🙏🙏MOHON TIDAK MEMBERI BOOMLIKE 🙏🙏
👌Tinggalkan jejak dengan sopan
🍀 Beri dukungan dengan Like, Komen, Sub, Gift dan berikan Rate ⭐5 supaya Author tambah semangat
Spread ❤
Don't hate💔
----------------
Apakah ada obat untuk penyesalan di dunia?
Kembali ke masa lalu membuat Sienna memiliki kesempatan mengubah alur cerita masa depan.
Dengan pilihan yang berbeda, akankah hasilnya tetap berbeda.
Apakah Sienna berhasil mencegah lepuh, duka dan penyesalan kehidupan sebelumnya?
Akankah Sang Takdir berbelas kasih menyambut Sienna untuk mengubah jalanNya?
Notes:
Ruth: Kata yang berasal dari sebuah nama
Jika Kata, berarti duka, penyesalan dan belas kasihan.
Dalam Nama, berarti sahabat, pendamping dan dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firefly Tale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Impian Putri
Di ruang musik yang penuh dengan cahaya lembut senja, Sienna duduk dengan anggun di depan piano berwarna cokelat tua. Cahaya jingga memeluk wajahnya saat ia tenggelam dalam kesenyapan yang hampir magis. Di meja di sebelahnya, partitur musik terbuka dengan coretan-coretan halus, mengisyaratkan dedikasinya untuk menyempurnakan setiap nuansa. Jarinya yang halus dengan penuh keyakinan menari di atas tuts-tuts piano, menghadirkan harmoni yang menyebar dalam udara.
Walaupun sudah memainkan lagu ini berkali-kali, setiap nuansa tetap dirasakannya dengan intensitas yang sama seperti pertama kali. Mata Sienna terpejam sejenak, menciptakan dunia di mana hanya ada dia, piano, dan musik yang membelai jiwa. Nada-nada indah tercipta dari ujung jari-jarinya, melambung tinggi dan merayap rendah seperti riak-riak emosi yang melintasi hatinya. Suaranya yang mengalun merdu terpadu dengan sentuhan penuh emosi yang terpancar dari matanya yang cemerlang.
Di sudut ruangan, jendela terbuka sedikit, membiarkan angin senja masuk dan membawa aroma bunga-bunga dari taman. Sienna terus bermain, kadang-kadang mengangkat bahunya ke atas dengan lembut ketika ia merasa partitur masih memerlukan sentuhan lebih. Setiap catatan adalah cerita yang ia sampaikan, dan setiap jeda adalah kesempatan untuk merenung dalam.
Waktu berjalan lambat di dalam ruangan ini, seakan mengabulkan permintaannya untuk menangkap setiap momen indah. Dan saat Sienna mengakhiri lagu dengan akord akhir yang penuh perasaan, suasana ruangan masih terasa diisi oleh getaran musik yang mengalun dalam hati setiap orang yang mendengarnya.
Langkah halus menghiasi lantai kayu saat seorang lelaki tua memasuki ruangan dengan langkah tenang. Pakaian setelannya yang bergaya Inggris memberinya tampilan yang klasik dan berwibawa. Setelan abu-abu tua yang rapi dengan kerah putih yang terlipat rapi di sekitar lehernya mencerminkan citra kematangan dan elegansi yang terpancar dari sosoknya.
Monosakel, atau kacamata sebatang yang dikenakan di satu mata, terletak dengan anggun di mata kirinya. Lensa kacamata itu menyiratkan hikmat dan sejarah panjang yang ada dalam dirinya. Terpilihnya kacamata semacam itu tidak hanya sebagai alat bantu penglihatan, tetapi juga sebagai simbol kemapanan dan kepribadian yang unik.
Pandangannya yang tajam dan bijak melintas ruangan, menangkap setiap detail dan nuansa dengan seksama. Wajahnya yang dipenuhi kerutan mengisyaratkan pengalaman hidup yang melimpah, sebagai cermin dari tahun-tahun yang telah dilewati dengan kemuliaan dan ketekunan. Ketika ia berbicara, suaranya rendah dan tenang, mengalir seperti aliran sungai yang telah melewati banyak medan.
