NovelToon NovelToon
Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius / Penyesalan Suami / Teman lama bertemu kembali
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Tidak ada yang bernapas saat itu.

Keira menatap layar ponsel yang sudah gelap.

Suara pria itu masih tertinggal di udara, seperti asap tipis yang tidak mau hilang.

Kevin mengambil ponsel dari tangan Keira dengan sangat hati-hati. "Rio."

Rio langsung bergerak. "Saya lacak rutenya. Nomor dipantulkan tiga kali, tapi ada jejak awal dari jaringan lokal Jakarta."

Ethan berdiri di belakang laptop, wajah kecilnya tegang. "Aku bantu."

Keira menoleh. "Eth."

"Mommy, kali ini bukan main-main."

Kevin memandang Ethan sebentar, lalu berkata pelan, "Lakukan dari jalur aman. Kalau ada lapisan yang terlalu dalam, berhenti."

Ethan menatapnya, terkejut mendengar instruksi yang terdengar seperti perintah seorang ayah sekaligus perlindungan.

"Iya, Daddy."

Pagi berikutnya, Jakarta bangun dengan nama Hendra Mulyono di setiap layar.

Video siaran Keira dipotong menjadi puluhan bagian. Potongan tentang surat wasiat palsu menyebar di grup keluarga. Potongan tentang pajak dibahas akun bisnis. Potongan rekaman Siska dan Dr. Yoga menjadi bahan gosip paling panas. Di depan Rumah Mulyono, wartawan sudah berkumpul sejak matahari belum tinggi.

Pukul sembilan lewat dua belas menit, tiga mobil polisi berhenti di depan gerbang.

Komisaris Liang turun dari mobil pertama, diikuti beberapa penyidik dan petugas berseragam. Di tangannya ada map cokelat bertanda resmi.

Satpam Rumah Mulyono pucat. "Pak Hendra sedang tidak menerima tamu."

Komisaris Liang menatapnya datar. "Kami bukan tamu."

Gerbang dibuka paksa berdasarkan surat perintah.

Di dalam rumah, Hendra sedang berdiri di ruang kerja dengan wajah merah, memasukkan beberapa dokumen ke mesin penghancur kertas. Laci meja sudah terbuka. Brankas kecil di balik lukisan juga menganga.

"Cepat!" bentaknya kepada seorang staf. "Ambil hard disk dari ruang arsip!"

Staf itu belum sempat keluar ketika pintu ruang kerja terbuka.

Komisaris Liang masuk.

"Hendra Mulyono."

Hendra membeku.

Siska yang duduk di sofa dengan mata bengkak langsung berdiri. "Pak Komisaris, ini salah paham. Semua itu hanya fitnah dari Keira."

Komisaris Liang membuka map. "Kami memiliki surat perintah penangkapan atas dugaan pemalsuan dokumen waris, penggelapan aset, tindak pidana perpajakan, dan dugaan pencucian uang melalui anak perusahaan Mulyono Group."

Wajah Hendra mengeras. "Ini tidak sah. Saya punya pengacara."

"Anda berhak menghubungi pengacara setelah ikut bersama kami."

"Saya tidak akan pergi."

Komisaris Liang melihat mesin penghancur kertas yang masih berbunyi.

"Tambahkan dugaan upaya menghilangkan barang bukti."

Dua penyidik langsung bergerak. Mesin dimatikan, serpihan dokumen diamankan, komputer disita, brankas difoto. Hendra mencoba maju, tetapi petugas menahannya.

Di halaman depan, suara kamera wartawan semakin ramai.

Siska tiba-tiba menangis keras.

"Saya tidak tahu apa-apa! Semua Hendra yang mengatur. Saya cuma istri. Saya juga korban!"

Hendra menatapnya dengan mata menyala. "Diam."

"Tidak! Aku tidak mau masuk penjara karena kamu!" Siska meraih lengan Komisaris Liang. "Pak, saya bisa jadi saksi. Hendra yang menyuruh saya tanda tangan. Hendra yang menyuruh Dr. Yoga kasih obat. Semua dia!"

Komisaris Liang melepaskan tangannya. "Ibu Siska juga akan dimintai keterangan."

Siska jatuh terduduk.

Di luar pagar, sebuah mobil hitam berhenti tidak terlalu dekat dari kerumunan.

Keira duduk di kursi belakang, melihat rumah yang dulu menjadi nerakanya.

Rumah Mulyono tampak sama: pilar putih, taman rapi, pintu besar yang lima tahun lalu tertutup di belakangnya ketika ia berdarah dalam hujan. Bedanya, hari ini pintu itu terbuka bukan untuk mengusirnya, melainkan untuk membawa keluar orang yang pernah mengusirnya.

Rio duduk di depan. "Bos, yakin tidak mau turun?"

"Belum."

Ia ingin melihat.

