Allea, gadis SMA yang sangat berprestasi semasa sekolah. Allea terlahir sebagai anak bungsu dari keluarga yang kaya dan serba berkecukupan.
Dibalik Kehidupan Allea bak putri raja, ternyata Allea sudah dijodohkan sejak kecil. Lalu bagaimana Allea akan melanjutkan mimpi-mimpinya dan bagaimana kelanjutan Allea dalam Perjodohan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anne Chellyca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aman Terkendali
Gibran turun dan kembali duduk di tempatnya semula tanpa merasa ada awan panas dan lava yang akan menyemburnya jika tak membawa Allea ke meja makan. Ia duduk dan menikmati makanannya tanpa menyadari tatapan bingung dari Gewa dan tatapan tajam dari Dewi.
"Gibran! Allea mana?" tanya Dewi tanpa melepaskan tatapan mautnya.
"Eh! Lupa ngasi tau mi. Lea mau mandi, bersih-bersih, skincare dan dandan dulu mi" ucap Gibran acuh.
"Maksud kamu apa?" Dewi.
"Gini mi, Lea itu baru bangun. Ya kali dia kesini gak mandi dulu, kan bau sih mi. Malu ahh punya adek bau ketek!" sahutnya lagi.
"Mami lihat? Mami yakin mau punya menantu seperti gadis tengil itu? Heran sama pemikiran mami!" ucap Gewa kesal.
"Papi apaan sih, sewot banget. Ya ada ya Pi, sebenarnya Allea itu takut makan bareng sama kita karena Papi. Papi lupa kalo mulut papi itu lebih pedas dari cabe setan? Heran deh sama otak dan mulut papi, dikasi vitamin cabe rawit kali ya. Udahlah, Gibran! Kamu jangan makan dulu, nanti temenin Allea makan diluar!" ucap Dewi lalu menarik piring Gibran tanpa menghiraukan anak semata wayangnya itu sedang asyik makan.
"Loh? Mami kenapa? Gibran kan lagi makan mi!" Protes Gibran karena makannya kepalang tanggung.
"Kamu lagi!!! Jangan tiru Papi kamu ini ya, calon istri belum makan malah asyik makan! Papi kamu belum mati, jangan ditiru! Satu aja bikin mami jadi pusing apalagi tambah satu lagi. Kamu mau mami mati muda?" omel Dewi.
"Kan yang gak makan Gibran Mi, kok mami yang mati?" Gibran.
"Kamu berisik banget ya, mami jadi gak selera makan!" ucap Dewi lalu meninggalkan anak dan ayah tersebut di meja makan dalam kondisi bingung.
Gibran dan Gewa saling menatap, "Mami ngambek!" ucap keduanya serentak.
"Daripada Mami ngambek dan imbasnya Papi tidur diluar mending Papi susulin!" ucap Gewa lalu meninggalkan Gibran sendirian.
Gibran jadi bingung harus berbuat apa, dengan frustasi ia melangkahkan kakinya menuju kamar Allea namun ternyata kamar tersebut dikunci. Sialnya lagi kunci cadangannya ada di dalam.
"Lea!!! Dek!!! Kamu ngapain? Makann yokk!!! Mami suruh makan diluar!!!" pekik Gibran seraya menggedor-gedor pintu kamar Allea.
"Bentaarrrrr!!! Ganti baju duluuuu" ucap Allea dari dalam sana. Entah apa yang sedang dilakukannya, hanya dia dan Tuhan yang tau.
Allea pun membuka pintu, ia sudah mengenakan sebuah rok kodok berwarna biru air dan kaos berwarna putih.
"Udah siap aja..." ledek Gibran memperhatikan penampilan Allea.
"Ya iya lah, orang abis mandi langsung pake baju ini. Gak ada piyama tidur!" ucap Allea dengan wajah yang judes pangkat seribu.
"Baguslah! Kita keluar yuk!" Gibran merangkul Allea dan menaik-turunkan alis matanya.
"Beneran kak?" tanya Allea antusias.
"Iya lah, emang kakak pernah bohong sama kamu?" ucap Gibran narsis.
"Om gak marah kak?" tanya Allea lagi.
"Ya kagaklah, Mami yang minta kok! Kalo papi marah yang ada singa tidur bakalan marah juga, bakalan dicakarr huaarrrr" Gibran menggoda Allea dengan memperagakan singa seolah-olah mencakarnya membuat gadis itu tertawa terpingkal-pingkal.
"Jadi pergi gak nih? Kakak laper banget tau! Tadi kakak gak diijinkan makan sama mami karena kamu belum makan!" ucap Gibran memasang wajah minta dikasihani.
"Yaudah, tapi bentar deh kak!" Allea.
"Apaan?" Gibran.
"Kakak tau dimana HP aku? Tadi sih di tas sekolah Lea tapi tasnya gak tau dimana kak. Lea juga gak punya tas buat dibawa..." ucap Allea cengengesan.
Gibran menatap Allea tak percaya, di kondisi kelaparan seperti ini Ia masih sempat memikirkan itu semua.
