NovelToon NovelToon
Dia Tak Lagi Membujuknya

Dia Tak Lagi Membujuknya

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Keiko Hartono punya rahasia.

Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.

Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.

Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.

Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.

Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.

Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.

"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."

Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1 - Prolog: Pesan yang Terlambat

Cowok itu duduk sendirian di lantai paling atas gedung mangkrak di Dago.

Angin malam Bandung menyusup lewat dinding semen yang belum selesai, membawa bau debu, hujan lama, dan asap kembang api dari jalanan di bawah. Kota sedang ramai. Klakson, tawa, suara orang menghitung mundur, semuanya naik sampai ke tempat itu, pecah menjadi gema yang dingin di antara tiang beton.

Kelvin Susanto tidak melihat ke atas.

Di atas kepalanya, langit meledak dalam warna merah, emas, lalu putih. Cahaya sebentar-sebentar menyapu wajahnya yang pucat, menempel di sudut mata yang kering, di rahang yang terkunci terlalu kuat, di bibir yang sejak tadi tidak mengucapkan apa pun.

Tangannya menggenggam HP dengan layar retak.

Retaknya menjalar dari sudut kanan atas, seperti jaring laba-laba tipis. Di layar itu, sebuah voice message WhatsApp berhenti di detik terakhir. Nama kontaknya masih sama, tidak pernah dia ganti.

Nona Guru ❤

Kelvin menatap nama itu lama sekali. Ibu jarinya menggantung di atas tombol putar ulang. Dingin malam membuat buku-buku jarinya memutih, tapi dia seolah tidak merasakannya.

Dari bawah, suara orang-orang meledak lagi.

"Tiga! Dua! Satu!"

"Selamat Tahun Baru!"

Kembang api pecah bersamaan.

Kelvin menekan tombol replay.

[Voice message - 00:07]

"Maaf..."

Suara perempuan itu kecil. Pelan. Ada napas yang tertahan di sela satu kata itu, seperti seseorang yang tersenyum sambil menahan sakit.

"Aku nggak bisa menunggumu, Kelvin."

Pesan itu selesai.

Kelvin tidak bergerak.

Di tahun baru, orang-orang membuat janji. Mereka berpelukan, mengirim stiker, memotret langit, menulis harapan seolah satu tahun ke depan pasti bersedia menunggu mereka. Kelvin dulu pernah percaya hal semacam itu tidak penting. Hidupnya terlalu berantakan untuk diisi harapan.

Lalu seorang cewek pendiam datang, duduk di sebelahnya, dan mengajarinya cara menulis jawaban satu per satu.

Dia mengajarinya membuka buku.

Mengajarinya menahan tinju.

Mengajarinya memanaskan susu kotak di saku jaket karena minuman dingin tidak baik untuk perut.

Mengajarinya bahwa seseorang bisa memanggil namanya dengan begitu lembut, sampai nama itu terasa seperti rumah.

Kelvin menekan replay lagi.

"Maaf..."

Kali ini, bibirnya bergerak sangat pelan.

"Jangan minta maaf."

Tidak ada yang menjawab.

Hanya angin yang melewati lubang jendela tanpa kaca. Hanya suara petasan kecil di kejauhan. Hanya pesan tujuh detik yang sudah dia putar entah berapa puluh kali, sampai baterai HP-nya turun ke lima persen dan peringatan merah muncul di bagian atas layar.

Layar menyala lagi oleh panggilan masuk.

Bagas.

Kelvin menatap nama itu tanpa mengangkat telepon.

Panggilan mati.

Beberapa detik kemudian, pesan baru masuk.

**Bagas**: Kel, lu di mana?

**Bagas**: Dimas nyariin lu dari tadi.

**Bagas**: Jangan bikin gue panik, bangsat.

Pesan berikutnya datang dari Dimas.

**Dimas**: Angkat.

Satu kata. Seperti biasa.

Kelvin menutup notifikasi itu dengan jari gemetar. Bukan karena dia tidak tahu mereka khawatir. Justru karena dia tahu. Karena jika dia mengangkat, Bagas akan berteriak, Dimas akan diam terlalu lama, lalu keduanya akan bertanya hal yang sama.

