Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 1: RUMAH DI UJUNG GANG SEPI BAB 2 – Bayangan yang Mengikuti
Raka terhuyung-huyung sampai ke depan gerbang kosannya. Tangannya gemetar hebat saat memasukkan kunci, sampai dua kali gagal memasukkannya ke lubang kunci. Hujan masih turun, tapi rasanya tak lagi sama—dinginnya bukan lagi dinginnya air, melainkan dingin yang menusuk ke dalam tulang, seperti disentuh oleh sesuatu yang sudah lama tak bernyawa.
Begitu pintu terbuka, ia langsung melangkah masuk dan menguncinya rapat-rapat, bahkan menyandarkan tubuhnya ke balik pintu sambil menarik napas panjang berulang kali. Jantungnya masih berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dada. Suara bisikan dan langkah kaki tadi masih terngiang jelas di telinganya, seolah baru saja terjadi beberapa detik yang lalu.
“Aku pasti hanya lelah… terlalu banyak bekerja… itu cuma khayalan,” gumam Raka mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Ia berjalan terhuyung ke arah meja belajar, menyalakan lampu dengan tergesa-gesa. Cahaya kuning redup lampu itu membuat ruangan sempitnya terasa sedikit lebih aman, meski perasaan takut itu tak kunjung hilang.
Ia menepuk-nepuk tubuhnya, membersihkan air hujan yang menetes dari pakaian. Namun saat tangannya menyentuh bahu kanan, ia merasakan sesuatu yang aneh—seperti ada debu halus berwarna kelabu pucat yang menempel, bukan debu jalanan biasa. Ia menggosokkannya dengan jari, lalu melihatnya di bawah cahaya lampu. Butiran itu terasa dingin, bahkan saat ia memegangnya, kulit jemarinya terasa kesemutan yang menjalar perlahan.
“Dari mana ini berasal?” bisiknya bingung. Ia tak ingat pernah menyentuh tembok atau dinding apa pun selama perjalanan.
Raka segera berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia membuka keran air panas, berharap uap dan kehangatan itu bisa menghilangkan rasa ngeri yang menempel di sekujur tubuhnya. Saat ia mencuci rambut dan wajah, matanya tak sengaja melirik ke cermin di depan wastafel. Detak jantungnya kembali melonjak.
Di balik bahunya, terlihat samar sebuah bayangan tinggi dan kurus berdiri diam di balik tirai kamar mandi yang tembus pandang. Bentuknya tak jelas, tapi posturnya kaku, dan kepalanya terlihat lebih besar dibandingkan tubuhnya.
Raka membeku. Ia tak berani berbalik, hanya menatap cermin dengan mata terbelalak. Suara detak jantungnya terdengar nyaring di telinganya sendiri.
“Si… siapa di sana?” tanyanya dengan suara tercekik, nyaris tak mampu mengeluarkan kata-kata.
Tak ada jawaban. Namun, di cermin itu, ia melihat bayangan itu perlahan mengangkat satu tangannya yang panjang, menjulurkan jari-jarinya yang terlihat runcing dan kurus.
Raka bergerak secepat kilat. Ia memutar tubuh dan memukul tirai dengan keras, namun yang ada di baliknya hanyalah dinding kosong dan tumpukan pakaian kotor. Tak ada siapa-siapa. Udara kamar mandi terasa sangat dingin, membuat uap air panas yang tadinya mengepul langsung menghilang seketika.
“Tidak mungkin… ini tidak nyata!” teriak Raka sambil menyandarkan punggungnya ke dinding, napasnya terengah-engah.
Ia segera menyelesaikan mandinya secepat mungkin, lalu keluar dan mengunci pintu kamar mandi dari luar. Ia memeriksa seluruh jendela dan pintu kamarnya satu per satu, memastikan semuanya terkunci rapat dan tak ada celah sedikit pun. Setelah merasa cukup aman, ia duduk di tepi tempat tidur, memegang kepalanya yang terasa berdenyut-denyut.
Pikirannya melayang kembali ke rumah tua di ujung gang itu. Selama tinggal di sini selama dua tahun, ia hanya mendengar cerita dari tetangga lama. Konon, rumah itu dulunya ditempati oleh seorang pengusaha kaya bersama istri dan dua anaknya sekitar 30 tahun yang lalu. Namun suatu hari, seluruh keluarga itu menghilang secara misterius tanpa meninggalkan jejak apa pun. Polisi menyelidiki, tapi tak menemukan tanda pencurian, kekerasan, atau pun mayat. Sejak saat itu, rumah itu dibiarkan kosong dan perlahan menjadi tempat yang dihindari semua orang.
“Kenapa malam ini aku bisa melihatnya? Kenapa rasanya mereka memanggilku?” gumam Raka, matanya terpejam mencoba menenangkan pikiran.
Tak lama kemudian, rasa kantuk mulai menyerang, meski rasa was-was masih menyelimuti hatinya. Ia membaringkan tubuhnya, menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh sampai kepala, hanya menyisakan celah kecil untuk bernapas. Lampu di meja belajar tetap dinyalakan—ia tak berani mematikan lampu malam itu.
Di tengah rasa kantuk yang mulai membuai, ia mendengar suara ketukan pelan.
Tok… tok… tok…
Suaranya datang dari arah jendela kamar. Lembut, tapi terdengar jelas dan teratur.
Raka membuka matanya lebar-lebar. Tubuhnya kembali menegang. Ia ingin berteriak, tapi suaranya terasa tercekik di tenggorokan.
Tok… tok… tok…
Ketukan itu berulang, kali ini sedikit lebih keras. Dan disertai suara bisikan yang sangat halus, seolah berbicara tepat di samping telinganya:
“Kamu lupa sesuatu… kamu belum pulang sepenuhnya…”
Raka perlahan mengangkat kepalanya, menatap ke arah jendela yang tertutup tirai tebal. Cahaya lampu kamar menembus tirai, membuat bayangan apa pun yang ada di luar akan terlihat jelas dari dalam.
Dan benar saja—di balik tirai itu, tampak siluet tinggi berdiri tegak tepat di depan kaca jendela. Kepalanya sedikit miring ke samping, dan satu tangannya terangkat, masih terus mengetuk pelan kaca itu.
Raka memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera berlalu. Ia menghitung napasnya, berusaha tetap tenang meski seluruh tubuhnya gemetar hebat.
Namun, suara berikutnya yang ia dengar membuat seluruh darahnya terasa membeku di dalam pembuluh.
Di luar jendela, suara itu berubah menjadi suara gesekan benda kasar di atas kaca, disertai suara serak yang berbisik dengan jelas:
“Kamu membawa debu kami… dan sekarang, kami akan mengikutimu sampai kamu mengembalikannya…”
Saat Raka memberanikan diri membuka mata kembali, bayangan itu sudah menghilang. Namun, di permukaan kaca jendela yang basah terkena hujan, tertinggal jejak bekas telapak tangan yang besar dan pucat—jejak yang tak mungkin dibuat oleh manusia biasa.
Malam itu, Raka sadar satu hal menakutkan: ia berhasil lari dari rumah tua itu, tapi ia tak bisa lari dari apa yang sudah ia bawa pulang bersamanya.
📌 jangan lupa follow,like,dan komen setiap novel di akun ini ya.. 🥰