Sekuel dari Novel Arjuna Bopo Istimewa.
Di sini kita akan di suguhkan dengan perjalanan cinta antara Arjuna dan Meshwa.
Perjalanan rumah tangga dan kehidupan dari Bopo Istimewa ini, ternyata banyak sekali ujiannya.
Apakah Meshwa yang berstatus sebagai istri sanggup menemani perjalanan Arjuna? ataukah dia akan menyerah?
Di Novel ini juga akan ada kelanjutan kisah cinta Nala dan Mifta. Lalu, bagaimana dengan Dipta? Apakah dia akan menemukan tambatan hati?
simak kelanjutan cerita dari Keluarga Bopo Desa Banyu Alas di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Besarnya Kasih Sayang
Ruangan yang dingin itu terasa semakin dingin. Atmosfer ketegangan kental terasa di dalam sana. Arjuna masih dengan pendiriannya, apapun akan ia lakukan untuk membawa Meshwa kembali padanya.
Pak Jamal meminta Arjuna dan keluarganya untuk bermusyawarah di ruang rawat Meshwa kemarin, mengenai permintaan Arjuna yang ingin menikahi kekasihnya itu.
Sementara keluarga Meshwa tetap berada di depan ruang ICU agar bisa mendapatkan informasi jika ada perkembangan dari Meshwa. Juga memberikan kebebasan pada Arjuna dan Keluarganya untuk bermusyawarah.
Sudah lebih dari lima jam, kondisi wanita yang Arjuna cintai itu kritis pasca menjalani operasi pengangkatan endometriosis yang juga merenggut salah satu indung telurnya.
Ya, Meshwa menderita penyakit pada rahimnya yang di sebut sengan endometriosis atau kista coklat. Karena kista itu, salah satu indung telurnya terinfeksi hingga harus di angkat melalui operasi.
Arjuna sudah pernah kehilangan Nayara, kekasih yang sangat ia cintai dulu semasa sedang berkuliah. Dan sekarang ia tak ingin hal itu kembali terulang.
Arjuna masih terdiam. Ingatannya kembali berputar saat ia di beri pengelihatan setelah tau jika kondisi Kekasihnya itu kritis.
Meshwa berada di sebuah padang rumput yang indah. Gadis itu, dengan memakai gaun pengantin tampak duduk tenang. Wajahnya terlihat berseri - seri bahagia.
"Aku menunggu suamiku menjemputku. Kalau dia gak menjemputku, maka aku akan tetap berada di tempat indah ini. Rasanya gak ada yang membuatku berat untuk tinggal di sini kecuali suamiku. Karena jika aku sudah bersuami, maka aku akan mengikuti setiap langkahnya." Ujar Meshwa sambil menatap gelang di tangannya.
Ia tak ingat tentang gelang pemberian dari Biyung Dedes itu. Gelang yang merupakan serpihan dari batu Panca Warna, sebagai penanda kalau dia sudah 'ditandai' oleh leluhur Desa Banyu Alas sebagai calon Biyung selanjutnya.
Suara Meshwa itu masih terngiang - ngiang di telinganya, membuat hati dan pikirannya menjadi semakin kalut. Netranyapun terasa memanas, dalam hati tekadnya semakin bulat untuk menjemput Meshwa yang sedang menunggu suaminya.
"Nang!"
Suara Arsha, Ayahnya, membuat Arjuna tersadar dari lamunannya.
"Kenapa kamu sekukuh ini, Nang. Ada apa sebenarnya? Ceritakan, supaya kami semua mengerti. Kenapa kamu mau menikahi Meshwa saat ini juga, padahal kondisinya masih kritis dan belum sadar." Kata Arsha sambil menatap lurus ke arah Arjuna yang duduk di depannya. Tatapannya teduh, namun cukup tegas.
"Juna harus menjemput Meshwa supaya jiwanya kembali ke raganya, Yah. Entah bagaimana bisa Meshwa ada di sana, Arjuna juga gak tau. Tapi, sekarang dia menunggu suaminya menjemput, dan itu artinya Juna harus menikahi dia sekarang, Yah." Jawab Arjuna.