Kel, lu baik-baik aja?

Pertanyaan itu sekarang terdengar seperti lelucon paling kejam.

Bagaimana mungkin dia baik-baik saja?

Kelvin menunduk. Di sebelah kakinya ada kotak kue kecil dari toko roti yang belum dibuka. Pita putihnya sudah kotor terkena debu semen. Di atas kotak itu, ada buket mawar putih yang beberapa kelopaknya mulai layu karena terlalu lama dibawa ke mana-mana.

Dia membelinya sore tadi.

Dengan bodoh, dia sempat berdiri di depan etalase kue, memilih yang paling cantik, bertanya pada pelayan apakah mereka punya lilin angka delapan belas. Pelayan itu tersenyum, mungkin mengira cowok SMA bermata tajam itu sedang gugup merayakan ulang tahun pacarnya.

Kelvin tidak membantah.

Dia memang ingin merayakan ulang tahun seseorang.

Seseorang yang pernah berkata, "Kalau kamu bisa mengejar langkahku, aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."

Dia sudah berlari.

Dia benar-benar berlari sampai dadanya hampir pecah.

Tapi ketika dia sampai di garis akhir, orang itu sudah tidak ada di sana.

HP-nya bergetar lagi. Kali ini bukan panggilan, melainkan alarm lama yang belum sempat dia hapus.

21.00 - Ingatkan Nona Guru makan.

Kelvin menatap tulisan itu.

Untuk pertama kalinya malam itu, sesuatu di wajahnya retak.

Dia tertawa pelan. Pendek. Tidak ada suaranya. Hanya udara yang keluar dari dadanya seperti benda tajam.

"Nona Guru," gumamnya, suara serak karena terlalu lama diam. "Udah makan belum?"

Pertanyaan itu melayang ke ruang kosong.

Tidak ada balasan "Iya."

Tidak ada pesan menyuruhnya tidur.

Tidak ada foto tangan kecil yang memegang pulpen ungu muda, menandai soal mana yang harus dia kerjakan malam ini.

Kelvin menekan voice message itu lagi.

"Maaf..."

Dia memejamkan mata.

Dalam gelap di balik kelopak matanya, suara itu terdengar lebih dekat. Seolah cewek itu masih duduk di bangku sebelahnya, rambut diikat ekor kuda, wajah sedikit pucat, tangan dingin menyentuh buku latihan, lalu memanggil namanya dengan cara yang selalu membuatnya ingin menoleh.

Kelvin.

Dan dia, seperti orang bodoh yang terlalu yakin pada hari esok, selalu menjawab:

Aku di sini.

Kelvin membuka mata. Langit sudah mulai kosong. Kembang api tinggal asap tipis yang menggantung di atas Bandung. Orang-orang di bawah masih tertawa, tapi suara mereka terdengar jauh sekali, seperti berasal dari dunia lain.

Dia mengusap layar HP dengan ibu jari. Retakan kaca menggores kulitnya, meninggalkan garis merah kecil. Darah muncul setitik.

Kelvin tidak peduli.

Dia menekan replay untuk kesekian kalinya.

"Maaf... Aku nggak bisa menunggumu, Kelvin."

Kali ini, dia menjawab dengan suara hampir tidak terdengar.

"Aku sudah sampai."

Angin menelan kalimat itu sebelum jatuh ke bawah.

Kotak kue tetap tertutup. Mawar putih tetap tergeletak di lantai. Panggilan dari Bagas masuk lagi, bergetar di telapak tangannya, memaksa dunia tetap bergerak ketika miliknya sudah berhenti.

Kelvin mematikan layar.

Gelap langsung menutup wajahnya.

Enam belas bulan sebelumnya, seorang cewek pindahan berjalan masuk ke Kelas XI-IPA 4 SMA Bina Bangsa.

Dia membawa tas rapi, wajah lembut, dan rahasia yang tidak boleh diketahui siapa pun.

Lalu Pak Arif menunjuk kursi kosong di sebelah cowok paling bermasalah di sekolah itu.

"Keiko, kamu duduk di sebelah Kelvin."

1
Yani
yuk lanjut crita nya yuk Thorr 🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!