Udara disekitarnya membawa kehadiran yang mengisi ruangan dengan karakter yang memancar kearifan dan keberanian. Kehadirannya adalah simbol dari masa lalu yang terjalin dengan masa kini, dan mata tunggalnya menyaksikan perubahan dunia sepanjang perjalanan hidupnya.
Dengan langkah langgam yang penuh martabat, Sir Edwin mendekati Sienna yang tengah memainkan melodi indah di piano. Senyum lembut melintas di bibirnya saat matanya bertemu dengan Sienna, mengisyaratkan kedamaian dan penghargaan akan seni yang sedang dipertunjukkan.
"Milady," bisiknya dengan suara yang hangat, "sejak kapan kau berada di sini, tenggelam dalam harmoni yang mempesona?"
Sementara not-not melodi masih terasa menggema di udara, Sienna dengan lembut meredakan permainannya di atas piano. Dia mengakhiri lagu dengan aksen yang lembut dan berakhir dengan akord yang menyebar dalam ruangan.
Mengangkat pandangan, matanya bertemu dengan wajah lelaki tua yang berdiri di dekatnya. Dengan lemah-lembut, Sienna meluncurkan sebuah curtsy, menampilkan gerakan yang elegan dan menggambarkan keanggunan serta penghargaan yang ia miliki terhadap kehadiran Sir Edwin. Tubuhnya melengkung dengan lemah gemulai, menghormati sosoknya yang telah hidup lebih lama dan telah mempersembahkan sejarah yang berharga. Setiap gerakan adalah tanda penghormatan yang diiringi oleh ketulusan hati.
Dengan gerakan yang penuh dengan kehormatan dan kelembutan, Sir Edwin membalas curtsy yang dilakukan oleh Sienna. Tubuhnya merespons dengan kesantunan yang khas dari kalangan bangsawan, melengkung dengan anggun tanpa kehilangan keseimbangan atau martabat. Setiap gerakan adalah simbol dari adab dan tradisi yang telah terwariskan melalui generasi.
"Milady, untuk hari ini, mari kita menari. Kau boleh memilih tarian dan musiknya." Dengan pandangan yang masih penuh kehangatan, ia terus memandang Sienna dengan penuh apresiasi.
"Ah, tentu saja, My Lord," jawab Sienna dengan penuh anggun. Dia memandang Sir Edwin dengan rasa hormat yang mendalam, merasakan kehangatan di balik kata-kata yang diucapkan dengan penuh kemuliaan.
"Terima kasih atas kehormatan ini," lanjut Sienna dengan senyuman lembut. "Saya ingin mengusulkan tarian waltz, sebuah tarian yang penuh dengan keindahan dan elegansi, sejalan dengan suasana yang kami ciptakan di antara langkah-langkah kami."
Pandangan matanya berbinar saat dia memikirkan melodi yang akan menemani tarian mereka. "Dan untuk musiknya, mungkin sebuah komposisi dari Dmitri Shostakovich, The Second Waltz yang mencerminkan kerumitan dan harmoni alam semesta."
Saat Sienna berbicara, terlihat keinginan yang jujur dan semangat untuk menghadirkan pengalaman yang indah bagi keduanya.
Wajah Sir Edwin tersirat dengan kepuasan yang mendalam saat ia mendengar pilihan tarian dan musik yang diusulkan oleh Sienna. Mata tunggalnya, yang melihat lebih dari sekadar fisik, mencerminkan kepuasan yang dalam terhadap pilihan-pilihan itu. Ada senyuman yang lembut dan setulus hati di bibirnya, seolah-olah menyuarakan persetujuan yang hangat tanpa perlu banyak kata-kata.
