NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Matahari pagi baru saja mengintip dari balik tirai jendela kamar, menyelinap masuk dan menyinari sudut-sudut ruangan yang masih berantakan sisa aktivitas malam tadi. Ani bangun lebih awal dari biasanya, seperti biasa, untuk menyiapkan sarapan dan bekal kerja bagi suaminya, Dimas.

Sudah hampir lima tahun mereka menikah, dan rutinitas ini menjadi hal yang tak pernah berubah. Bagi Ani, mengurus rumah tangga dan melayani suami adalah kebahagiaan terbesarnya. Ia selalu percaya bahwa pernikahannya adalah contoh yang sempurna: rukun, damai, dan penuh kasih sayang.

Dimas bergegas bangun ketika jam weker di meja samping tempat tidur berbunyi nyaring. Ia bergegas mandi dan berpakaian, wajahnya terlihat lelah seperti biasa. Belakangan ini, Dimas memang sering pulang larut, beralasan pekerjaan di kantor sedang menumpuk dan banyak proyek yang harus diselesaikan. Ani tak pernah curiga sedikit pun. Ia selalu menyambut suaminya dengan senyum hangat dan makanan enak, mendengarkan keluh kesahnya, dan berusaha menjadi istri yang paling pengertian.

"Mas, sarapan sudah siap," panggil Ani lembut dari ruang makan, sambil menata piring dan gelas di atas meja.

Dimas keluar dari kamar mandi, mengeringkan rambutnya dengan handuk. "Iya, sebentar lagi. Hari ini aku harus berangkat lebih pagi, ada rapat penting jam delapan," jawabnya singkat, lalu duduk di kursi makan.

Ani menuangkan teh manis ke dalam gelasnya. "Hati-hati di jalan ya, Mas. Jangan terlalu lelah bekerja, ingat kesehatan."

Dimas hanya mengangguk pelan, memakan sarapannya dengan cepat tanpa banyak bicara. Ada sesuatu yang berbeda dari sorot matanya pagi ini, sesuatu yang terasa jauh dan dingin, namun Ani berusaha mengabaikannya. Ia mengira itu hanya karena Dimas terlalu banyak pikiran soal pekerjaan.

Setelah selesai makan, Dimas langsung beranjak pergi. Ia mencium kening Ani sekilas, sangat cepat dan kaku, lalu berjalan menuju pintu depan. "Aku berangkat dulu ya."

"Hati-hati ya, Mas. Nanti sore pulang jam berapa?" tanya Ani sambil mengantarnya sampai di depan pintu.

"Mungkin agak sore lagi, ada pertemuan lanjutan. Jangan tunggu makan malam ya," jawab Dimas sambil membuka pintu dan melangkah keluar, menuju mobilnya yang terparkir di halaman.

Ani tersenyum mengangguk, melambaikan tangan sampai mobil suaminya menghilang di tikungan jalan. Hatinya terasa damai, meski sedikit ada rasa sepi yang menyelinap. Ia kembali masuk ke rumah untuk membereskan sisa makanan dan mencuci piring.

Saat sedang melewati meja samping sofa di ruang tamu, matanya menangkap sebuah benda kecil berwarna hitam yang tergeletak di sana. Itu adalah ponsel pintar milik Dimas.

Ani tertegun sejenak. Ia tahu betapa pentingnya benda itu bagi suaminya. Dimas hampir tak pernah melepaskan ponselnya, selalu dibawa ke mana saja, bahkan saat mandi atau tidur pun selalu diletakkan di sampingnya. Tak pernah sekalipun ia meninggalkannya begitu saja di dalam rumah.

Rasa penasaran merayap perlahan di hati Ani, bercampur dengan firasat aneh yang entah dari mana datangnya. Selama ini, Ani tak pernah sekalipun menyentuh atau membuka ponsel Dimas. Ia sangat menjaga kepercayaan dan privasi suaminya. Ia percaya bahwa dalam rumah tangga, kepercayaan adalah pondasi utama yang tak boleh dirusak.

Namun pagi itu, ada sesuatu yang mendorong tangannya bergerak mendekat. Ia berjongkok dan mengambil benda pipih itu. Layarnya dalam keadaan mati. Ani menatap ponsel itu lama sekali. Di benaknya terlintas ingatan-ingatan kecil belakangan ini: sikap Dimas yang makin tertutup, sering tersenyum sendiri saat memegang ponselnya, sering berbisik-bisik saat menerima telepon, dan tatapannya yang sering kosong saat sedang duduk berdua.

