NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua

Status: tamat
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Karir / Kehidupan alternatif / Chicklit / Tamat
Popularitas:222.3k
Nilai: 5
Nama Author: dee Irma

Gwen adalah seorang model dan artis peran yang terkenal di jagad hiburan. Kehidupan yang gemerlap dunia keartisan dimilikinya, anak dari keluarga kaya raya, meskipun orang tuanya berpisah, namun dia tetap memiliki kehidupan yang bahagia sebagai seorang anak.
Memiliki tunangan seorang pengacara yang terkenal dan tampan.
Kehidupannya yang dimiliki seorang Gwen adalah impian hampir semua wanita.
Namun, semua berubah setelah kecelakaan maut membuatnya harus merelakan raganya dikuburkan. Jiwanya melayang ke dunia lain dan akhirnya masuk ke tubuh orang lain yang berbeda 180 derajat dari dirinya.
Mampukah Gwen menjalani semuanya? Bagaimana hubungannya dengan tunangannya? Konflik baru muncul dari tubuh yang menjadi tempatnya saat ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dee Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Acara Pernikahan Sepupu Laura

Lisa menunggu jadwal syutingnya yang molor kembali gara gara Miranda terlambat lagi. Mas Andre mulai geram karena selalu saja terlambat menunggu Miranda.

"Sangat tidak profesional sekali orang itu!" Ucapnya dengan kesal. Apalagi bukan hanya Lisa, ada beberapa pemain baru yang masuk ke agensi Mas Andre juga bermain di sinetron Istri Yang Tertukar, rating penonton semakin naik, membuat penulis scriptnya harus memperluas jalan cerita supaya episodenya semakin panjang.

"Sabar Mas, jangan marah marah, dinikmati saja. Yuk kita buat video tik tok saja!" Hibur Lisa iseng. Mas Andre yang masih kesal hanya cemberut saja.

"Inilah rupa Bos galak kalo lagi nagih hutang, tapi yang ditagih lebih galak..!" Lisa mengarahkan kamera ponsel ke wajah Mas Andre yang masih terlihat kesal.

"Apaan nih bocil..!" Gerutunya, membuat Lisa makin semangat membuat Video wajah Mas Andre, hingga si manager menghela napas panjang menata emosinya.

"Sejak kehilangan Gwen, cuma Lo dan Anita yang bisa menghibur gue."

"Kita semua kehilangan sosok yang periang, seperti ga punya masalah. Padahal kalo dipikir-pikir jadwalnya saja sudah full, tidur saja saat perjalanan saja."

"Gue kangen dia, Nek." Mas Andre mengalihkan pandangannya supaya tidak ketahuan kalo menangis. Lisa duduk sambil menyandarkan kepalanya ke bahu managernya itu. Ingin rasanya ia menceritakan keberadaan Gwen, tapi dia ingat pesan Gwen, tidak boleh menceritakan pada siapapun.

Setengah jam kemudian syuting mulai kembali dengan lancar. Hingga selesai 4 episode. Lisa melirik arlojinya, jam menunjukkan pukul 8 malam.

Ia memasukkan naskah yang baru diberikan oleh kru film untuk beberapa episode ke depan. Beberapa snack yang tersisa dari bagian konsumsi langsung dimasukkan ke dalam tas juga. Selama tidak ada Gwen, harus mandiri soal menu makanan.

Mas Andre sudah pulang bersama artis barunya lebih dahulu.

"Oh...oh...yes...oh.. no...oh..."

Terdengar sayup sayup suara dari ruang ganti pemain, Lisa memeriksa tanpa bersuara. Keadaan sangat sepi, tinggal beberapa kru saja di area syuting, namun mereka kebanyakan berkumpul di teras rumah yang disewa untuk pembuatan film.

Lisa menutup mulut dengan kedua tangannya, saat melihat Miranda dan sutradara sedang melakukan hal cabul kembali, kini di ruang ganti.

"Ayo.. teruskan.." pinta Miranda yang sudah berada di meja rias sambil membuka pahanya memperlihatkan area intimnya. Sutradara itu tampak menjilati area itu dengan buasnya sambil meremas gunung kembar Miranda. Lalu sutradara itu memasukkan miliknya ke lubang kenikmatan Miranda, terdengar suara saling menuju puncak nikmat duniawi keduanya. Tubuh keduanya bergetar tak lama kemudian.

"Kok minta jatah di sini sih? Kalo ada yang liat gimana?" Tanya Miranda manja.

"Kamu gemesin sih, pake acara menggoda segala" jawab sutradara, Miranda tersenyum manja.

"Gimana peranku tadi? Bagus tidak?"

"Hmm... Ini hukuman buat yang suka menggoda sutradara pas lagi syuting!"

