NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam

Status: tamat
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Identitas Tersembunyi / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:130.1k
Nilai: 5
Nama Author: mom alfi

Kak.. ih dipeluk kek adeknya!"

"Enggak!"

"Kakak nyebelin!"

"Bodo!"

Apa yang sering kali diharapkan seorang adik perempuan terhadap kakak laki-lakinya?

Rasa ingin dilindungi, disayang bahkan dimanja. Itu sangat wajar bagi seorang adik perempuan terhadap kakak laki-lakinya.

Sama halnya dengan Binar yang selalu ingin dekat dan dimanja oleh Surya. Layaknya seorang adik kakak pada umumnya.

Namun Surya justru terkesan cuek dan enggan berdekatan dengan Binar, sampai-sampai Surya memilih untuk tinggal di apartemen dengan alasan ingin belajar mandiri.

Ingin belajar mandiri atau justru ingin menjauh dari Binar?

Sampai hari dimana Binar mulai dekat dengan seorang laki-laki, Surya yang awalnya cuek justru berubah posesive.

Hingga sampai pada hari dimana Binar mengetahui sebuah rahasia besar, benang kusut pun perlahan mulai terurai.
Bahkan tanpa disadari oleh keduanya, ada sebuah rasa yang seharusnya tidak pernah ada.

Lantas bagaimana, apakah keduanya akan bersama? Atau justru sebaliknya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom alfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Tidak terasa sudah hampir satu bulan alamanya inar menjadi istri Surya. Bahkan sudah hampir seminggu ini Binar mengundurkan diri dari perusahaan dan memilih untuk menjadi istri yang diam di rumah menyambut suaminya pulang dari kantor.

Rutinitas itu ternyata cukup menyenangkan untuk Binar, bahkan wanita itu sudah mulai mahir membuat beberapa macam menu makanan, ya..meskipun kemampuan memasaknya bisa dibilang masih dibawah Surya, tapi setidaknya ia sudah bisa menyajikan makanan dengan kerja kerasnya sendiri.

“Gimana Mas, enak gak nasi goreng nya?’ tanya Binar saat keduanya sedang menikmati sarapan bersama.

“Enak.. enak banget malah, Chef aja pasti insecure ini kalo nyobain masakan kamu. Mas boleh nambah gak Sayang?” ucap Surya sembari menyuapkan satu sendok penuh berisi nasi goreng ke mulutnya.

“Mas bisa aja, mana ada chef insecure kalo nyoba masakan aku. Yang ada malah akunya yang insecure.” Binar sedikit memanyunkan bibirnya, pasalnya pujian dari Surya dirasa sangat berlebihan dan tidak sesuai dengan fakta yang ada. Binar merasa nasi goreng buatanya biasa saja, tidak seenak yang diucapkan suaminya.

“Ya udah nih, habisin kalo enak.’ Binar meringis sambil memindahkan setengah mangkuk besar nasi goreng ke piring suaminya.

“Aaakk..” Surya menyodorkan sendok ke depan mulut istrinya. “Kamu juga harus makan yang banyak, biar tambah gemoy.” Ucap Surya sembari tersenyum nakal.

 

“Mas, nanti aku boleh gak ke panti?” tanya Binar saat mengantar kepergian Suaminya di depan pintu. Satu tangan wanita itu membawa tas kerja suaminya, serta satu tangan lagi di genggam erat oleh Surya.

“Apa nggak lusa aja Sayang? Sekalian sama Mas.”

“Hehehe.. tapi aku uda kangen sama anak-anak Mas.” Ucap Binar begitu manja dan sedikit memanyunkan bibirnya. Hal itu membuat Surya tidak tahan untuk tidak mencubit hidung istrinya, sampai wanita itu menjerit lalu mengomelinya.

“Iya..iya. boleh Sayang.. tapi hati-hati ya, kalo uda nyampe jangan lupa kabarin Mas!”

“Iya Mas Sayanggg..” Binar tersenyum lalu mencium pipi kiri Surya. Pria itu pun berbalik dan mencium kedua pipi, kening hingga berahir di bibir.

