NovelToon NovelToon
Baskara Lelaki Yang Memilihku

Baskara Lelaki Yang Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Beda Usia
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Setelah hampir lima belas menit membiarkan air pancuran membasahi tubuhnya—sekaligus mendinginkan kepalanya yang mendidih—Alena akhirnya keluar dari kamar mandi.

Lengkap dengan pakaian rapi, matanya langsung tertuju pada Baskara yang masih setia duduk santai di sofa menunggu dirinya.

Tanpa membuang kata, Alena melangkah menuju lemari pakaian yang menjulang tinggi di sudut kamar.

Ia menggeser pintunya, lalu jemarinya memilah-milah setelan pakaian yang tergantung rapi.

Alena mengambil kemeja putih bersih, celana bahan hitam, dasi hitam, dan jas hitam polos.

Baskara yang memerhatikan pergerakan istrinya dari sofa langsung mengulas senyum tipis, lalu berujar santai, "Sayang, aku bukan mau melamar pekerjaan."

Alena mendengkus pelan, memutar bola mata jengkel.

Tanpa mendebat, ia mengembalikan jas dan dasi hitam itu ke gantungan semula.

Jemarinya kembali meneliti jajaran pakaian mahal di dalam lemari hingga pilihannya jatuh pada jas berwarna biru dongker yang elegan dan dasi bernuansa senada dengan motif garis halus.

"Ini baru bagus," gumam Alena, mengamati paduan warna yang kini terasa jauh lebih pas dan karismatik.

Baskara bangkit dari duduknya, melangkah perlahan mendekati Alena.

Ia berdiri tepat di hadapan istrinya, merentangkan kedua tangannya sedikit ke samping seraya melemparkan tatapan penuh arti.

"Sekarang pakaikan, Sayang," pinta Baskara manis, penuh nada penekanan yang manja namun tak bisa dibantah.

Alena mendongak, menatap wajah tampan suami mudanya itu dengan tatapan jengkel yang tak ditutup-tutupi.

"Bas, kamu bukan bayi lagi," cetus Alena gemas seraya memegang kemeja putih di tangannya.

Baskara justru mencondongkan tubuhnya lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga hembusan napasnya terasa di kening Alena.

Sebuah senyum tipis yang penuh godaan terukir indah di bibirnya.

"Aku bayi besarmu, Sayang," bisik Baskara rendah, membalas ucapan istrinya tanpa rasa malu sedikit pun.

Alena mengabaikan botol parfum mahal beraroma kayu manis yang berjajar di atas meja rias.

Jemarinya justru terulur mengambil sebotol minyak kayu putih yang ia temukan di dalam tas riasnya sendiri.

Baskara yang memperhatikan gerak-gerik istrinya hanya bisa membelalakkan mata tipis saat Alena meneteskan cairan aromatik itu ke telapak tangannya, lalu mengusapkannya perlahan ke dada dan leher Baskara sebelum mengancingkan kemeja putih pria itu.

"Sepertinya aku memang bayi," ucap Baskara pasrah, menyiratkan geli dari nada suaranya saat aroma hangat khas minyak kayu putih mulai memenuhi indra penciumannya.

"Pakai minyak kayu putih biar hangat," sahut Alena santai tanpa mengalihkan fokusnya yang kini berpindah merapikan kerah kemeja sang suami.

Baskara menatap lekat-lekat wajah Alena yang berada sangat dekat dengannya.

Sorot matanya yang biasanya tajam dan mendominasi perlahan melunak, menyisakan rasa ingin tahu yang dalam.

"Sekarang katakan padaku, kenapa kamu belum menikah di saat usiamu empat puluh?" tanya Baskara pelan, pertanyaan yang akhirnya lolos dari bibirnya setelah memendamnya sejak semalam.

Jemari Alena yang sedang memegang dasi biru dongker mendadak terhenti sejenak.

Ia menghela napas panjang, menatap simpul dasi yang sedang ia rapikan daripada membalas tatapan mata Baskara.

"Aku trauma, Bas. Semua lelaki sama saja," jawab Alena jujur, suara parau menyusup tipis di antara kalimatnya.

