Kisah cinta segitiga antara Dika, Ranti dan Vika. Semua berawal dari ketidaksengajaan hingga menjadi cerita cinta yang cukup pelik. Menguras airmata dan juga emosi Ranti yang akhirnya mengetahuinya setelah hubungan rumah tangganya dengan Dika telah menginjak tahun kelima dengan dikaruniai buah hati cantik berusia 2 tahun. Sementara Vika adalah sahabat baiknya semasa SMA. Semua rasa dihatinya bercampur aduk, bergejolak membuatnya dilema antara menjaga keutuhan rumahtangganya dan juga mempertahankan harga dirinya sebagai wanita yang selalu menjunjung tinggi cinta dan kesetiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fifie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN PERTAMAKU DENGANMU
Aku membaca pesan Ranti,
Minggu besok Jingga ulangtahun yang ke-4. Kalau kamu bisa dan ada waktu, datanglah ketempat kami. Aku akan shareloc.
Aku termenung. Ya. Aku lupa tanggal ulang tahun anakku, Jingga. Padahal anakku hanya Jingga seorang. Entah mengapa untuk urusan yang seharusnya penting, aku justru melupakannya. Pasti Ranti kecewa dengan sikapku yang terkesan cuek. Terlebih pada Jingga, buah cinta kami.
Mungkin karena sedari kecil aku tidak terlalu memikirkan hal yang kecil meskipun itu penting dalam kehidupan seseorang. Bahkan seumur hidupku pun aku tak pernah ingat hari jadiku.
Maaf, Ranti! Aku yang banyak kekurangan ini hanya bisa menyesali dan meratapi, betapa sifatku telah terbentuk dan sulit kurubah walau hanya untuk membahagiakan kalian.
Aku sudah tidak lagi bekerja di percetakan sablon bersama Mul dan Jabrik. Aku hanyalah buruh harian lepas yang diperbantukan.
Kuberikan uang 200 ribuku hasil kerja seminggu ini pada Jabrik. Aku masih ingin bersama anak muda itu. Ia pencerahan bagiku disela kepedihan hatiku mengingat rumah tanggaku yang tak jelas arah tujuan.
"Jabrik! Abang masih boleh khan tinggal sama kamu? Tapi hari ini abang ada perlu seharian. Mau ketempat istri dan anak abang di Bojong Gede."
"Kapanpun abang kesini. Pintu kontrakan saya terbuka untuk abang!"
"Makasih ya, Jabrik!"
Aku berangkat dengan penuh doa-doa. Ini pertama kali pertemuan kami. Semoga semua berjalan lancar dan tidak ada hambatan.
Kereta listrik arah Bogor terasa lambat bagiku yang sudah ingin segera bertemu Ranti dan memeluk Jingga.
Aku turun distasiun Bojong Gede. Seperti arahan Ranti, perumahannya memang tak begitu jauh dari stasiun Bojong. Aku tidak terlalu kesulitan mencarinya.
Sebuah rumah asri membuatku menghentikan langkahku. Seorang gadis cilik berpakaian dres cantik sekali tengah berlarian ceria mengejar seekor anak kucing.
Aku datang sehari sebelum besok hari ulang tahunnya. Selain saat ini aku tidak lagi bekerja, aku juga kadung rindu mereka.
Kutelpon Ranti dan mengatakan kalau aku ada didepan rumahnya. Terlihat Ranti berdiri didepan pintu. Masih dengan handphone menyala dibibir dan telinganya. Hanya diam, tapi matanya berkaca-kaca. Ia terlihat berusaha menahan dirinya yang melankolis.
"Jingga! Itu papa!" pekiknya pada Jingga.
Aku menitikkan airmataku dan segera mengelapnya seraya mengembangkan dua tanganku dan senyumanku.
Jingga terlihat agak bingung merespon pelukanku. Ia menatapku dengan wajah polosnya. Gadisku kini semakin besar dan cantik. Kukecup pipinya pelan dengan mata berlinang.
Aagh.. cengengnya aku! Aku sangat merindukan kalian. Dua tahun tak bertemu kalian seperti ratusan tahun lamanya. Kalian semua terlihat baik-baik saja. Terima kasih ya Allah, kau jagakan anak istriku dengan penuh kasih sayang.
Aku baru sadar, Ranti cantik sekali dengan hijabnya. Ya Allah, sungguh kebodohan menyelimutiku karena menyia-nyiakan wanita soleha sepertimu. Airmataku tumpah tak tertahan mengenang kebodohanku yang telah lalu.
"Papah? Kata mamah, papa kerja naik pesawat ya?" kata-kata Jingga membuatku tersenyum dan makin jatuh dalam kesedihan.
"Makanya papah ga tinggal sama kita. Iya khan pah?" sambungnya lagi penuh kepolosan. Betapa pintarnya anakku! Ya Allaah!!... Kudekap lagi Jingga dalam pelukanku.
