NovelToon NovelToon
Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?

Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.

Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.

Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.

Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.

Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.

Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.

Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Teknik Keseimbangan

Suasana paviliun kembali hening setelah derap langkah sepatu kulit Harjono menjauh menuju rumah utama. Pria itu menahan amarah yang meledak untuk membuat perhitungan dengan Sulastri.

Sumarni segera mengunci pintu kamarnya dari dalam. Ia berdiri mematung di depan meja kayu jati dengan napas memburu. Hawa dingin dari lantai tegel merayap naik menembus telapak kaki telanjangnya.

Di hadapannya, mesin jahit Singer hitam kebanggaannya tampak seperti rongsokan besi mati. Roda pemutarnya bengkok ke dalam, dan tiang jarum utamanya melengkung patah.

Bau pelumas kental yang bocor bercampur dengan aroma amis debu malam memenuhi udara ruangan. Dada Sumarni terasa sesak oleh kepanikan yang nyaris mencekik lehernya.

Pesanan Nyonya Wardoyo memiliki tenggat waktu hanya tujuh hari. Menunggu mesin baru dari Surabaya sama saja dengan membiarkan bisnis Sekar Malam mati sebelum sempat berbunga.

Layar sistem berwarna merah terang kembali berkedip di depan matanya. Cahayanya menyilaukan dan mengancam kewarasannya di tengah keputusasaan.

[Opsi Darurat Terbuka: Skill Mekanik Tingkat Lanjut. Harga Penukaran: 800 Poin.]

[Peringatan: Perbaikan mesin harus dilakukan sebelum matahari terbit.]

Sumarni mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ujung kukunya menancap tajam ke telapak tangan hingga menimbulkan rasa perih yang nyata.

"Tukar poin sekarang," desis Sumarni tertahan.

[Penukaran Berhasil. Sisa Poin Anda: 200 Poin.]

Seketika itu juga, rasa pening yang luar biasa hebat menghantam bagian belakang kepala Sumarni. Ia jatuh berlutut di lantai tegel sambil memegangi pelipisnya yang berdenyut keras.

Ribuan diagram rancang bangun mesin, susunan roda gigi kuningan, dan teknik perbaikan logam mengalir deras ke dalam memori otaknya. Sensasi dingin besi tuang dan bau tajam pelumas seketika terasa familier di ingatannya.

Napas Sumarni tersengal-sengal. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes deras dari dahinya membasahi kerah kebaya katun yang ia kenakan.

Setelah rasa sakit itu mereda perlahan, ia membuka matanya lebar-lebar. Pandangannya terhadap rongsokan mesin Singer itu berubah total.

Ia tidak lagi melihat tumpukan besi rusak, melainkan sebuah teka-teki mekanik yang menunggu untuk disusun ulang.

Jam dinding kayu berdetak lambat menunjukkan pukul dua dini hari. Sumarni harus berpacu dengan waktu sebelum ayam berkokok menyambut fajar.

Ia mengendap-endap keluar kamar menuju gudang kecil di sudut belakang dapur paviliun. Tangannya meraba tumpukan perkakas berdebu dalam kegelapan pekat.

Sumarni menemukan sebuah palu besi bergagang kayu, tang berujung runcing, obeng pipih tebal, dan sebotol kecil minyak pelumas sepeda milik penjaga rumah. Ia membawa semua perkakas dingin itu kembali ke kamarnya dengan cepat.

Pekerjaan berat malam itu pun dimulai. Sumarni membuka kap atas mesin jahit dengan bantuan obeng pipih. Bunyi derit sekrup karatan yang diputar paksa terdengar nyaring memecah kesunyian.

Tangannya yang ramping kini berlumuran pelumas hitam pekat. Bau logam berkarat menusuk hidungnya dengan sangat kuat.

Ia mencengkeram batang as utama mesin yang bengkok menggunakan tang. Otot lengannya menegang keras saat mencoba menahan komponen besi tebal tersebut agar tidak patah.

Keringat panas bercucuran membasahi wajah dan lehernya. Udara malam yang sedari tadi menusuk tulang kini tidak mampu meredakan hawa panas dari tubuhnya yang dipaksa bekerja melebihi batas.

"Sedikit lagi," gumam Sumarni dengan deretan gigi terkatup rapat.

Ia menekan gagang tang sekuat tenaga dengan memanfaatkan berat tubuhnya sebagai tuas pengungkit. Ini adalah teknik keseimbangan yang ia dapatkan langsung dari memori sistem.

Trak!

Batang besi as utama itu berhasil lurus kembali. Sumarni menghembuskan napas lega yang sangat panjang. Namun, tenggat waktunya belum aman. Ia harus meratakan roda pemutar logam yang penyok parah.

Sumarni meletakkan roda pemutar tembaga itu di atas lantai tegel. Ia mengambil gulungan kain lap tebal untuk meredam suara ketukan palu agar tidak terdengar hingga ke rumah utama.

Tuk. Tuk. Tuk.

Pukulan palu besi itu mendarat tepat pada titik lekukan roda. Sumarni bekerja dengan ritme presisi tanpa ragu sedikit pun. Matanya menatap tajam, memastikan setiap sisi roda kembali simetris.

