NovelToon NovelToon
Delapan Tahun Dicari Mafia Kejam

Delapan Tahun Dicari Mafia Kejam

Status: tamat
Genre:Single Mom / Mafia / Anak Genius / Tamat
Popularitas:41.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.

Delapan tahun berlalu.

Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencoba Untuk Terlihat Baik-baik Saja

Malam harinya, di dalam rumah kayu sederhana itu, seorang anak nampak terlihat serius mengerjakan tugas dari sekolah, namun kali ini tugasnya bukan lagi tentang pohon keluarga melainkan tugas matematika yang ia sukai.

Dari luar anak itu nampak terlihat baik-baik saja, bahkan semenjak kejadian tadi di pantai ia masih sempat mengerjakan tugasnya, meskipun di dalam pikirannya bayangan wajah Kael terus berputar.

"Kai fokus," gumamnya sekedar untuk memberi semangat pada dirinya sendiri.

  Anak itu kembali mengambil pensil pikirannya mulai fokus pada angka-angka pecahan dihadapannya, meskipun sekelebat bayangan itu masih ada namun Kai mencoba untuk fokus.

Sementara dari depan pintu, Alena sedikit mengintip, dadanya terasa sesak melihat sang anak yang harus mengobati lukanya sendiri.

"Tuhan... lihatlah. Anak sekecil itu memilih memendam semuanya sendirian. Bahkan saat hatinya terluka, ia tidak tahu cara mengeluh."

  Beberapa menit kemudian Alena berusaha untuk mendekati sang anak, karena ia tahu sedari tadi Kai masih belum sempat makan. Bahkan di ruang tengah Anne dan Senna sudah menunggunya, mereka sengaja datang dan memasak ikan bakar untuk Kai.

  "Nak," panggilnya pelan.

  Kai menoleh sejenak lalu mulai fokus kembali pada tugasnya. "Iya Ma."

  "Kai sudah selesai?" tanya Alena.

Anak itu kembali menatap wajah Alena dengan tatapan lembut, tak ada sedikitpun hatinya untuk menyalakan semua kejadian ini terhadap sang ibu, justru sebaliknya, dibalik semua itu kasih sayang Kai terhadap mamanya teramat besar.

  Bahkan di dalam pikirannya, terbesit bayangan ibunya dulu saat mengandungnya, bagaimana cara sang ibu bertahan hingga akhirnya berada di kampung ini.

Hal-hal kecil seperti itu ada di dalam bayangannya, otak kecilnya seolah merespon semuanya.

  "Ma, apa Mama tidak capek?" tanya anak itu tiba-tiba.

  Alena mengerutkan keningnya heran. "Kenapa kamu tanya begitu Nak?"

  Kai terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu hingga akhirnya anak itu kembali bersuara.

 "Ma, kalau lapar makan saja dulu ya. Gak usah nunggu Kai."

  "Enggak Nak, Mama gak bisa makan tanpa kamu," sahut Alena begitu saja.

Seketika tangan anak itu terangkat dan perlahan mulai menggenggam tangan ibunya.

"Ma, apa Mama gak capek selama ini mempertahankan Kai?"

"Sekarang Kai sudah besar. Kai bisa makan sendiri, bisa belajar sendiri. Jadi Mama jangan terlalu khawatir lagi ya."

Alena langsung menggelengkan kepalanya, bukannya menuruti permintaan sang anak wanita itu justru meneteskan air matanya.

  "Gak Kai, Mama gak pernah merasa capek, meskipun harus jungkir balik sekalipun, Kai itu dunia Mama, jadi mana mungkin ibumu ini mengenal rasa lelah," sahut Alena.

 "Makasih ya, udah mempertahankan Kai selama ini."

Deg!

Hati ibu mana yang tidak tersayat mendengar ucapan anaknya sendiri? Yang merasa beruntung saat dunia mulai menolaknya, akan tetapi tidak dengan seorang ibu. Bahkan Kai seolah paham dengan perjuangan ibunya selama ini.

  "Kai maafkan Mama, jika kejadian tadi membuatmu harus berpikir seperti ini Nak, Mama, harap Kai tidak memikirkan itu, karena hidup Kai sangat berarti bagi Mama, Ibu Senna, Ibu Anne bahkan Ibu Rina, Kai itu permata bagi kami berempat," ujar Alena.

