Sania adalah seorang gadis cantik yang kaya. karena kekayaan keluarganya Sania menjadi sombong, Ia suka menghina dan meremehkan orang lain. Orang yang paling sering ia hina adalah Arlan, supir pribadinya sendiri. Hampir setiap hari Sania mencaci maki Arlan, walaupun begitu Arlan tidak pernah berpikir untuk berhenti bekerja karena diam diam Arlan sudah jatuh cinta pada Sania. Duniapun berputar berkat kerja kerasnya Arlan berhasil menjadi seorang yang sukses dan kaya sedangkan keluarga Sania jatuh miskin karena mereka mengalami musibah. Akankah Sania jatuh cinta pada Arlan setelah Arlan berubah menjadi kaya dan apakah Arlan masih mencintai Sania mengingat perlakuan buruk Sania dimasa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nety purbasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan
Arlan menemui dokter yang berada dirumah sakit itu, Ia ingin menanyakan sesuatu tentang Sania. Arlan merasa, Sejak melahirkan sikap Sania berubah. Sania jadi gampang marah.
Dokter yang membantu Sania melahirkan sudah pulang sehingga Arlan berkonsultasi pada dokter lain.
Dokter itu mengatakan kalau Sania mengalami sedikit depresi, Sania sangat tertekan Karena kehilangan anaknya. Sania melampiaskannya dengan cara mengadopsi anak.
Dengan merawat seorang bayi Sania bisa mencurahkan perhatiannya pada bayi itu dan berlahan lahan Sania akan melupakan kesedihannya.
Tubuh Arlan lemas ketika ia mendengar penjelasan dokter itu. Ia sebenarnya ingin memaksa Sania agar Sania tidak mengadopsi bayi itu, namun apa yang dokter sampaikan membuat Arlan mengurungkan niatnya.
Usai bicara dengan dokter, Arlan kembali lagi kekamar Sania. Arlan melihat Sania memejamkan matanya, sedangkan bayinya sudah tidak ada dikamar itu. Mungkin bayi itu sudah dipindahkan keruangan bayi.
Arlan lalu duduk dikursi yang berada didepan tempat tidur Sania dengan lembut ia menggengam tangan Sania.
"Sani, apa kamu tahu? aku senang karena anakmu meninggal. Anak itu membuatku ingat, bahwa kamu sudah menghianati aku." Arlan tahu Sania belum tidur, wanita itu hanya berpura pura.
"Kali ini aku akan mengalah, lakukan apa yang kamu mau. Aku tidak akan menghalangimu untuk merawat bayi itu, meski aku tidak tahu asal usul bayi itu." Arlan melepaskan genggaman tangannya pada Sania lalu ia berdiri dari duduknya.
"Sani, Dokter bilang besok kamu sudah boleh pulang. istirahatlah, besok aku akan datang menjemputmu."
Arlan membalikan badannya kemudian ia berjalan kearah pintu bersamaan dengan itu Sania, membuka matanya.
"Arlan."
Arlan membalikan badannya ketika ia mendengar Sania memanggil namanya.
"Besok tidak usah menjemputku, aku tidak akan pulang bersamamu." Ucapkan Sania membuat Arlan jadi kesal.
"Sani, jangan mulai lagi... " Arlan sungguh bosan mendengar Sania yang sering kali mengatakan ingin bercerai dan ingin pergi dari rumah.
"Tidak ada lagi alasanku untuk bertahan dirumahmu. Ibuku pulang kampung, nenekku masih koma dan anakku sudah meninggal." wajah Sania terlihat sedih.
"Masih ada aku Sania." Arlan berkata seakan akan ia adalah orang paling penting dalam hidup Sania.
"Kehadiranmu tidak ada gunanya, kamu tidak bisa membantuku disaat aku butuh bantuan." Sania berkata tanpa memikirkan. Apakah yang ia katakan, bisa menyakiti hati Arlan atau tidak.
"Kamu lupa? Disaat kamu mengurungku, kamu malah bersenang senang bersama Erika kalian bahkan sempat liburan kepulau Bali" ujar Sania sinis.
"Kamu cemburu?" Sania begitu banyak bicara, tapi dari sekian banyaknya kata yang Sania ucapkan hanya itu yang Arlan ingin pastikan.
Arlan tidak suka wanita yang cerewet, Saat ibunya sedang banyak bicara. Arlan memilih pergi dan tidak mau mendengarkan ibunya, tapi hari itu Arlan justru suka mendengar ocehan Sania.
Sania tersenyum kecut, ia memutar bola matanya malas.