Ranti hanya tersenyum melihat dramaku dan Jingga. Ia mempersilahkanku masuk kedalam rumahnya.
Rumah ini benar-benar Ranti banget. Rumah yang bersih dan manis sesuai selera Ranti. Bercat putih dengan pencahayaan yang sangat bagus hingga terlihat berkilauan walaupun sederhana furniturenya.
"Maaf, mas! Rumah lama dan mobil kujual tanpa seizinmu. Tapi motor Harley-mu masih kusimpan sewaktu-waktu kamu ingin mengambilnya."
"Ga apa Ranti. Itu hak mu sepenuhnya. Aku justru malu karena kamu bisa menata semua aset dan memulai kehidupan lebih baik walau tanpa aku. Kamu perempuan yang sangat hebat."
"Bagaimana kabar Vika? Kalian masih bersama khan?" tanyanya seolah mengalihkan perkataanku yang terkesan merayunya.
Aku tak bisa menjawab pertanyaannya. Mataku hanya memandang kosong kedepan dan senyum ketir agar Ranti bisa menilainya sebagai jawaban.
"Aku dengan tulus selalu mendoakan kebahagiaan untuk kalian berdua. Semoga hubungan kalian bisa sampai kepelaminan. Oiya, surat-surat penting kamu aku yang simpan. Sebentar, mas...aku ambil dulu!"
Ranti menyerahkan sebuah koper kecil milikku dahulu.
"Periksalah, aku takut ada yang tercecer akibat pindah rumah dulu!" Aku menurutinya. Memeriksa satu persatu. Ijazah-ijazahku, surat-surat kepemilikan motor Harley, Surat Deposito, kartu BPJS dan kartu Jamsostekku dan dokumen lain lengkap semua. Terakhir dua buah buku nikah kami.
"Mas! Sebelumnya aku mohon maaf, aku tidak bisa memberimu kebahagiaan selama aku menjadi istrimu. Untuk itu, aku mohon...ceraikan aku dengan baik. Kamu bisa memulai hidup baru dengan Vika. Dengan harapan ia bisa menjadi istri yang membanggakanmu. Kamu juga bisa menikah secara agama dan hukum dengan Vika. Aku tidak akan menahanmu apalagi menyusahkan hidupmu, mas! Mari kita tutup lembaran kita, tanpa melihat siapa yang salah dan siapa yang benar!"
Aku menatap Ranti kosong. Seluruh rohku serasa melayang terbang seiring cinta Ranti yang berlalu secepat kilat.
"Ranti!"
"Aku hanya ingin melihat kamu bahagia, mas!"
"Kamu sungguh ingin kita berpisah?"
"Apalah dayaku, mas! Aku hanyalah perempuan biasa. Aku tidak bisa mempertahankan semuanya karena keegoisanku. Aku hanya ingin hidup tenang bersama Jingga. Aku tidak akan menutup aksesmu untuk Jingga. Kapanpun kamu mau melihatnya, aku akan memberikan waktu."
Aku hanya menunduk terpaku. Aku terlalu jahat bila meminta Ranti tetap disisiku. Apalagi aku juga tidak bisa berjanji untuk melepaskan Vika karena saat ini Vika juga berjanji padaku untuk bersama setelah kepulangannya bekerja di Singapura.
Aku terlalu serakah dan egois bila memintanya tetap bertahan sedangkan Vika belum aku lepaskan. Akankah kedua wanita ini bisa bersanding dikiri kananku seperti khayalanku. Aku terlalu jumawa dan sombong hati bila sikapku terus seperti itu. Sedang saat ini Ranti pun tidak mampu kunafkahi karena belum memiliki pekerjaan tetap.
"Baiklah, Ranti! Aku akan segera mengurus semuanya tanpa harus membuat kamu lelah bolak-balik pengadilan dan sidang. Aku akan antarkan secepatnya dokumen itu."
Ranti diam tak menjawab. Ia hanya menunduk dan tersenyum kecil.
"Mungkin hanya sampai sini saja jodoh kita, mas! Maafkan atas segala kesalahan dan kekuranganku ya, mas!"
"Akulah yang harus meminta maaf padamu, Ranti! Aku belum bisa membahagiakanmu tapi selalu membuatmu menangis sepanjang rumah tangga kita. Maaf Ranti! Maafkan aku!"
Kami berdua terdiam hanyut dalam lamunan. Tubuhku terasa lemah tak bertenaga.
"Ranti..., boleh aku cairkan uang deposito kita untuk modal usahaku?"
"Itu hak mu mas! Motormu juga bisa kamu ambil. Aku sudah punya rumah dan uang penjualan mobil untuk modal usaha butik onlineku."
