7 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk pasangan suami isteri Mia dan Shendy membina rumah tangga, dan kebersamaan mereka selama ini kurang lengkap karena belum hadirnya buat hati di tengah-tengah kehidupan mereka
Shendy memang tidak mempermasalahkan hal itu, bisa hidup bahagia bersama sang isteri sudah cukup baginya namun berbeda dengan Mia, wanita itu selalu merasa kesepian dan sedih kerap kali membayangkan adanya kehadiran anak di rumah mereka
Bahkan Sendy kerap kali harus menghibur sang isteri setiap kali mendengar kabar berita kehamilan para sahabatnya
Shendy merupakan sosok yang penyabar dan sangat mencintai isterinya tapi rasa cintanya di uji ketika sang isteri mengungkapkan keinginan konyolnya pada Shendy hingga membuat pria tersebut marah besar dan terjadilah pertengkaran hebat diantara keduanya
Apakah keinginan konyol sang isteri hingga membuat Shendy yang penyabar itu marah besar?
Simak terus cerita selanjutnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dianshen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Sudah hampir sepekan Mia tinggal di kampung halaman mama Nina, walaupun belum bisa berinteraksi dengan orang-orang yang ada disekitarnya mama Nina tetap bersyukur setidaknya Mia nampak lebih tenang dan tidak pernah membuat orang-orang yang ada di sekitarnya merasa terganggu dengan kehadirannya
Hampir setiap hari Mia selalu jalan-jalan pagi di sekitaran rumahnya ditemani oleh dokter Rani
Menghirup udara sejuk di pagi hari dengan pemandangan yang masih sangat asri membuat Mia nampak jauh lebih segar dan sehat
" Kamu capek enggak Mia? kalau capek kita istirahat aja dulu ya!" Dokter Rani mengajak Mia duduk di bangku yang terbuat dari kayu dibawah pohon mangga yang lumayan lebat daunnya dengan pemandangan sawah disekitarannya
Dan seperti biasa Mia tidak menjawab apa-apa tapi wanita itu menurut ketika dokter Rani menyuruhnya untuk duduk
Mia mengedarkan pandangannya ke sembarang arah dan tiba-tiba saja tatapan matanya tertuju pada seorang wanita yang tengah duduk di depan teras rumahnya sambil menggendong seorang bayi laki-laki
Mia beranjak dari tempat duduknya dan dengan langkah perlahan ia menapaki kakinya mendekat ke arah wanita itu tanpa mengalihkan pandangannya
Dokter Rani terperanjat kaget ketika melihat Mia yang tiba-tiba saja sudah berdiri bahkan tengah melangkahkan kakinya ke arah rumah salah satu warga
Mia berjalan mendekati seorang ibu muda yang tengah duduk di teras rumahnya sambil menggendong anaknya dan Mia menatap ibu dan bayinya dengan tatapan yang sulit diartikan
" Mia!" panggil dokter Rani yang cemas setengah mati dengan apa yang Mia lakukan, dokter muda itu dibuat deg-degan takut akan tindakan tak terduga yang bisa saja Mia lakukan pada ibu dan anak yang tengah Mia hampiri
" Ba...bayi?" gumam Mia pelan dan sorot matanya berbinar ketika menatap bayi mungil yang sedang berada di gendongan ibunya
Dokter Rani diam terpaku saat mendengar satu kata terucap dari bibir Mia, pasalnya Mia jarang merespon keadaan disekitarnya tapi pagi ini Mia nampak tertarik dengan bayi yang sedang berada di gendongan seorang wanita muda yang usianya jauh lebih muda dari Mia
" Ba...bayi, sangat tampan!" ucap Mia dengan mata berkaca-kaca ketika sudah berada di dekat wanita muda dan putranya
Mendengar suara Mia sontak saja hal itu membuat Ibu muda yang dihampiri Mia sedikit terkejut karena tiba-tiba dihampiri oleh wanita asing tapi cukup familiar di matanya
Mia semakin mendekat dan tangannya terulur untuk menyentuh pipi chubby bayi yang berada dalam buayan sang ibu
" Ap..apa kamu ini Kak Mia?" tanya ibu muda tersebut dengan sedikit gugup
Mia beberapa bergeming, tatapan matanya hanya tertuju pada bayi laki-laki yang wajahnya sangat familiar di mata Mia
" Wajahmu tampan sekali!" ucap Mia menatap lekat wajah sang bayi bahkan mengabaikan pertanyaan ibu si bayi tersebut