  Kai menatap ibunya dalam-dalam. Mata kecil itu terlihat berkaca-kaca, namun seperti biasanya, ia berusaha menahan semuanya sendirian.

"Kalau begitu..." suaranya pelan.

"Jangan nangis lagi ya Ma."

Kalimat sederhana itu justru membuat air mata Alena semakin jatuh. Seharusnya anak seusia Kai yang ditenangkan, dan seharusnya pula tubuh kecil itu yang dipeluk namun sejak tadi justru Kai yang berusaha menguatkan dirinya.

Alena langsung memeluk tubuh anak itu erat, sangat erat sekali, seolah takut jika suatu hari dunia kembali melukai anaknya.

"Maaf..." bisiknya berulang kali.

"Mama minta maaf."

Kai tidak menjawab. Tangan kecilnya hanya mengusap punggung ibunya perlahan dan gerakan kecil itu justru membuat dada Alena semakin terguncang hebat.

Tepat saat itulah terdengar suara langkah kaki dari depan kamar. Anne dan Senna yang sejak tadi berdiri di luar akhirnya tidak sanggup lagi menahan diri.

Keduanya masuk perlahan. Saat melihat Kai dan Alena berpelukan, hati kedua wanita itu langsung runtuh.

"Ya ampun..." gumam Anne sambil mengusap sudut matanya.

Sedangkan Senna langsung mendekat. Wanita itu berjongkok di depan Kai lalu memegang kedua pipi anak itu dengan lembut.

"Kamu bikin Ibu takut hari ini."

Suara Senna bergetar. "Sangat takut."

Kai menunduk pelan. "Maaf Bu."

"Bukan itu."

Senna langsung menggeleng cepat. "Ibu gak peduli siapa ayahmu."

"Ibu gak peduli apa yang terjadi delapan tahun lalu."

"Ibu cuma peduli sama satu hal." Wanita itu memegang tangan Kai erat.

"Kamu."

Air mata mulai memenuhi mata Senna. "Kamu tetap anak Ibu."

"Kamu tetap jagoan Ibu."

"Bahkan kamu tetap anak yang dulu lari-lari di pantai sambil bawa layang-layang." Suara Senna akhirnya pecah.

Dan sejak berada di pantai tadi, kali ini mata Kai mulai memerah.

Sementara Anne yang berdiri di sampingnya ikut mendekat. Wanita itu mengelus rambut Kai dengan penuh kasih sayang.

"Kalau dunia pernah membuatmu merasa tidak diinginkan..."

Anne berhenti sejenak. "Datanglah ke kami."

"Kami akan mengingatkan kalau kamu sangat diinginkan."

Air mata Kai akhirnya jatuh. Hanya satu tetes.

Namun satu tetes air mata itu sudah cukup membuat ketiga wanita di hadapannya runtuh.

Karena sejak siang tadi anak itu bahkan tidak menangis sama sekali.

"Kai..." Suara Anne mulai bergetar. "Kamu tahu gak?"

"Apa Bu?"

"Dulu waktu kamu lahir." Anne mencoba untuk tersenyum kecil.

"Ibu Senna sampai menangis."

"Ibu Rina datang jauh-jauh cuma buat lihat kamu."

"Mama Alena hampir gak tidur berhari-hari."

Kai perlahan menatap mereka satu per satu. Sedangkan Senna langsung tertawa kecil di sela tangisnya.

"Dan kamu bayi paling rewel yang pernah Ibu lihat."

"Bu..." protes Kai pelan.

"Iya."

"Kamu kalau malam gak mau tidur."

Anne ikut tertawa. "Kalau digendong Mama Alena baru diam."

"Kalau digendong orang lain teriaknya satu kampung."

Suasana yang sejak tadi penuh kesedihan perlahan berubah hangat. Meski masih ada luka bahkan masih ada air mata dan untuk sesaat mereka kembali menjadi keluarga kecil yang selama ini saling menguatkan.

Kai menunduk melihat tangan mereka. Empat tangan yang selama ini selalu menjaganya.

Tangan Mama Alena. Tangan Ibu Senna. Tangan Ibu Anne. Dan meski tidak ada di sana, ia juga teringat pada Ibu Rina.

Tiba-tiba anak itu tersenyum kecil. Senyum pertama yang muncul sejak kejadian di pantai.

"Mama."

"Hm?"

"Ibu Senna."

