NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku Ternyata Pewaris Konglomerat

Suami Kontrakku Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Pernikahan Kilat / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Menikahi tentara
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12: Suamiku

"Gunawan," kata Hartono Mulya sambil tersenyum puas, "putrimu memang secantik yang kau bilang."

Eve ingin muntah.

Obat di tubuhnya membuat ruangan bergoyang, tetapi amarah menahan kesadarannya tetap menyala. Ia mengangkat tangan kirinya. Cincin platinum di jarinya menangkap cahaya lampu.

"Aku sudah menikah."

Melani tertawa pendek. "Dengan tentara miskin itu? Bahkan Kartu Keluarga kalian belum tentu sudah diurus."

Hartono mendekat satu langkah. "Perceraian bisa diurus."

Eve meraih cangkir di meja dan membantingnya ke lantai.

Pecahan porselen menyebar. Semua orang terkejut. Eve membungkuk, mengambil satu pecahan tajam, lalu menempelkannya ke sisi leher.

"Siapa yang mendekat, saya lukai diri saya sendiri di depan kalian."

Gunawan berdiri dengan wajah putih. "Eve, jangan."

"Jangan?" Eve tertawa serak. "Papa baru ingat aku anak Papa?"

Hartono kehilangan senyum. Ia jelas tidak menginginkan skandal dengan perempuan berdarah di ruang tamu. Namun keserakahannya lebih cepat daripada akalnya. Ia maju dan mencoba merebut pecahan itu.

Eve menghindar. Tangannya tergesek. Porselen membuka luka di telapak tangan, darah hangat turun ke pergelangan.

Lalu pintu utama meledak.

Braak.

Kayu retak. Engsel terlepas. Edric berdiri di ambang pintu dengan kaus hitam dan sepatu militer. Matanya bukan mata pria yang membuat nasi goreng, bukan mata suami yang memasangkan cincin. Itu mata seseorang yang pernah masuk ke zona perang dan tahu tepat bagian mana dari tubuh musuh yang harus dihancurkan.

Eve mendengar Jess menjerit.

Edric melihat semua dalam satu sapuan: darah di leher Eve, telapak tangannya yang merah, Hartono yang terlalu dekat, Gunawan yang gemetar, Melani yang beku.

Di belakangnya, Fajar masuk bersama dua orang keamanan pribadi. Mereka tidak banyak bicara. Satu menutup akses ke tangga, satu lagi berdiri di dekat pintu belakang. Semua jalan keluar Rumah Lim tiba-tiba menjadi milik Edric. Melani baru sadar bahwa jebakan yang ia siapkan di ruang tamu kecil ini telah berubah menjadi kandang untuk dirinya sendiri.

Tiga langkah.

Ia sampai di depan Hartono.

"Kamu siapa?" Hartono menggertak, tetapi suaranya pecah.

Edric menangkap pergelangan tangannya dan memutarnya.

Krak.

Teriakan Hartono memenuhi rumah.

"Nama saya Edric Kho," kata Edric pelan. "Suami Evelina Lim. Berani sentuh istri saya sekali lagi, saya patahkan yang lain."

Nama Kho jatuh seperti vonis.

Gunawan merosot ke kursi. Melani menutup mulut. Jess mundur sampai punggungnya menabrak dinding.

Hartono yang tadi merasa dirinya pembeli paling berkuasa di ruangan itu kini memegangi pergelangan tangan dengan wajah abu-abu. Ia pernah mendengar nama Kho. Semua orang di lingkaran properti Jakarta mendengarnya. Nama itu tidak perlu berteriak karena bank, proyek, izin, dan investor bergerak lebih cepat ketika keluarga Kho mengangkat alis.

Yang membuatnya lebih takut adalah cara Edric berdiri. Tidak ada kesombongan orang kaya baru, tidak ada kepuasan memamerkan nama besar. Hanya kendali dingin yang lebih tua daripada uang. Hartono pernah berurusan dengan preman, pejabat, dan pengacara. Ia tahu kapan seseorang masih bisa ditawar dan kapan seseorang sudah memutuskan batas.

"Pak Edric..." Hartono terengah, suaranya berubah menjadi rengekan. "Ini salah paham."

Edric menatapnya sekali. "Salah paham adalah ketika orang salah masuk ruangan. Kamu menyentuh istri saya."

Hartono menunduk, tidak berani membantah.

Melani mulai memahami skala kesalahannya. Ia tidak lagi melihat Eve sebagai anak tiri yang bisa dikorbankan. Ia melihat pintu kehancuran PT Lim Jaya terbuka dari ambang rumah sendiri.

Edric tidak memandang mereka lagi. Ia berlutut di depan Eve.