Bukan untuk menikmati penderitaan. Ia hanya ingin memastikan bahwa malam itu benar-benar berakhir.

Beberapa menit kemudian, Hendra dibawa keluar dengan tangan diborgol di depan tubuhnya. Wajahnya masih mencoba terlihat berkuasa, tetapi kamera wartawan tidak mengenal belas kasihan.

"Pak Hendra! Benar Anda memalsukan surat wasiat?"

"Apa komentar Anda soal pajak Mulyono Group?"

"Apakah Siska benar berselingkuh dengan Dr. Yoga?"

Hendra mengangkat kepala dan melihat mobil hitam di seberang.

Ia tahu Keira ada di sana.

Entah bagaimana, ia selalu tahu.

"Keira!" teriaknya.

Wartawan langsung menoleh.

Keira membuka pintu mobil.

Rio ikut turun, tetapi Keira mengangkat tangan agar ia tetap di belakang.

Ia berjalan melewati kerumunan dengan langkah tenang. Kamera berpindah padanya, suara kilatan foto memenuhi udara.

Di dekat pilar depan, ia melihat bekas goresan kecil pada batu putih. Lima tahun lalu kopernya pernah terbentur di sana ketika Siska melemparnya keluar. Dulu ia terlalu pusing oleh darah dan hujan untuk memperhatikan, tetapi hari ini goresan itu seperti tanda kecil bahwa tubuhnya pernah benar-benar disingkirkan dari rumah ini.

Keira berhenti setengah detik.

Lalu ia melewati goresan itu tanpa menunduk.

Hendra berdiri di dekat pintu mobil polisi, napasnya berat.

"Kamu puas?"

Keira berhenti beberapa langkah di depannya. "Belum."

Mata Hendra bergetar oleh amarah.

"Kamu pikir dengan menjatuhkanku, semuanya selesai? Kamu tidak tahu apa-apa. Aku bukan orang paling berbahaya dalam cerita ini."

Keira menatapnya.

Kalimat itu terlalu mirip dengan suara di telepon.

"Siapa di belakangmu?"

Hendra tertawa pendek, kasar. "Kamu akan tahu saat mereka datang mengambil apa yang paling kau takut kehilangan."

Tangan Keira di sisi tubuhnya mengencang.

Anak-anak.

Hendra melihat reaksi kecil itu dan tersenyum kejam.

"Lima tahun lalu kamu kehilangan satu anak. Kalau mereka mau, mereka bisa membuatmu kehilangan semuanya."

Rio hampir maju.

Keira tetap diam.

Lalu ia berkata, sangat pelan tetapi jelas di depan semua kamera, "Siapa pun mereka, aku akan menghadapi mereka."

Hendra menatapnya penuh benci.

"Kamu masih sama sombongnya."

"Tidak." Keira menatap borgol di tangannya. "Dulu aku hanya berusaha bertahan. Sekarang aku tahu cara menghancurkan orang yang menyentuh keluargaku."

Komisaris Liang memberi isyarat. Hendra didorong masuk ke mobil polisi.

Siska dibawa keluar setelahnya, menangis, rambutnya berantakan, tanpa sedikit pun sisa keangkuhan yang dulu ia pakai ketika mengambil gelang dan dokumen Keira.

"Keira!" Siska menjerit. "Tolong aku! Aku membesarkanmu!"

Keira tidak menoleh.

Di layar ponsel jutaan orang, gambar itu menyebar: perempuan yang dulu diusir kini berdiri tegak, sementara orang yang mengusirnya dibawa pergi.

Mulyono Group jatuh bebas siang itu. Sahamnya turun lebih dari empat puluh persen sebelum perdagangan dihentikan sementara. Bank mitra meminta klarifikasi. Salim Corporation mengumumkan "peninjauan ulang kerja sama strategis" dengan Mulyono Group, cara halus untuk menjauh sebelum lumpur ikut menempel.

Ryan Salim juga menghilang dari publik hari itu. Keluarganya memanggilnya pulang, bukan untuk menenangkan, melainkan menghitung seberapa cepat nama Salim harus dipisahkan dari Vania sebelum kerusakan ikut menyeret mereka.

Hartono Group tidak mengeluarkan pernyataan publik, tetapi tim hukum Kevin mengirim surat resmi ke kantor pengacara Keira: seluruh dukungan litigasi, audit forensik, dan perlindungan saksi tersedia kapan saja. Surat itu tidak memakai kalimat romantis. Hanya tanda tangan dingin Kevin Hartono di akhir halaman.

Justru karena itu, Rio meletakkannya di meja Keira dengan ekspresi puas.

"Pak Kevin tidak mengambil alih," katanya. "Dia hanya memastikan semua pintu belakang tertutup."

Keira membaca tanda tangan itu sebentar, lalu menutup map.

"Dia belajar cepat."

