Apakah yang harus Risya lakukan ketika dia mengetahui suaminya telah bertunangan dengan wanita yang di jodohkan oleh kedua orang tua sang suami? Sementara dirinya sedang mengandung benih alvin, atasannya di kantor sekaligus lelaki yang dia nikahi atas fitnah sang ayah tiri yang hampir saja merenggut kehormatannya pada saat Ibunya meninggal di desa kelahirannya.
Pada saat Risya memutuskan untuk meninggalkan suaminya, demia bakti sang suami pada kedua orang tuanya. Ternyata Risya mengetahui kalau tunangan suaminya itu bekerja sama dengan musuh suaminya untuk menghancurkan hidup suaminya.
Dilema cinta di hadapi oleh Risya saat itu. Apakah dia akan mengalah ataukah memperjuangkan kebahagiaannya sendiri bersama anak dan suami yang telah membuat dirinya kembali merasakan cinta setelah patah hati gara-gara Abid, sang mantan kekasih di masa lalu.
Yuk baca selengkapnya dan jangan lupa favorit, like, vote, gift nya ya, thanks you. Love sekebon tetangga buat kalian semua para reader tercinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur hapidoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Aku mohon, sayang! Percayalah padaku. Mari kita kembali ke Jakarta bersamaku dan aku akan memperkenalkanmu sebagai istriku kepada kedua orang tuaku. Aku janji aku akan melindungimu dari apapun." Alvin terus berusaha membujuk Risya untuk ikut bersamanya.
Risya yang takut mendapatkan murka dari atasannya tampak begitu ragu dan tidak yakin dengan kemampuan Alvin untuk berhadapan dengan kedua orang tuanya. Apalagi Aline sangat kasar dan tidak mau menerima kehadirannya.
Risya masih mengingat tindakan anarkis yang dilakukan oleh Aline terhadapnya yang bekerja sama bersama-sama Sheilla sehingga membuat dirinya sampai masuk ke rumah sakit selama beberapa hari.
Pada saat itu Alvin bahkan tidak bisa berbuat banyak untuk bisa menolongnya di hadapan ibunya yang sedang menggila setelah mengetahui tentang pernikahan mereka berdua.
Risya hanya ingin melindungi anak yang ada di dalam kandungannya. Risya tidak mau mengalami penganiayaan sekali lagi dari ibu mertuanya yang jahat dan selalu memandang rendah dirinya.
Risya tidak perduli ketika orang akan mengatakan dia sebagai orang bodoh ataupun wanita yang dungu karena tidak percaya dengan Alvin. Selama dirinya bisa melindungi anaknya dari bahaya dia akan melakukan apapun juga.
Risya masih membeku di tempat. Dia masih belum bisa memberikan jawaban apapun untuk menanggapi permintaan Alvin.
"Aku ingin istirahat dulu. Kalau kau ingin kembali ke Jakarta, pergilah! Aku tidak akan menghalangimu!" Risya kemudian masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya yang terasa begitu lemas dan sangat lelah.
Sejak mengandung Risya memang merasakan tubuhnya yang selalu cepat lelah dan kurang nafsu makan. Entahlah! Risya tidak terlalu mengerti dengan kondisi tubuhnya saat ini.
Tetapi, sejak tadi Risya tidak merasa terlalu mual atau ingin muntah seperti sebelumnya. 'Apakah karena ada ayahmu di sini? Sehingga kau begitu anteng? Maafkan Mama, sayang! Mama terpaksa melakukan ini semua. Demi keselamatan kita dari kejahatan nenekmu dan calon istri ayahmu.' Risya terlihat mengelus perutnya yang masih rata
Terlihat Risya meneteskan air matanya karena memikirkan tentang rumah tangganya yang begitu pelik dan penuh dengan cobaan yang seakan silih berganti. Risya berusaha untuk menguatkan hatinya yang saat ini sedang merasa gundah dan gulana.
Disaat Risya hendak memejamkan matanya tiba-tiba saja Alvin sudah duduk di sampingnya.
"Sayang! Aku benar-benar tidak sanggup untuk meninggalkanmu sendirian di sini. Aku takut kalau ayah tirimu akan datang kemari dan mengganggu kamu dan anak kita. Aku mohon sayang! Ikutlah denganku." Risya menatap sendu kepada suaminya yang masih belum menyerah untuk membujuk dirinya.
Alvin yang mengetahui isi hati Risya. Akhirnya Alvin pun menelpon ayahnya untuk meyakinkan istrinya agar mau ikut dan percaya dengannya.
"Bicara dengan ayahku, sayang. Kalau kau tidak percaya denganku." Alvin kemudian memberikan teleponnya kepada Zainal yang sudah menunggu Risya untuk bicara dengannya.
Zaenal merasa senang karena akhirnya dia bisa berhubungan langsung dengan Risya sebagai menantunya. Zaenal selama ini memang menunggu langkah yang akan di ambil oleh anaknya dalam rangka menyikapi hubungan mereka sekarang.