"Aku pergi dulu, besok aku akan tetap menjemputmu. tenang saja, kamu tidak akan pulang kerumahku. aku juga tidak akan menggurungmu lagi, kamu akan pulang kerumah kita yang baru. love you istriku." Bagai remaja yang sedang kasmasran Arlan membentuk sebuah hati dengan jari jari tangannya.
Setelah mengatakan itu Arlan keluar dari ruangan itu.
Sania tersenyum senang. Hanya mendengar kata kata manis Arlan, Sania bisa melupakan semua perlakuan buruk Arlan padannya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Keesokan harinya, pagi pagi sekali Arlan benar benar datang kerumah sakit untuk menjemput Sania. Arlan sangat sedih dan kecewa ketika ia tahu Sania sudah tidak ada dikamarnya, Kamar tempat Sania dirawat kosong.
"Suster dimana pasien yang ada dikamar ini." Tanya Arlan pada suster yang kebetulan melewati kamar itu.
"Maksud bapak, Ibu Sania? Bu Sania sudah pulang, tadi ia dijemput suaminya.
Arlan mengepalkan satu tangannya, siapa laki laki yang dimaksud dengan suami Sania.
"Suster, apa suster tahu siapa nama laki laki yang menjemput Sania?"
"Maaf, saya tidak tahu." Suster itu kemudian pergi padahal Arlan masih ingin bicara dengannya.
Arlan sangat marah mendengar jawaban dari suster itu, dengan hati yang dipenuhi amarah.serta cemburu Arlan keluar dari rumah sakit itu.
Didalam mobil Arlan mencoba menelphone Sania, tapi ponsel Sania tidak aktif. Arlan kemudian menelphone dokter yang merawat nenek Sania.
Arlan menanyakan tentang perkembangan nenek Sania, Arlan ingin memindahkan nenek Sania kerumah sakit lain. Arlan ingin menyembunyikan keberadaan nenek Sania supaya Sania datang dan mencari dirinya.
Lagi lagi Arlan dibuat terkejut karena dokter itu memberi tahu Arlan, kalau nenek Sania menghilang.
Dokter itu bercerita bahwa beberapa saat yang lalu mati lampu, Saat itu masih subuh. langit masih gelap dokter tidak tahu kalau nenek Sania menghilang. Dokter itu baru memeriksa kamar nenek Sania ketika Arlan menelphonenya.
Karena marah Arlan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Arlan terus menjalankan mobilnya,.
Arlan juga tidak tahu ia mau pergi kemana.Pikirannya sedang kacau, tanpa sengaja Alan menabrak pohon. Karena kelalaiannya Arlan mengalami kecelakaan.
Sementara ditempat lain Sania berada dirumah sakit, ia menunggu neneknya diperiksa dokter. Sania diam diam ingin memindahkan neneknya kerumah sakit lain.
Hati Sania memang sempat berbunga bunga ketika Arlan kembali menyatakan cintanya, tapi Sania sadar pernyataan cinta itu hanyalah kata kata. Kata kata yang tidak akan merubah keadaan.
Arlan tidak pernah mengakuinya sebagai istri, Arlan juga tidak mengakui kalau bayi yang Sania lahirkan adalah anaknya.
Sudah cukup Sania bersabar selama ini, bayi Sania sudah meninggal jadi tidak ada gunanya ia bertahan menjadi istri Arlan.
Sania memutuskan untuk pergi dari kehidupan Arlan, ia meminta tolong Dennis agar ia bisa pergi dari kota itu bersama sama dengan anak angkatnya dan juga neneknya.
Ditengah perjalan tangan nenek Sania tiba tiba bergerak. Sania dan Dennis sangat terkejut, Dennis kemudian menghentikan mobilnya dirumah sakit terdekat.
Sania terlihat begitu gelisah, ia sangat mencemaskan keadaan neneknya. Sania takut terjadi sesuatu pada neneknya.
"Sani, biar aku gendong anakmu." Dennis merasa kasihan pada Sania yang sedang duduk melamun sambil menggendong anaknya.
"Tidak usah Dennis, anak ini baru saja tidur." Sania tidak ingin anaknya terbangun lalu menangis.
"Ngomong ngomong, Siapa nama anak ini?"
Pertanyaan Dennis membuat Sania terdiam, ia baru sadar kalau ia belum memberi nama pada bayi kecinya.
Ketika Sania sedang memikirkan nama apa yang cocok untuk bayi kecilnya, dokter keluar dari ruangan tempat dimana nenek Sania diperiksa. Sania buru buru menghampiri dokter itu.
