NovelToon NovelToon
Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Healing / Orang Disabilitas / Tamat
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Pengasuh Nomor 88

Pengasuh nomor delapan puluh delapan itu berdiri di depan gerbang Rumah Tan di Menteng dengan satu koper kecil, satu ransel, dan keberanian yang masih ia paksa agar tidak kabur duluan.

Budiman Sekar mengangkat wajah.

Gerbang hitam setinggi hampir dua kali tubuhnya terbuka tanpa suara. Di baliknya, halaman luas mengilap sehabis disiram, pohon palem berjajar rapi, dan rumah tiga lantai berwarna putih gading berdiri seperti hotel pribadi yang lupa memasang papan nama.

Di Depok, rumah Sekar bisa terdengar sampai ke dapur tetangga kalau Engkong Budiman batuk terlalu keras. Di sini, suara langkahnya sendiri seperti tenggelam dimakan rumput yang dipotong terlalu sempurna.

Sebuah mobil golf kecil berhenti di dekat pos satpam. Seorang perempuan paruh baya turun dengan tote bag besar di bahu. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya pucat, tetapi langkahnya cepat sekali. Terlalu cepat untuk orang yang katanya baru selesai bekerja.

"Mbak Sekar, ya?" tanyanya.

Sekar mengangguk. "Iya. Bu Susi?"

"Iya. Mantan Bu Susi," jawab perempuan itu sambil melirik ke arah rumah utama. Suaranya diturunkan seperti sedang membicarakan hantu. "Mulai hari ini kamu yang jaga Tuan Muda. Saya sudah selesai. Hidup saya mau saya pakai untuk hal baik-baik saja."

Sekar hampir tertawa, tetapi wajah Bu Susi terlalu serius.

"Sebentar, Bu. Katanya saya harus serah terima dulu."

"Serah terima?" Bu Susi membuka tote bag, mengeluarkan map tipis, lalu menjejalkannya ke tangan Sekar. "Ini daftar obat, jadwal makan, jadwal fisioterapi, nomor darurat, dan daftar makanan yang tidak boleh dia sentuh. Yang boleh dia makan? Hampir tidak ada. Kalau kamu bisa masak udara, mungkin dia mau."

Sekar menunduk melihat map itu. Di halaman pertama tertulis rapi: Pantangan Makanan Tan Ardian. Halaman kedua masih pantangan. Halaman ketiga juga.

"Tiga halaman?"

"Dua setengah. Yang setengahnya khusus tekstur tomat."

Sekar menatap Bu Susi.

Bu Susi menatap balik dengan mata yang sudah tidak punya sisa harapan. "Nak, kamu masih muda. Kalau bisa kabur, kabur saja. Gaji besar itu manis di awal, pahitnya nanti waktu gelas melayang dekat telinga."

Belum selesai kalimat itu, dari dalam rumah terdengar suara pecahan kaca.

Prang!

Sekar dan Bu Susi sama-sama diam.

Bu Susi menarik napas, lalu tersenyum kaku. "Nah. Itu ucapan selamat datang."

Pintu utama terbuka. Seorang laki-laki muda keluar dengan wajah panik sambil memegang ponsel dan tablet sekaligus. Kemeja putihnya kusut di bagian lengan, rambutnya sedikit acak-acakan, tapi jam di pergelangan tangannya jelas bukan barang yang pantas berada dekat orang ceroboh.

"Bu Susi!" panggilnya. "Jangan pergi dulu. Koko baru bangun dan dia sudah..."

Ucapannya berhenti ketika melihat koper di samping Sekar.

"Oh." Mata laki-laki itu langsung berbinar seperti orang menemukan payung di tengah hujan. "Kamu pengasuh baru?"

"Budiman Sekar," jawab Sekar.

"Tan Darren." Ia cepat-cepat menjabat tangan Sekar dengan dua tangan. "Terima kasih sudah datang. Sungguh. Kamu tidak tahu betapa besar jasamu untuk kemanusiaan."

Bu Susi mendengus kecil. "Saya pamit, Pak Darren."

"Tunggu, Bu Susi. Minimal jelaskan dulu cara menghadapi Koko kalau dia marah."

"Jangan dihadapi," jawab Bu Susi mantap. "Hindari."

Setelah itu, perempuan itu benar-benar pergi. Bukan berjalan. Setengah berlari. Begitu mencapai gerbang, ia bahkan tidak menoleh lagi.

Sekar memandangi punggung Bu Susi yang menghilang, lalu menoleh ke Darren. "Dia selalu begitu?"

"Hari ini termasuk tenang," kata Darren.

