Kedatangannya ke Indonesia membuat seorang Kay Cyrano Agesislou pemilik perusahaan pelayaran terbesar di Yunani terobsesi terhadap seorang gadis mungil yang dia temui di sebuah pelabuhan.
Sejak saat itulah Kay mencari tahu segala tentang gadis yang baru menginjak usia delapan belas tahun itu. Jillian Lakhaesa nama itu terdengar sangat indah ketika Kay mendengarnya.
Mendengar gadis itu selau diperlakukan tidak manusiawi membuat Kay ingin Jillian berada disisinya. Tapi Kay ingin gadis itu sendiri yang datang menghampirinya.
Cinta dan obsesi menjadi satu membuat Kay melakukan apapun untuk membuat Jillian menjadi miliknya.
Banyak hal yang terungkap dalam hidupnya membuat Jillian merasa dunia memang benar-benar mempermainkannya.
xxxx
Hai, ini adalah cerita pertama yang aku buat.
Maaf jika masih terdapat banyak kesalahan dalam pengambilan dan penulisan kata.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ssintia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter | 32
+
+
Kay berjalan dengan perlahan mengikuti orang yang berjalan di depannya. Kay berhenti saat orang itu menunggu lift dengan menyandarkan tubuhnya ke dinding. Berlari kedepan lift dan Kay melihat angkanya menuju lantai dimana Lily berada.
Dengan cepat Kay melihat sekitarnya dan segera membuka pintu untuk tangga darurat. Tidak memerlukan waktu yang lama, hanya lima lantai yang harus Kay lalui membuatnya bergerak dengan cepat.
Tiba di lantai tempat Lily berada, Kay segera keluar dan berlari menuju kamarnya.
“Apa kalian melihat seorang laki-laki berhenti di lantai ini?” Kay bertanya langsung pada bawahannya yang terlihat bingung.
“Tidak ada siapapun selain kami di sini tuan.” Kay menganggukkan kepalanya lalu melihat sebentar pintu yang ada di depannya.
“Jangan sampai lengah.” Kay pergi kembali tanpa mendengar jawaban bawahannya. Dia akan menemui Akira yang sudah menunggunya di lantai bawah. Urusannya kali ini sangat mendesak membuat Kay harus segera menyelesaikannya.
Mungkin orang tadi hanya kebetulan saja, semoga.
Sedangkan di ujung belokan lorong ada seseorang yang mengintip dengan senyuman yang tidak luntur dari wajahnya.
“Sebentar lagi sayang, tunggu aku membawamu dari cengkraman iblis itu.” Orang itu pergi dengan bersiul sepanjang jalan dan sesekali tersenyum.
“Bagaimana?” Tanya Kay setelah masuk kedalam mobil yang Akira kendarai.
“Beres, tinggal menunggu apa keputusanmu.” Kay memejamkan matanya seraya menyandarkan kepalanya ke kursi.
“Kau tau sebenarnya aku tidak ingin lagi mengurus semua ini.” Kay mengembuskan nafasnya kasar membuat Akira segera menjalankan mobilnya keluar dari area rumah sakit.
“Aku mengerti tapi bagaimanapun beliau satu-satunya keluargamu yang masih hidup.” Akira tidak ingin membuat Kay menyesal yang akan menghantuinya sepanjang hidup seperti dirinya.
“Dan aku tidak berharap itu.” Kay membuka matanya lalu menatap jalanan dengan sorot tajamnya.
“IBU IBU!” Kay kecil berlari mengikuti seorang wanita dengan paras menawan yang berjalan jauh darinya.
Sedangkan yang di panggil ibu tidak menoleh sedikitpun seolah tidak mendengar ada yang memanggilnya.
“IBU JANGAN TINGGALKAN KAY IBU.” Kay terus berlari dengan langkah kecilnya tidak menghiraukan kaki telanjangnya yang menginjak bebatuan.
“KAY!” Kay kecil berhenti ketika seseorang meneriakinya.
Dengan perasaan bimbang, Kay melihat ibunya yang sudah berjalan jauh lalu melihat tidak jauh di belakangnya ada seorang anak perempuan yang terus memanggilnya dengan air mata yang mengalir dari kedua mata bulatnya.
“Jangan tinggalin Dree sendirian Kay.”Kay menarik anak perempuan itu kedalam pelukannya dengan mata yang melihat ke depan, mobil yang dikendarai ibunya sudah menghilang.
“Stt, berhentilah menangis Kay ada di sini.” Kay merangkum wajah kembarannya seraya menghapus air mata di pipi merahnya.
