NovelToon NovelToon
Anak CEO Memanggilku Mama

Anak CEO Memanggilku Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst / Pengasuh / Ibu Tiri / Pelakor jahat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20 - Rekaman yang Hilang

Keesokan paginya, nama Pradipta menjadi bahan pembicaraan banyak grup WhatsApp.

Potongan video pesta ulang tahun Rania menyebar cepat. Tidak semuanya lengkap. Ada yang hanya menampilkan Naya berkata pernah dipaksa mengaku. Ada yang hanya menampilkan Rayyan membela Naya. Ada yang memotong bagian Arkan mengatakan kasus akan dibuka kembali.

Judul-judul gosip muncul tanpa ampun.

Putri Pradipta Mantan Napi Mengaku Dijebak.

Anak Wiratama Membela Perempuan Misterius.

Drama Ulang Tahun Sosialita Berubah Jadi Skandal Keluarga.

Naya tidak membaca semuanya.

Yuni yang membaca, lalu marah sendiri.

"Orang-orang ini kalau tidak tahu lengkap kenapa ikut komentar?"

Naya sedang memasang sepatu Lila untuk sekolah. "Karena komentar gratis."

"Kamu terlalu tenang."

"Tidak. Aku cuma sudah lelah."

Lila menatapnya.

Naya mengusap kepala anak itu.

"Hari ini Mama antar sampai kelas. Kalau takut, bilang dengan tangan."

Lila mengangguk.

Di sekolah, suasana berubah. Beberapa orang tua menatap Naya lebih lama dari biasa. Ada yang pura-pura sibuk, ada yang terang-terangan berbisik.

Rayyan berlari menyambut Lila.

"Aku sudah simpan kursi sebelah aku."

Bu Karin menahan senyum. "Rayyan, tempat duduk diatur guru."

"Kalau begitu Bu Guru atur dia sebelah aku."

Naya ingin menegur, tetapi Lila justru memegang ujung baju Rayyan dan berdiri di dekatnya.

Bu Karin melihat itu, lalu mengalah.

"Baik. Untuk hari ini."

Arkan sudah menunggu di luar kelas.

Naya menatapnya. "Bapak tidak perlu muncul setiap hari."

"Hari ini perlu."

"Karena video?"

"Karena setelah video, keluarga Pradipta mungkin panik."

Naya tidak menyangkal.

Mereka berjalan ke taman sekolah yang sepi.

Arkan menyerahkan map cokelat.

"CCTV toko dekat rumah Pradipta. Empat tahun lalu."

Tangan Naya tidak langsung mengambil.

"Apa isinya?"

"Mobil yang dipakai dalam kecelakaan masuk ke rumah Pradipta sebelum kamu tiba."

Naya memejamkan mata.

Ia sudah tahu ia tidak bersalah. Ia hidup dengan kebenaran itu selama empat tahun. Tapi mendengar bukti itu ada tetap membuat lututnya lemas.

Arkan melanjutkan, "Frame berikutnya menunjukkan Rania turun dari kursi pengemudi."

Naya mengambil map itu.

Tangannya gemetar.

"Kenapa baru sekarang ditemukan?"

"Rekaman asli tidak ada di berkas. Yang ini dari toko kecil seberang jalan. Pemiliknya menyimpan hard drive lama karena pernah diminta menghapus tapi tidak sempat."

"Diminta siapa?"

"Orang Pradipta."

Naya tertawa pelan.

"Tentu."

Arkan menatapnya. "Aku sudah minta tim hukum menghubungi korban kecelakaan. Keluarganya menerima kompensasi besar setelah vonis. Tapi korban masih hidup. Kita bisa minta kesaksian ulang."

"Kita?"

Arkan diam sebentar.

"Kamu."

Naya menatap map.

Di dalamnya mungkin ada awal dari kebebasan yang terlambat.

Namun kebebasan terlambat tetap tidak mengembalikan empat tahun. Tidak mengembalikan kelahiran yang dicuri. Tidak mengembalikan makam kosong yang ia tangisi.