"Eve, lihat saya."

Matanya basah. Obat membuat tubuhnya lemas, tetapi genggamannya pada pecahan porselen masih keras.

"Lepaskan," kata Edric.

"Jangan..." Eve berbisik. "Mereka..."

"Saya di sini."

Ia membuka jari Eve satu per satu. Saat pecahan itu terlepas, Edric menarik napas seperti menahan sesuatu yang hampir pecah di dadanya. Ia melepas kaus hitamnya, membungkus telapak tangan Eve dengan kain itu, lalu mengambil jaket dari Fajar yang sudah masuk di belakangnya.

Eve melihat bekas luka di dada dan bahu Edric sekilas. Garis-garis lama, putih, dan keras. Pria ini juga pernah terluka. Entah kenapa itu membuatnya menangis.

"Edric..."

"Saya bawa kamu pergi."

Eve menggenggam lengannya. "Bawa aku pulang."

Kalimat itu membuat wajah Edric berubah.

Bukan apartemen. Bukan kos. Pulang.

Ia mengangkat Eve ke pelukannya. Darah dari tangan Eve merembes ke kaus yang membungkus luka, menodai kulit Edric. Ia tidak peduli.

Di pintu, Edric berhenti tanpa menoleh.

"Gunawan Lim, Anda masih punya satu kesempatan untuk menjadi ayah yang benar. Kalau Anda menyia-nyiakannya, PT Lim Jaya tidak akan bertahan satu minggu."

Gunawan tidak menjawab.

Melani ingin bicara, tetapi suara Fajar menghentikannya. "Mundur."

Di mobil, Eve setengah sadar. Ia merasa kepala Edric dekat, suara Fajar di depan, sirene jauh, atau mungkin hanya dengung obat di telinganya. Edric terus menekan lukanya.

"Jangan tidur dulu."

"Capek."

"Saya tahu. Sebentar lagi."

"Aku takut."

"Saya juga."

Eve membuka mata sedikit. "Kamu takut?"

"Saya terlambat."

Air mata kembali mengalir. "Tapi kamu datang."

Di Apartemen Menteng Park, Vincent Tan sudah menunggu dengan tas medis. Wajahnya mengeras begitu melihat keadaan Eve, tetapi tangannya tetap stabil.

"Obat tidur," kata Edric.

Vincent memeriksa pupil, nadi, tekanan darah. "Dosisnya tidak terlalu tinggi. Dia akan sadar penuh dalam beberapa jam. Tapi luka telapak tangan perlu dijahit."

Eve menggigit bibir saat jarum masuk. Edric duduk di sampingnya, menggenggam tangan yang tidak terluka. Ia tidak berkata apa-apa. Setiap kali Eve meringis, ibu jarinya mengusap punggung tangan Eve pelan.

Setelah selesai, Vincent menarik Edric ke dapur.

"Secara fisik dia akan pulih. Secara psikologis, jangan paksa apa pun."

Edric menatap pintu kamar. "Saya tahu."

"Aku serius, Ric. Obat belum sepenuhnya hilang. Dia butuh rasa aman, bukan keputusan besar."

"Saya tahu."

Vincent menahan tatapannya lebih lama. "Dan kamu juga butuh tenang. Aku lihat tanganmu tadi. Kalau Fajar tidak berdiri di sana, kamu mungkin tidak berhenti di pergelangan Hartono."

Edric menunduk pada buku jarinya yang memerah. "Dia berdarah."

"Aku tahu."

"Mereka membuatnya memegang pecahan porselen di lehernya sendiri."

"Aku tahu," ulang Vincent, lebih pelan. "Karena itu jangan biarkan kemarahanmu menjadi hal lain yang harus dia takuti."

Kalimat itu masuk. Edric mengangguk, sekali, berat.

Vincent pergi menjelang malam. Eve tidur beberapa jam. Saat bangun, kamarnya gelap kecuali lampu kecil di meja. Kepalanya masih berat, tetapi pikirannya jauh lebih jernih. Ia ingat semuanya. Rumah Lim. Hartono. Pecahan cangkir. Edric mendobrak pintu.

Edric duduk di kursi dekat ranjang.

"Kamu tidur di kursi?" suaranya serak.

Edric langsung bangun. "Bagaimana rasanya?"

"Malu."

"Itu bukan gejala medis."

"Tetap terasa."

Ia mencoba duduk. Edric membantunya, hati-hati agar perban tidak tertarik. Untuk beberapa saat, mereka hanya saling menatap.

"Aku ingat semuanya," kata Eve.

"Saya tidak akan membahas apa pun malam ini kalau kamu tidak mau."

"Aku mau."

"Eve..."