Di hamparan lantai yang elegan, suasana di dalam ruangan berubah menjadi lebih intim dan penuh antusiasme saat melodi lembut dari "Waltz No. 2" karya Dmitri Shostakovich mulai mengalun. Ruangan itu terasa seperti terhanyut dalam alunan musik yang mengalir, menciptakan medan yang sempurna bagi tarian yang penuh dengan keindahan dan kelembutan.
Sir Edwin, dengan setelan yang bergaya dan langkah yang penuh keanggunan, mengundang Sienna dengan anggukan lembut dan gestur tangan yang tulus. Ia memberikan tanda yang jelas, mengajak Sienna untuk bergabung dengannya dalam langkah-langkah tarian yang akan datang. Dalam gerakan itu, terpancar kehangatan dan hormat yang mendalam, sebuah permintaan yang menghormati Sienna.
Ketika melodi mulai mengalun, keduanya memasuki lantai dansa dengan langkah pertama yang penuh keyakinan.
Dengan matanya yang bijak, ia memandang Sienna dengan pandangan yang hangat. Dalam nada suara yang lembut, ia bertanya, "Milady, kau terlihat sangat bahagia. Apakah ada hubungannya dengan komposisi ini?"
Di tengah alunan musik yang terus mengalun, dengan senyum yang merefleksikan kegembiraan, Sienna merespon dengan nada riang, "Oh, tentu saja! Setiap not dan harmoni dalam komposisi ini terasa begitu dalam dan indah, aku tidak bisa tidak menyukainya. Sejujurnya, aku selalu berfantasi bahwa di acara-acara pentingku di masa depan—entah itu pernikahan atau bahkan pemakaman—salah satunya pasti akan memutar komposisi ini untukku."
Kata-kata Sienna meluncur dengan kilauan ceria, membawa atmosfer kebahagiaan dalam percakapan. Namun begitu Sienna selesai menyampaikan harapannya, Sir Edwin terlihat sedikit terkejut oleh ungkapannya. Ekspresi klasik di wajahnya yang selalu penuh dengan ketenangan dan kebijaksanaan seakan sedikit terguncang oleh pemikiran yang diungkapkan oleh Sienna.
"Bolehkah aku bertanya, Milady?" Sir Edwin bertanya dengan hati-hati dan Sienna menjawab dengan anggukan.
"Mengapa harus pernikahan dan pemakaman? Kau hanya semuda ini tapi sudah memikirkan kematian." Di dalam pandangannya, mungkin ia mencoba memahami motivasi di balik pernyataan tersebut, mencari jejak maksud yang lebih mendalam.
Sementara dia berbicara, dia menggerakkan langkah-langkah tarian dengan lincah, memasukkan pesan yang tak terduga ini ke dalam suasana riang mereka.
"Jangan terlalu dipikirkan, My Lord. Alasanku sebenarnya sangat sederhana," ujar Sienna dengan nada yang ceria. Matanya yang berbinar menggambarkan semangatnya yang membara, seolah-olah ingin membagikan sesuatu yang penting dengan kehangatan.
"Yang aku inginkan hanyalah mewujudkan impianku untuk menjadi seorang putri, dengan pakaian anggun dan tarian yang indah," lanjutnya, suaranya penuh dengan fantasi. "Adapun mengapa aku menyebutkan pernikahan atau pemakaman, itu karena aku tak tahu manakah yang akan datang lebih dulu dalam hidupku. Aku tahu, My Lord pasti paham bahwa hidupku memiliki risiko yang tak terduga."
Meskipun topik yang dibahas tidaklah ringan dan adanya elemen ketidakpastian dalam pernyataannya, Sienna menyampaikannya dengan nada yang ceria dan hati yang terang. Ekspresinya mencerminkan sikap yang terbuka dan tidak terbebani oleh kompleksitas yang bisa terkandung dalam perkataan itu.
Sementara melodi masih mengisi ruangan, percakapan ini menggambarkan kedalaman dan dimensi manusia yang berbeda-beda.