Dilarang memplagiat, mengcopy atau mengupload di platform, media sosial ataupun aplikasi manapun. Novel ini hanya ada di noveltoon.
Jihan mengantarkan ibu mertuanya untuk melayat ke rumah teman pengajiannya. Namun ketika berada di rumah duka ada seorang anak kecil memanggilnya ‘Mamah’.
Abrisam seorang suami yang sangat mencintai istrinya. Namun takdir menentukan lain, istri yang sangat dicintainya meninggal dunia. Meninggalkannya dan anak mereka yang bernama Alika.
Bagaimanakah kelanjutan ceritanya? Baca cerita ini hingga tamat.
Follow Ig @deche62
Fb Deche
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Muntah
Abrisam dan Jihan baru selesai sholat subuh, tiba-tiba pintu kamar mereka ada yang mengetuk.
Tok tok tok
“Bunda, Alika mau pipis,” teriak Alika di depan kamar.
Abrisam membuka pintu kamar, Alika langsung masuk ke dalam kamar dan menghampiri Jihan yang sedang melipat mukenah.
“Bunda, Alika mau pipis,” kata Alika dengan manja.
“Tunggu sebentar. Bunda lipat mukenah dulu,” kata Jihan.
“Iya,” jawab Alika.
Setelah selesai melipat mukenah Jihan membawa Alika ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan Alika, tiba-tiba perut Jihan terasa mual. Jihan langsung jonngkok di depan closet kemudian ia muntah. Tidak ada yang keluar dari mulutnya hanya cairan bening yang keluar.
Mendengar suara Jihan muntah Abrisam langsung menghampiri Jihan ke kamar mandi.
“Bunda kenapa?” tanya Abrisam kepada Alika.
“Alika ngga tau, tiba-tiba Bunda muntah,” jawab Alika.
Abrisam jongkok di belakang Jihan sambil memijit tengkuk dan punggung Jihan. Jihan terus saja muntah, namun tetap saja hanya air yang keluar. Alika hanya diam berdiri melihat bundanya muntah.
“Sudah, Mas,” kata Jihan.
“Sudah agak enakan?” tanya Abrisam.
“Iya, Mas,” jawab Jihan,
Abrisam membanjur closet lalu memapah Jihan menuju ke tempat tidur. Alika mengikuti mereka dsri belakang. Jihan berbaring di atas tempat tidur, kemudian Abrisam menutup tubuh Jihan dengan selimut,
“Alika ke dapur, ya! Minta air putih hangat ke bi Isah untuk Bunda,” kata Abrisam kepada Alika.
“Iya,” jawab Alika.
Alika langsung keluar dari kamar Abrisam. Abrisam mengambil minyak kayu putih lalu di oleskan ke kepala, tengkuk dan punggung Jihan. Setelah itu ia memijiti kaki Jihan. Tiba-tiba pintu kamar dibuka Alika, ia masuk ke dalam kamar bersama Ibu Farida. Ibu Farida membawa segelas air hangat untuk Jihan lalu diletakkan di atas nakas.
“Jihan, kamu kenapa? Kata Alika, kamu muntah-muntah,” tanya Ibu Farida kepada Jihan.
“Kepala Jihan sakit, Bu. Perut Jihan mual-mual,” jawab Jihan.
Mendengar jawaban Jihan Ibu Farida tersenyum.
“Kamu istirahat saja. Biar Ibu yang mengurus anak-anak,” kata Ibu Farida.
“Jihan jadi merepotkan Ibu,” kata Jihan.
“Tidak apa-apa. Lagi pula mereka sudah besar, jadi Ibu tidak terlalu repot mengurus mereka,” kata Ibu Farida.
“Sebelum Mas berangkat ke kantor kita ke dokter dulu,” kata Abrisam ke Jihan.
“Tidak usah, Mas. Jihan hanya masuk angin saja,” jawab Jihan.
“Kalau mau ke dokter nanti sore saja. Sekarang biarkan Jihan istirahat dulu,” kata Ibu Farida.
Abrisam menghela nafas. Ia khawatir dengan keadaan istrinya. Ada baiknya jika Jihan beristirahat dulu. Nanti setelah ia pulang dari kantor baru baru membawa Jihan ke dokter.
“Baiklah, Bu,” jawab Abrisam.
“Ibu ke dapur dulu. Ibu mau membuatkan makanan untuk Jihan,” kata Ibu Farida.
“Tidak usah, Bu! Biar Bi Isah yang masak,” sahut Jihan.
“Sudah, kamu tenang saja. Serahkan semua ke Ibu,” kata Ibu Farida.
“Ayo Alika. Biarkan bunda istirahat dulu,” kata Ibu Farida kepada Alika.
Ibu Farida membawa Alika keluar dari kamar Abrisam. Abrisam melanjutjan memijit kaki Jihan.
“Mas,” panggil Jihan.
“Hm,” jawab Abrisam sambil memijat kaki istrinya.
“Jihan jadi merepotkan Ibu,” kata Jihan.
“Tidak, sayang. Ibu memang begitu. Ia tidak merasa terbebani sama kamu,” jawab Abrisam.
