Ellena adalah sosok gadis yang mandiri, kuat, keras kelapa, sedikit kasar, namun hatinya baik dan murah hati. Ellena sangat sering membantu teman-teman di daerahnya yang kurang mampu.
Ia dibesarkan dari sepasang suami istri yaitu Papa dan Mamanya, yang memulai hidup berumah tangga dari O saat mereka menikah, sampai mereka membuka bisnis dan hidup berkecukupan.
Masa pertumbuhan Ellena, ia mendapat didikkan yang sangat keras oleh Papanya. Karenaa banyaknya pengalaman saat merantau semasa muda, menjadikan Papa Ellena sangat keras dalam mendidik anak-anaknya. Begitu juga dengan Ibunya yang menjadi guru SD dan SMP didaerahnya. Ia adalah wanita mandiri.
Papa Ellena sering melayangkan tangan, kaki, barang atau pun dengan ucapan yang keras dan kasar kepada Ellena dan Mamanya.
Ellena memilih satu Adik laki-laki yang sangat di sayangi oleh Papanya. Dibanding terbalik dengan Ellena.
Karena semua itu, bertahun-tahun lamanya, Ellena memendam kebencian terhadap Papanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hellena24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Esi Bikin Emosi
Kring…
Kring…
Kring…
Kring…
Alaram Ellena berbunyi. Itu menandakan waktu sudah menunjukkan pukul 04.30 wib. Ellena terbangun dari tidurnya. Ia membuka matanya dengan perlahan. Terlihat samar-samar kegelapan dari balik gorden jendela. Matahari yang belum terlihat, sehingga gelap masih menyelimuti seluruh bagian belahan bumi tempat Ellena berada.
Ellena lalu duduk, untuk berdoa. Ucapan syukur kepada Maha Pencipta, adalah ungkapan terindah yang bisa ia ungkapkan tanpa syarat.
Ellena meletakkan kakinya di lantai dan melangkah menuju ke dapur di kosan nya. Ia menggoreng telur untuk sarapan, sebelum pergi ke kampus. Semalam Ellena dan Esi sudah berjanji akan bangun pukul 04.30 wib dan tiga puluh menit setelah itu, perjanjiannya Esi akan segera menyusul ke lantai satu, dengan kondisi yang sudah siap, sudah mandi dan sudah membawa semua barang-barang miliknya.
Walau pun Esi belum ada menyusul, karena sesuai dengan waktu yang sudah di tentukan, Ellena tetap memasakkan telur dadar juga untuk nya. Agar nanti Esi tidak repot-repot lagi pergi ke dapur untuk memasak sarapan.
Setelah memasakkan telur dadar untuk sarapan, Ellena langsung mandi. Tidak membutuhkan waktu yang lama, Ellena mandi sudah seperti burung karena waktu masih sangat pagi dan cuaca juga terasa dingin. Delapan menit setelah masuk toilet, Ellena sudah keluar lagi dengan rambut yang ia keramas.
Ellena langsung menggunakan setelan pakaian yang sudah ia siapkan dan sesuai dengan arahan dari panitia bakti sosial, untuk menggunakan baju kaos kerah milik kampusnya. Lalu Ellena duduk di meja rias yang sekalian menjadi meja belajarnya itu. Ia mencolokkan kabel herdrayer ke terminal utama yang terletak di belakang meja riasnya untuk mengeringkan rambut Ellena yang masih basah.
Namun sebelum itu, ia mengeringkan rambutnya secara manual menggunakan handuk kecil. Sambil memberi coretan pada wajahnya. Memulai dengan menggunakan toner, serum, sanblok, dan krim siang. Tidak lupa Ellena memberi garis lengkungan indah pada kedua alis nya. Begitu juga dengan bagian matanya, Ellena memberi garis eilener di atas kedua bulu mata, lalu mengoleskan maskara tepat di helaian demi helaian bulu mata dengan panjang sedang, yang tumbuh di kedua mata Ellena.
Tidak lupa juga ia menambahkan lipstik di bibir, dengan lipstik berwarna matte lalu menambah warna merah kecil di bagian dalam bibir nya. Lalu terakhir Ellena mengenakan softlens di matanya, karena mata ellena minus. Dan ia lebih bebas menggunakan softlens di bandingkan kacamata saat bepergian seperti ini.
Setelah menyelesaikan bagian wajah nya, mata Ellena tertuju pada jam berwarna oranye di dinding kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.02 wib. Esi belum ada juga menyusul turun ke lantai satu.
Ellena meneruskan kegiatannya, selanjutnya ia beralih ke bagian rambut. Lalu menghidupkan herdrayer miliknya dan mengarahkan ujung herdrayer itu ke helaian rambut. Setelah kering Ellena lanjut mencolokkan alat pelurus rambut, agar rambutnya terlihat rapi dan tidak berantakan.