“Mas.. udah ih! Kita lagi di tempat terbuka iniloh. Malo kalo ada yang ngeliat.”

“Biarin aja.” Cuek Surya.

 

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sesuai dengan yang dikatakannya kepada Surya pagi tadi, siang ini Binar datang ke panti asuhan untuk berkunjung.

Semenjak Binar memutuskan untuk tidak lagi bekerja, wanita itu menyibukkan diri dengan banyak hal. Salah satunya adalah datang ke Panti Asuhan.

Anak-anak berhamburan dan saling berebut untuk menyalimi tangan Binar. Kini wanita itu sudah semakin akrab dengan anak-anak disana.

“Assalamualaikum.. apa kabar semuanya?..” ucap Binar menyapa mereka.

“Waalaikumsalam.. kita semua sehat Tante..” ucap anak-anak itu kompak.

Binar mengambil kue yang ia simpan di dalam kardus besar lalu membagikanya kepada anak-anak.

“Terimakasih Tante..semoga Tante sehat selalu dan berlimpah rezeki.” Doa mereka.

“Aminnn..” Binar menengadahkan tanganya untuk mengamini doa anak-anak. Inilah yang sering kali membuat Binar merasa malu. Dibalik keterbatasan, mereka masih bisa mengsyukuri rezeki sekecil apapun yang datang kepada mereka, terlebih lagi mereka masih bisa mendoakan kebaikan orang lain. Sedangkan Binar, selama ini wanita itu begitu kecukupan, namun masih sering kali mengeluh akan banyak hal.

Binar berkeliling panti dan berhenti di ruangan khusus anak-anak balita. Ada sekitar lima belas anak yang usianya masih dibawah dua tahun disana. Diantara mereka ada yang sengaja dititipkan oleh orang tuanya karena faktor ekonomi, ada juga yang sengja ditinggalkan di depan panti, namun tidak sedikit pula dari mereka yang dibuang dijalanan lalu dibawa ke panti asuhan.

Pandangan Binar tertuju pada seorang bayi perempuan yang berusia kurang lebih sepuluh bulan. Bayi itu terlihat kehausan hingga menangis kencang saat melihat Binar.

Binar meraih bayi mungil itu lalu menggendong nya.

“Cup-cup Sayang.. jangan nangis ya Nak.. “ ucap Binar sembari mengelus punggung bayi itu.

“Tolong buatin Susu untuk adek ini ya Mbak,,” ucap Binar kepada salah satu perawat disana.

“Berada dalam gendongan Binar, bayi cantik itu sudah tidak lagi menangis, bahkan ia tersenyum saat memandang wajah Binar.” Hal itu membuat hati kecil Binar bergetar, ingin rasanya ia merawat bayi itu. Entah mengapa baru pertamakali bertemu namun Binar merasa sudah ada ikatan tersendiri dengan bayi kurang beruntung itu.

Seorang perawat datang dengan membawa dot untuk si bayi. “Ini Bu, susunya si adek.” Ucap perawat itu.

“Trimakasih ya Mba.. oh ya, anak ini namanya siapa ya?” tanya Binar sembari membelai kepala sang bayi. Bayi itu pun tersenyum dan bersandar di pundak Binar sembari meminum dotnya.

“Namanya Bening Bu.. Pak Surya sendiri yang memberinya nama.” Jawab si perawat.

“Oh ya? MasyaAllah..anak ini memang memiliki mata yang bening dan cantik. Sesuai dengan namanya.” Binar tersenyum memandang sang anak.

‘Boleh apa enggak ya Mba, kalo saya mau adopsi bayi ini?” lagi Binar bertanya. Perawat itupun tersenyum, “InsyaAllah boleh Bu, Ibu bicarakan saja sama Pak Surya.”

“Baiklah Mba, nanti saya bilang sama Mas Surya.”.

Tepat saat jam istirahat makan siang, Binar pun menghubungi bayinya melalui sambungan vidio call.