“Ibu ja-jahat Kay, jahat Dree takut jangan memanggilnya lagi.” Dree menarik tangan Kay dari pipinya.
“Tapi ibu-“
“Kay kumohon.” Dree menggoyangkan tangan Kay meminta sang kakak agar tidak membahasnya.
“Baiklah, ayo kita masuk.” Kedua anak itu masuk lagi kedalam sebuah rumah yang terlihat menyeramkan. Rumah itu jauh dari mana-mana hingga jika ada orang yang melihatnya akan menganggap rumah kosong jika dilihat dari kondisinya.
“Wanita itu selalu saja seperti ini.” Dree berhenti berjalan seraya menatap beberapa plastik putih berisi makanan untuk mereka konsumsi sebulan ke depan.
“Jangan seperti itu.” Kay mengambil satu persatu plastik itu lalu membawanya ke dapur.
“Kau selalu saja membelanya.” Dree mencebikkan bibirnya lalu menatap Kay yang sedang menyusun makanan ke rak.
“Dari pada banyak bicara lebih baik kau bantu aku.” Dengan ogah-ogahan Dree membantu Kay merapikan makanannya.
“Kay...” Dree berhenti bergerak membuat benda yang ada di tangannya terjatuh karena merasa tubuhnya tiba-tiba saja kaku.
“Apa.” Kay yang sadar jika Dree tidak menjawab membuatnya segera menoleh dan bersamaan dengan Dree yang terjatuh dengan tidak sadarkan diri.
Kay yang panik segera menahan tubuh Dree sebelum menghantam lantai.
“Dree hei bangun Dree.” Kay menepuk-nepuk pipi Dree berharap sang adik segera sadar.
“Jangan membuatku takut Dree.” Suara Kay bergetar ketika mengatakannya. Karena demi apa pun dia tidak tahu harus meminta tolong pada siapa karena rumahnya sangat jauh dari orang-orang.
Dengan tubuh kecilnya, Kay membawa Dree dan membaringkannya di sofa yang sudah terlihat tidak layak lagi di pakai.
“Dree cepat bangun.” Kay mengelus pipi Dree yang dingin.
Kay masuk kedalam kamarnya lalu keluar dengan membawa selimut yang langsung dia pakaikan ke tubuh adiknya. Kay berjalan mondar mandir di depan Dree yang masih tidak sadarkan diri. Memangnya apa yang bisa dilakukan anak berusia lima tahun seperti Kay.
Jika saja mereka berada di kota atau paling tidak di tengah permukiman dia akan langsung membawanya ke dokter. Sayangnya untuk keluar dari area ini saja membutuhkan waktu tiga jam dan Kay tidak ingin meninggalkan Dree selama itu. Ingin membawanya bersama-sama tubuh kecil Kay tidak bisa melakukannya.
Jadi yang bisa dia lakukan hanya mengunggu Dree sampai sadar. Delapan menit berlalu akhirnya Dree membuka kedua matanya membuat Kay segera berjongkok di depannya.
Dree mengerjapkan matanya perlahan lalu menatap Kay yang tengah melihatnya dengan khawatir membuatnya tersenyum geli.
“Jangan seperti itu, kau membuatku ketakutan.” Kay menggenggam tangan Dree yang dingin lalu mengusap-usapnya.
“Tubuhku sakit Kay.” Dree meringis ketika akan bangkit membuat Kay menahannya.
“Beristirahatlah biar aku yang menyelesaikan pekerjaannya.” Kay kembali menyelimuti tubuh Dree.
“Kay, kenapa tubuhku selalu seperti ini.” Kay tidak tahu harus mengatakan apa selain mencoba menenangkannya. Diam-diam Kay menyeka dengan cepat air mata dari matanya ketika melihat Dree kesakitan. Jika bisa biar dia saja yang merasakan rasa sakitnya jangan adiknya yang menderita seperti ini.
“Tidur ya, biar sakitnya menghilang.” Kay mengelus-elus kepala Dree hingga tertidur kemudian mengecup keningnya cukup lama sebelum menyelesaikan kembali pekerjaannya.
“Kondisi beliau masih sama, tidak menunjukkan peningkatan apapun.” Kay mendengarkan Akira yang berbicara di sampingnya sedangkan mata Kay terpaku pada tubuh perempuan yang terbaring di atas ranjang dari balik kaca.
“Percepat penerbangannya.” Kay berlalu dari tempat itu membuat Akira segera mengikutinya.
