Apa Jadinya jika sekelompok orang dengan berbagai pandangan tapi satu tujuan dan si satukan dalam satu Agensi bernama JULID VANGKE. Sebuah institusi penegak keadilan. Yang digawangi oleh, Khodijah, Romlah, Caitlyn, Jukaykha, Jaenab dan Ijah.
Tugas mereka cukup berat, karena harus membasmi para penjilat tak berguna pemakan dana Bansos yang seharusnya dialirkan untuk Masyarakat yang membutuhkan. Para penjilat yang mereka beri nama Keledai Dungu itu ternyata memiliki banyak akal untuk melakukan Playing Victim.
Mampukah para detektif Julid Vangke membuktikan kebusukan mereka?
Karya ini hanya fiktif belaka. Terinspirasi dari banyaknya kasus yang terjadi dimasyarakat biasa😍Dilarang Baper! Ini hanya guyonan semata😍Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Ijah membisikkan sesuatu kepada teman-teman seperjuangan tim Julid Vangke-nya, Nasrulia juga termasuk dalam rencana kali ini. Dengan tema playing victim dan membeberkan borok si Amat yang meresahkan warga dumay dan sekitarnya.
Perihal Hiatus, fiks dia bohong karena ia masih aktif di media sosial. Kali ini si Amat tidak bisa lolos dan tim Julid Vangke harus bisa membuat si Amat mengaku.
"Oke, maraneh paham kan?" tanya Ijah pada all team si Julid Vangke setelah bisikan dari rencananya untuk membuat si Amad mengakui kejahatannya mau tidak mau.
"Oke!" jawab Nasrulia dan all team Julid Vangke kompak. Mereka tersenyum menyeringai, entah apa yang mereka rencanakan.
*****
Keesokan harinya, si Amat tengah slow bersantai di empang yang serasa di pantai. Amat baru saja memberi makan ikan-ikannya yang gembul itu.
"Aahhh... akhirnya Eike beres juga kasih makan ikan-ikan di Empang. Waktunya luluran gengs," kata si Amat dengan suara manja talitah khas-nya.
Amat berjalan pergi ke dalam rumah, ia mengambil lulur mandinya. Setelah panas-panasan, tentunya dia harus luluran dan wajib untuk memanjakan dirinya. Supaya kulitnya glowing, shining, shimerring.
Kini si Amat sedang rebahan di atas kursi panjang yang ia taruh didekat empang. Wajah Amat sudah memakai masker dan ada dua irisan timun di matanya.
"Ah adem bener deh hidup gue. Biarin aja si dunia api gempar, gue mah senang senang aja disini dah." Amat menghembuskan nafas panjang. Seolah masalah yang ia hindari tidak akan berkepanjangan.
Namun dugaan si Amat salah besar. Di tengah-tengah suasana santainya, Amat kedatangan si Odah, Ningsih dan Kokom. Sedangkan si Ntun tidak ikut kesana karena sibuk dengan dunianya sendiri.
"AMAT!" seru Odah dengan suara 10 oktaf yang bisa membuat gendang telinga rusak.
"Eh kalian? Apa apa kalian kesini guys? Yuk Yuk...duduk disini ikut luluran sama eike." ajak Amat dengan santainya.
"Luluran apaan? Ini bukan waktunya buat luluran, woy!" Kokom duduk disamping Amat, lalu melepas masker di wajah pria setengah matang itu.
Amat menatap ketiga temannya dengan atensi tajam, keningnya berkerut. Ada apa ini? Mengapa mereka terlihat marah? Amat sangat bingung.
"Ada apa sih? Kalian serius banget syin..." kata Amat seraya membelai tangan Kokom dengan gaya syalalala.
Tapi Kokom sedang tak mau diajak bercanda, ia menepis tangan Amat lalu menunjukkan ponselnya pada Amat.
Ting!
Ting!
Terdengar suara pertanda pesan dan notifikasi media sosial masuk ke ponsel Kokom. Amat membuka matanya lebar-lebar saat melihat postingan di salah satu akun medsos Ijah.
[Turut berduka cita, buat yang uang bansosnya di gelapkan oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab! Saya doakan, semoga amal ibadahnya diterima disisi Tuhan, aamiin....
Burung Irian burung cendrawasih, cukup sekian dan terimakasih☺️☺️]
"Apaan ini? Bukan apa-apa kok," kata Amat sambil menyerahkan kembali ponselnya pada Kokom.
"Bukan itu Mat, masalahnya ada pada komen komennya!" seru Kokom.
"Hooh netizen," Ningsih menganggukkan kepalanya seraya membenarkan kata-kata Kokom.
"Lu jangan santai-santai gitu mat, ini masalah serius. Lu menggemparkan negeri kita, Mat!" seru Odah dengan memasang wajah serius. Mukanya terlihat lamedong, putih karena bedak yang tak rata. Jangan lupakan bibirnya yang merah burahray menjadi ciri khasnya.
Amat kembali mengambil ponsel Kokom, ia menscroll komen di status Ijah. Komennya mencapai 100 dan rata-rata yang mengkomentari status tersebut adalah orang-orang yang ditipu oleh si Amat.
@Bawanggoreng: Sialan tuh orang, punya masalah malah menghindar dan sembunyi dibalik ketek emaknya]
@Kelinci imut : Iya, memang perlu di gorok lehernya tuh]
@Cendolmanis : Aamiin semoga amal ibadahnya diterima oleh yang kuasa! ]
@bungayangindah : Gue dengar-dengar dia sejam 50 rebu?
@naru_to : Bullshitt! Di jual 5 ribu di pasar aja kagak ada yang mau beli hahaha🤣
@syetarsyantik : yang namanya orang nggak jujur itu pasti menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tujuannya. Termasuk jadi TUTI (Tukang tipu) haha...🤣🤣
Statement dan komentar mereka cenderung menekan Si Amat, walaupun tidak menyebut namanya secara langsung.
"Sialan si Ijah! Kenapa dia bikin status kayak gini?" Amat menyugar rambutnya ke belakang, dia mendengus kesal melihat komentar-komentar pedas itu. Ya, walaupun tidak ada namanya tertera di sana tapi dia tau benar, siapa yang dimaksud didalam status tersebut.
"Gua kagak terima di bilang TUTI!" Serka Amat geram sampai dia sadar menceburkan ponsel si Kokom ke dalam empang.
Byurr!!
"Estoge AMAT! Eta ponsel Kuring, Naha di cemplungkeun kadinya?" Si Kokom terkejut lalu dia masuk ke dalam Empang dan mengambil ponselnya yang baru saja terjatuh.
"Cicing Kokom gue lagi esmosi!"
"Udah udah, bukan waktunya lu marah-marah. Sekarang lu beresin masalah lu, buat klarifikasi! Serang balik!" kata si Odah berlagak pintar.
*****
Sukses bwt kk
makannya mad jangan suka makan duit haram saat kamu menerima karma nya kamu tersiksa kan tapi saat kamu melakukan kejahatan itu kamu senang dan tak memikirkan apapun
akhirnya perjuangan kalian menemukan titik akhir juga dengan tertangkapnya para geng meresahkan 😁😁😁
kebanyakan bikin ulah sih
sokoooooor tuman kelamaan kalian senang di atas penderitaan orang lain saat nya kalian memetik apa yang kalian tanam