Bulan Mahendra, seorang nona muda kaya raya yang sangat berkuasa di suatu sekolah swasta ternama.
Dia sangat di hormati di sekolah tersebut, tak hanya karna dia kaya raya, dia juga pemilik dari sekolah SMA Mahendra karna itu juga ia menjadi sangat angkuh dan sombong namun suatu hari tanpa sengaja ia bertemu dengan pemuda miskin yang merubah dirinya.
Dia mulai tertarik dengan pemuda itu dan tanpa ia sadari rasa ke tertarikannya berubah menjadi cinta yang akan mengubah kehidupannya dan nama pemuda itu adalah Awan.
Kisah cinta yang berawal dari sebuah pesta, akan kah berakhir bahagia? apakah Bulan bisa melewati semua batasan sampai bisa menuju ke tempat awan berada? atau malah Awan yang terbang menuju Bulan? atau mereka terpaksa untuk menyerah?.
Penasaran dengan ceritanya iyakan?
Yuk, baca dan jangan lupa untuk menambahkan like atau komentar untuk mendukung karya ini, biar rajin up! hehehe🙃.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Angelines, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keras Kepala
"Krek...." bunyi pintu yang terbuka, membuat Tata, Langit dan Awan kaget karna melihat Bulan berjalan sempoyongan keluar dari pintu UKS itu.
"Nona Bulan, anda belum boleh keluar." ujar salah satu perawat yang merawat Bulan di UKS.
Awan langsung sigap menghampiri Bulan dan memapahnya.
"Bulan, kenapa kamu keluar?" seru Langit yang khawatir melihat Bulan.
"Iya nona, seharusnya nona istirahat dan di obati di dalam." seru Awan.
"Gak, gua gak mau di obat i." seru Bulan sampil memegangi kepalanya.
"Kamu masuk dulu ya, kepala kamu harus segera di obati." seru Langit sambil menggandeng tangan Bulan, namun Bulan langsung menghepaskan nya, "Gua bilang, gua gak mau!" seru Bulan dengan nada yang cukup tinggi.
"Bulan! jangan keras kepala, kamu harus masuk kedalam sekarang!" seru Langit yang spontan menaikkan nada bicaranya.
"Lu bentak gua?" seru Bulan yang kaget mendengar ucapan Langit, meskipun Langit dan Bulan tidak terlalu akur namun Langit tidak pernah sekalipun meningihkan nada bicaranya kepada Bulan.
"Sudah nona, jangan seperti ini. Nona harus segera mendapat pengobatan sekarang, kalau tidak luka nona akan semakin parah." seru Awan mencoba menenangkan Bulan.
"Iya Lan, lu harus di obati." seru Tata yang juga mencoba menenangkan Bulan.
Tak berselang lama, Surya pun datang dengan tergesa-gesa.
"Udah siap mobilnya," sebelum Surya menyelesaikan ucapan nya ia di kaget kan dengan adanya Bulan di luar UKS, "Loh Lan, kenapa lu udah keluar?" Tanya Surya.
"Bulan, kakak antar kamu ke rumah sakit ya?" seru Langit sambil menahan amarahnya.
"Gak mau!" jawab Bulan yang begitu keras kepala.
"Kenapa nona tidak mau pergi? apa luka nona tidak terasa sakit?" tanya Awan.
"Sakit, tapi gua gak mau berada di ruangan yang nuansanya kayak dirumah sakit, apalagi pergi ke rumah sakit." seru Bulan yang mulai menangis.
"Baik kalau begitu, nona tidak perlu ke rumah sakit jadi jangan menangis." seru Awan menenangkan Bulan.
"Oke oke, jangan nangis kita pulang ke rumah, Biar nanti kakak pangilkan dokter, karna kepala kamu masi harus di periksa dan di obati." seru Langit.
Setelah mendengar itupun Bulan hanya terdiam, meskipun ruangan di rumahnya tidak seperti rumah sakit, namun dokter pasti berpakaian layaknya orang yang berada di rumah sakit.
"Nona, jangan khawatir jika nona merasa takut saya akan menemani nona menjalani pemeriksaan, jadi tolong turut i kak Langit, oke!" seru Awan mencoba membujuk Bulan.
"Oke, tapi lu harus ada di sebelah gua." Seru Bulan.
"Baik, saya akan berada di sebelah nona Bulan."
"Cepat kita harus segera pulang!" seru Langit.
Mereka pun berjalan menuju mobil.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Bulan, tapi tidak ada satupun pelayan yang menyambut mereka, karna para pelayan tidak tau bahwa nona mudanya pulang lebih cepat dari biasanya.
Mereka pun keluar dari mobilnya, namun karna keadaan Bulan tidak memungkinkan untuk ia berjalan sendiri, Awan berinisiatif mengendong Bulan namun Langit menghentikanya.
"Biar aku aja!" seru Langit sambil menyikirkan tangan Awan dari tubuh Bulan dan mengendongnya keluar dari mobil.