Waktu terasa berlari mengejar bayangannya sendiri. Suara jangkrik di luar jendela berangsur-angsur hilang, digantikan oleh embusan angin pagi yang dingin.

Semburat cahaya biru pucat mulai menggeser kelamnya langit di ufuk timur. Waktu fajar nyaris tiba.

Sumarni dengan tangan bergetar merakit kembali setiap roda gigi dan sekrup ke posisi semula. Ia meneteskan minyak pelumas segar ke sela-sela engsel pergerakan mesin.

Jari-jarinya kebas, kapalan, dan perih akibat goresan logam tajam, tetapi ia menolak keras untuk berhenti walau hanya satu detik.

Saat kokok ayam pertama terdengar nyaring dari kejauhan, Sumarni mengencangkan sekrup terakhir pada tiang jarum. Ia menarik napas dalam-dalam, menelan ludahnya yang kering.

Tangan kanannya yang berlumuran pelumas memutar roda penggerak secara perlahan.

Klak, klak, klak, klak.

Suara putaran mesin jahit itu terdengar sangat halus di telinga Sumarni. Jarum besinya bergerak naik turun menembus pelat dengan ritme yang sempurna. Tidak ada lagi bunyi gesekan kasar atau kemacetan roda gigi seperti sebelumnya.

Sumarni menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi kayu dengan sisa tenaga yang ada. Senyum lega mengembang di bibirnya yang kering dan pucat. Ia berhasil menyelamatkan masa depan bisnisnya dari ujung tanduk.

Layar transparan berkedip lembut, membawa cahaya hijau yang menenangkan matanya.

[Misi Darurat Selesai! Mesin jahit berhasil diperbaiki sebelum batas waktu.]

[Keterampilan Mekanik Anda telah mengamankan fondasi produksi Sekar Malam.]

Rasa kantuk yang sangat berat dan rasa sakit di seluruh persendian kini menyerang tubuh Sumarni secara brutal. Lengan kebayanya hitam oleh noda oli. Wajahnya cemong penuh bercak pelumas dan debu karat.

Ceklek.

Suara kenop pintu kamar yang diputar perlahan membuat bahu Sumarni tersentak kaku. Dimas, anak tiri kecilnya, berdiri di ambang pintu sambil menggosok sebelah matanya.

Bocah laki-laki berumur lima tahun itu mengenakan piyama katun tipis bermotif garis. Ia melangkah ragu memasuki kamar, mendekati ibu tirinya yang duduk di depan mesin jahit dengan penampilan sangat berantakan.

Sumarni langsung menyembunyikan kedua tangannya yang kotor ke belakang punggung. Ia menelan ludah, tidak ingin menakuti anak itu dengan wajahnya yang cemong dan menakutkan.

"Dimas sudah bangun pagi sekali?" sapa Sumarni dengan suara serak namun berusaha terdengar menenangkan.

Dimas menggelengkan kepalanya pelan. Mata bundar bocah itu menatap wajah lelah Sumarni tanpa berkedip. Pandangannya kemudian turun ke arah mesin jahit Singer yang kini kembali berdiri utuh tanpa cacat.

Malam tadi, Dimas mengintip dari balik pintu saat preman beringas itu menghancurkan benda berharga tersebut. Kini, melihat penampilan ibu tirinya yang kotor dan kelelahan, otak kecil Dimas mencerna perjuangan keras di balik kesunyian malam.

Bocah itu melangkah semakin dekat. Alih-alih takut pada noda oli pekat di baju Sumarni, Dimas justru merentangkan kedua tangannya. Ia merangkul leher wanita itu dengan pelukan yang sangat erat.

Aroma bedak bayi dan minyak telon dari tubuh Dimas langsung menyapu hidung Sumarni. Kehangatan tubuh anak itu seketika melelehkan sisa ketegangan yang membeku di dada Sumarni.

1
𝐀⃝🥀Weny
cemburu ni ye😂
sukensri hardiati
untuk ukuran pengusaha harjono ni sukses....untuk ukuran suami..?...payaaah...
sukensri hardiati
harjono ni pengusaha batik sekaligus rokok ya....?
𝐀⃝🥀Weny
perlahan² harjono mulai menyukai Sumarni😁 lanjut lagi thor
gina altira
lanjutt
gina altira
Diracun lagiii
Titi Liana
menarik
gina altira
Wah Sulastri bikin fitnah kayaknya
gina altira
hati" Sumarni
gina altira
Lanjuttt thorrr
𝐀⃝🥀Weny
lanjut thor
Anne Soraya
lanjut
Dwi Agustina
Semangat semangat💪💪💪
gina altira
seruu, ceritanya berbeda nih ada sistem nya
𝐀⃝🥀Weny
lanjut up thor
𝐀⃝🥀Weny
tambah up lagi thor😂
irena
harusnya emasnya nanti tersimpan di tasnya Sulastri.. pas saat menuduh si Marni jadi senjata makan tuan.. klo perlu pas ada suaminya.. supaya kelakuan Sulastri ketahuan selama ini suka menindas
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
gina altira
ada" aja
gina altira
Harjono begoo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!