Bunga air mata itu seperti mawar. Kelopak merahnya melambangkan pernikahan bahagia, sedangkan durinya mendatangkan luka.
Air mata pernikahan terus mengalir deras di pipi Ayana Ghazella. Dinikahi seorang pianis terkenal, Zidan Ashraf ternyata tidak seindah nada-nada yang dimainkan. Orang ketiga pun hadir menimbulkan malapetaka serta kesengsaraan.
Zidan terus memperlakukan Ayana sangat kejam serta mendatangkan Bella, teman sesama pianis sebagai madu.
Mereka terang-terangan mengumbar kemesraan di depan Ayana tanpa mempedulikannya.
Pernikahan Zidan dengan Ayana hanya sebatas status dan kebohongan belaka. Ia tidak pernah mencintainya dan terus menyakitinya.
Sampai penyesalan datang membuat ia sadar jika Ayana yang terbaik. Namun, semua itu sudah percuma sebab Ayana pergi membawa luka. Ia lalu kembali sebagai pelukis terkenal bernama Ghazella Arsyad.
Mampukah Zidan menebus kesalahannya pada Ayana dan kembali melanjutkan membina mahligai rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Ayana senang bisa bertemu dengan seseorang yang memiliki hobi sama sepertinya. Arfan merupakan pemimpin perusahaan yang menampung banyak pelukis berbakat dalam naungan Syah Entertainment.
Sudah banyak pelukis-pelukis muda yang sukses berkat bekerja sama dengan perusahaan tersebut. Sebagai pemimpin, ia juga sudah banyak menciptakan karya-karya luar biasa.
Lukisannya bahkan mencapai jutaan dolar hanya sekali lelang. Jari jemarinya yang terampil sudah banyak menghasilkan keuntungan yang luar biasa. Ayana tidak percaya mendapati sosok mengagumkan seperti Arfan.
"Silakan diminum tehnya," kata Ayana menyodorkan segelas teh hijau.
Aroma harum dari minuman tersebut seketika menarik perhatian. Arfan meneguknya singkat dan melebarkan pandangan senang.
"Oh, greentea aku suka sekali. Kita benar-benar memiliki selera yang sama," ungkap Arfan.
"Benarkah? Saya senang mendengarnya." Ayana masih bersikap formal.
"Bisa kita berteman? Aku ingin berteman dengan sesama pelukis sepertimu," pinta Arfan kemudian.
Ayana mengangguk tanpa menolak sama sekali. "Baiklah, senang bertemu dengan Anda-"
"Dan jangan berbicara formal lagi," potong Arfan cepat.
Ayana terkekeh pelan dan mengiyakan ucapannya. "Baiklah, jadi aku harus memanggilmu siapa? Em, Tuan Syah? Tuan Muda? Atau Mas?"
"Yang terakhir lebih baik," kata Arfan mengembangkan kedua sudut bibir.
Mereka pun lalu tergelak bersama mengabaikan orang-orang yang terus berdatangan. Toko Ayana setiap hari selalu didatangi pengunjung, entah itu untuk membeli lukisan atau hanya sekedar melihat-lihat saja.
Ia sangat senang karyanya bisa diakui serta dinikmati banyak orang. Keuntungan yang ia dapatkan hanyalah sebagai bonus.
Ayana melukis sebab suka. Karena dengan melukis dirinya bisa mengekspresikan perasaan terdalam. Gambar yang dibuatnya dapat menunjukkan emosi teredam.
Di saat bibir tidak bisa berbicara dan mengungkapkan, maka lukisan lah yang akan menjelaskan semuanya. Itulah yang saat ini Ayana lakukan hingga tanpa sadar sudah menciptakan banyak karya dalam satu tahun terakhir.
Di tengah keseruan obrolan itu, mereka dikejutkan dengan kedatangan seseorang. Pria bertubuh tinggi tegap berdiri tepat di samping meja.
Ayana dan Arfan mendongak bersamaan, pria tersebut pun menatap mereka bergantian dengan napas tersengal-sengal.
"Mas Zidan?" tanya Ayana terkejut mendapatinya.
"Apa yang sedang kamu lakukan dengan pria ini?" tanya Zidan to the point.
Ayana yang tidak mengerti pun menautkan kedua alis tajam. "Apa yang sedang kamu bicarakan?"
"Apa kamu tahu dia-" ucapan Zidan terputus saat menunjuk pria di hadapan Ayana.
"Dia kenapa?" tanya balik wanita berhijab itu.
Zidan menghela napas kasar lalu menarik kursi tidak jauh dari keberadaannya. Ia duduk di tengah-tengah mereka membuat keduanya saling pandang tidak mengerti.
"Tuan Zidan?" Panggil Arfan.
"Hm," gumamnya.
Ia menutup kedua mata lekat dan melipat tangan di depan dada. Arfan memandangi Ayana lagi yang menggelengkan kepala.
"Maaf sebelumnya, apa Anda ada keperluan di sini?" tanya Arfan kemudian, tetapi Zidan masih menggumamkan satu kata yang sama.
"Jika Anda tidak ada keperluan saya dan Ayana akan pergi. Jika-"
"Apa? Ke mana kalian akan pergi?"