Baskara mengernyitkan alisnya tak terima. "Sama saja? Aku tidak begitu," protesnya cepat.

Alena mendongak, menatap lurus mata pria di hadapannya dengan senyum sinis yang mengembang di bibirnya.

"Kamu lebih parah," tembak Alena telak.

"Dengan mengancamku dan memberikan sepuluh persyaratan gila itu."

Baskara justru terkekeh rendah. Tangannya terulur mengusap pipi Alena yang halus, menahan dagu istrinya agar tetap menatapnya.

"Alena Swasti, itu untuk kebaikanmu, Sayang," bisik Baskara tenang, seolah sepuluh poin aturan ketat itu adalah wujud kasih sayang paling tulus di dunia.

Sebelum Alena sempat membalas argumen konyol itu, Baskara menepuk pelan bahunya dan memutar arah pembicaraan.

"Dan ayo kita sarapan dulu," lanjut Baskara seraya membenarkan letak jas biru dongker yang kini melekat sempurna di tubuh tegapnya.

"Nanti malam kita ke rumah Mamaku."

Alena mengerutkan keningnya bingung.

"Mamamu?"

"Iya, mantan istri Ayahku," jawab Baskara santai.

"Kita harus memberitahukan pernikahan ini ke keluarga besar."

Meja makan bergaya modern itu dipenuhi dengan berbagai hidangan sarapan mewah mulai dari roti panggang alpukat, telur mata sapi setengah matang, hingga secangkir kopi hitam pekat yang mengepulkan uap hangat.

Namun, nafsu makan Alena mendadak lenyap begitu mendengar rencana yang baru saja dilontarkan suaminya.

Alena meletakkan garpunya dengan pelan, lalu memandang wajah Baskara yang duduk di seberangnya dengan tatapan memohon.

"Aku nanti tidak ikut, ya," kata Alena pelan, mencoba menawar.

"Lebih baik aku di toko roti. Kasihan para pelanggan kalau tokonya tutup mendadak."

Baskara tidak langsung menjawab. Ia mengambil serbet kain, menyeka bibirnya dengan gerakan tenang, lalu menatap lurus ke arah istrinya.

Alih-alih melunak, pria itu justru menyandarkan punggungnya ke kursi dan melipat tangan di dada.

"Alena," panggil Baskara dengan nada rendah yang langsung menciutkan nyali istrinya.

"Ingat kembali poin nomor tiga dan tujuh dalam perjanjian kita. Istriku wajib mendampingi suaminya di setiap acara keluarga tanpa terkecuali, dan harus bersikap layaknya istri yang penuh kasih."

Alena menghela napas panjang—sangat panjang—hingga bahunya merosot turun.

Kontrak gila itu benar-benar menjadi rantai tak kasat mata yang mengekang setiap gerak-geriknya.

Melawan Baskara hanya akan berujung pada ancaman baru yang lebih mengerikan, dan Alena tahu ia tidak punya tenaga untuk itu hari ini.

Ia mengerucutkan bibirnya kesal, menatap

piringnya dengan jengkel.

"Baiklah, aku ikut," jawab Alena akhirnya, menyerah pada takdir yang membawanya masuk ke lingkaran keluarga suami mudanya itu.

Baskara menyunggingkan senyum kemenangan yang tipis, pandangannya melembut menatap sang istri.

"Anak pintar," ucapnya santai, kembali melanjutkan sarapannya seolah tidak terjadi perdebatan apa pun.

Baskara merogoh saku dalam jas biru dongkernya, mengeluarkan sekeping kartu kredit black card berdesain elegan, lalu meletakkannya tepat di samping piring sarapan Alena.

Kilauan kartu tanpa batas limit itu terpantul menantang di bawah pendar lampu ruang makan.

"Ini kamu gunakan untuk belanja hari ini," ucap Baskara tegas, menatap Alena tanpa membuka ruang negosiasi sedikit pun. "Aku tidak mau kamu tidak menggunakannya. Kalau perlu, habiskan."

Alena terpaku, memandangi kartu hitam itu dengan dahi berkerut dalam.

Bagi wanita mandiri yang terbiasa membiayai usahanya sendiri, perlakuan seperti ini terasa aneh sekaligus berlebihan.