“Kau yakin?”
“Jepang adalah pilihan yang tepat untuk saat ini.” Kay percaya jika Akira mampu menjaga wanita itu dengan kekuasaannya. Bukannya Kay tidak mampu, hanya saja dia tidak bisa terlalu dekat dengan wanita itu. Ada hal yang masih belum bisa dia terima akibat perbuatannya hingga saat ini.
“Baiklah aku akan mengurusnya.” Akira berlalu dari samping Kay untuk mengurus semuanya.
Kay akan terima jika ada yang mengatakan jika dia anak durhaka, Kay tidak akan mengelaknya. Tapi luka yang wanita berstatus ibu kandungnya itu torehkan sangat dalam hingga tertanam di hatinya membuat Kay gelap mata. Dia hanya bisa melakukan hal ini, tidak dengan yang lainnya.
Kay berhenti berjalan ketika ponselnya berdering. “Ada apa?” Tanya Kay kembali melanjutkan langkahnya.
“Nona Jillian sudah sadar dan terus berteriak memanggil tuan, dokter pun kewalahan kami harus bagaimana tuan.” Kay masuk kedalam mobil dan meninggalkan tempat itu.
“Aku akan kesana.” Kay mematikan sambungan teleponnya dan fokus pada jalanan di depannya.
Rupanya benar, tiba di kamar rawat keadaan Lily jauh dari kata baik. Lily meringkuk dengan membenamkan kepalanya di samping ranjang. Dua orang dokter dan tiga orang perawat memberi salam pada Kay. Kay memberi isyarat agar mereka keluar.
Berjalan secara perlahan Kay mendekati Lily lalu berjongkok di depannya. Tangan Kay terulur mengelus kepala Lily yang langsung mendongak.
Tangis Lily langsung pecah saat mendapati Kay ada di depannya. Dengan cepat Lily memeluk Kay dengan erat. Jika Kay tidak menahan tubuhnya sudah pasti mereka akan terjatuh.
“Stt, jangan menangis aku sudah ada di sini.” Kay mengelus kepala Lily yang ada di dadanya.
“K-kau meninggalkanku.” Lily memeluk Kay lebih erat dengan air mata yang mengalir dari kedua matanya.
Karena posisinya tidak nyaman, Kay mengangkat tubuh Lily dan membaringkannya kembali ke ranjang. Saat akan melepaskan jeratan tangan Lily, perempuan itu menahannya dengan erat.
“Jangan tinggalkan aku.” Lily menggelengkan kepalanya.
“Tidak akan.” Kay mencium kepala Lily seraya menghirup aromanya dengan dalam. “Sebentar.” Kay melepaskan tubuhnya karena tidak nyaman dengan posisi membungkuk, dengan sedikit susah lalu duduk di samping Lily yang menatapnya dengan dalam. Jejak air mata di pipinya Kay usap dengan kedua tangannya.
“Kenapa menangis sampai seperti ini hm?” Kay mengelus pipi Lily.
“Aku kira kau akan meninggalkanku karena tadi.” Lily menunduk tidak berani menatap Kay. Keberaniannya untuk menatap Kay menguap entah kemana.
“Tidak ada sedikitpun pikiran untuk melakukannya.” Kay menaikkan seluruh tubuhnya keatas ranjang lalu ikut berbaring di samping Lily dengan hati-hati karena takut mengenai tangannya yang terluka lalu membawa tubuhnya kedalam pelukannya.
Lily yang menyukai posisi seperti ini tentu saja segera menyimpan kepalanya di dada Kay dengan nyaman. Menghirup aroma khas tubuh laki-laki itu, Lily merasa pikiran jahat yang terus berkeliaran di kepalanya hilang.
Kay membawa tangan Lily yang dibalut perban lalu mengecupnya sedikit lama membuat Lily mengerjapkan matanya. Jantungnya berdetak dengan kencang akibat perlakuannya.
“Lain kali jangan bertindak gegabah seperti tadi.” Kay menarik kepala Lily hingga keduanya berpandangan.
“Maaf.” Hanya kata itu yang bisa Lily ucapkan.
Kay mendekatkan wajahnya lalu memiringkan kepalanya. Perlahan namun pasti, Kay mempertemukan bibir keduanya lalu memainkan bibir tipis itu dengan perlahan, tidak ada nafsu yang menggebu karena Kay ingin Lily menikmatinya.
+
+
...°B e y o n d T h e S e a °...
..."the scariest things start to come"...
sukses otor, dan semangat 💪😘