"Ah, aku pasti hanya terlalu banyak berpikir," gumam Ani pada dirinya sendiri, berusaha menepis rasa curiga yang mulai tumbuh. "Mas Dimas itu suami yang baik, dia tak mungkin berbuat macam-macam."

Namun tangannya justru menekan tombol daya di pinggiran ponsel itu. Layar menyala, menampilkan kunci pola. Ani tahu pola itu. Dimas pernah mengajarinya dulu, saat baru saja membeli ponsel ini. Pola sederhana yang membentuk huruf awal nama mereka berdua.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, jari Ani bergerak menyusuri titik-titik pada layar kaca itu. Kunci terbuka.

Beranda utama ponsel muncul, menampilkan deretan ikon aplikasi. Di bagian paling atas, ada notifikasi pesan masuk yang baru saja datang, dikirimkan sesaat setelah Dimas pergi.

Nama pengirimnya membuat jantung Ani seakan berhenti berdetak sejenak: Rina.

Di bawah nama itu, isi pesan singkat itu terbaca jelas: "Sayang, kamu lupa bawa ponselmu ya? Nanti aku kangen ngobrol sama kamu seharian ini..."

Dunia Ani seakan runtuh seketika. Kata "sayang" yang tertulis di sana terasa begitu tajam, menusuk tepat di tengah hatinya. Rina? Ia tahu siapa Rina. Rekan kerja Dimas, wanita muda yang sering disebut-sebut suaminya sebagai karyawan baru yang rajin dan cerdas.

Dengan napas yang mulai terasa sesak, Ani menekan ikon aplikasi pesan itu. Ia tahu ia seharusnya berhenti di sini, seharusnya segera menaruh kembali ponsel itu dan berpura-pura tak melihat apa pun. Namun rasa ingin tahu yang berbalut rasa sakit dan ketakutan menguasai dirinya. Ia membuka percakapan antara Dimas dan wanita bernama Rina itu.

Dan di sanalah, di depan matanya sendiri, terbentang ribuan pesan yang menjadi bukti nyata kehancuran kebahagiaannya. Pesan-pesan penuh rayuan, janji temu, ungkapan rindu, hingga kata-kata cinta yang seharusnya hanya ditujukan untuknya, sang istri sah. Ia membaca bagaimana Dimas sering menceritakan kehidupan rumah tangga mereka dengan buruk, menganggap Ani membosankan, dan mengaku tidak bahagia hidup bersamanya. Ia membaca rencana-rencana mereka untuk bertemu diam-diam, untuk pergi berlibur berdua, dan janji-janji masa depan yang tak lagi melibatkan dirinya.

Air mata Ani jatuh membasahi layar ponsel itu. Kakinya terasa lemas, hingga ia terpaksa duduk di lantai dingin ruang tamu. Semua kebahagiaan yang ia bangun selama lima tahun ini ternyata hanya menjadi tontonan semata. Di balik senyum dan keramahan suaminya, tersembunyi pengkhianatan yang begitu dalam.

Ponsel itu masih ada di tangannya, memancarkan cahaya redup yang seolah mengejek kepolosannya. Di luar sana, matahari bersinar terang, namun bagi Ani, dunia di sekelilingnya tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita. Ia baru menyadari satu hal pahit: bahwa orang yang paling ia percayai ternyata adalah orang yang paling menyakitinya. Dan semuanya terungkap, hanya karena sebuah ponsel yang tertinggal.

" tega sekali kamu , mas ! Bercerita buruk tentang rumah tangga kita ." isak Ani tanganya masih menggenggam ponsel milik dimas .

Tiba - tiba ponselnya kembali menyala . panggilan masuk dari Rina . tapi Ani hanya menatap ponsel itu sampai layarnya menghitam kembali . dadanya terasa sesak melihat pengkhianatan dimas . Padahal awal menikah dimas masih bekerja sebagai tukang ojek . Diam - diam Ani memasukan lamaran dimas keperusahaan milik sahabatnya. Sehingga Dimas dengan mudah bekerja diperusahan elit .

bersambung ,,,,

1
partini
very good ani👍👍👍
partini
yah lagi penasaran ini Thor
Re _ ara: terimakasih sudah mampir ya KA 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ayo ani to tunjuk kan taring mu bikin mereka nangis darah karena malu
Re _ ara: siap ka😄😄😄
total 1 replies
reza atmaja
sangat bagus .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!