~NOVEL KE 7~
Ini adalah kisah tentang Sundari. kehidupan harmonis nya bersama sang suami, Atmaja, mulai diuji ketika sang suami di PHK dari tempat kerja nya.
Atmaja yang penyayang mulai berubah perangai jadi seorang yang pemarah.
Ditambah Atmaja pun mulai gemar berjudi. Sehingga hutang nya kepada rentenir pun perlahan menumpuk dan kian menumpuk.
Percekcokan pun mulai sering terjadi dalam keluarga kecil tersebut.
Bagaimana kelanjutan kisah nya? mampu kah Sundari bertahan? Terlebih ia memiliki Yuna dan juga calon bayi dalam perut nya.
***
kembali tersebar soundtrack karya mel dlm novel ke 7 ini.
1. "Mama" by Mel di eps. 6
2. "Tidurlah, Nak!" by Mel di eps. 16
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meli meilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salon di Mall
'Mas Atmaja menang togel?! Lima puluh juta?! Apa itu sebab nya ia pergi? Dan, apa itu berarti dia sudah membayar hutang nya ke rentenir Madame Xie? Itu berarti surat tanah ini sudah ditebus nya? Ke mana sebenarnya Mas Atmaja? Aku harus segera mencari nya dan meminta penjelasan!' gumam Sundari sambil termenung di depan kulkas.
Setelah menerima uang kembalian dari Abang sayur, Sundari langsung masuk ke rumah dan menuju dapur untuk membereskan barang belanjaan nya tadi.
Sambil membereskan bahan masakan, berbagai dugaan pun memenuhi benak nya.
"Ma.. Yuna mau pergi main ya..?"
Di dekat Sundari, Yuna sudah mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan sang Mama. Namun setelah beberapa lama menunggu, Sundari tak jua menyambut uluran tangan nya.
"Ma..?" Yuna kembali memanggil Sundari. Namun wanita itu masih saja terdiam.
Yuna pun berjongkok hingga kini pandangan nya sejajar dengan sang Mama. Dan tahulah ia kalau Sundari sedang melamun saat itu.
"Ma..!" Kali ini Yuna sengaja menarik lengan baju Sundari, hingga membuat wanita itu tersadar seketika.
"Ya? Ya? Kenapa Sayang?" Tanya Sundari spontan sambil tersenyum manis.
"Yuna mau main dulu ke rumah Hilma. Boleh kan?" Tanya Yuna meminta ijin.
"Boleh.. tapi pulang sebelum zuhur ya?" Pinta Sundari.
"Iya.. assalamu'alaikum!" Pamit Yuna kemudian berlalu pergi.
"Wa'alaikum salam warohmatullah.." jawab Sundari.
Setelah Yuna lama berlalu, Sundari pun tersadar bahwa ia hampir saja kembali mengabaikan putri nya lagi.
"Sadar, Sundari! Sadar! Kamu jangan kelewat bersedih lagi seperti kemarin! Ingat Yuna! Jikalau memang aku akan mencari Mas Atmaja, maka itu kulakukan untuk menuntut hak Yuna yang rindu kepada nya," gumam Sundari pada dirinya sendiri.
Sundari mengingat saat semalam tadi ia tak sengaja mendengar Yuna mengigau dalam tidurnya. Putri nya itu memanggil Papa nya berulang kali. Dan tahulah Sundari kalau putrinya itu sebenarnya merindukan sang papa.
"Hh.. ingat kata Ika, Ndar.. jangan terlalu berharap sama manusia. Karena lebih sering manusia hanya akan membuat kita merasa kecewa. Berharap lah hanya kepada Allah. Karena Dia lah sebaik-baik nya Perencana segala.." gumam Sundari bermonolog.
"Aku tak boleh terlalu berharap lebih lagi pada Mas Atmaja terkait pernikahan kami. Meski begitu, aku bisa meminta kejelasan padanya nanti. Aku harus berani bertanya pada Mas Atmaja tentang kelanjutan hubungan kami," Sundari membuat keputusan pada akhirnya.
"Tapi untuk itu, aku harus bertemu dulu dengan Mas Atmaja. Ah! Aku akan menelpon Mas Bayu saja dan bertanya padanya!"
Tak lama kemudian Sundari menelepon Bayu. Pada dering kedua, panggilan nya baru diangkat.
"Assalamu'alaikum.. ya?" Salam Bayu dari seberang telepon.
'huh? Tak biasanya Mas Bayu menyapa ku tanpa menyebut nama ..? Apa jangan-jangan sekarang dia sedang bersama Mbak Rena ya? Ah.. aku jadi merasa bersalah karena hubungan mereka jadi ada ke salah pahaman karena ku..' gumam Sundari beberapa waktu.
"Wa'alaikum salam warohmatullah.. Mas Bayu..mm.. Ndari mau minta maaf sebelumnya karena hubungan Mas Bayu dan Mbak Rena jadi bermasalah karena Ndari.." ucap Sundari mengawali pembicaraan.
