Semua berawal dari kesalahan.
Tapi kesalahan itu lah yang mengantarkan mereka pada akhir yang mungkin bahagia.
"Kak Genta itu kayak es krim🍦Dingin tapi manis😋"
~Kinara Adinda A~.
Tapi ini bukan akhir dari segalanya.
Melainkan adalah awal perjalanan mereka.
mohon dibaca ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FIFITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33.Interogasi
Persahabatan Memang Tak Selalu Berjalan Lancar.
Namun Konflik Bukan Lah Alasan Untuk Sebuah Perpecahan.
💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮
Hening
Ketika kalimat itu terlontar dari mulut Dinda.
Tiya dan Reksa saling menatap.
"Maksud lo?" tanya Tiya tak paham.
Dwi berpura pura gitu atau apa?
"Gini nih" Dinda menggerak gerakkan tangannya sambil menatap dua manusia di depannya
"Lo pada tau nggak kalau sebenarnya"
Omongan Dinda terpotong oleh suara sangkakala eh enggak deng maksudnya suara bel yang bergema di sentaro sekolah.
Kampret kampret kampret.
Gini nih kalau cerita gantung bawaannya emosi mulu.
"Yah alam tak mengijinkan gue buat cerita ke kalian"
"So.nanti aja tanya sama Dwinya ya.hehe"
Dengan nada yang sangat sangat tak bersalah Dinda berkata di sertai dengan kekehannya.
"Oh ayolah"
"Jangan sekarang"
Keluhan yang keluar dari mulut nan indah Reksa dan Tiya.
Mereka sudah tak sanggup ini untuk menahan jiwa yang kepo.
"Cus lah ke kelas"
Melangkah dengan tanpa bersalahnya meninggalkan Reksa dan Tiya.
"Seriously?" Dengan tatapan tak percayanya Tiya mengekori Dinda yang sudah lebih dulu meninggalkan kantin.
Masa iya gitu aja?
Belum mulai loh ini ceritanya.
Reksa yang berada di sampingnya hanya mengedikkan bahu.
Mau bagaimana lagi?
Ia tak ingin jika harus di jemput Pak Kumis ke kantin.
Yah mungkin nanti saja ditanya pada orangnya langsung dan sekarang kembali ke kelas ikuti pelajaran dengan baik.
Tiya menyemangati dirinya dengan pemikiran yang positif.
☘☘☘☘☘
Untuk memuaskan jiwa yang penasaran jadilah mereka alias Dinda,Tiya,Reksa,dan juga pelaku utama penyebab kekepoan mereka yaitu Dwi berkumpul di salah satu cafe dekat sekolah.
"Jadi lo bisa jelasin nggak maksud lo kayak gini?" to the point adalah gayanya Reksa.
"Maksudnya?" dengan kening yang berkerut Dwi bertanya.
"Lo ada masalah apa?" Tiya menimpali.
Dimana Dinda? ya dia hanya diam menyimak.
"Gue suka sama Genta" jawab Dwi santai bukan main ini ada pacarnya loh di depan lo.
"Demi what?!!!" teriak Tiya setelah mendengar Dwi berbicara tanpa embel embel Aku.
"Lo barusan ngomong 'gue'?" Reksa bingung.
Sudah Dinda duga kalau ini akan terjadi.
"Emang kenapa?capek juga rasanya akting pura pura polos" what what tolong jelaskan pada mereka apa yang terjadi.
Walaupun sudah menduga ini bakal terjadi Dinda masih terkejut lah ya.
"Kenapa?" Datar dan datar.
Inilah sebenarnya Dinda.
"Lo nanya kenapa?Really?Gue suka sama Genta makanya gue kayak gini.tapi ternyata nggak mempan dia lebih milih cewek nggak jelas kayak lo.Hampir kemana mana juga lebih baik gue,gue lebih pinter dari lo,lebih feminim dari lo,keluarga kita juga saling kenal,pokoknya lebih dari lo.tapi kenapa mereka masih tertariknya sama lo?kenapa bukan gue?kenapa Genta juga suka sama lo?" Dwi berkata panjang lebar dengan marah.
Ada apa ini sebenarnya?
Mengapa begitu rumit?
Ungkapan hati Dwi yang tak pernah terlintas dalam pikiran Dinda.
Jadi sebelum dia pindah ke sini berarti semuanya udah di rencanain sama Dwi gitu?
Demi apa?
Reksa dan Tiya juga cengo mendengarnya.
"Ini bukan lo kan Dwi?" Tiya memilih untuk tak percaya pada pendengarannya.
Tidak mungkin ini bukan Dwi yang ia kenal.