Bagus. Hari pertama, dan Sekar sudah mendapat kabar bahwa suara kaca pecah adalah kondisi tenang.

Namun ia tidak mungkin mundur. Kontrak percobaan ini nilainya lebih besar daripada semua pekerjaan paruh waktu yang pernah ia ambil digabungkan. Biaya implan koklea Papa dan Mama, servis alat, cicilan rumah, uang kuliah semester akhir, semua seperti berdiri berbaris di belakang punggungnya sambil mendorong.

Sekar mengeratkan pegangan pada ransel.

"Di mana Pak Tan?"

Darren tampak ingin menjawab, tetapi dari arah ruang tengah terdengar suara dingin.

"Suruh dia pulang."

Suara itu tidak keras. Justru terlalu datar. Tetapi udara di sekitar pintu seperti langsung turun beberapa derajat.

Sekar masuk mengikuti Darren.

Ruang tengah Rumah Tan luas, bersih, dan mahal sampai terasa tidak ramah. Lantai marmer memantulkan bayangan lampu kristal. Di antara sofa kulit gelap dan meja rendah, seorang pria duduk di kursi roda elektrik hitam.

Tan Ardian.

Sekar pernah melihat fotonya di artikel bisnis lama. Saat itu dia berdiri di podium, memakai jas, dengan tatapan tajam yang membuat judul artikel terlihat kalah percaya diri. Pria di depannya sekarang masih sangat tampan. Terlalu tampan, malah. Hidungnya tegas, bulu matanya panjang, rahangnya bersih, tetapi wajah itu seperti pintu yang dikunci dari dalam.

Kaki panjangnya tertutup selimut tipis. Tangan kanannya memegang gelas yang tinggal setengah. Di lantai dekat roda, pecahan kaca dari gelas lain masih berserakan.

Matanya bergerak dari koper Sekar ke wajah Sekar.

"Nomor berapa?"

Sekar butuh satu detik untuk paham. "Delapan puluh delapan."

"Hebat." Sudut bibir Ardian bergerak sedikit, bukan senyum. "Darren makin rajin mengirim korban."

"Koko," Darren berbisik panik. "Ini Budiman Sekar. Agensinya bilang dia punya pengalaman merawat hewan dan orang tua. Dia juga bisa bahasa isyarat. Profilnya bagus."

"Aku bukan hewan."

"Aku tidak bilang begitu."

"Tapi kamu berpikir begitu."

Darren langsung menutup mulut.

Sekar melirik pecahan kaca di lantai. Ada satu pecahan yang terlalu dekat dengan roda kursi. Kalau roda bergerak, serpihannya bisa melukai ban atau memantul ke kaki. Ia meletakkan koper, mengambil sapu kecil dari dekat lemari pajangan, lalu mulai membersihkan tanpa menunggu perintah.

Ardian menatapnya.

"Siapa yang menyuruhmu menyentuh barang di rumah ini?"

"Tidak ada," jawab Sekar sambil jongkok. "Saya cuma tidak ingin Pak Tan menambah daftar kerusakan di hari pertama saya."

"Hari pertamamu tidak akan sampai malam."

"Sayang sekali. Saya sudah bawa baju ganti."

Darren mengeluarkan suara kecil, seperti tersedak doa.

Ardian meletakkan gelasnya di meja. Gerakannya pelan, tetapi cukup membuat Darren mundur setengah langkah.

"Kamu tahu berapa orang sebelum kamu yang keluar dari rumah ini?"

"Delapan puluh tujuh," jawab Sekar.

"Dan kamu masih datang?"

"Saya bisa menghitung sampai delapan puluh delapan, Pak."

Mata Ardian menyipit.

Sekar memasukkan pecahan terakhir ke pengki. Tangannya tidak gemetar, meski jantungnya berdetak seperti orang mengejar KRL. Ia takut, tentu saja. Orang waras mana yang tidak takut melihat majikan baru menyambut pengasuh dengan pecahan gelas?

Tapi takut miskin lebih lama, lebih melelahkan, dan tidak bisa disapu ke pengki.

Ardian menekan tombol kecil di sisi kursi roda. Kursi itu maju beberapa senti, cukup untuk membuat jarak mereka berkurang. Suara mesinnya halus, hampir tidak terdengar.

"Budiman Sekar."

Ini pertama kalinya ia menyebut namanya. Di mulut pria itu, namanya terdengar seperti berkas yang siap ditandatangani penolakannya.

"Iya, Pak Tan."

"Aku tidak butuh pengasuh. Aku tidak butuh orang asing masuk kamar, mengatur makan, menyentuh kakiku, atau berpura-pura kasihan."