“Sekarang kamu tidur lagi. Mas mau lihat Akmal sudah bangun atau belum,” kata Abrisam.
“Suruh dia sholat subuh, Mas,” kata Jihan.
“Iya,” jawab Abrisam.
Abrisam keluar dari kamarnya. Tinggallah Jihan berbaring sendiri kamarnya. Lama kelamaan matanya mulai mengantuk. Jihan pun tertidur.
Jihan terbangun ketika suara pintu kamar dibuka. Abrisam datang membawa mangkok dan segelas air putih. Jihan bangun dari tempat tidur dan duduk dengan menyandar pada headboard tempat tidur.
Abrisam duduk di tepi tempat tidur.
“Apa itu, Mas?” tanya Jihan.
“Bubur sumsum. Ibu yang memasaknya untukmu. Kata Ibu agar kamu tidak merasa eneg. Mas suapin, ya,” kata Abrisam. Abrisam mengambil sesendok bubur sumsum lalu disuapkan ke mulut Jihan.
Jihan memakannya perlahan.
“Bagaimana? Enak, tidak?” tanya Abrisam.
“Enak, Mas,” jawab Jihan. Mulut Jihan sudah kosong, Abrisam menyuapi bubur lagi ke mulut Jihan.
“Anak-anak sedang apa?” tanya Jihan.
“Mereka sedang sarapan,” jawab Abrisam lalu menyuapi Jihan lagi.
“Mas sudah sarapan?” tanya Jihan.
“Belum, nanti saja kalau sudah mandi,” jawab Abrisam.
“Oh, iya. Alika makan sendiri. Dia tidak mau disuapi oleh siapapun. Dia ingin seperti Akmal, makan sendiri,” kata Abrisam.
“Kasihan Alika. Kalau Jihan sakit dia pasti tidak terurus,” kata Jihan dengan nada sedih.
“Alika sudah besar. Pelan-pelan dia harus belajar mandiri. Agar nanti kalau dia sudah punya adik, dia sudah bisa mandiri. Kamu kan harus mengurus bayi,” kata Abrisam.
Mendengar kata-kata bayi Jihan berpikir sejenak.
“Mas,” kata Jihan.
“Kenapa?” tanya Abrisam.
“Apa mungkin Jihan hamil?” tanya Jihan.
“Bisa jadi,” jawab Abrisam.
Akhirnya bubur di dalam mangkok sudah habis. Abrisam menaruh mangkok di meja nakas lalu ia memberi Jihan obat.
“Obat apa ini?” tanya Jihan.
“Paracetamol. Agar berkurang sakit kepalanya,” jawab Abrisam.
Jihan meminum obat pemberian Abrisam.
“Sekarang kamu istirahat lagi. Mas mau mandi dulu,” kata Abrisam.
Abrisam berjalan menuju ke kamar mandi. Jihan menyalakan televisi agar tidak jenuh. Beberapa menit kemudian Abrisam keluar dari kamar mandi. Ia sudah selesai mandi. Abrisam mengambil baju seragam kantor di lemari. Ketika Abrisam menyemprotkan parfum ke tubuhnya, Jihan seperti mencium aroma segar dari wangi parfum itu.
“Parfum apa itu, Mas? Parfum baru, ya?” tanya Jihan.
“Bukan, ini parfum yang biasa Mas pakai,” jawab Abrisam.
Jihan beranjak dari tempat tidur dan mendekati Abrisam. Ia mengendus-endus tubuh Abrisam.
“Baunya enak, beda dari biasanya,” kata Jihan.
“Ini parfum yang sama Jihan. Itu botolnya,” Abrisam menunjuk ke botol parfum miliknya yang di simpan di atas meja rias.
Jihan mengambil botol tersebut dan menciumnya.
“Uowek,” suara Jihan mau muntah. Jihan menutup mulutnya lalu masuk ke kamar mandi dan berdiri di depan closet. Ia muntah, namun hanya air yang keluar dari mulutnya. Abrisam langsung menghampiri Jihan. Ia mengusap punggung istrinya.
“Sudah, Mas,” Jihan membanjur closet.
“Kepala Jihan pusing, Mas,” kata Jihan.
Abrisam memapah istrinya menuju ke tempat tidur lalu membaringkannya di tempat tidur.
“Kita ke dokter, ya,” kata Abrisam dengan khawatir.
“Jangan dulu, Mas. Nanti Jihan suruh Mimin beli testpack di apotik sekalin jemput Akmal,” jawab Jihan.
“Sekarang saja beli test packnya. Setelah mengantar Akmal, Mas ke apotik untuk membeli test pack,” kata Abrisam.
“Tidak usah. Nanti saja dibelikan Mimin. Sekarang Mas sarapan terus berangkat ke kantor,” kata Jihan.
Abrisam menghela nafas.
“Ya sudah, Mas sarapan dulu,” kata Abrisam. Abrisam keluar dari kamar mereka untuk sarapan.
***
Gara-gara Jihan sakit kepala dan mual, Deche juga sakit kepala dan mual.Ketikan Deche amburadul semua.
-
selingkuh itu penyakit otak dan hati penasaran..
suatu saat akan kymat kalo ada kesempatan atau godaan..