"...ya. gak apa-apa. Ada apa..kamu telepon?" Tanya Bayu singkat.
'Benar. Seperrinya sekarang Mas Bayu sednag bersama Mbak Renata. Baiklah. Kalau begitu aku tak perlu berlama-lama menelpon nya. Khawatir nanti Mbak Rena jadi salah paham lagi..' gumam Sundari berlanjut.
"Ini, Mas. Bisa tolong kasih tahu, di mana Rehan semoat melihat Mas Atmaja? Atau kalau Mas gak tahu, tolong kirimin nomor kontak nya Mas Rehan aja bisa, Mas?" Pinta Sundari.
"..ya. bisa. Nanti ya," jawab Bayu sangat singkat.
Merasa canggung, Sundari pun buru-buru mengakhiri pinggilan telepon tersebut.
Tak berselang lama, Bayi mengirimkan sebuah pesan.
Bayu: taman Bukit Rahayu.
Dan tak berselang lama, Bayu juga mengirim nomor kontak Rehan.
Sundari lalu membalas pesan dari Bayu tersebut.
Sundari: terima kasih. mas. Semoga hubungan Mbak Rena dna Mas Bayu bisa kembali membaik. Maaf, sudah banyak merepotkan!
Dan Bayu tak lagi membalas pesan dari Sundari.
Sundari lalu mencoba menelpon nomor Rehan. Namun sayang, nomor nya sedang tak aktif. Untuk itu, ia meninggalkan sebuah pesan ke nomor Rehan. Isinya seperti berikut.
Sundari: salam.. Mas Rehan, saya Sundari, istri Mas aatmaja. Mau tanya, sampeyan katanya pernah ketemu Mas Atmaja ya? Boleh tahu persisnya di mana? Mas Atmaja sudah beberapa lama ini menghilang. Saya khawatir terjadi kenapa-kenapa dengan nya. Terima kasih.
Satu menit. Dua menit. Tiga menit Sundari menunggu. Namun balasan dari nomor Rehan tak kunjung ia terima.
Akhirnya ia pun memutuskan untuk masak terlebih dahulu. Apalagi saat itu waktu sudah menunjukkan lewat dari jam sembilan pagi.
Pagi itu, Sundari memasak telor ceplok yang diberi kecap, serta sayur tumis kangkung. Setiap hari, menu yang dimasak Sundari memang simpel. Tak jauh dari tumis menumis. Ia hampir tak pernah membuat sambal, karena Atmaja dan juga Yuna yang tak terlalu suka pedas.
Karena itulah keperluan bumbu dapur nya per minggu bisa dibilang hemat.
Saat Sundari sedang menunggu tumisan kangkung nya matang, ponsel nya tiba-tiba saja berdering.
Sundari pun bergegas meraih ponsel yang diletakkan nya di atas kulkas itu. Dan ia terlonjak senang karena melihat nama Rehan yang tertampil di layar ponsel nya.
Klik. Sundari menggeser tombol hijau ke kanan.
"Assalamu'alaikum!" Sapa Sundari.
"Wa'alaikum salam warohmatullah.. Sundari ya? Istri Atmaja?" Tanya suara di seberang sana.
"I..iya Mas! Ini benar dengan Mas Rehan kan?" Tanya Sundari juga ikut memastikan.
"Benar. Kamu nyari Atmaja?" Tanya Rehan.
"Iya Mas. Sudah hampir dua pekan ini Mas Atmaja menghilang. Saya khawatir dengan keadaan nya.."
Sundari hampir kelepasan mengatakan kalau "Atmaja pergi dari rumah". Namun jika ia mengatakan itu, bukankah itu namanya ia membuka aib sang suami? Yang ada malah ia jadi menambah dosa diri sendiri.
Alhasil, Sundari pun sedikit berdusta kepada Rehan perihal kepergian suami nya itu.
Selama beberapa detik, panggilan telepon sempat diisi keheningan. Sampai-sampai Sundari mengira kalau sambungan telepon mungkin sudah terputus.
Tapi setelah ia mengecek ke layar ponsel nya, ternyata sambungan telepon nya masih tersambung.
"Halo? Mas? Mas Rehan? Apa Mas benar melihat Mas Atmaja di taman Bukit Rahayu?" Tanya Sundari mengingatkan lelaki di seberang telepon.
"Ya, Ndaei. Saya memang pernah melihat Atmaja di taman itu. Dan baru saja saya juga melihat nya lagi," ungkap Rehan tiba-tiba.
"Bb..baru saja? Di mana Mas?" tanya Sundari sangat terkejut.
"Di mall Anggrek. Sepertinya dia baru saja masuk ke dalam salon di sana."
Renlhan kembali menjeda percakapan mereka selama beberapa detik.
"Sepertinya ia mengantar teman perempuan nya ke salon itu," lanjut Rehan berkata.
"**..teman perempuan?!!"
JDARRR!!
***
perkedel jagung tapi
semangat menulis 🤗
ma'af baru mampir 😟
semangat, q ksih kmbang sepatu 🌺 y