Terlahir dari Keluarga yang sangat religius serta kedua orang tua nya ahli dalam agama dan di hormati oleh para warga, sungguh berbeda jauh dengan anaknya.
Jaya Jaeludin pemuda lajang berusia 23 tahun yang hobinya berpetualang ke tempat tempa seram dan penuh dengan ke mistikan. Selain Ia suka berpetualang Jaya pun bergaul dengan para preman yang hobinya mabuk mabukan dan berjudi... Sampai titik dimana Ia membantu seorang wanita yang berstatus sebagai wanita yang di tinggalkan oleh suaminya, memasang kan sebuah susuk ilmu Hitam. Ia di kampung nya sampai tingkat desa di cap sebagai Dukun Cabul.
Ikuti kisah nya Novel Aku Bukan Dukun Cabul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kang Haji RIS', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengobati Agus
"Astaghfirullah alladzim.!! Masya Alloh.... Agus... Gus... Kamu kenapa bisa begitu." Tanya Ubey.!!
"Biar. Teh aku yang membayar semua nya." Kata Muhtar datar.
Antara marah. Kesal dan kasihan bercampur aduk di hati Muhtar saat ini. Entah apakah harus marah, kesal namun yang jelas rasa iba mendominasi sehingga meredakan kemarahan yang ada dalam hati Muhtar saat ini.
Muhtar maupun kedua tetangga nya yaitu Ubey dan Mang Juned sadar betul bagaimana kejiwaan Agus saat ini. Ia sangat terguncang hebat dan sedang menanggung resiko akibat perbuatannya.
Setelah menyelesaikan permasalahan yang di lakukan oleh adik ipar nya dan membayar kerugian pedagang pulsa sebesar empat ratus ribu rupiah. Muhtar pun langsung membawa Agus pulang ke rumah nya.
Dalam perjalanan pulang. Agus bercerita kepada Muhtar. Bahwa mendapatkan telepon dari seorang lelaki. Orang tersebut seperti mengetahui kalau saya sedang membutuhkan pekerjaan. Si penelepon itu menawarkan pekerjaan dan menerangkan salah satu syarat yaitu meminta pulsa untuk menelepon atasannya.
Muhtar baru memahami apa yang telah terjadi pada Agus adik iparnya. Dia menjadi korban penipuan. Apakah dia di hipnotis atau pun menjadi korban penipuan belum sepenuh nya yakin. Sebab melihat psikolog Agus yang tidak stabil dan memang sangat mudah di pengaruhi oleh orang yang mempunyai niat jahat.
Kesialan demi kesialan dan gangguan demi gangguan yang bertubi tubi di alami oleh Agus dan istri beserta anaknya. Mungkin saja baru bisa berakhir apabila salah satu dari keluarga Agus ada yang meninggal. Mungkin itu juga bila Ruslan atau Fani mengalami kematian.!!
Berharap terlepas dari takdir kematian, ketika mengetahui ada nya ancaman yang akan merenggut nyawa. Kita sebagai hamba Tuhan hanya bisa berikhtiar berusaha semampunya melawan ancaman tersebut.
Apalagi seperti saat ini yang di tengah di alami oleh Agus dan Istri serta anak nya. Dia tahu betul ketiga nyawanya sedang dalam incaran siluman monyet untuk di jadikan abdi golongan monyet dalam sebuah perjanjian waktu itu.
#####################
Senja pun telah tiba, adzan Maghrib telah berkumandang. Abah Dewa dan kedua teman nya ustadz Kosim dan Ustadz Abas, selepas menunaikan ibadah solat magrib lalu bergegas menuju rumah Muhtar, rencana nya malam ini Abah Dewa akan mengobati Agus dan Mang Jaka yang terluka oleh serangan Fani yang di rasuki oleh siluman monyet yang bernama Indra Purnama.
Sementara Fani dan Ruslan di temani oleh Fina kakak nya, untuk saat ini di ungsikan terlebih dahulu dan tinggal di rumah nya Abah Dewa dengan pagar Ghaib yang sudah di pasang. Hal itu di lakukan atas saran dari Eyang Guru Abah Atang agar rahasia Agus tidak di ketahui oleh istrinya. Sebab jika Fani mengetahui bahwa teror itu atas ulah suami nya urusannya bakal bertambah runyam dan pasti Arin akan sangat marah besar.
Tak lama kemudian setelah Abah Dewa bersama yang lainnya sudah tiba di rumah Muhtar, di antaranya. Abah Dewa, Ustadz Kosim, Ustadz Abas, Ubey dan Wa Kulik duduk di ruangan tengah yang sudah di tunggu oleh Mang Jaka dan Agus serta pemilik rumah yaitu Muhtar.
"Kita tunggu Kang Jaya mungkin sebentar lagi akan datang." Ucap Abah Dewa setelah duduk bersama mereka.