"Bagus," kata Sekar. "Saya juga tidak suka berpura-pura."

Darren memejamkan mata.

Ardian diam sesaat. Lalu gelas di meja itu tiba-tiba tersapu tangannya.

Prang!

Gelas kedua pecah tepat di depan kaki Sekar.

Kali ini Sekar tidak bergerak. Sepatunya terkena percikan air. Ujung celana jeans-nya basah. Serpihan kecil mengilap di lantai marmer, hanya beberapa senti dari jemarinya.

"Pulang," kata Ardian.

Suara Darren langsung pecah. "Koko!"

Sekar menatap pecahan itu, lalu menatap Ardian. Wajahnya masih dingin, tapi ada sesuatu di balik matanya. Bukan hanya marah. Ada lelah, pahit, dan luka yang terlalu lama disembunyikan sampai berubah menjadi duri.

Sayangnya, duri tetap duri. Kalau menusuk orang lain, tetap harus dicabut.

Sekar berdiri. Ia mengambil tisu dari meja, mengeringkan ujung celananya, lalu tersenyum.

"Pak Tan, kalau mau mengusir saya, silakan. Tapi gelasnya jangan mahal-mahal. Nanti sayang."

Darren membuka mata.

Ardian menatapnya seperti baru mendengar kursi bicara.

"Kamu tidak takut?"

"Takut," jawab Sekar jujur. "Tapi saya lebih takut pulang tanpa pekerjaan."

Untuk pertama kalinya sejak Sekar masuk, ruang tengah itu benar-benar sunyi.

Ardian menekan sandaran kursi rodanya, tubuhnya sedikit condong ke belakang. Tatapannya turun ke sepatu Sekar yang basah, naik ke ransel murahnya, lalu berhenti di wajahnya.

"Tiga hari."

Sekar mengangkat alis.

"Dalam tiga hari, aku akan membuatmu pergi sendiri dari rumah ini."

Darren langsung menoleh pada Sekar dengan wajah memohon. Seolah meminta maaf sebelum perang dimulai.

Sekar melihat pecahan gelas di lantai, map pantangan makanan di tangannya, rumah besar yang dingin ini, dan pria di kursi roda yang memakai kemarahan seperti selimut.

Lalu ia tersenyum.

"Baik, Pak Tan."

Ia mengambil sapu lagi, menunduk membersihkan pecahan gelas kedua, kemudian berkata dengan suara ringan, "Kalau begitu, kita lihat saja siapa yang lebih dulu menyerah."

1
sunaryati jarum
Beruntungnya kamu Sekar dicintai Tan Ardian dengan ugal-ugalan
sunaryati jarum
Itu juga emak nanti, Tante Nana yang ikut bulan madu sudah ada isi orok rahimnya
sunaryati jarum
Akhirnya kembali
sunaryati jarum
Tiga puluh negara berapa bulan tuh
sunaryati jarum
Itu aturan kamu lho mengganti kata maai😃😃
sunaryati jarum
Bulan madunya keliling dunia
sunaryati jarum
Sepertinya mau berbaikan dan balikan
sunaryati jarum
Semoga mereka . balikin lagi jadi suami istri dan kepulangan dari bulan madu ada kabar gembira dari Budiman Sekar, kecebong Tan Ardian ada yang tumbuh di rahim Sekar
sunaryati jarum
Perjuangan keluarga untuk mendapatkan pendengaran Ibu Melina berhasil
sunaryati jarum
Selamat akhirnya menikah cepat
sunaryati jarum
Nah gitu ,jika sudah menikah dimana pun tinggal bisa tidur bersama
sunaryati jarum
Maka segera nikahin Sekar, Setelah semua urusan hukum Kevin, Yenni,dan Felicia selesai
sunaryati jarum
Ternyata kau mempelajari bahasa dengan sungguh sungguh
sunaryati jarum
Bravo Ardian ,calon menantu idaman
sunaryati jarum
Dalam tidur saja kalau sudah bucin , yang teringat hanya Ardian
sunaryati jarum
Tan Hendrawan hanya bisa menyesal dan meratapi kebodohannya
sunaryati jarum
Nah Kevin dan Violeta yang merasa aman,akan diminta pertanggungjawabannya
sunaryati jarum
Ardian sudah mengumumkan pacarnya siapa
sunaryati jarum
Ingin merebut milik Tan Ardian,Kevin.Yang ada kehancuran kamu
sunaryati jarum
Dengan cinta semangat bangkit kembali ,Tan Ardian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!