"Saya mau salinan digital," katanya.

"Sudah ada di flashdisk."

"Saya mau pengacara sendiri."

"Aku bisa..."

"Saya mau pengacara sendiri."

Arkan menghentikan kalimatnya.

"Baik."

"Dan saya mau semua dokumen kelahiran Lila."

Arkan menatapnya.

"Aku sedang mencari."

"Bukan hanya Lila."

Mereka saling menatap.

Nama Rayyan tidak disebut, tetapi berdiri di antara mereka.

Arkan berkata pelan, "Aku juga mencari."

Naya menelan sesuatu yang sakit.

"Jangan beri saya harapan sebelum ada bukti."

"Aku tahu."

"Bapak tidak tahu."

"Mungkin," Arkan mengakui. "Tapi aku mulai mengerti."

Naya hampir mengatakan sesuatu, tetapi ponselnya bergetar.

Telepon dari nomor rumah sakit.

Ia mengangkat cepat.

"Bu Naya? Ibu Sari baru saja sesak. Dokter meminta keluarga datang."

Wajah Naya berubah.

Arkan langsung berkata, "Aku antar."

Kali ini Naya tidak menolak.

Di rumah sakit, Nenek Sari sudah lebih stabil ketika mereka tiba, tetapi wajah dokter tidak ringan.

"Kondisinya naik turun. Kami sarankan perawatan intensif beberapa hari."

Naya mengangguk meski pikirannya berisik. "Lakukan yang terbaik."

Setelah dokter pergi, Nenek Sari membuka mata.

"Naya..."

"Naya di sini, Nek."

Nenek melihat Arkan di belakangnya.

"Dia siapa?"

Naya ragu.

Arkan maju sedikit dan menunduk sopan.

"Arkan Wiratama."

Mata Nenek Sari berubah.

Tidak ada orang yang pernah memberitahunya lengkap, tetapi orang tua sering membaca luka dari cara anaknya diam. Ia melihat tubuh Naya menegang saat pria itu mendekat.

"Kamu yang punya anak laki-laki itu?"

Arkan mengangguk.

"Iya, Nek."

Nenek Sari menatapnya lama.

"Jangan sakiti Naya."

Kalimat itu sederhana.

Arkan menerima tanpa pembelaan.

"Saya akan berusaha tidak melakukannya."

Nenek Sari menggeleng lemah.

"Bukan berusaha. Jangan."

Arkan terdiam.

Naya menggenggam tangan Nenek. "Nek, jangan marah. Nanti sesak lagi."

"Nenek marah boleh. Nenek tua."

Naya hampir tersenyum sambil menangis.

Siang itu, sementara Naya menjaga Nenek, Raka datang membawa kabar baru. Ia meminta Arkan keluar sebentar.

Di koridor, Raka menyerahkan tablet.

"Pak, kami dapat kontak mantan staf administrasi rumah sakit rujukan empat tahun lalu. Dia bilang ada dua versi catatan kelahiran."

Arkan menatap layar.

Raka menurunkan suara.

"Versi pertama: Naya Prameswari melahirkan bayi kembar, laki-laki dan perempuan. Versi kedua yang masuk sistem luar: bayi perempuan meninggal, bayi laki-laki tercatat lahir dari Rania Pradipta di ruang berbeda."

Arkan merasa darahnya membeku.

"Di mana staf itu sekarang?"

"Sembunyi. Dia takut. Katanya ada yang mengancamnya setelah Rania tahu kita mencari."

"Amankan dia."

"Sudah. Tapi ada lagi."

Raka menggeser layar.

"Ada nomor gelang bayi. Nomor gelang bayi laki-laki Naya cocok dengan nomor awal di catatan medis Rayyan sebelum data diubah."

Arkan tidak bergerak.

Semua suara koridor hilang.

Rayyan.

Anaknya.

Anak Naya.

Anak yang selama empat tahun memanggil perempuan yang salah sebagai mama.