"Astaghfirullah! Kenapa semua cewek itu ribet coba!" umpat Gibran kesal.
"Ya kan gak enak kak pergi gak bawa apa-apa. Lea juga mau ngabarin temen-temen soalnya tadi Lea dibawa paksa sama Mami, mereka pasti khawatir sama Lea!" Allea.
"Kok dibawa paksa? Gimana ceritanya dek?" tanya Gibran malah jadi penasaran.
"Cari hp sama tas Lea dulu!" celetuk gadis itu.
"Astaghfirullah Lea! Untung stok sabar kakak banyak, kalo enggak udah kakak cincang kamu!" ucap Gibran lalu meninggalkan Allea.
"Kakak mau kemana? Woyy!!!" Allea.
"Nyari tas, bentarrrr!!!" Gibran.
Gibran menggedor-gedor pintu kamar orang tuanya seolah mau demo.
"Mamiii...mamiii!!! Papiii buka miii...piii"
Dewi membuka pintu, "Apa sih Gib? Pelan juga mami denger kok!"
"Mii, pinjem tas!" Gibran.
"Maksudnya?" Dewi.
"Pinjem tas mami, pinjem tas!" Gibran.
"Buat apa Gib? Kamu mau pake tas mami?" Dewi.
"Masya Allah...Kenapa cuwek itu nyebelin semua sih mi. Gini mami... Gibran mau ajak Lea makan sesuai permintaan Mami tadi tapi Allea katanya gak mau keluar kalo gak pake tas, makanya Gibran mau pinjem tas mami atau beli juga gak papa deh demi adik tercinta!" terang Gibran meskipun malas tapi ia tetap menjelaskan pada wanita itu.
Dewi manggut-manggut dan kembali masuk kedalam kamarnya lalu memberikan sebuah tas yang lumayan besar berwarna merah cemerlang bak cabai merah besar.
"Mi? Mami yakin mau ngasi ini ke Allea? Emang Allea mau pergi arisan ibu-ibu pake tas beginian mi,?" ucap Gibran mengangkat dan memutar-mutar tas tersebut di depan wajahnya.
"Gibran gak pernah liat anak seusia Lea pake tas beginian mi!" timpalnya lagi.
"Iya juga ya Gib, bentar mami cariin yang cocok buat Allea!" Dewi.
"Mamiii...Cepetan!" ucap Gibran tak sabar.
Dewi kembali dengan sebuah tas mini berwarna hitam dengan motif simpel dan tali yang tipis. Sangat cocok untuk gadis belia seperti Allea.
"Ini gimana?" tanya Dewi.
"Nahh, dari tadi kek mi! Makasih ya mi, entar Gibran bayar!" ucap Gibran.
"Lima puluh juta!" sahut Dewi cepat.
"Apaan tas beginian lima puluh juta? Dua puluh ribu kali mi..." Gibran.
"Apa-apaan kamu dua puluh ribu, ini itu rancangan designer Paris tau gak! Mahal!!!" Dewi.
"Dua puluh ribu lah mi, bungkus deh!" Gibran.
"Apa-apaan kamu? Kamu kira ini pasar!? Udah pergi sana, Allea pasti udah laper!!!" usir Dewi.
"Deal ya mi, dua puluh ribu!" Gibran.
"Gibran!!!!" pekik Dewi namun sang anak sudah berlari meninggalkannya.
"Dasar!!! Kalo bukan anak satu-satunya udah mami sumpahin kamu jadi kodok!" umpat Dewi lalu kembali masuk kedalam kamarnya melanjutkan aktifitasnya bersama suami tercinta.
"Nih tas kamu!" ucap Gibran senang dan ceria. 😅
"HP Lea mana?" Allea.
"Tadi kakak sempat liat tas warna pink di sofa ruang tamu, itu mungkin!" ucap Gibran lalu mereka turun kebawah.
"Untung HP Lea aman terkendali..." ucap Allea lebay.
"Hilang juga tinggal beli baru kan dek, itu aja susah" ucap Gibran enteng bak kapas.
- Lonely For You Only (slice of life)
- Haunted School : Repeat 1989 (time travel + horror)
Mari saling mendukung, semangat untuk author♡
, smga bisa up tiap hari yaaa
1. My Innocent Girl (up)
2. I Love You Badly (masih new)
jangan lupa mampir ya guys, aku tunggu loh ya like, komen, dan juga vote okeeyyy? okey dongg wkwkk :v🙏
kenapa harus like dan komen?
-yaa karena like dan komen kalianlah yang bisa bikin Author semangat🤗
Sekian dan terimakasihh luvv🙏💛✨🤗
1.My Innocent Girl
2.I Love You Badly
jangan lupa ya mampir, aku tunggu like, komen dan vote juga yaa🙏😇🤗✨
luvvv bangettt💛😚
-JE; Sang takdir
-Touch Of Love
cuss bacaa jan lupa tinggalkan jejaakk🤗
tkan prfil q aja yaaa😍
vielen danke😘