"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.
Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI LEMBUT SANG CEO
Waktu terus bergulir tanpa terasa. Ketegangan yang sempat menyelimuti ruang makan perlahan mencair seiring berjalannya waktu. Samudera benar-benar memanfaatkan setiap detiknya untuk menebus waktu yang hilang. Ia membantu membersihkan pecahan gelas di lantai, lalu duduk di karpet ruang tengah menemani Arka bermain mobil-mobilan, sementara Alana hanya bisa mengawasi mereka dari kejauhan dengan perasaan yang masih campur aduk.
Hingga akhirnya, jam dinding menunjukkan pukul satu siang. Matahari di luar sudah meninggi, memancarkan terik udara sisa akhir pekan.
Arkana mulai menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Langkah kakinya melambat, dan beberapa kali bocah kecil itu mengucek matanya yang bulat sembari menguap lebar. Jadwal tidur siang Arka memang tidak pernah meleset.
Namun, alih-alih berjalan ke arah Alana seperti yang biasanya ia lakukan setiap kali mengantuk, Arka justru berjalan mendekati Samudera. Tangan mungilnya menarik-narik ujung kemeja putih Samudera yang kini sudah tampak sedikit kusut.
"Papa... Arka ngantuk," bisik Arka dengan suara serak khas anak kecil yang menahan tidur. "Ayo ikut Arka ke kamar. Temani Arka bobo siang."
Mendengar panggilan "Papa" yang meluncur begitu alami dari bibir Arka, hati Samudera berdesir hebat. Rasa hangat dan haru kembali membuncah di dadanya. Ia menatap Alana sekilas, seolah meminta izin secara implisit, sebelum akhirnya mengangguk mantap.
"Iya, Jagoan. Papa temani," jawab Samudera lembut.
Samudera kemudian menyelipkan lengan kekarnya di bawah tubuh Arka, mengangkat bocah empat tahun itu ke dalam gendongannya dengan sangat mudah. Arka langsung menyandarkan kepalanya di bahu tegap Samudera, melingkarkan lengan kecilnya di leher sang ayah dengan erat.
Dengan petunjuk arah dari langkah kaki Alana yang berjalan mendahului mereka dengan diam, Samudera membawa Arka masuk ke dalam kamar tidur bernuansa biru muda yang asri. Kamar itu tidak besar, namun sangat rapi dan dipenuhi dengan buku cerita serta mainan edukatif—bukti betapa Alana merawat putra mereka dengan penuh kasih sayang.
Samudera merebahkan tubuh Arka di atas ranjang kecilnya yang empuk dengan sangat hati-hati. Saat Samudera hendak menegakkan punggungnya, tangan mungil Arka ternyata masih menggenggam erat satu jari telunjuk Samudera, menolak untuk dilepaskan.
"Papa di sini saja... jangan pergi," gumam Arka dengan mata yang sudah setengah terpejam.
Samudera tersenyum sangat tipis, penuh kelembutan. Ia akhirnya ikut merebahkan tubuh jangkungnya di sisi ranjang yang tersisa, memosisikan dirinya menghadap sang putra. Tangan besarnya bergerak perlahan, menepuk-nepuk lembut paha Arka, memberikan ritme konstan yang menenangkan.
"Papa tidak akan pergi, Arka. Tidurlah," bisik Samudera lirih.
Hanya butuh waktu kurang dari lima menit hingga napas Arka terdengar teratur dan halus, menandakan bocah kecil itu telah terlelap dengan tenang ke dalam dunia mimpi. Genggaman tangannya di jari Samudera melonggar, namun Samudera tetap setia di posisinya, tidak sedetik pun mengalihkan pandangannya dari wajah damai sang putra.
Alana yang berdiri di ambang pintu kamar yang sedikit terbuka hanya bisa tertegun menyaksikan pemandangan itu. Di dalam kamar yang tenang itu, ia melihat sosok pria tangguh dan berkuasa yang ditakuti di dunia bisnis, kini rela meringkuk di ranjang kecil anak-anak hanya demi menjaga tidur siang putranya. Pertahanan di hati Alana perlahan mulai terkikis oleh pemandangan hangat tersebut.
Melihat Arkana sudah benar-benar terlelap, Alana menarik napas panjang. Ketegangan di pundaknya belum sepenuhnya hilang, tetapi ia tahu momen ini tidak bisa dihindari lagi. Mereka harus bicara—bukan sebagai orang asing yang tak sengaja bertemu, melainkan sebagai dua orang dewasa yang terikat oleh masa lalu dan masa depan anak di ranjang itu.