"Apa dia gak bisa kembali sendiri?" Tanya Aksa.
"Bukan gak bisa, Po. Tapi dia gak mau. Gak ada hal yang membuatnya berat untuk tinggal di sana, kecuali suaminya." Lirih Arjuna dengan suara bergetar.
"Makanya Juna harus jemput dia, supaya Juna bisa bawa dia pulang dan berkumpul dengan kita lagi. Mungkin semua ini karena ia sudah di tandai sebagai calon Biyung. Maka dari itu, yang membuatnya berat bukanlah keluarga atau kedua orang tuanya, melainkan suaminya." Kata Arjuna sambil menunduk.
Sejenak, suasana kembali hening. Meski rasanya tak masuk akal, tapi entah mengapa hal ini bisa terjadi. Para Bopo maupun Para Biyung pun tak habis pikir, karena hal ini baru pertama kali terjadi.
"Tapi, belum ada hari yang baik, Nang." Kata Abimanyu.
"Sampai kapan, Kung? Apa masih harus menunggu sampai tahun depan? Aku gak bisa membiarkan Meshwa terlalu lama seperti itu. Bagaimana, kalau ada bangsa lain yang datang untuk menikahinya, tanpa dia tau kalau dia sudah di tandai untukku. Yang Kung tau sendiri kalau Meshwa itu Balung Kuning." Kata Arjuna.
"Yang Kung hanya takut kamu gak sanggup menanggung konsekuensinya, Nang. Menghindari yang halal itu jauh lebih sulit dari pada menghindari yang haram." Sergah Abimanyu.
"Aku akan menanggung semua konsekuensinya, Kung. Aku akan tanggung semuanya asal Meshwa bisa aku bawa pulang." Jawab Arjuna dengan Tegas.
"Apa Yang Kung mau membiarkan Calon Biyung Desa Banyu Alas sampai kenapa - napa? Enggak, kan. Yang Kung ikut ke sini juga pasti karena sudah merasakan hal ini akan terjadi, kan?" Tanya Arjuna yang membuat Abimanyu terdiam.
Apa yang di katakan cucunya itu benar. Memang ia sudah memiliki firasat mengenai Bopo muda dan Calon Biyung Desa Banyu Alas yang akan kembali di uji.
"Apa gak ada cara lain, Mo?" Tanya Aksa.
"Andai ada cara lain, aku pasti sudah melakukannya dari tadi, Po. Bahkan Mbak Laiba dan Pakde Askara gak bisa membujuk Meshwa." Kata Arjuna yang membuat Para Bopo dan Biyung itu tercengang.
"Itulah kenapa dia yang terpilih. Karena keteguhan hatinya yang luar biasa. Jika dia sudah berkeinginan dengan teguh, bahkan orang terdekatnya gak akan mampu menggoyahkan. Tapi, tekadnya itu bukan sembarang tekad, hanya tekad baik yang akan ia perjuangkan." Lirih Abimanyu.
"Tunggu apa lagi, Mo. Kasihan Meshwa." Lirih Arunika.
Abimanyu menghembuskan nafas panjang. Ini bukanlah sekedar tanggung jawab dan konsekuensi untuk Arjuna dan Meshwa. Jika sampai mereka melanggar, maka yang akan menanggung bebannya adalah seluruh warga desa.
"Yang Kung tanya untuk yang terakhir kalinya. Tolong kamu pikirkan dengan baik, Nang." Pinta Abimanyu.