Sang sutradara itu membalikkan tubuh Miranda, lalu menyodoknya dari belakang ala doggy, terdengar Miranda merintih keenakan.

Lisa buru buru meninggalkan ruangan itu sebelum ketahuan. Ia langsung keluar menuju motornya. Di luar masih banyak kru yang sedang nongkrong.

"Loh, belum pulang Lo? Tanya seorang kru.

"Belum Mas, tadi beres beres dulu. Gue balik dulu ya semua!" Lisa melambaikan tangan pada semua yang ada di tempat itu.

"Hati hati di jalan!" Sahut seorang kru.

"Ya, makasih mas!"

Lisa melajukan kendaraannya menuju rumah Laura.

*****

Proses siraman Sekar, sepupu Laura sedang berlangsung. Gwen memperhatikan dengan seksama semua ritual adat tersebut. Ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti acara adat menjelang pernikahan yang ia ikuti.

Dulu dia hanya berpikir acara adat itu ribet dan melelahkan. Mama yang memiliki darah Jawa dan keluarga Ben, sempat menginginkan memakai acara adat, namun ia dan Ben memutuskan tidak. Mereka berencana menikah di Bali dengan konsep private saja. Hanya keluarga dan teman dekat saja yang hadir. Namun, belum terwujud semuanya, Tuhan telah memisahkan mereka. Ya, secara teknis tubuh Gwen telah mati, tapi jiwanya masih, namun pindah ke tubuh Laura.

Banyak sekali ritual yang harus dijalani oleh Sekar, semua itu memiliki makna dan doa yang baik untuk melancarkan rumah tangganya kelak. Entahlah tiba tiba saja Gwen, menyukai semua prosesi adat Jawa yang ia lihat hari ini.

Sekar berdandan ala Jawa, terlihat anggun dan berbeda kala itu. Gwen menjawil Dewa dan berbisik.

"Itu airnya mau dibawa ke mana?"

"Mau diberikan ke pengantin prianya, Mbak."

"OOO.."

Malamnya proses Midodareni berlangsung, pihak pengantin pria datang dengan rombongan membawa seserahan. Acara berlangsung lancar, doa doa terlantun malam itu supaya pernikahan berlangsung lancar dan langgeng. Malam itu pengantin belum dapat saling temu, Gwen ke kamar Sekar yang sedang makan ditemani Bulik Tiwi, dan Ibu Laura.

"Masuk, Nduk!" Jawab Bulik, saat kepala Gwen menyembul mengintip dari pintu.

"Ada apa?" Tanya Ibu heran.

"Tidak Bu, mau bertemu Sekar. Mau mengucapkan selamat." Ucap Gwen malu malu.

Ia menatap sepupu Laura itu dengan tatapan kagum. Usianya lebih muda 2 tahun dari Dewa, namun dengan riasan paes Jawa membuat wajahnya terlihat lebih dewasa namun anggun seperti seorang ratu.

Gwen memberikan sebuah kotak pada Sekar, "Maaf aku hanya bisa memberi kado ini. Semoga langgeng dan bahagia selalu ya." Sekar terkejut, menerima pemberian sepupunya itu dengan haru bercampur bahagia.

"Mbak, terima kasih. Malah repot repot seperti ini, aku sudah sangat senang Mbak Laura bisa datang hadir, bukan hanya untukku, tapi untuk semua keluarga kita. Kami merindukanmu Mbak." Sekar memeluk Laura. Ibu dan Bulik Tiwi hanya menatap kejadian penuh haru itu.

"Terima kasih Laura, malah repot seperti ini." Bulik menepuk pundak Laura.

"Tidak apa apa Bulik, saya juga terima kasih diterima dengan baik di sini."

"Kamu tuh ngomong apa? Kamu bagian dari keluarga ini, sampai kapanpun akan selalu diterima. Baik buruknya kamu, kita tetap keluarga." Bulik memeluk Laura, Ibu ikut memeluk mereka dengan bahagia.

Gwen merasakan ketulusan keluarga yang lama tidak pernah ia rasakan. Keluarga Mama di Semarang, juga sudah jarang berkumpul. Mama lebih senang berkumpul dengan keluarga Papa di Jerman atau dengan teman teman sosialita, atau terkadang Mama juga sering menghabiskan waktu di panti asuhan untuk berbagi. Selama itu Gwen merasa panti asuhan adalah bagian dari keluarga, maka ia sering datang ke sana.

Keesokan paginya, pintu kamar Gwen diketuk Ibu membangunkannya, supaya bersiap siap untuk berdandan untuk acara pernikahan Sekar.

Dengan mata masih lengket, Gwen mengguyur tubuhnya dengan air dingin menyadarkan dirinya dari keinginan untuk tidur kembali.