"Risya. Bagaimana kabarmu sayang? Apakah benar kalau kau sekarang sedang mengandung cucuku?" tanya Zaenal yang merasa senang karena akhirnya cita-citanya untuk memiliki cucu bisa terwujud.
Risya merasa excited mendengarkan atasannya memanggil dia dengan kata-kata 'sayang'. Padahal sebelumnya Aisyah sudah menyiapkan diri untuk mendapatkan caci maki dari Zainal yang pernah menjadi bosnya lebih dari 5 Tahun lamanya.
"Kabarku baik-baik saja, Pak. Lalu, bagaimana dengan kabar Bapak? Apakah urusan di luar kota sudah selesai?" tanya Risya yang terasa begitu gugup berbicara secara langsung dengan Zaenal.
Zaenal tertawa di seberang sana mendengar Risya yang memanggilnya 'Pak' seperti dulu.
"Panggillah saya 'Papa' , bukankah kau sekarang adalah istri dari Putraku? Bahkan sedang kamu sedang mengandung cucuku. Atau kau tidak mau menganggapku sebagai ayah mertuamu?" tanya Zaenal kepada Risya yang sontak meneteskan air matanya. Karena Risya benar-benar tidak menyangka kalau ternyata Zainal bisa menerima dirinya sebagai menantunya.
Risya bahkan sampai tidak bisa berkata-kata karena rasa haru yang begitu besar yang ada di dalam hatinya saat ini.
"Risya! Apa kau baik-baik saja di sana?" tanya Zaenal terlihat mengkhawatirkan keadaan resah yang sejak tadi diam saja dan tidak mengatakan apapun padanya.
Alvin kemudian mengambil ponsel dari tangan Risya dan meloudspeaker panggilan tersebut agar istrinya bisa mendengarkan isi pembicaraannya bersama sang ayah.
"Pah! Risya takut kalau Papa tidak bisa menerima nya sebagai menantu Papa. Oleh karena itu dia menolak untuk ikut denganku ke Jakarta. Tolong Papa bujuk Risya. Supaya dia mau ikut bersamaku pulang ke Jakarta." Risya terkejut mendengar apa yang dikatakan Alvin pada Zaenal.
Zaenal mengerti jalan pikiran Risya yang pasti merasa takut dan tidak percaya diri. Zainal sangat ingat betapa dirinya sering sekali bercerita tentang keinginannya untuk menjadikan Sheilla sebagai menantu idamannya.
"Dulu Papa memang sering bercerita menginginkan Sheilla sebagai menantu Papa. Itu karena Papa pikir kalau Alvin menyukai Sheilla. Sehingga Papa juga menginginkannya sebagai menantu Papa. Tapi, Papa sudah mendengar apa yang dikatakan Alvin bahwa dia mencintaimu dan menginginkanmu untuk menjadi istrinya.Risya! Papa tidak akan menghalangi cinta kalian selama kalian memang saling mencintai satu sama lain!" Risya yang sejak tadi hanya mendengarkan saja semua pembicaraan Alvin dan Zaenal semakin terisak.
Risya benar-benar tidak mengerti apa yang harus dia lakukan saat ini.
"Bagaimana dengan pertunangan Alvin dan Sheilla?" tanya Risya dengan suara serak dan gemetar.
Zaenal menarik nafasnya dengan dalam. Sungguh itu sebuah pertanyaan yang cukup berat untuknya. Karena dia sudah berusaha untuk menemui kedua orang tua Sheilla. Tetapi mereka tidak bersedia untuk membatalkan pertunangan itu.
Bahkan yang lebih gila lagi, Sheila tidak keberatan untuk dijadikan sebagai madu bagi Alvin.
"Saat ini Papa masih berusaha keras untuk bisa membatalkan pertunangan mereka. Percayalah Papa pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk membatalkan pertunangan itu. Sehingga kalian berdua bisa menjadi suami istri secara normal.
Risya sudah paham dengan apa yang dimaksud oleh Zainal hanya dengan perkataan itu.
"Itu artinya rumah tangga kami masih berada di ujung tanduk. Tidak ada kejelasan dan masa depan di dalamnya. Saya benar-benar sangat takut dengan amarah istri anda yang bahkan pernah menganiaya saya dengan begitu brutal. Sehingga membuat saya masuk ke rumah sakit selama beberapa hari. Untung saja anak saya kuat sehingga dia tidak mengalami keguguran ketika kejadian itu terjadi kepada saya." Risya terlihat meneteskan air mata kesedihan ketika kembali membayangkan tentang apa yang dilakukan Aline kepadanya tempo hari.
Zaenal cukup terkejut mendengar pengakuan Risya tentang istrinya yang berani berbuat aniaya terhadap menantu dan cucunya yang masih ada di dalam kandungan.