"Dokter, bagaimana keadaan nenek saya?" Sania terlihat khawatir.
"Nenek anda baik baik saja, sekarang ia sudah sadar."
Sania sangat bahagia mendengar berita yang disampaikan oleh dokter itu saking bahagianya ia hampir menangis.
"Sania, temuilah nenekmu. aku akan menjaga bayimu." Untuk kedua kalinya Dennis menawarkan diri membantu Sania menggedong anaknya.
Kali ini Sania tidak menolak, ia ingin segera menemui neneknya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Sania membuka pintu kamar neneknya. tanganya sedikit bergetar, pintu itupun terbuka. Sania melihat neneknya sedang berbaring ditempat tidur.
"Nenek." Suara Sania membuat nenek Sania menoleh kearah pintu.
Dengan mata yang berkaca kaca Sania berjalan mengampiri neneknya.
"Nenek, Syukurlah. Nenek akhirnya sadar."
Sania ingin sekali memeluk neneknya, tapi karena neneknya masih terbaring lemah Sania hanya bisa duduk disamping neneknya.
Sama seperti Sania, nenek Sania juga merasa bahagia karena dirinya sudah bangun dari tidur yang panjang.
"Sani, ada yang ingin nenek katakan."
"Nanti saja nek, sebaiknya nenek sekarang istirahat." Karena neneknya baru saja sadar, Sania ingin neneknya banyak beristirahat.
"Nenek tidak akan lelah hanya karena bicara. Sania kamu dengarkan saja, apa yang ingin nenek katakan."
"Baiklah." Tidak ingin membuat neneknya kecewa, Sania memilih untuk menuruti kemauan neneknya.
"Erika yang membuat nenek seperti ini, perempuan jahat itu yang membuat nenek jatuh dan akhirnya nenek pingsan."
Sania kaget sekaligus marah mendengar cerita neneknya, ia tidak mengerti mengapa Erika sampai hati melakukan itu pada neneknya.
"Kenapa Erika melakukan itu nek?"
"Erika takut, nenek memberi tahu rahasianya pada Arlan."
"Rahasia apa?" Sania penasaran, rahasia apa yang Erika sembunyikan sampai ia tega membuat neneknya jatuh.
"Nanti kamu juga tahu. Sania, cepat telphone Arlan. Suruh dia datang kesini. nenek harus bicara dengan kalian berdua." Nenek Sania tidak sabaran, sepertinya apa yang ingin katakan adalah sesuatu yang sangat penting.
"Nenek, tunggu sebentar aku akan mencoba menelphone Arlan." Sania kemudian keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana ini? aku pergi untuk menghindari Arlan, tapi nenek malah ingin bertemu dengan Arlan."
Dengan terpaksa Sania akhirnya berusaha menghubungi Arlan, sayangnya ponsel Arlan tidak aktif.
Arlan baru saja diperiksa dokter. kecelakaan kecil yang Arlan alami tidak membuatnya terluka parah, ia hanya luka luka ringan.
Arlan keluar dari ruang pemeriksaan setelah suster mengobati lukanya, Arlan memincingkan matanya ketika ia melihat Sania.
"Sania, sedang apa dia disini?" Arlan berjalan berlahan lahan mendekati Sania, takut takut kalau wanita itu melarikan diri setelah melihatnya.
"Sani."
Merasa namanya dipanggil Sania menoleh. Sania sangat senang melihat Arlan, dengan begitu ia tidak perlu repot repot meminta Arlan datang karena Arlan sudah datang sendiri.
"Arlan." Sania memeluk Arlan yang ketika itu sedang berdiri dihadapannya, hal itu ia lakukan secara spontan.
Arlan juga tidak tahu mengapa Sania memeluknya, bukankah wanita itu sedang berusaha melarikan diri.
"Sayang, jangan disini. banyak orang, aku malu." Goda Arlan.
Sania melepaskan pelukannya wajahnya mendadak memerah.
Awalnya Arlan sangat marah karena Sania melarikan diri dan karena Sania, ia jadi ngebut lalu mengalami kecelakaan.
Anehnya saat bertemu dengan Sania amarah itu tiba tiba hilang, Arlan bahkan merasa senang.
"Nenek ingin bicara denganmu." Ucap Sania malu malu.
"Jadi nenek sudah sadar?"
Arlan kaget sekaligus senang, selama ini Arlan sangat berharap nenek Sania akan sadar. Arlan sampai merasa putus asa dan mengira nenek Sania tidak akan pernah sadar.