Arkan memegang tablet itu begitu kuat sampai jarinya memutih.

"Jangan beri tahu Naya dulu," katanya akhirnya, suara berat.

Raka ragu. "Pak?"

"Aku butuh bukti final. DNA independen. Dokumen asli. Saksi. Kalau aku memberi harapan lalu salah, aku menghancurkannya lagi."

Raka mengangguk pelan.

Namun di balik pintu ruang rawat yang sedikit terbuka, Naya berdiri tanpa suara.

Ia tidak mendengar semuanya.

Hanya beberapa kata.

Bayi kembar.

Rania.

Rayyan.

Nomor gelang.

Tangannya mencengkeram sisi pintu.

Arkan berbalik dan melihatnya.

Wajah Naya pucat, matanya basah, tetapi suaranya nyaris tidak terdengar.

"Apa yang Bapak sembunyikan dari saya?"

Arkan tidak bisa menjawab cukup cepat.

Dan dalam jeda itu, Naya sudah tahu.

Ada sesuatu tentang Rayyan.

Sesuatu yang bisa menghancurkan atau menghidupkannya kembali.

Naya tidak masuk ke ruangan.

Ia berdiri di depan pintu dengan tangan masih menempel pada kayu, seperti tubuhnya lupa cara bergerak.

"Katakan," ucapnya.

Arkan menutup tablet perlahan. "Naya, dengar dulu."

"Saya sudah terlalu sering disuruh dengar dulu." Suaranya mulai bergetar. "Dulu Ayah saya bilang dengar dulu, lalu saya masuk penjara. Rania bilang dengar dulu, lalu anak saya hilang. Sekarang Bapak bilang dengar dulu. Setelah ini apa?"

Raka mundur satu langkah, memberi ruang, tetapi ia tidak pergi.

Arkan berdiri.

"Ada indikasi Rayyan berkaitan dengan kelahiranmu empat tahun lalu."

Naya tertawa pendek. Tawa itu lebih mirip sakit.

"Berkaitan?"

"Aku belum punya hasil DNA."

"Saya tanya apa yang Bapak sembunyikan."

Arkan menatap matanya. Untuk pertama kalinya, ia memilih tidak bersembunyi di balik kata aman.

"Ada catatan gelang bayi. Nomor gelang Rayyan sama dengan nomor bayi laki-laki yang tercatat lahir dari pasien atas nama Naya Prameswari."

Ruangan itu sunyi.

Naya menatapnya seperti tidak mengerti bahasa manusia.

Lalu bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara.

Rayyan.

Nama itu lewat di wajahnya seperti cahaya yang terlalu terang. Anak yang memanggilnya Mama. Anak yang tubuhnya menerima darahnya. Anak yang selama ini tidur di rumah orang yang membuatnya kehilangan segalanya.

"Tidak," bisiknya.

Arkan melangkah, tetapi Naya mundur.

"Jangan dekat."

Ia memegang dadanya sendiri. Napasnya patah-patah.

"Kalau itu benar, berarti saya pernah berdiri di depan anak saya dan tidak mengenalinya."

"Kamu tidak tahu."

"Seorang ibu seharusnya tahu."

"Tidak saat semua orang membuatmu percaya dia mati."

Air mata Naya jatuh begitu saja.

Di lorong, suara kecil terdengar.

"Mama?"

Naya menoleh.

Rayyan berdiri dengan piyama rumah sakit, satu tangan menggenggam tiang infus yang didorong perawat. Anak itu menatapnya bingung.

"Mama Naya kenapa nangis?"

Naya menutup mulutnya.

Arkan tidak bergerak.

Karena di antara mereka bertiga, hanya Rayyan yang belum tahu bahwa satu kata sederhana dari mulutnya baru saja membuka luka yang paling dalam.

1
Allea
emg belom tes dna juga itu si arkan 😑naya gimana sih kamu🙄
fergusooo🙈
SEMANGATTT KAKAK💪🏻💪🏻
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Rania
Dew666
👍
Citieana Pangestu
👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!