampai..." timpal Anna.
Apa? kabari? bahkan ia tak pernah memperdulikan ku seperti itu... protes Sean dalam hati. merasa iri karena perlakukan Anna terhadap Mahes yang tidak ia dapat sebelumnya.
"Aku pamit dulu Se..." ucap Mahes.
Apa? dia bicara padaku? Sean sempat terkejut.
"Oh... iya..." jawabnya mengantar kepergian Rivalnya.
Rival? Entah apa Sean menyebutnya. tapi yang jelas Mahes seperti penghalang baginya untuk kembali mendekati Anna.
mungkin saja pria itu yang akan membuat Sean kesulitan nantinya. dan tak akan membiarkan Mahes menang untuk masalah hati seperti ini.
Setelah kepergian Mahes.
Terlihat Sean dan Arion saling melempar senyum. membuat Anna memicingkan mata. seperti tengah memergoki keduanya merencanakan sesuatu.
Apa yang mereka rencanakan?
Bahkan lebih membuat penasaran adalah keduanya seperti membuang muka saat Anna menatapnya. semakin curiga saja.
"Tidurlah Arion... Mama mau mencuci muka dulu...". Anna pergi ke toilet yang ada di ruangan itu. mencuci muka karena wajahnya terasa lengket karena keringat seharian. sedangkan Sean, pria itu sudah mengakusisi sofa panjang di sudut ruangan. menggunakannya untuk menselonjorkan tubuh beristirahat.
Di tempat lain.
Mahes masih berada di jalanan. sesekali tersenyum mengingat kembali kejadian saat di RS. pertemuannya dengan Sean. aneh.
itulah yang Mahes rasakan.
Walaupun tidak ada bendera perang berkibar antara dirinya dengan Sean, tapi tetap saja. bagaimanapun cara Sean menatapnya tadi seperti tatapan seorang Rival. Ya... Sama-sama memperebutkan Anna.
Apa Anna masih menaruh hati padanya?
jelas sekali kekhawatiran Mahes tentang perasaan Anna saat ini.
apalagi Mahes telah ditolaknya terang-terangan. seperti Anna tengah membuat dinding tinggi pembatas hati dengan pria lain.
Mahes kembali tersenyum.
Ck... kenapa aku memikirkan hal itu? bercerai, jelas-jelas ada pertentangan dalam diri mereka masing-masing bukan?
Mahes mencoba untuk meyakinkan dirinya. dugaannya adalah Anna dan Sean berselisih paham hingga membuat keduanya bercerai. sedangkan hubungan yang terlihat hanya karena Arion, putra mereka.
Tapi, Anna tak pernah membahas alasannya berpisah dengan pria itu...
Mahes kembali ragu.
seperti dalam kepalanya ada dua argumen yang terus saja berdebat. membuat kepalanya berdenyut nyeri memikirkannya.
"Lantas apa alasannya?".
Mencoba mencari jawaban lain tentang alasan Anna dan Sean berpisah. Pada akhirnya Mahes menggelengkan kepalanya. memecahkan masalah itu hanya akan membuat dirinya terbebani. biarlah waktu yang menjawab semuanya. yang terpenting sekarang, Mahes berusaha untuk membuat Anna menaruh hati padanya.
dan untuk Sean, Mahes akan menganggapnya sebagai Rival.
ya... Rival... entah aku yang menang atau Sean yang menang...
Mobil terus melaju membelah jalanan menuju ke tempat tinggal Mahes.
Tengah malam.
Sean terlihat berguling-guling membenahi posisi tidurnya. sungguh tak nyaman tidur di sofa yang tak mampu menopang seluruh tubuhnya seperti ini. Sean terlihat amat tersiksa.
Di liriknya Anna, yang tidur di lantai beralaskan kasur lantai yang cukup tebal. teridaknya lebih nyaman daripada Sofa milik Sean.
Aduuhh... aku benar-benar tersiksa... keluhnya dalam hati.
hingga pria itu beralih duduk saja. sambil mengamati setiap sudut ruangan yang terlihat gelap karena lampu seluruhnya dimatikan. hanya tersisa lampu di dekat ranjang Arion sebagai satu-satunya sumber cahaya.
Bagaimana kalau aku ikut tidur disana ya?
Sean tersenyum licik di sudut bibirnya. seperti menemukan ide bagus dibandingkan tidur di sofa itu.
Tapi kalau dia marah bagaimana? kembali ragu. apalagi kalau Anna akan berpikir macam-macam nanti.
Agghh... aku tidak peduli... Sean telah memutuskan. dengan membawa bantal sofa, pria itu berjalan mendekati Anna. Tiba-tiba merebahkan tubuhnya di samping Anna. membuat wanita di sampingnya itu sedikit terkejut,
"Sean, apa yang kau lakukan!". untung saja jantung Anna tidak jatuh dari tempatnya karena perlakuan Sean yang tiba-tiba.
"Ssttt... Aku hanya tidak bisa tidur di sofa..." keluh Sean memperlihatkan mimik muka menyedihkan.
"Lalu?".Anna masih tak paham.
"Biarkan aku ikut tidur disini..." jawab pria itu tanpa dosa.
Apa-apaan dia itu! batin Anna kesal. tapi karena cahaya lampu yang minim, tentu saja Sean tak bisa melihat bagaimana ekspresi wajah Anna saat ini.
"Biar aku yang tidur di sofa..." ucap Anna. dengan postur tubuh Anna, tak masalah tidur di sana. sofa itu jelas mampu menampung tubuh Anna seluruhnya dibandingkan Sean.
"Tidak usah! disini saja..." tolak Sean. bahkan reflek menyentuh pinggang Anna agar tidak pergi.
"Aaa... sorry..." sadarnya dan langsung melepas pinggang Anna.
Sean menjadi salah tingkah. juga dengan Anna, entah kenapa jantungnya juga berdetak aneh.
"Tidurlah, Arion akan terganggu nanti..." ucap Sean. dan langsung merubah posisi tidurnya memunggungi Anna.
sedangkan wanita itu sama gugupnya tapi tak juga pergi dari kasur lantai tersebut. dengan perasaan aneh, Anna ikut merebahkan tubuhnya dengan posisi yang sama. memunggungi satu sama lain.
hingga yang terdengar mungkin adalah detak jantung keduanya.
Aaa... jantungku... batin keduanya.
***
Hahaha... hayooo... siapa yang baca sambil senyum-senyum?