Apa jadinya jika dua sifat yang saling bertolak belakang disatukan dalam ikatan bernama pernikahan.
Gawa dengan sikap kasar serta tempramental yang angkuh serta sifat kasar yang mendasar sering membuat dirinya di panggil dengan sebutan Singa. Sementara Kristal dengan segala sikap penurut serta lemah lembut nya.
Hingga berawal dari satu teror yang seolah menjadi kan nya sebagai pintu teror yang lainnya. Bukan hanya cinta, namun persahabatan juga akan di uji dalam cerita ini.
Bersama dengan para sahabat nya, akan kah Gawa dapat menyelesaikan kejadian-kejadian aneh itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riyaarmalissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Penuh Emosi
Sedari pagi emosi Gawa benar-benar labil. Bahkan dirinya sudah mengamuk di kelas yang mengakibatkan keadaan kelas yang menjadi berantakan. Ditambah kabar jika Galen sudah mulai masuk sekolah membuat api yang berkobar dalam tubuhnya kini kian bertambah panas.
Seperti saat ini, dirinya berjalan di sepanjang lorong-lorong Koridor kelas X dengan keadaan pakaian yang sudah acak tak menentu.
Namun tiba-tiba ada seorang siswi yang menghampiri nya dengan wajah malu-malu.
"Kak Gawa aku ada coklat buat kakak." Gadis itu menunduk sembari memberikan coklat tanpa berani menatap wajah bengis Gawa.
Gawa menatap datar gadis yang ber Nametag 'Asyila Anggruni' itu tanpa minat membuka suara atau menerima coklat tersebut.
"Minggir!" Gadis itu memang telihat body goals untuk ukuran gadis lainnya. Namun sangat disayangkan jika Gawa benar-benar tidak tertarik untuk hanya meladeni perempuan-perempuan gatal seperti yang di depannya.
Asyila mendongakkan kepalanya untuk menatap iris jelaga yang dapat memikat semua kaum hawa sekali kedip saja.
"Terima dulu coklat dari aku kak!"
Hebat, dirinya meninggikan suara tepat di hadapan Gawa yang kini dalam suasana hati tidak dapat diganggu. Mungkin julukan Singa Batarapati muncul sekarang.
"MAU MINGGIR APA GUE RUSAK MUKA LO YANG PENUH DEMPULAN ITU ANJING?!"
Suara Gawa menggelegar kuat sehingga para murid yang berlewatan di sana memilih diam sambil menundukkan kepala. Mereka takut menjadi salah sasaran dari Kemurkaan turunan Batarapati itu.
Dari arah belakang Rigel cepat-cepat berlari menghampiri Gawa untuk menenangkan emosinya yang sudah di batas ambang kesabaran.
"Ada masalah apa?" Rigel mengusap bahu Gawa untuk menyalurkan ketenangan yang sempat terusik oleh seorang perempuan yang kini hanya dapat diam.
Gawa menoleh ke arah Rigel.
"Laknat ini ngalangin jalan gue!" Ujar nya menggebu-gebu.
"Gak papa, gak papa. Murah sih, kurang didik juga!" Sarkas nya tajam.
Mereka saling pandang satu sama lain. Hingga beberapa saat kemudian mereka tertawa tanpa sebab. Gawa yang jarang menampilkan senyum nya kini tertawa bebas terlihat tanpa beban. Wajah polos itu kembali lagi kepada sang pemilik asli.
"Kristal pergi Gel." Ucapnya parau.
Mereka mengabaikan Asyila yang kini lebih memilih pergi.
Rigel yang kurang paham hanya mendengarkan ucapan sang Sahabat tanpa ingin menyela. Mengikuti alur hidup Gawa sama saja harus memperdalam silsilah pikiran Gawa yang kadang sulit ditebak.
"Kemana dan kenapa?"
Akhirnya mereka memilih bercerita sambil berjalan.
"Jogja." Gawa menerawang jauh ke depan.
"gue rasa dia lebih baik di sana untuk sementara waktu ini. Keadaan belum stabil, jadi gue biarin dia pergi, lagi pula gue juga butuh kesiapan buat ngomong sama dia tentang siapa gue di masa lalu." Sambungan nya lagi. Sebenarnya dia tidak ingin terlihat lemah, namun apa boleh buat?
Lagi-lagi Rigel terdiam. Dirinya ingat cerita Rasi saat adik nya itu menjaga Kristal.
...Kak Kristal itu cinta sama kak Gawa, tapi manusia es itu gak kepikiran sampe sana. Karna bagi kak Gawa cinta itu omong kosong.
Rigel mengulang kalimat Rasi dalam hati. Dirinya meliat Gawa yang seperti sedang berpikir keras.
"Lo cinta sama Kristal?" Celetuknya tanpa beban.
Gawa menggeleng samar. Bukan berarti dirinya tidak mencintai Kristal. Namun rasa yang kini ia rasakan sendiri pun terasa sangat aneh. Jika cinta bukankah dirinya berat melepas kepergian Kristal?
Menjadi seorang Gawa bukanlah hal yang muda. Dirinya harus pintar-pintar dalam mengendalikan kontrol emosinya. Dari tahun ke tahun dirinya ingin mengadu, tetapi mengadu pada siapa dan mengadu apa? Ntahlah, segudang kerumitan bersarang di benaknya.
"Gue gak tau, gue bingung Gel. Ini cinta apa bukan."
Adu nya memelas.