“Assalamualaikum Papa..” sapa Binar dengan senyum lebar saat pertama kali melihat wajah Surya di layar ponselnya.

“Waalaikumsalam calon Mamanya anak-anak..” jawab Surya dengan senyum yang tidak kalah lebarnya.

‘Tumben seneng banget kayaknya, ada apa nih?” tanya Surya.

“Mas lihat deh, aku lagi sama siapa? Binar mengarahkan ponselnya kearah Bening yang ada dalam gendonganya.”

“MasyaAllah.. itu Bening kan Sayang?” Tanya Surya dengan senyum lebar menghiasi bibirnya.

“Iya Mas, aku lagi sama Bening. Dia seneng banget deh Mas kayanya sama aku. Dari tadi tuh anteng gak rewel sama sekali.” Ucap Binar begitu antusias menceritakan Bening.

“MasyaAllah Tabarokallah.. anak pinter.. Bening tau aja kalo tante Binarnya baik.”

Binar tersenyum sambil sesekali menciumi pipi gembul Bening. “Mas..” ujarnya dengan manja.

“Apa Sayang..”Surya menaikkan kedua alisnya, siap untuk mendengarkan rengekan sang istri.

“Boleh gak kalo kita rawat Bening di rumah?” Binar meringis memamerkan deretan giginya yang rapi.

“Kamu mau rawat Bening, Sayang?” Binar mengangguk “Iya Mas, boleh ya..?” Binar memasang wajah imut yang begitu menggemaskan.

“Mas pulang sekarang ya Dek.” Ucap Surya.

“Mas gak tahan lihat istri mas kaya gitu.”

“Mas ih, malah becanda. Aku serius tau.” Binar mendengus kesal. “Boleh gak kalo kita rawat Bening di rumah?” ulang Binar.

“Iya Sayang.. Mas mana pernah bisa sih nolak kemauan kamu. Selagi itu baik, mas akan turuti. Mas juga seneng kalo kamu mau rawat Bening. Itu kan niat baik Sayang.. jadi Mas wajib untuk mendukungnya.”

“Beneran Mas?” Binar tersenyum senang, wanita itu bahkan tidak henti-hentinya menciumi pipi Bening sampai anak itu tertawa kegelian.

“Hemm Bening aja yang dicium, jadi punya saingan deh sekarang.” Surya memasang wajah lesu.

Binar tertawa melihat ekspresi wajah suaminya, “Dek, lihat tuh papa nya cemberut Dek, minta dicium juga.” Ujar Binar menyindir Surya.

1
Muna Junaidi
😍😍😍😍
Yeti martini
sangat suka❤️
Bunda Salma
ceritanya sangat menarik ...
Nani Evan
baru baca karena baru lewat😁
Siti Rambe
sangat menarik dan tidak membosankan
Sri Handayani
assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
karya nya bgs bgt sukses trs buat KK ny buat hasil karya yg lebih menarik dan semangat buat KK ny, pasti semua nya gemar cerita nya 👍👍
Ummi kalsum
🤣🤣🤣🤣🤣
Ummi kalsum
sabar binar...,,😘
anin aja
kereeeen
anin aja
novelnya bagus
Nuranita
keren nih kata mutiarax......dalem bnget...izin thor copy paste y
Nuranita
aq org sby lo...senengx ketemu novel yg nyritain ttg kota sby.....smngat thor💪💪💪💪💪💪💪💪💪
vi
karya mu bagus
vi
karya mu bagus thor.... aq suka
amount
MashaaAllah... calon suami idaman sekalihhh si bang Surya ini😂
amount
Binar dan Surya bukan saudara kandung yach?
Khairu Nnisa
nama Surya mengingatkan ku pada Surya Manurung
Fitri Ayu: Boleh ktwa gk si
total 1 replies
Khairu Nnisa
aaa menarik ceritanya lanjut
✨정국✨
pengen rasanya klo nikah kyk gini🥺
Alfi Zia: Amin...
total 1 replies
Dewi Fuzi
bagus saya suka alur ceritanya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!