Zidan langsung membuka mata dan menggebrak meja segiempat itu sedikit keras. Para pengunjung pun menoleh ke arah jendela besar di mana ketiganya ada di sana.
"Kamu akan membuat pengunjung ku pergi," kata Ayana dingin.
"Ah aku minta maaf, tapi ke mana kalian akan pergi?" tanyanya kembali.
"Sepertinya ini bukan urusan Anda. Saya memiliki banyak pekerjaan yang harus diurus, jika tidak ada kepentingan kami permisi." Ayana berubah formal dan beranjak dari duduk.
Baru saja kakinya hendak melangkah, pergelangan tangan kanan Ayana dicekal kuat. Ia menunduk melihat Zidan tengah mendongak menatapnya.
"Bisakah kamu tidak pergi? Aku ingin bersamamu, Ayana."
Seketika Ayana menghempaskan tangan Zidan kasar dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata.
Arfan yang melihat itu langsung menyusulnya dan membiarkan Zidan seorang diri. Ia melihat kepergian mereka dalam diam dan mencoba berpikir jernih.
"Kenapa? Kenapa pria itu bisa menemui Ayana? Apa mungkin ini permainan Bella? Bukankah dia dulu adalah kekasihnya? Arfan, yah dia kekasih Bella sebelum menikah denganku mereka sudah menjalin hubungan. Ada apa ini sebenarnya?" gumam Zidan lalu menggigit ibu jari kanan, berpikir keras.
...***...
Malam menjelang, udara semakin dingin di pertengahan akhir tahun. Sedari tadi Zidan terus menunggu Ayana di depan toko.
Seperti seorang penguntit, ia tidak beranjak sedetik pun dari sana. Ia khawatir dan cemas ke mana Ayana pergi bersama pria bernama Arfan tadi siang.
Ia yang sudah kehilangan jejak mereka pun tidak bisa mengikutinya. Hanya berdiam diri di sana hingga tidak lama berselang kendaraan putih mewah tepat berhenti di parkiran toko.
Kedua manik Zidan memicing menyaksikan dua orang itu turun. Ia melihat mereka bercakap-cakap sebentar dan setelahnya Arfan kembali pergi.
Ayana yang baru saja tiba di tokonya lagi dikejutkan dengan kehadiran seseorang. "Apa ada yang terting-" ucapannya putus seketika saat mendapati bukan Arfan yang datang.
"A-apa yang sedang Mas Zidan lakukan di sini?" tanyanya terkejut.
"Aku menunggumu dari tadi, Ayana. Kenapa kamu harus pergi bersama pria itu? Dia adalah kekasih Bella. Kamu masih ingat, kan Bella? Dia juga teman sekolahmu dulu," ungkap Zidan menggebu.
Ayana menyeringai mendengarnya. "Dengar yah Tuan muda yang terhormat, saya tegaskan kembali! Saya bukanlah Ayana. Saya Ghazella dan... saya tidak tahu siapa itu Bella. Anda jangan membual lagi, lebih baik sekarang Anda pergi. Karena saya harus tutup toko dan beristirahat!"
Ayana pergi meninggalkan Zidan dan masuk ke sebuah ruangan. Ia membanting pintu kasar dengan napas naik turun.
Ayana memunggungi pintu seraya mencengkram dada sebelah kiri kencang. Ia tidak menyangka mendengar kembali nama wanita itu.
"Aku tidak percaya jika dia akan membahas wanita itu. Kenapa dia harus kembali ke kehidupanku terus menerus? Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan?" gumamnya lirih.
Di luar, Zidan mematung tidak percaya. Ia lagi-lagi merutuki kesalahannya sebab sudah menganggap sang pelukis sebagai istrinya.
Ia benar-benar tidak bisa menahan emosi saat melihat Ayana bersama pria lain. Terlebih orang itu yang ia ketahui sebagai kekasih Bella.
Ia naik pitam dan rasa cemburu merundung diri membuatnya tidak sabaran. Ia tahu dirinya sudah sangat salah mencampuri urusan Ayana.
Namun, meskipun begitu ia benar-benar tidak bisa melihatnya bersama pria lain. Rasanya begitu sakit, seperti ditusuk-tusuk jarum tajam.
"Apa seperti ini rasa sakit yang kamu tanggung saat melihatku bersama Bella, Ayana? Rasa itu aku ambil kembali dan ternyata... benar-benar sakit," bisik nya pelan.
Di keheningan malam mereka saling memikirkan banyak hal mengenai masa lalu. Sekuat apa pun Ayana mencoba untuk pergi dan melupakan, tetapi takdir masih mempertemukan ia dengan pria yang telah menyakitinya.
Fakta itu tidak bisa dibantah, sebab masih ada ikatan yang belum bisa diselesaikan. Mungkin dari segi agama pernikahan mereka sudah berakhir, tetapi ketuk palu di pengadilan masih belum ada.
Status apa yang dimilikinya saat ini membuat Ayana kelimpungan. Ia hanya bisa pasrah pada keadaan ke mana akan menuntunnya.
semangat Thor ......wow ceritramu keren ...
👍👍👍💪💪💪