Hanya diam tak ada jawaban dari Dwi.
"Kenapa baru lo bilang sekarang? kenapa nggak lo bilang dari awal kalau lo suka sama Genta" Dinda bertanya sambil menyeruput minumannya.
Kelewat santai bukan?
Ya harus bagaimana lagi?
Dinda sudah menduga sejak hari di ulang tahun Bunda Genta.
"Kalau gue bilang dari awal juga apa gunanya?" Dwi menjawab sambil menatap Dinda.
"Ya kejadian kayak gini nggak bakal terjadi ****!"
Reksa yang sejak tadi diam menatap nyalang ke arah Dwi.
Apa otak gadis ini tinggal di rumah?
"Solusi?" tanya Dinda.
Ia sudah bosan dengan drama ini.
"Gue...gue nggak tau.gue bingung" Dwi menggelengkan kepalanya.
Ia benar benar tak tau.
Apa ini akhir yang di inginkannya atau yang lain.
"Lo itu munafik makanya Genta nggak mau sama lo"
Aduh ini kenapa Reksa blak blakkan sekali.
Dwi menatap Reksa.
"Ya udah kalau nggak tau gue balik dulu ya.capek" Dinda beranjak dari duduknya.
"Din ikut" Tiya mengambil tasnya kemudian berlalu mengikuti Dinda.
Reksa?ya dia sudah duluan lah perginya.
Dwi melihat kepergian mereka.
Ia tak tau harus berbuat apa.
Satu setengah tahun berpura pura bukan lah hal mudah.
Yah kalau memang gini akhirnya bisa apa.
Dwi menyemangati dirinya.
☘☘☘☘☘
Dinda merapatkan jaket yang membalut tubuhnya guna melindungi dirinya dari udara dingin malam hari.
Dinda melirik manusia yang berjalan di sebelahnya yang tak lain adalah Genta.
Tadi sesudah isya Genta datang kerumahnya.
Minta izin ke bonyok katanya mau ajak Dinda keluar cari angin.
Mereka berdebat sepanjang jalan untuk menentukan kemana akan pergi.
Maka jadilah mereka berakhir di taman kota.
"Kak.temen aku ada yang suka sama kakak" Dinda berkata sambil terus mengikuti langkah kaki Genta.
"Siapa?" Memilih terus berjalan tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
"Dwi" jawab Dinda sambil melirik sekeliling.
"Lah itu aku juga udah tau" jawab Genta santai sambil menarik tangan Dinda ke tempat penjual bakso.
"Kok nggak bilang bilang?" Dinda bertanya dengan nada merajuk.
Genta memutar badannya menghadap ke arah Dinda.
Di pandangnya wajah Dinda yang di buat sekesal mungkin.
"Kan kamu nggak nanya" jawab Genta sambil mencubit hidung mancung milik Dinda.
"Ya tapi kan nggak usah cubit juga.sakit ini" Dinda menepis tangan Genta yang mencubit hidungnya itu.
Genta hanya tersenyum melihat hidung Dinda yang sudah merah karena ulahnya.
"Iya maaf.sekarang mau makan nggak ini?"
"Ya kalau nggak makan ngapain kita kesini?"
Dinda menjawab pertanyaan tak bermutu Genta sambil duduk di salah satu kursi sambil menyebutkan pesanannya.
Genta yang melihat itu ikut susul Dinda duduk dan memesan.
"Ya siapa tau kan cuma mau foto" sambung Genta.
"Alah anak alay itu mah.pergi ke warung selfie,ke sana selfie,ke sini selfie" Dinda menjawab sambil bergaya seolah olah ia sedang selfie.
"Emang kamu enggak?" tanya Genta sambil melihat tingkah Dinda.
"Ya kadang juga sih.hehe"
Sa ae lu Din.
Genta yang mendengar jawaban Dinda itu seketika hampir kejengkang.dia berpikir dengan gaya penuturan Dinda barusan mengatakan bahwa ia tidak ikut ikutan nyatanya.
Makanya Gen ekspetasi itu jangan ketinggian😁.
Pesanan mereka pun akhirnya datang.
Mereka menyantap dengan lahap.
Beginilah cara mereka pacaran tak neko neko.
Cukup ajak keluar makan bakso udah.
Ada yang gaya pacarannya kayak gini nggak?
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Hai hello
Author come back😁
Jangan lupa tinggalkan jejaknya kalau nggak ntar author sumpahin deh ketagihan sama ini cerita😁😁😁
Terus gimana dengan Genta,kapan Dinda mau ngomong ke Genta??akan kah Genta bisa percaya dengan mudah nya??? hadeehh,,,