NovelToon NovelToon
Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Status: tamat
Genre:Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Obsesi / Tamat
Popularitas:36.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: megatron

Mata bulat Clay berkilat-kilat membaca pesan dari Robbin. "Akan ada waktu yang tepat untuk membuatmu bertekuk lutut di bawah kakiku"

Gadis konglomerat itu pun membereskan barang-barangnya lantas menghubungi seorang teman. Dia harus bergerak cepat sebelum Robbin benar-benar pergi.

Penolakan Robbin makin mengungkungnya dalam lingkaran cinta, Clay yang tidak biasa menerima penolakan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megatron, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Perangkap

Johanes mencondongkan tubuhnya, dia menutup mulut dengan telapak tangan saat berbisik, "Lebih dari sekadar pria hidung belang setelah aku melihatmu bersamanya."

"Aku memang terlalu tua bersanding dengannya, bukankah itu yang kamu maksud?" Robbin menahan tawa, geli memikirkan segala asumsi temanya ini.

Secara umur memang Robbin jauh lebih tua daripada Clay, tetapi dilihat dari penampilan, keduanya tampak begitu serasi. Entah kenapa Robbin seakan-akan tidak termakan usia, paras rupawan seolah-olah mengikis penuaan yang seharusnya terlihat. Dia masih menawan seperti ketika umur dua puluhan.

"Ini bukan soal usia kalian," sergah Johanes.

Senyum Robbin memudar, berganti kerutan di kening yang hampir menyatukan alis. Dia tidak mengerti arah pembicaraan Johanes.

Johanes sekali lagi mengusap dagu, dia harus memberi tahu maksud dari kalimatnya. "Aku dan Berry pernah melihat gadis itu di hotel bersama anak big bos, " terangnya kemudian, sambil mengamati perubahan di wajah sang teman.

"Hanes?"

Alis dan bibir Johanes tertarik ke atas singkat lantas berujar, "Kukira mereka punya hubungan khusus atau sedang, yah semacam cinta satu malam."

Seluruh indra Robbin seketika menegang. Hotel? Clay dan Hanes. Inikah yang dirahasiakan Clay? Dan, arti tatapan ketakutan di mata bulatnya. bibir Robbin terkunci, sangsi atas kabar mengejutkan yang menghantam keteguhan hati beberapa hari ini.

Cintanya kepada Clay baru merekah, kini tangkai kepercayaan itu telah patah. Korban dari pengkhianatan yang telah sang istri lakukan di belakangnya. Kalau sudah tidak cinta mengapa diam saja? Lagipula Robbin tidak memaksa seseorang untuk menaruh rasa suka terhadap dirinya.

"Mungkin kalian salah lihat," elakkan Robbin. Dia mencoba bersikap setenang mungkin, meredam prasangka di dalam benaknya.

"Cih, kamu meragukan penglihatkan ku?" Johanes menyandarkan punggung sambil melemparkan pandangan sejenak lalu melihat Robbin lagi. "Kulihat dia begitu dekat dengan Hanes."

"Bukan masalah besar, Hanes temannya," ungkap Robbin dengan wajah kaku, kemudian mengaku, "Dan, dia istriku."

"Apa? Serius?" Johanes terkesiap, tidak menutupi keterkejutannya sama sekali. "Interaksi seorang teman tidak seperti itu, Rob, mereka berpelukan, bahkan Hanes mencium puncak kepalanya. Gadis itu sungguh—tanya Berry kalau kamu tidak percaya ucapku."

Robbin mengepalkan tangan kuat, hingga buku-jari memutih. Sikap tenang di luar dirinya, berbanding terbalik dengan kondisi hati saat ini yang tengah bergolak penuh amarah.

Ini London, berpelukan bahkan bercium di tempat umum sangatlah wajah, hibur Robbin terhadap diri sendiri sampai pikiran tidak terima lebih mendominasi. Pecundang, biar gimana pun, Clay berdarah Indonesia asli, tapi juga tidak ada alasan menolak mentah-mentah informasi dari Johanes.

Johanes berbicara tanpa pertimbangan, ketika melihat sedikit kebimbangan di seraut wajah Robbin. Tiada niat buruk, dia hanya ingin memastikan sang teman menemukan pasangan yang baik. "Apa kamu menikahi gadis penghibur, semacam gundik yang bisa saja kamu tinggal sewaktu-waktu."

Seluruh bagian tubuh Robbin memanas, dia berdiri cepat sambil menggebrak meja. Kemudian bergegas pergi dari hadapan teman baiknya setelah melontarkan kecaman tegas.

Robbin tertawa miris kala mengenang percakapan singkat bersama sang teman. Dua kali jatuh cinta dan keduanya berhasil menorehkan luka tidak berdarah. Namun, sungguh sakit yang tercipta pedihnya tak terkira.

"Hebat sekali, hah! Mari kita lihat siapa yang sanggup bertahan lebih lama, Sayang." Robbin bergumam, bersumpah akan membuat perhitungan kepada dua pengkhianatan itu, jika benar. Sebelum menilai sesuatu, dia harus mencari tahu terlebih dahulu.