"Obatnya sudah lebih ringan. Aku tahu apa yang aku katakan." Ia menarik napas. "Aku takut sendirian. Tapi aku lebih takut kalau setelah hari ini aku pura-pura tidak membutuhkan siapa pun."

Edric duduk di tepi ranjang, menjaga jarak.

Eve mengulurkan tangan yang sehat. "Jangan pergi."

"Saya di sini."

"Bukan sebagai penjaga."

Edric diam.

Eve menatap cincin di tangan kiri, lalu menatapnya lagi. "Edric Kho itu suamiku."

Kalimat itu bukan gumaman mabuk. Bukan reaksi panik. Ia mengucapkannya pelan, sadar, dan dengan seluruh sisa keberanian yang ia punya.

Edric menggenggam tangannya. "Kalau ada sedikit saja ragu, saya berhenti."

"Aku tahu."

"Kalau besok kamu berubah pikiran..."

"Aku tidak sedang membayar utang karena kamu menyelamatkanku." Mata Eve basah, tetapi suaranya jelas. "Aku memilihmu."

Edric tidak langsung bergerak. "Sebut namaku."

"Edric."

"Tanggal hari ini?"

Eve mengerutkan kening, lalu menjawab benar.

"Kamu tahu kita di mana?"

"Apartemen Menteng Park. Kamar yang sprei-nya masih tidak pink karena kamu keras kepala."

"Siapa yang ada di Rumah Lim tadi?"

"Papa, Melani, Jess, Hartono. Fajar juga masuk setelah kamu."

"Apa yang kamu minum?"

"Teh melati yang rasanya seperti pengkhianatan dan gula murah."

Edric menatapnya beberapa detik lebih lama. Jawaban itu tajam, lucu, dan terlalu Eve untuk berasal dari pikiran yang tenggelam obat. Ketegangan di bahunya turun sedikit.

Untuk pertama kalinya sejak sore itu, Edric tertawa kecil. Suara itu pecah oleh lega.

"Baik," katanya. "Saya percaya kamu sadar."

"Bagus. Sekarang berhenti memperlakukan aku seperti dokumen medis."

"Sulit. Dokter baru saja mengancam saya."

"Aku juga bisa mengancam."

"Saya lebih takut padamu."

Edric menunduk, mencium punggung tangannya yang tidak terluka.

Malam itu tidak membutuhkan banyak kata. Yang terjadi setelahnya tinggal sebagai ruang tertutup di antara dua orang dewasa yang akhirnya berhenti bersembunyi dari rasa takut masing-masing. Tidak ada paksaan. Tidak ada tergesa. Hanya tangan yang saling mencari, napas yang kembali tenang, dan tubuh Eve yang untuk pertama kalinya sejak lama tidak merasa sendiri.

Lewat tengah malam, Eve tertidur.

Edric duduk di sampingnya, mengganti balutan yang sedikit longgar. Lalu ia mengecup keningnya.

Di ponselnya, laporan Jerry tentang masa lalu Eve masih tersimpan. Empat tahun lalu, pada ulang tahun Eve yang kedua puluh, Jess mengatur pesta di ruang karaoke. Minuman Eve diberi obat. Seorang pria yang berhubungan dengan Jess mencoba mendekatinya.

Rangga datang tepat waktu.

Terlalu tepat waktu.

Sejak hari itu, Eve mengira Rangga adalah penyelamatnya.

Edric menatap wajah istrinya yang tidur. Rahangnya mengeras.

Kalau penyelamatan itu sejak awal bagian dari jebakan, maka Rangga Prasetya belum selesai membayar.

1
aku
🌹 lgi biar semangat 😁
aku
next tor 🌹
aku
kok malah ingat masha yg dihukum berdiri di pojokan sama bear?? 🤣🤣
aku
lagi mewek ini, malah dikasih istilah kocak 😭😭
aku
OMG eevveeeee 😭😭 sabar
aku
msh ada rahasia besar lg ed 😭
aku
wow!! 😃🤣
aku
haih jgn smpe ya eve mati rasa ed.
aku
minta bonus jer 😁
aku
mewakili jerry 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
aku
eveee 😭😭😭
aku
halal disantet gunawan ini 🤬🤬
aku
fix kamu dieleminasi otomatis calista 😃
aku
gpp ed, meriah jd nya 😂
aku
mamvu* 😃 puass kali duo sampah kena malu 🤣
aku
cocok pasangan sm ed, killer 😭😭
aku
ada satu yg tegasnya ngalahin guru killer ya fel 🤣
aku
nah kan syokk semua 😃
aku
klo masih ngomel brti msh strong ya ed 🤣🤣
aku
jemput bahagyamu eve 😭😭 bawang oey bawang 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!