"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DOMINASI YANG TAK TERGOYAHKAN
Keheningan yang mencekam menyelimuti Arena Nomor 7. Di atas panggung melayang yang masih bergetar hebat itu, pemandangan yang tersaji tampak seperti lukisan neraka yang sunyi. Sembilan puluh peserta—yang beberapa detik lalu berteriak penuh kesombongan—kini terkapar tumpang tindih. Sebagian besar pingsan dengan mata mendelik, sementara yang masih sadar hanya bisa mengerang sambil memegangi telinga mereka yang mengucurkan darah segar.
Di tengah-tengah kehancuran itu, Han Feng berdiri tegak. Tangan kirinya masih memegang Sarung Pedang Kerak Bumi dengan santai, sementara tangan kanannya menggantung tenang di samping tubuh. Jubah abu-abunya bahkan tidak berkerut. Tidak ada keringat, tidak ada napas yang terengah-engah. Ia tampak seperti seorang dewa yang baru saja menjentikkan debu dari bahunya, bukan seseorang yang baru saja merobohkan hampir seratus kultivator sekaligus.
"Siapa... siapa orang itu?" suara bisikan mulai pecah dari arah penonton, lalu berubah menjadi gelombang kegemparan.
Para wasit seleksi yang berdiri di tepi arena terpaku. Peluit perak yang seharusnya ditiup sebagai tanda berakhirnya babak masih menggantung kaku di mulut mereka. Mereka telah melihat banyak jenius, tapi melihat seseorang menghancurkan massa hanya dengan satu hentakan kaki tanpa menghunus pedang? Itu adalah tingkat kontrol energi yang hanya dimiliki oleh monster sejati.
Di panggung utama, Ye Chen, sang jenius dari Sekte Langit Abadi, perlahan menegakkan punggungnya. Matanya yang biasanya tenang kini berkilat tajam, terkunci sepenuhnya pada sosok Han Feng.
"Resonansi frekuensi bumi..." Ye Chen bergumam rendah, suaranya mengandung nada waspada yang jarang ia tunjukkan. "Dia tidak menggunakan kekuatan kasar. Dia menyelaraskan Qi-nya dengan inti batu arena dan menghancurkan sistem saraf lawan melalui getaran internal. Teknik yang sangat efisien... dan sangat kejam."
Di sisi lain panggung, Long Chen tampak seperti orang yang baru saja menelan kotoran. Wajahnya merah padam, dan urat-urat di lehernya menonjol karena amarah yang tertahan. Sabotase yang ia rancang dengan susah payah justru berubah menjadi panggung megah bagi Han Feng. Pengikut-pengikutnya yang ia tempatkan di Arena 7 kini tak lebih dari tumpukan daging yang tidak berguna.
Namun, reaksi yang paling kompleks datang dari Su Yan. Ia menatap Han Feng dari kejauhan, tangannya gemetar di balik lengan jubah sutranya. Familiaritas itu kini bukan lagi sekadar perasaan; itu adalah keyakinan yang mulai mengkristal. Cara pemuda itu berdiri, cara ia mengabaikan dunia seolah-olah tidak ada yang layak mendapatkan perhatiannya—itu adalah harga diri yang pernah ia lihat pada Han Feng, sang pelayan, sebelum semuanya hancur.
apakah ini benar dia? batin Su Yan, rasa takut yang dingin mulai merayap di hatinya. Jika itu kau, mengapa kau kembali dengan kekuatan sebesar ini?
Han Feng melompat turun dari arena melayang bahkan sebelum wasit memberikan pengumuman resmi. Baginya, sepuluh tempat terakhir sudah menjadi miliknya secara mutlak. Saat ia berjalan melewati koridor menuju area istirahat, sebuah aroma bunga musim semi yang segar tiba-tiba memenuhi indranya.
"Wah, wah... kau benar-benar tidak tahu cara bersenang-senang, ya?"
Mu Rong muncul dari balik pilar batu, gaun pinknya berdesir ceria. Ia berjalan mendekat dengan senyum lebar yang memperlihatkan lesung pipinya. "Hanya butuh satu detik untuk mengakhiri semuanya. Kasihan sekali mereka, bahkan belum sempat mengeluarkan jurus andalan sudah dibuat pingsan."
Han Feng berhenti, namun tidak menoleh. "Mereka hanya batu sandungan. Tidak ada alasan untuk membuang waktu."
Mu Rong tertawa kecil, melangkah maju hingga ia berdiri tepat di samping Han Feng. "Sikap yang dingin, aku suka. Tapi dengarlah, Pendekar Misterius. Babak kedua tidak akan semudah ini. Kita akan dimasukkan ke dalam 'Hutan Ilusi'. Itu adalah formasi kuno yang akan menarik keluar trauma terdalam dan dosa masa lalumu untuk menghancurkan mentalmu."