Berbeda dengan Kristal yang kini menikmati masa Damai nya tanpa ada gangguan sang peneror. Kemarin saat dirinya tiba di Jogja, Kristal langsung menuju ke tempat Pak lek Adung. Adung adalah adik dari sang ayah yang mengenal dekat Kristal tanpa memandang asal-usul Kristal.
"Pak lek udah mau ke sawah?" Seperti kegiatan biasanya, Kristal selalu menyiapkan sarapan pagi sama hal nya ketika dia mengurus Gawa di Kota.
"Iya nduk, Pak lek harus numbuk padi." Jawab pria yang telah berkepala empat serta dua orang anak yang kini duduk di bangku SD dan SMP. Untuk istri, Pak lek Adung sudah ditinggalkan sejak empat tahun lalu. Beliau pulang kepangkuan yang Maha Kuasa.
"Yowes nduk Pak lek mangkat, Assalamu'alaikum."
Selepas Pak lek berangkat ke sawah, Kristal hanya berdiam diri bingung harus melakukan apa. sebenarnya nya, Kristal sangat merindukan Gawa yang selalu bawel di setiap jamnya. Sampai sekaran, Gawa belum ada menelpon untuk menanyakan kabarnya. Dirinya ingat bagaimana perpisahan mereka kemarin, bukannya perpisahan manis yang berujung romantis melainkan perpisahan dengan Segunda kekecewaan.
"Kristal kangen Gawa." Lirihnya hampir tidak terdengar.
Kembali lagi pada kehidupan kota yang kini dilalui Gawa tanpa ada gairah hidup sama sekali. Dirinya terlalu malas jika harus pulang ke rumah, bukannya mendapatkan ketenangan yang Diidamkan, dirinya malah harus menelan kesepian tanpa ada seorang Kristal yang akan menyambutnya ketika sampai nanti.
Berjalan dengan angkuh nya bersama ke-lima Sahabat nya. Sebagai informasi jika dia orang tambahan adalah Rajun dan Wingga yang kini ditetapkan Gawa sebagai sahabat nya.
"Bloon pisan euy!" Danu mengumpat karna menabrak seorang gadis yang terlihat sangat ketakutan. Namun sayang, wajah gadis itu tidak terlibat diakibatkan tertutup cadar. Dari gaya-nya berpakaian, sepertinya gadis itu anak dari seorang Ustad. Semua wajahnya tertutup kecuali kedua mata yang berwarna Biru Laut itu.
Tanpa mengucapkan Maaf, gadis itu segera berlalu setelah melihat pemandangan yang membuat ke-dua bola mata indah itu Ber-air.
"Etah teh saha nya?" Danu tanpa sadar menggunakan bahasa Sunda. Asal kalian tahu saja, jika Playboy kelas kakap itu asli berdarah Bandung.
"Mbo Mas." Jawab Rey tambah ngawur. Dirinya bukan orang Jawa, namun sedikit banyak dirinya tahu tentang bahasa yang menurutnya sakral tersebut.
"Gelo!" Hardik Rigel gemas. Sedangkan tiga orang lainnya hanya diam menyimak obrolan singkat mereka.
ORANG LUMPUH KAYAK LO GAK PANTES SEKOLAH DISINI!
HUH DASAR CACAT!
Dari kejauhan, mereka melihat jika Galen sudah terduduk ditengah lapangan dengan orang-orang yang sudah menghina nya.
Galen tidak dapat melawan karna kondisinya yang memang belum pulih. Alhasil dirinya hanya diam menunduk tidak berani berbuat apa-apa.
Wingga menepuk lengah Gawa.
"Tolongin dia, kamu berhak membantu orang yang kesulitan."
Gawa tidak menjawab apa-apa, dirinya berjalan menuju lapangan yang kini setengahnya telah di penuhi oleh para murid.
"DAN LO PECUNDANG GAK PANTES MIJEK BUMI!"
Lantangnya. Bagaimana pun keadaannya, dirinya harus menerima jika Galen adalah saudara nya.
Semua atensi tertuju padanya. Para murid saling berbisik tidak tahu angin apa yang membawa Gawa mau menolong musuh abadinya.
Setelah membaca Nametag murid Laki-laki yang kini bergetar ketakutan dirinya pergi begitu saja.
Namun di langkah ke-empat, dirinya berbalik.
"Lo Sandi Arbany, besok gua tunggu di kantin!" Mutlaknya tidak terbantah. Dirinya butuh pelepasan emosi, namun tidak sekarang. Karna Gawa akan menemui seseorang.
Dirinya pergi keluar Sekolah, meninggalkan berbagai pertanyaan. Berbeda dengan Rey dan teman-temannya yang memilih untuk membantu Galen terlebih dahulu.
"Lo gak usah pikirin apapun, yang lo pikiran adalah kesembuhan lo." Jelas Rey setelah melihat wajah Galen yang penuh dengan tanda tanya.
*
*
*
*
Woyyy apa kabur? eh kabar deng😊, gimna sama part kali ini? oh ya mungkin dari part ini aku bakal sering nambahin bahasa Sunda atau Jawa, jadi kalo ada kesalahan tolong maklum ya, karna aku juga ga terlalu pintar. satu lagi, aku udah ganti visual Danu. jangan lupa buat selalu like N koment.
Gimana sama visualnya? udah keliatan kayak Playboy belum? 😅
kaum sultan masa isinya cm segitu
wkwkwk
akhirnya LENGGAWA is back...
hebat km thor...👍👍👍
bikin penasaran
lanjut thor
othor zeeyeeenggg.... tunjukkanlah drmuuu...
readers mu ygtak tau diri ini sngt merindukan ending ceritamuuu...😁😁😁