"Bas, aku punya uang sendiri—"

"Lekas habiskan sarapanmu," potong Baskara lugas, mengabaikan penolakan Alena sebelum kalimat itu selesai diucapkan.

"Setelah ini aku yang mengantarmu ke toko rotimu."

Alena mengembuskan napas pasrah untuk kesekian kalinya pagi ini.

Ia meraih kartu itu dan memasukkannya ke dalam tas, menyadari bahwa mendebat pria dominan seperti Baskara di meja makan hanya akan membuang waktu dan energinya secara cuma-cuma.

Selesai sarapan, mereka langsung berangkat menuju toko roti milik Alena.

Di sepanjang perjalanan, kabin mobil mewah itu dipenuhi oleh petunjuk mutlak dari sang suami muda yang tak pernah kehabisan cara untuk mengendalikan harinya.

Baskara melirik Alena sejenak melalui kaca spion tengah sebelum membelokkan kemudi.

"Ingat, belanja beli gaun untuk malam nanti. Aku akan menjemputmu jam enam dan kamu harus terlihat sangat cantik," ujar Baskara dengan nada tegas yang tak menerima bantahan.

Alena menyandarkan kepalanya pada sandaran jok, menatap jalanan kota dengan tatapan pasrah.

"Iya, Bas..." jawab Alena pelan, terlalu lelah untuk

mendebat perintah tersebut.

Tak butuh waktu lama, mobil hitam itu akhirnya menepi tepat di pelataran parkir yang menyatu dengan bangunan toko roti bernuansa hangat milik Alena.

Sebelum Alena sempat menarik gagang pintu untuk keluar, Baskara meraih bahu istrinya, menariknya mendekat, lalu mendaratkan sebuah ciuman hangat dan lama di kening Alena.

"Selamat bekerja, Istriku. Dan jangan cemberut saja," bisik Baskara rendah dengan senyum tipis yang penuh kemenangan mengembang di bibirnya.

Pipi Alena merona tipis akibat perlakuan mendadak itu.

Tanpa membalas ucapan Baskara, ia terburu-buru membuka pintu mobil dan melangkah turun.

Tanti, satu-satunya karyawan kepercayaannya di toko roti, yang baru saja hendak menyapu area teras depan, menghentikan gerakannya seketika.

Matanya membelalak kaget saat melihat bosnya keluar dari mobil mewah, disusul lambaian tangan dari pria tampan nan gagah di balik kemudi sebelum mobil itu melaju pergi.

Tanti menyunggingkan senyum goda yang amat tipis saat Alena berjalan mendekatinya dengan wajah diliputi canggung.

"Akhirnya Nyonya menikah juga... dan dapat berondong," bisik Tanti jahil dengan mata berbinar-binar.

Wajah Alena makin memerah padam. Ia menepuk pelan bahu karyawannya itu seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan panik.

"Sshh! Diam, ayo kita jualan!" tegur Alena berusaha mengalihkan pembicaraan dan menutupi rasa salah tingkahnya.

Tanti tertawa kecil memecah keheningan pagi, mengekor di belakang bosnya yang melangkah cepat masuk ke dalam toko roti penuh aroma gandum yang menenangkan.

1
Aghitsna Agis
udah bilang aja baskara dan iztrinya meninggal.jad ngungsi dulu sambil selidiki siapa yg telah membakar toko rotinya
sri hastuti
habis kan keluargamu baskara yg spt iblis itu, keterlaluan membahayakan nyawa orang, sikat semua ,bila perlu masukkan ke penjara semua 😡😡😡😡
sri hastuti
kok double???
Manis
kok di ulang?
Bunga Andthea
up lgi kak
lilik indah
ttp semangat walau sdikit yg komen kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Ghiffari Zaka
ih kok kejam banget ya baskara??? apa setelah menikah nnt Alena akan seperti di kisah novel2 yg lain,tersiksa,di acuhkan ,di sia-siakan bahkan di anggap tidak ada,kok AQ jadi ke sn ya mikirnya Thor....
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭
Ghiffari Zaka
semoga ceritanya asyik ya Thor...dan semoga sukses di karya barunya🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!