Mu Rong kemudian merendahkan suaranya, matanya yang berbinar berubah menjadi serius. "Aku mendengar kabar bahwa Tetua Gu telah menyuap pengawas formasi. Mereka akan memodifikasi area ilusimu. Jika peserta lain menghadapi monster bayangan, kau mungkin akan menghadapi sesuatu yang jauh lebih pribadi dan mematikan. Berhati-hatilah."
Han Feng hanya terdiam sejenak sebelum melanjutkan langkahnya. "Terima kasih atas informasinya. Tapi, ilusi hanya berpengaruh pada mereka yang masih memiliki keraguan di hatinya. Aku... tidak memilikinya."
Matahari mulai meredup saat ujian tahap kedua diumumkan. Sebuah gerbang cahaya raksasa berdiri di tengah Alun-alun Awan, memancarkan aura kabut yang misterius. Ratusan peserta yang lolos dari babak pertama mulai masuk satu per satu.
Han Feng melangkah masuk dengan tenang. Begitu kakinya menyentuh tanah di balik gerbang, dunia di sekelilingnya berubah seketika. Langit menjadi merah darah, dan udara terasa berat oleh bau dupa pemakaman. Ia berada di Hutan Ilusi.
Namun, alih-alih monster atau hutan yang gelap, Han Feng menemukan dirinya berdiri di sebuah halaman yang sangat ia kenal. Halaman belakang kediaman Keluarga Su.
Di depannya, seorang pemuda kurus, lemah, dan berlumuran darah sedang berlutut di tanah yang keras. Itu adalah dirinya sendiri, Han Feng yang dulu. Dan di hadapannya, berdiri sosok wanita cantik dengan pedang di tangan—Su Yan.
"Kau hanyalah sampah, Han Feng. Keberadaanmu adalah noda bagi masa depanku," Su Yan dalam ilusi itu berkata dengan suara yang sangat dingin, lebih dingin dari apa yang pernah Han Feng dengar di dunia nyata.
Tiba-tiba, Su Yan ilusi itu melesat maju. Gerakannya sangat cepat, pedangnya memancarkan cahaya perak yang siap menebas leher Han Feng yang sedang berlutut. Itu adalah manifestasi dari trauma pengkhianatan yang paling dalam.
Han Feng yang asli hanya berdiri beberapa meter dari sana, menonton adegan itu dengan tatapan datar. Ia melihat pedang itu hampir menyentuh leher dirinya yang dulu.
"Teknik ilusi yang lumayan," ucap Han Feng tenang. "Kalian menggunakan rasa bersalah dan rasa sakitku untuk menciptakan monster ini."
Tepat saat pedang itu akan memenggal kepala si Han Feng kecil, Han Feng yang asli bergerak. Ia tidak mencabut pedangnya, namun ia melepaskan tekanan Qi Emas yang meledak dari Dantian-nya.
BZZZT!
Listrik ungu menyambar dari tubuhnya, menghancurkan frekuensi formasi ilusi di sekitarnya. Han Feng berjalan maju, menatap langsung ke mata Su Yan ilusi tersebut.
"Tapi ada satu kesalahan besar dalam ilusi ini," Han Feng tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung kekejaman murni. "Su Yan yang asli tidak akan pernah punya keberanian untuk mengayunkan pedangnya secepat itu padaku. Dia terlalu pengecut untuk membunuhku dengan tangannya sendiri; dia lebih suka membiarkan orang lain melakukannya."
Han Feng meraih bilah pedang ilusi itu dengan tangan kosong. Kekuatan Divine Sense-nya yang kuat merobek struktur formasi tersebut seperti kertas.
"Hancurlah."
KRAAAK!
Dunia merah darah itu retak berkeping-keping. Han Feng berdiri di tengah hutan yang sebenarnya, sementara di kejauhan, pengawas formasi yang mencoba memanipulasi ilusinya memuntahkan darah karena serangan balik mental yang luar biasa.
Han Feng menatap ke arah gerbang keluar hutan dengan mata yang berkilat ungu. "Jika ini adalah yang terbaik yang bisa diberikan Sekte Pedang Langit untuk menghentikanku... maka besok, aku akan memastikan mereka tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan."
Ia melangkah maju, membelah kabut ilusi dengan otoritas seorang raja yang tak tergoyahkan. Babak kedua baru saja dimulai, tapi bagi Han Feng, ini hanyalah pembersihan sebelum pesta darah yang sesungguhnya di final seleksi.
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