Setelah mereka masuk pak Anam sangat terkejut melihat nona mudanya di gendong oleh langit apalagi baju langit yang terlihat lusuh dan memiliki bercak noda darah.
"Apa yang terjadi sama nona muda?" seru pak Anam yang sangat khawatir.
"Nanti aja pak jelasinnya, sekarang pak Anam panggil Dokter buat ngobatin Bulan." seru Tata.
"Baik, kalau gitu." seru pak Anam yang langsung pergi menelepon dokter pribadi keluarga Mahendra.
Sementara itu Langit yang mengendong Bulan langsung naik ke kamar Bulan dan yang lain juga mengikuti mereka tidak terkecuali Awan.
Mereka pun sampai di kamar Bulan, Langit pun langsung membaringakan tubuh Bulan di atas ranjang.
Bulan yang setengah sadar pun langsung meraih tangga Awan. sambil berkata, "Awan udah janji kan! jadi jangan kemana mana!"
"Iya nona, saya akan ada di sini menemani nona," seru Awan sambil duduk di sebelah Bulan dan menggengam tangan Bulan.
Tak lama kemudian Dokter pun datang dan mengobati Bulan, saat Bulan di obati ia terus menggengam tangan Awan karna saat ia menggengam tangan Awan ia merasa sangat tenang sampai rasa traumanya mulai mereda.
"Sudah selesai, nona Bulan harus meminum obatnya 3 kali sehari dan jangan lupa mengganti perbannya." seru Dokter tersebut.
"Baik, saya akan pastikan itu, terima kasih." seru Langit.
"Kalau gitu, saya pergi dulu. permisi!" seru dokter tersebut sambil meninggalkan Kamar Bulan.
Setelah Dokter keluar Awan langsung berlutut di sebelah ranjang Bulan sambil memegangi tangan Bulan.
"Nona, maaf karna saya meninggalkan nona tadi, andai saya menemani nona pasti nona tidak akan menjadi seperti ini dan maaf karna saya tidak bisa menepati janji untuk tidak membuat nona menangis." seru Awan yang menyalahkan dirinya.
"Gak apa apa ini bukan salah lu, ini semua salah bajingan gila itu!" seru Bulan.
"Bajingan gila? maksud lu Galaksi?" tanya Tata.
"Iya, untuk aja ada kak Langit tadi." jawab Bulan.
"Emang, lu di apa in sama Galaksi? sampai lu bisa kayak gini?" tanya Surya Yang penasaran.
"Gimana ceritanya?" tanya Tata.
"Galaksi tadi ngajak gua jadi partner dia ke prom night tapi gua tolak, terus dia tiba tiba marah sampai narik tangan gua dan ngehepas gua ke tempok sampai kepala gua jadi kayak gini." seru Bulan menjelaskan.
"Kasar banget tu anak anj***!" seru Surya.
"Seharusnya dia sadar dong! kalau Bulan gak suka sama dia, kenapa Si anj*** itu terus ngejar ngejar Bulan dan maksa Bulan sampai kayak gini." seru Tata yang tidak terima saudaranya di perlakuan seperti itu.
"Bukannya tujuan Galaksi deketin Bulan sangat jelas ya, dia mau nguasain semua aset Mahendra, dengan menikahi Bulan dia akan mendapatkan itu dan saat dua perusahaan besar di gabung maka Galaksi akan menguasai segalanya." seru Surya.
"Emang, Galaksi dari keluarga mana?" tanya Langit.
"Raharja." jawab Surya.
"Hanya keluarga Raharja saja, sangat muda untuk di singkirkan." seru Langit.
"Maksud kakak? bukanya keluarga Raharja itu keluarga terkaya setelah keluarga Mahendra?" tanya Tata.
"Benar, keluarga Raharja memang keluarga terkaya nomor dua, namun perusahaan inti mereka sangat lemah dan mereka tidak memiliki kekuasaan sebesar keluarga kita." jawab Langit menjelaskan, namun saat Awan mendengar percakapan anggota keluarga Mahendra itu, ia sedikit terkejut Bulan yang mengetahui itu langsung berinisiatif untuk memuat Awan pergi dari kamarnya agar tidak mendengar percakapan keluarganya.
"Awan, bukannya kamu harus kerja sekarang?" tanya Bulan.
"Iya, tapi nona saya tidak bisa meninggalkan nona dalam keadaan seperti ini." seru Awan.
"Gua udah gak apa apa kok, kamu pergi kerja sana." seru Bulan meyakinkan Awan.
"Beneran, nona Bulan sudah tidak apa apa?" tanya Awan memastikan.
"Iya, kamu kerja aja sana." seru Bulan.
"Baik kalau gitu, nona harus segera sembuh dan jangan lupa minum obatnya." ucap Awan.
"Iya," jawab Bulan dengan nada yang lembut.