PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?
Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.
MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?
NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 — LOLIPOP
BAB 4 — LOLIPOP
Sinar matahari sore menembus kaca besar ruang tamu rumah mewah itu tanpa ampun. Cahayanya keemasan, jatuh di atas lantai marmer putih yang mengilap dan memantulkan bayangan.
Eiri duduk kaku di ujung sofa kulit. Kedua tangan saling menggenggam erat di atas lutut sampai buku-buku jari memutih. Sejak menandatangani surat pernikahan beberapa jam lalu, kepala tidak berhenti berisik. `tt`
`Tanda tangan. 2 Tahun. 2 Miliar. Istri.`
"Kenapa harus menikah..."
Gumam itu keluar pelan. Hampir tenggelam oleh suara jam dinding `tik... tok... tik... tok...`
Sama sekali tidak mengerti. Otaknya menolak.
Dengan semua kekuasaan yang dimiliki Mahendra Axlarta, dia bisa saja memenjarakan Papa. Bisa menyita rumah. Bisa memaksa Eiri bekerja tanpa bayaran seumur hidup di perusahaannya.
Tapi justru memilih jalan ini. Jalan paling tidak masuk akal. Jalan paling gila.
"Itu benar-benar aneh..."
Air mata menggenang lagi. Tapi ditahan. Tidak boleh nangis di rumah orang.
_Tok. Tok._
Suara langkah kaki mendekat. Mantap. Berat.
Kepala Eiri langsung terangkat. Bahunya menegang.
Mahendra masuk. Jas hitam masih rapi melekat di tubuhnya seperti tidak pernah kusut. Beberapa map tebal diletakkan di atas meja kaca dengan suara `tak` pelan.
"Masih di sini?"
Suaranya datar.
Eiri buru-buru berdiri. Lututnya hampir lemas. "Maaf... hanya menunggu. Tadi asisten bilang disuruh menunggu."
Anggukan singkat. "Tidak perlu kaku. Ini rumahmu juga mulai minggu depan."
Dada Eiri mencelos. `Rumahmu juga`. Kata itu terasa asing dan menakutkan.
Hanya anggukan pelan sebagai jawaban. Keheningan kembali menguasai ruangan. Hanya ada suara AC yang dingin.
Belum lama, pintu depan terbuka dengan suara keras `BRAK!`
"Mahendra!"
Seorang pria berambut pirang masuk tanpa mengetuk. Senyum lebar. Jas abu-abu mahal. Wangi parfumnya memenuhi ruangan.
"Astaga, rumah ini masih sesepi kuburan. Gak ada musik? Gak ada pelayan cantik?"
Lirikan sekilas dari Mahendra. Dingin. "Ada perlu?"
"Bukannya sendiri yang menyuruh datang jam 5? Lupa?"
Tawa kecil. Lalu tatapan pria pirang itu berhenti pada sosok yang berdiri di dekat sofa. Matanya menyipit, menilai dari atas sampai bawah.
"Oh..."
Nada suaranya berubah.
Langkahnya terhenti. "Jadi ini dia? Calon Nyonya Axlarta?"
Kepala Eiri menunduk dalam. Pipinya panas. "Halo... Saya Eiri."
"Halo juga. Cantik."
Senyum ramah terukir di wajah pria itu. Tapi ada sesuatu yang aneh saat kedua pasang mata bertemu. Sekilas.
Dada Eiri berdegup tidak wajar. `Dug.` Rasanya familiar. Sakit. Seperti pernah melihat wajah itu di mimpi. Pernah melihat senyum itu waktu kecil.
"Kenapa wajahnya terasa familiar?"
"Perasaan apa ini... kok dada sakit..."
_Hem._
Suara deheman pelan memecah. Tajam. Berbahaya.
"Sudah selesai saling melihat?"
Nada Mahendra datar. Tapi hawanya membuat suhu ruangan turun 5 derajat.
"Cemburu?"
Tawa pria pirang itu kembali terdengar. Menggoda.
Tatapan tajam Mahendra langsung melesat seperti pisau. "Tidak suka tamu mengabaikan tuan rumah."
"Hahaha... baiklah. Aku Marchel. Teman kuliahnya si Es Batu ini."
Kedua tangan Marchel terangkat tanda menyerah. Tubuh lalu menjatuhkan diri ke sofa dengan santai. Kebalikan dari Eiri yang masih kaku.
"Aku dengar pernikahan minggu depan. Cepat banget."
Mata Eiri membelalak. "Minggu depan?"