Selesai mandi ia menemui Ibu, mereka pergi berjalan kaki menuju kediaman Bulik Tiwi, ibunya Sekar.

Di sana Bude Ning sudah hadir bersama Mbak Nur dan Dian, putrinya, yang juga sepupu Laura. Melihat Laura datang mereka langsung memeluknya. Usia mereka sepertinya tak terpaut jauh dengan Laura.

Mbak Nur seorang bidan bertugas di Bantul, memiliki tiga anak. Lalu Mbak Dian memiliki usaha batik di Beringharjo dan di rumahnya, ia memiliki dua orang anak.

Gwen mencoba pakaian kebaya seragam yang disediakan. Sebenarnya, Gwen telah beberapa kali memakai pakaian kebaya, saat menjadi model di catwalk, ataupun saat pergi ke pernikahan dengan adat Jawa. Tapi kali ini berbeda, ia bukan hanya memakai pakaiannya saja, namun ikut dalam setiap prosesinya.

Beberapa orang membantu merias wajah dan menyanggul rambut mereka. Gwen pasrah saat rambutnya disasak untuk dipasang sanggul.

"Mbak, saya boleh pake make up-nya?" Tanya Gwen, saat melihat perias perias itu sibuk merias yang lain.

"Boleh Mbak, silahkan." Jawab salah seorang perias sambil tersenyum.

Gwen yang terbiasa merias wajah sendiri selama ini, memilih beberapa warna natural untuk wajahnya. Selesai bagian mata, ia memoles pipinya. Terakhir ia memilih warna burgundy untuk bibirnya.

Ibu terpesona melihat putrinya yang bersolek sendiri dan hasilnya sangat cantik. Laura tersenyum melihat Ibu yang menatapnya, lalu mendekatinya membantu memoleskan warna natural untuk menyamarkan kerutan di wajahnya.

Entah mengapa saat bersama Ibu Laura ia juga merasa dekat, seperti sedang bersama Mamanya. Atau mungkin ia telah jarang bersama Mamanya selama ini.

"Kenapa Bu?" Gwen bertanya saat Ibu tersenyum.

"Kamu cantik sekali." Puji Ibu. Perias yang membantu mereka dandan juga tertegun dengan kemampuan merias yang dimiliki oleh Gwen.

"Ternyata kamu pinter ngrias selama ini? Baru tahu Bude!" Puji Bude Ning.

"Sini anak anak biar Tante yang rias!" Panggil Gwen pada keponakan keponakannya. Gwen yang senang dengan anak anak, merias mereka dengan suka cita. Anak anak duduk mengantre Gwen merias satu persatu.

1
momi
mampir kayaknya menarik
Dhevandra Alfariano_03
Ben emang salah plin-plan maniak gampang tergoda tapi kalo mulai awal Gwen jujur pasti Ben berubah kan Ben selalu ingat Gwen tapi gimana lagi jika yg meninggal g kasih tau yang sebenarnya
Dhevandra Alfariano_03
cihhh cowok gampangan kamu Ben jijik aq lihatnya katanya cinta mati ke Gwen tapi tergoda ulat bulu menjijikkan ganti aja MC cowoknya enek plin plan/Panic//Panic/
ARA
Walahhh... Frea + Miranda😶
ARA
Misteri kehidupan kedua Gwen ternyata membuka tabir kisah hidup Gwen dan make over Laura 😊
ARA
"Kamu masih istri..." #typo
ARA
Idihh Lisa comel😁
Yg ga kenal Radit itu Gwen bukan Laura😜
ARA
😍👍
ARA
"Lisa berhenti tepat... #typo
ARA
Wisnu lepas dari mulut buaya masuk mulut harimau😂😂😂😂
ARA
Mamanya Ben?? #typo
ARA
Pada Laura#typo
ARA
Wisnu ena-ena dg Miranda yg piala bergilir smoga ga ketiban sial dpt penyakit kelamin wkwkkwkwk
ARA
😂😂😂😂Dewa mati gaya di ikutin Laura terus 😂
ARA
Laura bakalan jadian dg Ben atau Dirga ya? Tapi klo inget kata malaikat yg bilang ga boleh mengganti takdir Laura, kemungkinan jadiannya dg Dirga😶
yulia lindasari
Luar biasa
Ketutsupriyanto
tambahin extra chapter tor
dee Irma: Sedang dipikirkan kak.... Terima kasih sudah mengikuti ceritanya 🙏
total 1 replies
singa betina
endingx mreka g nikah ni thor
Ketutsupriyanto
kak tambahin bonus capter Doong biarin Laura bahagia pokoke jgn Ama si ben
Ketutsupriyanto
kenapa GK si Ben atwo sapa gitu yg Uda nyakiti Laura kenak karma
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!