"Iya Nak?"

"Ibu Anne."

"Ada apa?"

Kai menarik napas panjang.

"Terima kasih sudah memilih Kai."

Suasana mendadak sesak tidak ada satu pun yang mampu menjawab ucapan Kai. Karena kalimat itu terlalu besar untuk keluar dari mulut anak sekecil dirinya.

Alena langsung memeluk Kai sekali lagi, diikuti Senna lalu Anne. Mereka bertiga memeluk Kai bersamaan hingga anak itu hampir tidak bisa bergerak.

"Ih sesak..." keluh Kai.

Lalu tiba-tiba tawa kecil itu terdengar kembali di dalam rumah kayu sederhana itu. Tawa yang bercampur dengan air mata dan luka.

Dan tawa itu mengingatkan Kai bahwa sebesar apa pun dunia pernah menolaknya, masih ada empat hati yang sejak awal memilih untuk mencintainya tanpa syarat dan meninggalkannya.

Bersambung....

Selamat pagi semoga suka ya....

1
Sugiharti Rusli
semoga karya" mu berikutnya bisa terus menghibur yah dan ada sesuatu yang didapat saat kita membacanya, meski dari hal sederhana,,,
Ayumarhumah: Aamiiin.... makasih ya kak ...
total 1 replies
Sugiharti Rusli
dan yah sekali lagi Kai berhasil membuat mereka semua bisa menyatu tanpa dendam dan saling bersapa layaknya saudara, dan Bianca juga sudah bagian dari mereka,,,
Sugiharti Rusli
semoga saja suatu saat su Rafael menyadari kesalahannya dan tidak memelihara dendamnya,,,
Sugiharti Rusli
dia pasti masih memikirkan Bianca kalo sampai menghabisi saudara satu" nya itu, meski sekarang mereka tidak sejalan
Sugiharti Rusli
bagus deh kalo pada akhirnya Kael membuat keputusan bijak dengan tidak membunuh si Rafael meski ada kesempatannya yah,,,
tia
waduh cepat skli tamat
Ayumarhumah: iya Kak ...

pengin suasana baru...
total 1 replies
Sugiharti Rusli
padahal si Rafael tahu batas kekuatannya di mana, tapi karena egonya yang tinggi maka dia sudah ambil semua resikonya termasuk kalo dia harus hancur
Sugiharti Rusli
entah akan seperti apa pertumpahan yanh akan mereka alami nanti dan siapa yang akhirnya harus kalah,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya hal itu sangat dihayati betul oleh si Rafael saat ini, dia ingin kekuasaan berada di bawah telapak kakinya sendiri
Sugiharti Rusli
kalo dalam dunia mafia siapa kuat dia yang bisa menguasai dunia yah,,,
Sugiharti Rusli
semoga Kael tidak lengah yah, apalagi dia tahu akan mendekati jalur distribusi milik Rafael,,,
Sugiharti Rusli
dan alasan agar adiknya tidak jadi korban karena sikap Kael, hanya jadi alasan saja sih sebenarnya dan sekarang dapat validasi buat konfrontasi sama kelompok Kael,,,
Sugiharti Rusli
dalam egonya si Rafael dia selalu berada di bawah bayang" Kael baik dari segi kekuasaan maupun cinta dari orang" yang mereka sayangi,,,
Sugiharti Rusli
sejak awal tujuan si Rafael memang mengalahkan Kael apapun caranya,,,
Sugiharti Rusli
dan si Rafael sudah jadi pembunuh berdaraj dingin dan baru puas kalo yang dianggap musuh musnah di tangannya,,,
Sugiharti Rusli
tapi sepertinya pemikiran si Rafael hanya penuh dendam semata dan sepertinya adiknya sendiri akan dijadikan musuh
Sugiharti Rusli
apalagi menjadikan seorang sebagai target buat menghantam temannya sendiri yah
Sugiharti Rusli
padshal kan maksud Bianca bukan seperti itu, dia ingin abangnya menghentikan pertumpahan darah yang tidak perlu,,,
Sugiharti Rusli
kalo sudah dasarnya hatinya gelap, apapun yang si Rafael lihat selalu dianggap melukai hatinya,,,
Sugiharti Rusli
kira" di mana tempat persembunyian si Rafael yah, apa si Bianca memiliki petunjuk mungkin karena dia adiknya🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!