"Motor biar disini dulu sementara. Tapi uang deposito aku hanya ingin setengahnya saja. Setengahnya untuk pegangan kamu dan Jingga. Dokumen perceraian aku yang urus semua. Bagaimana?"
"Terserah, mas! Aku ikut saja!"
Kata-kata terakhir Ranti membuatku menyesali semua langkahku dahulu. Betapa bodohnya aku melepaskan seorang wanita yang begitu baik selalu menuruti perkataanku sebagai suaminya dulu demi sebuah cinta yang belum pasti. Hhh.... Sungguh kamu lelaki, bodoh Dika!
Aku berjanji esok akan kembali menemani pesta ulang tahun Jingga. Sambil membawa sebagian uang depositoku sebagai janjiku tadi pada Ranti.
Kakiku terasa berat melangkah. Kini semua sudah berlalu dari kehidupanku. Manisnya cinta dan perhatian Ranti yang dulu hanyalah tinggal kenangan bagiku. Aku bukan lagi seorang suami yang gagah perkasa seperti dulu. Juga bukan seorang ayah yang siaga dengan sikap jantannya menjaga 24 jam istri dan anak kesayangannya.
Aku sungguh seperti orang buangan. Ternyata begitu besar arti Ranti dalam hidupku. Bahkan disaat kehancuranku, Ranti masih bisa menjagaku dari ketenggelamanku yang semakin kedasar. Ia adalah perempuan yang pandai mengkalkulasi keuangannya. Ia tetap membuatku bisa berjalan walau merayap dan menghadapi hidup dengan uang yang seperti telah ia siapkan.
Aku langsung ke bank. Mencairkan semua depositoku dan juga mencari pengacara yang bisa mengurus perceraianku dengan Ranti segera. Aku meminta mereka mengurus dengan tanpa sidang karena perceraian ini telah kami sepakati bersama tanpa ada perselisihan apalagi harta gono-gini.
Aku juga mampir ke toko pakaian untuk membelikan Jingga kado besok dihari ulang tahunnya.
Membeli beberapa stel pakaian untukku dan juga beberapa kaos dan kemeja karena teringat Jabrik dan Mulyadi.
Aku memang sedang terpuruk. Tapi akal sehatku harus tetap berjalan melihat betapa masih banyak orang yang lebih menderita ketimbang aku.
Jabrik terkejut melihat kedatanganku dengan barang bawaan yang banyak. Ia juga terlihat begitu gembira menerima hadiah kaos dan kemeja dariku.
"Abang dapet warisan, bang?"
"Telepon si Mul, biar dia kemari Brik! Maaf, abang cuma beli kaos sama kemeja aja. Kalo beli celana takut salah ukurannya."
"Ini aja udah sangat banyak terima kasih, bang!"
Mulyadi datang dengan sumringah. Matanya berbinar bahagia dengan hadiah yang kuberikan padanya.
"Celana beli sendiri aja ya, nih duitnya seorang 300 ribu. Cukup khan?" katanya dibalas pekikan Jabrik dan Mulyadi.
"Bentar, bentar! Lu abis ngerampok ye bang?" potong Mul membuatku tertawa.
"Suwe! Ini duit halal. Hasil kerja keras gue selama ini. Jangan takut!"
"Hahahaha...sori bang! Cuman nanya doang!"
"Besok anak gue ultah. Bini gue minta cerei...gue dapet duit harta gono-gini nih...makanya jadi kaya nih!"
"Gue bingung, mau ngasih ucapan. Mau seneng ape sedih ye? Anak ultah, bini minta cere'...Nah tuh, bingung deh jadinye!"
"Udah ga usah bingung, gue aja kagak bingung. Kenapa harus elu yang bingung, Mul!" Mulyadi tertawa malu.
"Iye juga sih...tapi gue prihatin ama lu bang!"
"Kalo lu prihatin, cariin gue kontrakan yang lebih gede. Kalo bisa kayak semacem ruko gitu deh! Gue mau buka usaha. Masalah perceraian mau gimana lagi,...itu udah nasib gue. Yang penting gue harus tetep semangat seperti kalian."
"Siiip...betul itu!" kata Jabrik membuat aku dan Mul tertawa. Kamar sempit itu jadi saksi kebangkitanku dengan semangat muda kedua anak ini. Mereka saja bisa enjoy dengan segala beban hidupnya, kenapa aku tidak. Secara aku bukan gembel yang tak punya uang dan harus meminta-minta pada orang.
Aku harus bisa bangkit. Harus kembali semangat memulai kehidupan yang baru. Untuk kebahagiaan hidupku.
Bersambung-
hidup bkn hny melulu seneng, tp jg ada sedihnya...
smoga Dika tenang disisiNya...
jd laki koq gitu amat...
sapa coba yg g sakit hatinya...
dari awal baca udah greget ma sikap Dika..