Mesin mobil Robbin berderu, dia memacu kendaraan roda empat itu ke jalan raya. Dengan kecepatan sedang dia menuju tempat tinggalnya. Sesekali berhenti kalau lampu lalu lintas berganti warna merah.

Robbin kembali mengemudi, sebagai agensi rahasia dia cukup terlatih dalam mengolah perasaan. Meski hati meradang pikiran dituntut setenang air yang dalam.

Kesabaran inilah yang membuat kinerja Robbin berkembang, dia jarang sekali membuat kesalahan. Dan, kebiasaan itu diterapkan untuk menghadapi Clay. Dirinya akan membuka topeng wanita itu pelan-pelan.

Setelah menempuh perjalanan sekurang-kurangnya dua puluh menit, Robbin sudah tiba di depan rumah, dia mengarahkan mobil ke garasi. Kemudian, lekas masuk melalui pintu penghubung ke dapur. Kaki jenjangnya mengambil langkah panjang menuju kamar dan mengeluarkan kantong cokelat dari dalam lemari.

Robbin menimbang-nimbang, selain kamera pengintai dia perlu memasang alat penyadap suara. Jari jemarinya bergerak cepat saat menempatkan alat-alat canggih itu di setiap ruangan.

Karena baru terpikir tentang alat penyadap, Robbin teringat belum menyiapkan seperangkat kompleks. Dia pun segar turun ke ruangan yang ada di bawah rumah.

Kurang lebih lima belas menit Robbin berada di bawah sana, setelah mengambil apa yang dibutuhkan, dia menuju rumah utama. Alat-alat penyadap itu dipasang dengan begitu terampil di tempat-tempat tersembunyi.

Karena tidak ingin melewatkan informasi sekecil apa pun terkait kedekatan Hanes dan Clay, Robbin memasang lebih banyak alat penyadap.

"Perangkap telah siap, mari kita tangkap basah. Dengan begini, aku memiliki alasan untuk meninggalkannya tanpa merisaukan keamanan, ayah, ibu dan Monica," gumam Robbin.

Usai melakukan aktivasi tersebut, Robbin segera membersihkan diri dan merebahkan tubuh lelahnya ke atas tempat tidur. Dan, tiba-tiba ponsel berdering.

"Halo!"

1
pєkαᴰᴼᴺᴳ
sudah buat tato, kalau tidak jodoh gimana wkwkwk
Mega: Kikikik, alamat melekat seumur hidup
total 1 replies
Sweety
Semangat nulisnya thor, aku bawa 28 like mendarat di karyamu di tunggu yah backnya di kedua novel ku 🤗🌹.
Mega: Kak usaha jangan boom like, ya, karena bisa menurunkan POP.
total 1 replies
𝓓𝓮𝓪
hus pergi jgn ganggu
𝓓𝓮𝓪
ciee uhuk uhuk
Zey ✨️
Yakin sekali anda Clay, dan apa yg membuatmu berpikir bahwa Robbin mencintaimu?
Mega: Harus PeDe, kikikii
total 1 replies
💙 Ɯιʅԃα 🦅™📴
Clay bucin banget sama Robin tapi Robin malah cuek bebek
Mega: Mati rasa dia, Kak.
total 1 replies
.
licik kamu robbin
A girl 👸
Segitunya Clay,padahal masih banyk di luar sana yg lebih baik dari Robbin loh
ᄂ⃟ᙚRahma💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
dasar Robin minta di tonjok tuh orang
☠ᵏᵋᶜᶟ🍾⃝𝚀ͩuᷞεͧεᷠnͣ
Hem Hanes Hanes, malu sendiri kan
☠ᵏᵋᶜᶟ🍾⃝𝚀ͩuᷞεͧεᷠnͣ
wkwkwk damar malu malu ya
N. M. Aksan
Tidak! kesucian Robbin ternoda.
Mega: kikikik
total 1 replies
Rini Antika
Selamat akhirnya tamat jg dan berakhir bahagia..🎉🎉🎉
Rini Antika
Damar suka sama Adiknya Robbin ya?
Mega: Yah, jalaran tresno soko kulino. kikiki
total 1 replies
Rini Antika
udah bucin ya 😜
pєkαᴰᴼᴺᴳ
namanya juga judi harus menerima kekalahan Jangan ngamuk
Mega: Lagi panas pikirannya, Kak. kikiki
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ🍾⃝𝚀ͩuᷞεͧεᷠnͣ
Semakin keren alur ceritanya kak
Mega: Terima kasih
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ🍾⃝𝚀ͩuᷞεͧεᷠnͣ
Luar biasa keren



cerita yang sangat menarik,
semangat dalam berkarya semoga semakin sukses
Mega: Terima kasih
total 1 replies
.
Robbin koq ga bawa cincin pernikahan nya sih
.
ceritanya sangat menarik
Mega: Terima kasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!