Ibu muda yang tidak lain adalah Melati menatap dokter Rani yang kini sudah berada di belakang Mia
" Iya kamu benar, dia adalah Mia putrinya Bu Nina!" sahut dokter Rani mewakili jawaban Mia yang tatapannya tidak lepas dari baby Ano
" Si... siapa namanya?" tanya Mia lalu mengecup pipi baby Ano dengan lembut
" Melviano panggil aja baby Ano!" jawab Melati
" Nama yang indah" senyum pun terus terukir di wajah cantiknya
Dokter Rani benar-benar terkejut dengan perubahan yang terjadi pada Mia, pasiennya itu seketika banyak kemajuan setelah bertemu dengan baby Ano bahkan sejak melihat bayi mungil itu senyum di wajah Mia tidak pernah surut
" Apa boleh aku menggendongnya?" tanya Mia menatap Melati dengan tatapan memohon
Melati menoleh ke arah dokter Rani karena sebelumnya Melati sudah mendengar cerita tentang Mia dari ibu dan bapaknya tentang keadaan Mia yang depresi setelah suaminya meninggal dunia
Melati yang dulunya sempat dekat dan sangat akrab dengan Melati merasa iba dengan kondisi yang terjadi pada wanita yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri
Dokter Rani menggeleng pelan ketika netranya bersirobok dengan tatapan Melati yang seolah meminta pendapatnya
Melati menoleh ke arah Mia lalu bergantian menatap bayi mungil yang berada di tangannya
Meskipun hatinya deg degan dan was-was, Melati yang merasa kasihan dengan wanita yang dulu sangat dekat dengannya memberanikan diri untuk memberikan baby Ano kedalam gendongan Mia
Tentu saja apa yang dilakukan Melati membuat dokter Rani membulatkan matanya
Dokter muda itu sungguh tidak percaya dengan apa yang sudah Melati lakukan pada putranya yang masih bayi itu, mengabaikan resiko besar yang bisa saja tiba-tiba Mia lakukan pada sang bayi
Tapi entah kenapa walaupun di dalam hatinya merasa sangat khawatir ibu muda itu bisa-bisanya menyerahkan bayi laki-lakinya pada wanita yang terbilang sedang tidak baik kewarasannya
" Kau sangat tampan, daya tarikmu sungguh luar biasa sayang, aku bahkan langsung jatuh hati pada pandangan pertama padamu baby Ano" ungkap Mia dengan sangat antusias
Dokter Rani benar-benar merasa takjub dengan pesona baby Ano yang dengan mudahnya langsung memberi daya tarik sendiri untuk Mia
" Bayi yang luar biasa, dari kejauhan saja daya tariknya bisa membuat Mia langsung terpikat bahkan kondisi kesehatannya pun mengalami perkembangan yang luar biasa" gumam dokter Rani sambil menatap Mia yang sedang mengajak baby Ano berbicara
" Mia, ini sudah siang kita sudah lama meninggalkan rumah kasihan ibu mu pasti sangat khawatir sekarang" bujuk dokter Rani
Mia menoleh ke arah dokter Rani sekilas lalu kembali menatap bayi yang masih berada di gendongannya
" Aku masih ingin disini bersama baby Ano!" tolak Mia membuat dokter Rani menghela nafasnya berat
" Pulanglah dulu kak Mia, kasihan ibu kak Mia yang pastinya sangat mengkhawatirkan keadaan kak Mia sekarang!" ucap Melati dengan sangat hati-hati
" Lain kali kak Mia bisa datang ke sini lagi kok jika kak Mia memang mau bertemu dengan baby Ano!" tambahnya lagi
" Tapi rasanya aku enggan jauh-jauh dari baby Ano" ucap Mia tulus membuat dokter Rani merasa serba salah
" Kak Mia pulang aja dulu ya, nanti lain waktu kak Mia boleh kok datang lagi kesini, asal kak Mia mau pulang untuk beristirahat di rumah dan jangan lupa minum obatnya ya!" tutur Melati dengan sangat hati-hati takut wanita yang sudah ia anggap saudaranya sendiri itu tersinggung
Mia terlihat sendu ketika harus berpisah dengan baby Ano dan dengan gerakan perlahan wanita yang begitu menginginkan kehadiran anak dalam rumah tangganya itupun dengan berat hati menyerahkan bayi tersebut pada ibunya
" Ayo kita pulang!" ajak dokter Rani mengulurkan tangannya pada Mia
Mia dengan langkah perlahan berjalan meninggalkan Melati yang sedang menggendong baby Ano