Mereka mengangguk dan tersenyum.!! Sementara Ubey sedang membuka beberapa kopi untuk di seduh dan di suguhkan..!!
Sejenak Abah Dewa menatap matanya mengatup tertutup menerawang kondisi tubuh Agus dan Mang Jaka. Dalam penglihatan nya Ia mendapatkan bahwa adanya makhluk ghaib yang bersarang di tubuh Agus. Sedangkan dalam tubuh Mang Jaka terdapat luka dalam yang cukup serius akibat terkena hantaman pukulan Fani yang sedang di rasuki oleh siluman monyet malam itu.
Selang beberapa menit kopi sudah di seduh oleh Mang Ubey, satu suara salam terdengar dari luar rumah, Muhtar pun langsung beranjak untuk mempersilahkan masuk dan berkumpul di ruangan tengah tersebut.
"Assalamualaikum...!! Punten.!!
"WaallAikum Salam.....!! Mangga kalebet!!
Muhtar bangkit dan berjalan kearah pintu..!!
"Kang Jaya..... Ayo masuk sudah di tunggu.... Muhtar mempersilahkan masuk.... Jaya membalas nya dengan senyuman.
Sampai nya di ruangan tengah rumah Muhtar, Jaya tersenyum kearah mereka yang sudah duduk bersila dengan suguhan rupa rupa kueh dan gorengan...!!
"Eyang... Sini duduk...!! Abah Dewa menepuk nepuk lantai beralaskan karpet memberi kode kepada pemuda yang baru datang untuk duduk di sebelah nya...
"Terima Kasih Pak Dewa.!! Ucap Jaya.. Ia melangkah memutar seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Kang Jaya... Kopi susu atau kopi hitam.?" Tanya Ubey Ia memperlihatkan kepada pemuda yang baru duduk di samping Abah Dewa itu.
"Kalau ada mah topi miring aja Kang Ubey." Canda Jaya..!
"Hehehehe...! Kalau topi miring jauh Kang beli nya.!! Ada juga Roso Roso atau Amer.." Kekeh Ubey.
"Hehehehe.!! Boleh Amer juga.!! Kopi hitam aja Kang." Pinta Jaya...!
Sesaat hati dan pikirannya rindu kepada sahabatnya yang ada di kampung nya.... Rindu minum bersama sambil mabok.!!
Terima Kasih Kang Ubey kopi nya......! Ucap Jaya ketika lelaki berusia 32 tahun itu menyodorkan segelas kopi ke hadapan Jaya.
"Kang Agus.. Kamu harus bertobat atas perbuatan mu melihat ritual pesugihan ya....... Banyak banyak mendekatkan diri kepada sang pencipta dengan membaca istighfar meminta ampunan pada Allah SWT... " Kata Pemuda itu blak blakkan.!!..
Agus hanya mengangguk, semua yang ada di ruangan tengah menatap kearah nya, diam membisu tanpa bersuara, ketika Jaya sudah berbicara serius.
"Aku akan mengobati dan melepaskan makhluk ghaib yang hinggap pada dirimu..." Ucap Jaya kini mata nya menyala nyala... Jelas terlihat oleh Abah Dewa dan Mang Jaka, di seluruh tubuh pemuda bukan Jaya tapi seorang makhluk ghaib yang mempunyai ilmu tingkat tinggi.
"Kang Muhtar...... Punya baskom yang sedikit ukuran nya besar.?" Tanya Jaya..!
"Ada Kang...!! Untuk apa..?" Tanya Muhtar.!!
"Bawa saja kesini Kang..!! Nanti juga tahu kegunaan nya untuk apa." Jawab Jaya.!!
"Siap..!! Eyang.!! Muhtar ikut ikutan memanggil Eyang ketika Abah Dewa menyebut nya. Ia bangkit menuju dapur.
"Hmmmmmmmm.!! Gumam Jaya.!!
Mula mula Agus terlebih dahulu yang akan di obati oleh Jaya. Agus pun memposisikan diri menggeser duduk nya ke tengah tepat membelakangi Jaya dan berhadapan dengan Ubey dan Wa Kulik. Raat wajah Agus tampak terlihat datar dan pasrah dan tingkah nya seperti orang linglung.
Muhtar pun datang dengan membawa baskom berukuran besar..!! "Kang Muhtar baskom nya simpan di depan Agus saja....." Titah Jaya...!
"Siap.!! Kata Muhtar singkat.!!
"Kang Agus sekarang pejamkan mata sambil baca sholawat yang kamu hapal, bisa kan." Titah Jaya...!!
"Iya.....! Agus hanya menjawabnya singkat dan anggukan kepala... Kesadaran nya masih setengah tengah.. Dalam tubuh dan raga nya adalah Agus tapi setengah nya di kuasai oleh makhluk ghaib.
Bersambung.