Sania dan Arlan masuk kekamar nenek Sania. Arlan tersenyum bahagia ketika ia melihat nenek Sania yang sudah sadar.
"Nenek." Arlan mengahampiri nenek Sania disusul oleh Sania.
"Arlan, kamu sudah datang."Nenek Sania juga terlihat senang melihat kedatangan Arlan.
"Iya nek, aku senang sekali nenek sudah sadar."
"Nenek juga senang karena nenek bisa bicara denganmu. Arlan, nenek ingin bicara tentang Erika. Erika sudah membohongimu." ucapan Nenek Sania membuat Sania dan Arlan menjadi penasaran.
"Hari itu nenek pergi kerestauran dan disana nenek melihat Erika bersama temannya , nenek tidak sengaja mendengar pembicaraan Erika dan temannya. Erika bilang dia sudah menjebakmu." Nenek Sania mulai bercerita.
"Erika memberikan kamu obat, saat kamu bangun dia mengatakan padamu kalau kalian sudah tidur bersama. padahal kalian tidak melakukan apa apa, Erika ingin kamu bercerai dengan Sania lalu kamu menikah dengannya."
Deg....
Jantung Arlan serasa ingin copot ketika ia mendengar cerita panjang nenek Sania, kalau bukan Erika lalu siapa? Siapa wanita yang malam itu tidur bersamanya?
Pertanyaan pertanyaan itupun muncul dibenak Arlan dan seketika bayangan Sania muncul. Samar samar Arlan mengingat Sania memberontak ketika Arlan ingin menyentuhnya.
Lamunan Arlan terbuyar saat nenek Sania melanjutkan ceritanya.
"Nenek ingin memberi tahumu, tapi Erika mencegah nenek. ia berlari mengejar nenek. sepertinya dia sengaja melakukan itu supaya nenek jatuh. Nenek sudah tua, dia tahu nenek tidak bisa berjalan cepat."
Arlan semakin tercengang mendengar penuturan nenek Sania.
"Kepalaku.. kepalaku pusing." Usai bercerita nenek Sania merasa kepalanya pusing, mungkin karena ia terlalu bersemangat.
"Nek, Sudah cukup. jangan diteruskan. nenek harus istirahat." Sania seperti ingin menangis, ia tidak ingin neneknya pingsan lagi, apalagi sampai koma.
"Iya... Nenek akan istirahat lagi pula nenek sudah selesai bicara."
"Kalau begitu nenek istirahatlah. aku dan Sania keluar dulu." Setelah berpamitan Arlan manarik tangan Sania keluar dari kamar itu.
Sania berusaha menepis tangan Arlan tapi genggaman tangan Arlan lebih kuat, Sania hanya bisa mengikuti langkah kaki Arlan
Sania dan Arlan kini berdiri ditaman rumah sakit.
"Sania, katakan padaku. Malam itu, ketika kita berlibur dengan Erika. Apa malam itu kita tidur bersama?" Arlan berdebar debar menunggu jawaban Sania.
"Iya, memangnya kenapa?" Sania terlihat santai berbeda dengan Arlan, ia kelihatan begitu marah, ia marah karena dengan bodohnya ia percaya begitu saja pada Erika.
"Jadi, darah yang aku lihat diatas tempat tidur. itu darahmu?"
"Iya." Walau hanya satu kata, tapi jawaban Sania mampu membuat Arlan terguncang.
Tubuh Arlan merosot kebawah, ia jatuh terduduk direrumputan, Arlan memegangi dadanya yang tiba tiba terasa sesak. Nafasnya seakan ingin berhenti, Arlan tidak bisa menahan air matanya yang berjatuhan.
"Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya padaku?" Arlan berdiri lalu ia menghapus air matannya.
"Kita sering tidur bersama. apa setiap kali kita melakukannya, aku harus mengatakannya padamu?"
Sania bingung dengan sikap Arlan, ia tahu Erika berbohong agar Erika bisa menikah dengan Arlan, tapi bukankah mereka sudah terlanjur menikah bahkan mereka akan segera punya anak.
Ditengah kebingungan Sania, Arlan mendekati Sania. dengan perasaan yang dipenuhi penyesalan Arlan memeluk Sania.
"Sania, maafkan aku. aku benar benar minta maaf."
Arlan tidak tahu apakah Sania akan memafkannya atau tidak, Arlan hanya berusaha untuk meminta maaf. Walaupun seribu kata maaf tidak akan cukup untuk membayar penderitaan Sania.
Arlan tidak akan memaksa Sania untuk memaafkannya, ia sudah pasrah jika Sania ingin meninggalkanya.