"Kalau kamu menikah dengan Meshwa saat ini, maka pernikahan kalian adalah pernikahan siri. Kalian memang sah sebagai suami istri, namun hanya di mata Agama. Dan menurut aturan adat kita, kamu bebas melakukan hal apapun sebagai suami istri kecuali berhubungan badan dengan Meshwa sampai ritual Bopo dan Biyung selesai di lakukan. Kalian berdua harus tetap dalam kondisi suci 'perjaka dan perawan'. Sedangkan ritual Bopo dan Biyung bisa di lakukan setelah kita menemukan hari yang baik untuk kalian berdua. Kamu juga harus menjelaskan semua ini pada Meshwa. Apa kamu sanggup, Arjuna?" Tanya Abimanyu sambil menatap dalam - dalam mata Arjuna.
Tatapan dan suara Abimanyu terasa begitu mengintimidasi bagi Arsha, Aksa, Raina, Saira dan Runi. Mereka sampai merinding melihat bagaimana Abimanyu menatap Cucunya.
Namun ternyata, Arjuna sama kerasnya dengan sang Kakek. Ia sama sekali tak terintimidasi dengan tatapan Abimanyu. Nyalinya begitu besar, hingga ia sama sekali tak merasa terancam.
Raina dan Saira saling bergenggaman tangan. Situasi ini terasa begitu tegang hingga rasanya mereka ingin keluar dari ruangan ini sekarang juga.
Abimanyu dan Arjuna yang biasanya tak pernah beradu argumen atau bersitegang, pada akhirnya mengalami fase ini juga. Dan ternyata, ketegangan antara Kakek dan Cucu itu bisa membuat suasana terasa mencekam.
"Sanggup! In Syaa Allah, aku sanggup menjalankan semua konsekuensinya. Apapun itu, akan aku hadapi, selama bisa membawa Meshwa kembali ke sisiku. Aku melakukan semua ini bukan hanya karna cintaku, tapi juga demi calon Bopo yang akan meneruskan tugas keluarga ini dan demi Desa Banyu Alas yang aku jaga dengan segenap jiwa dan raga." Jawab Arjuna dengan tegas. Tak ada keraguan di matanya, pria itu begitu yakin dan tak akan mundur dengan keputusannya.
"Baiklah, kita persiapkan semuanya sekarang." Kata Abimanyu pada akhirnya.
Arsha, Aksa, Raina, Saira dan Runi, tanpa di komando menghembuskan nafas panjang bersamaan. Mereka seolah baru bisa bernafas setelah merasa tercekik beberapa saat lalu.
Perasaan mereka pun campur aduk. Ada perasaan lega dan khawatir yang membelenggu. Mereka tentu mengkhawatirkan Arjuna dan Meshwa yang akan menjalani pernikahan yang mungkin akan terasa hambar.
"Apakah mereka berdua mampu melalui semua itu hingga hari baik di dapatkan? Jika Arjuna mampu, bagaimana dengan Meshwa? apakah Meshwa akan bisa menerima semuanya?"
Pertanyaan - pertanyaan itu terasa menghantui para orang tua. Mereka pun hanya bisa berdoa dan akan terus menguatkan agar Arjuna dan Meshwa bisa melewati ujian pernikahan mereka.
"Lamarkan Meshwa untuk Arjuna pada orang tuanya, Nang. Bagaimanapun, kita tetap harus melamar dengan baik sebelum meminta izin untuk menikahkan Arjuna dan Meshwa." Titah Abimanyu pada Arsha.
"Njih, Mo." Jawab Arsha.
"Alhamdulillah, Matur suwun, Kung." Kata Arjuna yang sampai meneteskan air mata sambil menghambur ke pelukan Kakeknya.
"Makasih, Yah, Po." Ucapnya sambil memeluk Arsha dan Aksa yang duduk bersebelahan.
"Yang Ti, Ibu, Buna, makasih banyak." Ucap Arjuna sambil memeluk tiga wanita yang ia kasihi secara bergantian.
"Sabar ya, Nang. Kamu dan Meshwa harus bisa bertahan. Yang Kung akan carikan waktu terbaik dan yang paling dekat." Kata Abimanyu sambil mengusap sayang kepala Arjuna.
selamat iyha Mbk Meshwa Mas Juna akhirnya 😍😍😍