Setelah semuanya itu selesai belum juga ada jejak suara atau bayang-bayang Esi dari lantai dua.
‘Kemana ini anak!’ kata Ellena mengoceh sendiri.
Ellena lalu membuka pintu kamarnya dan berjalan ke tangga untuk menghampiri kamar Esi di lantai dua.
‘Jangan bilang dia belum bangun!’ kata Ellena lagi, sambil melangkahkan kakinya di atas anak tangga menuju lantai dua.
Di kosan mereka masih sangat sepi, sehingga Ellena berjalan melangkahkan kakinya begitu pelan. Tidak ingin langkah kakinya sampai mengganggu atau membangunkan penghuni kosan lain yang masih tidur lelap.
Tok Tok…
Tok Tok…
”Esi!” panggil Ellena perlahan, sambil mengetuk pintu kamar Esi sahabatnya itu. “Kamu sudah bangun kan?”
“Iya Len, bentar.” sahut Esi dari dalam kamarnya.
“Kamu lagi apa? Kenapa belum ke bawah? Aku sudah masak sarapan, Es!” ucap Ellena, tidak berhenti dari luar kamar.
Esi lalu membuka pintu kamarnya. Penampilan Esi yang sesuai dengan bayangan Ellena. Rambutnya masih tergulung handuk dan wajahnya yang masih pucat, yang menandakan bahwa Esi belum berdandan seperti dia biasanya saat ingin bepergian. Begitu juga dengan kamarnya yang terlihat berantakan.
“Lah! Kenapa begini modelan nya?” tanya Ellena kecewa kepada sahabatnya itu.
*“Iya, semalam aku main handphone* lalu ketiduran. Barang-barang ku baru mulai di packing dari jam setengah empat subuh tadi, aku sudah bangun. Ini sudah selesai semua.” kata Esi sedikit panik.
“Itu lah, kamu suka menunda-nunda jadinya begini kan? Tergesa-gesa! Iya udah, mana yang sudah selesai sini aku bantu bawa ke bawah.” sambung Ellena, agar mempercepat gaya sahabatnya itu.
“Ini bantu bawa tas pakaian ya, hehehe…” kata Esi sambil tersenyum.
“Em…” Ellena mengkerutkan alisnya. “Cepat ya, aku tunggu di bawah! Kalau kamu telat aku tinggal nih, beneran!” kata Ellena yang merajuk.
“Iya iya ini sudah…” kata Esi lagi.
“Jangan kamu make up lagi ya. Make up lah di kampus aja nanti. Aku mau awal datang, biar bisa pilih kursi di bus nanti. Kalau telat gak dapat kursi depan kita. Di belakang sakit, sengsara kalau perjalanan jauh melengkung-lengkung begitu.” kata Ellena lagi dengan tegas.
“Iya, iya…” Esi hanya bisa memberi jawaban iya kepada Ellena yang sedang marah.
\=\=\=\=
Jam dinding Ellena sudah menunjukkan pukul 05.40 wib. Ini adalah waktu yang tepat untuk kedua gadis ini berangkat menuju kampus. Tempat tinggal Ellena dan Esi tidak terlalu jauh dari kampusnya, hanya butuh waktu sepuluh menit di dalam perjalanan paling lama untuk sampai ke kampusnya.
“Ayo berangkat Es, sudah semua kan?” kata Ellena kepada Esi, setelah Ellena dan Esi selesai mencuci piring sarapan mereka masing-masing.
“Ayo, go…!” jawab Esi sambil menatap mata Ellena yang terlihat begitu bersemangat.
Esi dan Ellena pun berangka ke kampus, dengan menggunakan sepeda motor milik Ellena. Sepeda motor itu nanti akan di parkirkan dengan aman di basement gedung kampus lantai 12. Keamanan kendaraan mahasiswa mahasiswi di basement gedung kampus lantai 12 ini sangat terjaga, satpam yang bertugas secara bergantian dan pintu basement aman, yang jalur keluar masuknya dapat di tutup dan di buka.
Setelah hampir sampai di sekitaran kampus, sudah terlihat banyaknya bus-bus yang sedang terparkir di pinggiran jalan berjejer seperti semut karena banyak nya. Dan bus yang bergambar dan bermotif sama terlihat sangat kompak dan rapi.
Ellena dan Esi yang masih berada di atas motor, semakin bersemangat melihat banyaknya bus yang terparkir indah itu.
“Wih… Banyaknya bus kita ya Len?” kata Esi sari kursi belakang.
“Iya kan sekitaran tiga puluhan bus Es, keren ya kalau ramai-ramai gini hehe…” kata Ellena juga yang bersemangat, melihat banyaknya bus yang akan berjalan samaan nanti saat pergi ke desa Lait.
next next