Di kantor polisi, Hendra menolak menjawab pertanyaan pertama. Ia hanya meminta pengacara, meminta rokok, meminta semua orang keluar. Tetapi begitu penyidik meletakkan salinan bukti Keira di hadapannya, wajahnya berubah.

Setiap halaman sudah diberi nomor perkara.

Setiap file digital punya hash verifikasi.

Setiap rekening bayangan punya alur dana yang tersambung ke nama orang dekatnya.

Tidak ada ruang untuk mengatakan "ini fitnah" dengan meyakinkan.

Siska ditempatkan di ruang pemeriksaan terpisah. Di sana, air matanya tidak berhenti. Ia menyebut nama Hendra berkali-kali, menyalahkan Vania, menyalahkan Dr. Yoga, bahkan menyebut Keira tidak tahu balas budi. Penyidik hanya mencatat.

Di luar, wartawan menunggu sampai malam. Setiap kali pintu kantor polisi terbuka, kamera langsung terangkat. Nama Mulyono yang dulu dipakai Hendra sebagai senjata kini menjadi beban yang semua orang ingin lepaskan dari kartu nama mereka.

Sore hari, Keira kembali ke rumah.

Rumah itu sunyi. Anak-anak sedang bersama Naomi di Hartono Estate untuk alasan keamanan. Setelah ancaman Hendra, Kevin tidak mau mengambil risiko. Keira tidak berdebat.

Teleponnya berdering.

Kevin.

Ia mengangkat.

"Kamu sudah makan?" tanya Kevin.

Keira duduk di dekat jendela, menatap langit Jakarta yang mulai gelap. "Itu pertanyaan pertamamu setelah Hendra ditangkap?"

"Ya."

"Kenapa?"

"Karena kalau aku bertanya apakah kamu baik-baik saja, kamu akan berbohong."

Keira terdiam.

Di ujung sana, suara Kevin melembut. "Kamu melakukannya dengan baik."

Kalimat sederhana itu masuk lebih dalam daripada tepuk tangan jutaan orang.

Keira menutup mata sebentar. "Malam ini..."

Kevin menunggu.

"Kamu masih ingin bertemu?"

Hening satu detik.

"Aku sudah di depan gerbangmu."

Keira berdiri dan melihat ke luar. Mobil Kevin memang berhenti di depan rumah, lampunya redup di bawah pohon.

Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin berpura-pura tidak lega.

"Baik," katanya.

Setelah panggilan berakhir, Keira belum sempat turun ketika Rio masuk dari ruang kerja dengan tablet di tangan.

"Bos."

Nada suaranya membuat Keira menoleh.

"Kami melacak pesan anonim dan panggilan tadi malam. Jejak awalnya bukan dari Mulyono."

"Dari mana?"

Rio menatapnya, lalu menjawab pelan, "Dari jaringan lama yang terhubung ke Keluarga Liem."

Keira terdiam, dadanya kembali terasa begitu berat malam itu.

1
sunaryati jarum
Kamu minta maaf bukan merasa bersalah hanya takut perusahaan kamu koleb
sunaryati jarum
Berarti ibu Rosalind masih hidup
Tri Septi
apakah Leon kakaknya Kevin? dia mirip Raymond ayahnya Kevin ya 🤔🤔🤔
Tri Septi
lanjut thor🙏🙏🙏🙏
Tri Septi
mama keira hilang diculik, mama Kevin juga ada di mana ??? makin rumit aja
Tri Septi
semangat Kevin 💪 terima kasih author meski sedikit 😁🙏🙏🙏
Tri Septi
Kevin, ayo buktikan bahwa kamu bersih dan mereka yang berbuat jahat terbukti bersalah /Casual/
Tri Septi
sepandai-pandai tupai melompat suatu saat akan gagal juga....niat jahat semoga dpat digagalkan😆💪🙏
Tri Septi
orang bertopeng ini apakah sama dengan yang mengambil Darren waktu bayi ya......banyak yg terlibat, musuh keira banyak😠 semoga bisa segera terungkap 💪🙏
Tri Septi
penyesalan selalu di akhir
Tri Septi
mama Rosalind mungkin jenius, sehingga ada yg berniat menyembinyikan dan memanfaatkan nya /Frown//Frown//Frown/
Tri Septi
selamat datang kembali "Kei" 😍😍😍
Tri Septi
ada konspirasi....apa motifnya ya /Casual/
Siti Maryati
sampe.ikut berdesir mambaca "kamu punya aku"
Tri Septi
yang dibelakang Maya patut diwaspadai /Casual/ makin penasaran thor😄😄😄
sunaryati jarum
Berarti saudara seibu artinya ayahnya beda
sunaryati jarum
Semoga kalian cepat bersatu
Tri Septi
Kevin mau pdkt apa menyelidik? 🤣🤣🤣
Tri Septi
seperti induk ayam yang melindungi anak2nya, keira semangat 💪💪💪
Tri Septi
musuh dalam selimut 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!