Jawaban singkat dari Mahendra. "Iya. 7 hari lagi. Di gereja."
"Tapi... persiapannya? Gaun? Keluarga?"
"Suratnya sudah ditandatangani. Sisanya urusan aku."
Tidak ada bantahan lagi dari Eiri. Memang benar. Tinta hitam masih terasa di ujung jari telunjuknya. Tangan yang gemetar waktu tanda tangan.
Marchel memperhatikan ekspresi bingung itu. Alisnya berkerut pelan. Ada yang disembunyikan di sini. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang tidak beres.
Tapi dia memilih diam. Dan menyeruput kopi yang disuguhkan pelayan.
...
Malam hari. Jam 9.
Seorang pelayan paruh baya menuntun Eiri menuju sebuah pintu di lantai dua. "Kamar Nona ada di sini. Silakan."
Pintu didorong pelan. _Kriiit._ Engselnya mahal, suaranya halus.
Ruangan luas menyambut. Kasur putih berukuran king size dengan selimut tebal dan 4 bantal. Lemari kayu jati mengilap sampai bisa memantulkan wajah. Balkon menghadap taman yang diterangi lampu kuning temaram. Kamar mandi di dalamnya lebih besar dari seluruh kamar kos Eiri.
Napas Eiri tercekat. "Ini... untukku? Sungguh?"
"Iya, Nona. Silakan beristirahat. Jika butuh apa-apa tinggal tekan bel."
Pintu tertutup. Sunyi. Hanya suara Eiri sendiri.
Jari gemetar menyentuh selimut. Lembut. Hangat. Wangi. Jauh berbeda dari kasur tipis di kos yang bau apek.
"Kenapa memperlakukan aku seperti ini..."
Bisiknya. Dadanya sakit. Ini terlalu baik. Baik yang menakutkan.
Pandangan Eiri beralih ke meja kecil di samping tempat tidur. Ada vas bunga. Ada buku. Dan...
Di atasnya ada toples kaca bening besar. Di dalamnya berjejer lolipop warna-warni. Merah, pink, kuning, biru. Mengkilap.
Kepala Eiri miring. "Lolipop?"
Dada mendadak hangat. Anjing. Nyaman. Perih. Seolah benda manis itu pernah sangat penting. Pernah ditunggu setiap sore. Pernah jadi satu-satunya hadiah yang dia tunggu.
Dengan tangan bergetar, satu lolipop merah muda diambil. Bungkusnya dibuka pelan. `Kresek...`
"Lucu..."
Senyum kecil tanpa sadar terukir di bibir. Rasa manis stroberi meleleh di lidah. Mata Eiri terpejam.
Dan untuk pertama kalinya dalam 2 tahun, Eiri tertidur tanpa mimpi buruk.
Di luar kamar.
Bersandar di dinding, Mahendra menatap dari celah pintu yang terbuka sedikit. Bayangannya panjang.
Melihat sosok itu meringkuk di kasur besar sambil memegang lolipop yang sama, sudut bibirnya terangkat tipis. Hampir tidak terlihat.
"Masih memilih rasa stroberi..."
Bisikan itu pelan. Serak. "Tidak berubah sama sekali. Eiri bodoh."
Mata birunya meredup. Ingatan 10 tahun lalu berputar seperti film.
`Kak Mahen, aku jatuh.`
`Sini, jangan nangis. Ini lolipop stroberi. Penawar sakit.`
`Janji ya, tiap aku sedih kamu kasih ini?`
`Janji.`
Tapi sekarang... orang yang selalu memberikannya justru sudah melupakannya. Orang yang dia lindungi justru memanggilnya "Tuan".
Genggaman di sisi tubuh mengeras. Buku-buku jari memutih.
"Akan membuatmu mengingat semuanya, Eiri. Pelan-pelan."
Janji itu keluar seperti sumpah.
Tanpa disadari, dari ujung lorong yang gelap, sepasang mata lain ikut memperhatikan pemandangan itu.
Marchel.
Tangan masuk ke saku jas. Napas panjang keluar. Dadanya sesak.
"Jadi benar... semua ini bukan soal utang 2 Miliar."
Gumamnya pelan. "Mahendra... kamu masih mencintainya. Setelah 10 tahun."
Pandangannya beralih ke arah kamar tempat Eiri tidur. Khawatir.
"Semoga saja semua ini tidak berakhir dengan luka yang lebih besar. Untuk kalian berdua."
Lampu lorong berkedip sekali. Lalu mati.