Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.
Lalu Yong Ing meninggal.
Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.
Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.
Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.
Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.
Dan itu baru tiga hari pertama.
Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.
Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 020: Balas Dendam ke Ungaran
"Besok kita ke Ungaran."
Jason hampir tersedak ayam.
"Mama, sekarang juga boleh."
"Besok," kata Margaret. "Kalau malam-malam pergi, tetangga tidak bisa lihat."
Jason terdiam. Lalu matanya pelan-pelan menyala.
Vanessa yang sejak tadi duduk di sudut langsung mengangkat kepala. "Mama mau bawa siapa?"
Margaret menatapnya. "Kamu."
Vanessa menunjuk hidung sendiri. "Aku?"
"Mulutmu berguna."
Kalau biasanya kalimat itu membuat Vanessa tersinggung, kali ini ia justru duduk lebih tegak. Setelah putus dengan keluarga Tong, ia seperti kehilangan tempat untuk menaruh marah. Sekarang Margaret memberinya sasaran.
Ama yang mendengar dari kamar langsung keluar sambil membawa kipas.
"Pergi ribut kok tidak ajak aku?"
Margaret menatap mertuanya. "Ama mau ikut?"
"Tergantung. Aku tua. Tulangku mahal."
"Rp 200.000."
Ama berhenti mengipas.
"Untuk apa?"
"Berdiri di depan pintu dan marah-marah."
Ama mendengus. "Itu pekerjaan ringan. Tambah makan siang."
"Setuju."
Daniel yang sedang minum air menutup mata sebentar. Dalam rumah ini, orang lain merencanakan perjalanan seperti mau piknik. Istrinya merencanakan balas dendam dengan anggaran, daftar orang, dan makan siang.
"Maggie," katanya akhirnya, "jangan sampai masuk penjara."
"Aku tidak sebodoh itu."
Jason langsung mengangkat tangan. "Kalau aku?"
"Kamu berdiri saja. Kalau ada laki-laki mendekat, baru maju. Jangan pukul dulu."
"Kalau mereka pukul Mama?"
"Baru boleh."
Jason puas.
Vanessa mengikat rambutnya lebih kencang. "Kalau yang maju perempuan?"
Margaret menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.
"Itu pekerjaanmu."
Untuk pertama kalinya sejak pulang dari rumah Tong, Vanessa tersenyum tanpa menangis. Senyum itu tipis, tetapi tajam. Seperti pisau dapur yang baru diasah.
Pagi berikutnya, Margaret tidak membawa Sophie.
Ia menyuruh Sophie tinggal bersama Elisa dan Bella di rumah. Sebelum pergi, Margaret masuk ke kamar dan melihat Sophie duduk di tepi ranjang.
"Ci Margaret mau ke Ungaran?"
"Iya."
Jari Sophie meremas ujung bantal.
Margaret duduk di depannya. "Kamu tidak perlu ikut melihat. Kamu juga tidak perlu memaafkan siapa pun hari ini."
Sophie menunduk lama.
"Dia Mama-ku."
"Dia melahirkanmu," kata Margaret pelan. "Tapi yang dilakukan orang setelah melahirkan juga dihitung."
Sophie tidak menangis. Ia hanya mengangguk sangat kecil.
Mobil sewaan berangkat setelah matahari naik. Di dalamnya ada Margaret, Jason, Vanessa, Ama, dan satu tas kain berisi air minum, obat gosok, serta uang kecil. Vanessa membawa saputangan seperti mau menghadiri pertemuan keluarga, tetapi matanya tajam.
Rumah susun karyawan pabrik makanan di Ungaran masih seperti yang Margaret ingat: lorong sempit, tembok kusam, jemuran menggantung rendah, dan orang-orang yang selalu tahu urusan orang lain lebih cepat daripada tahu harga beras.
Susan membuka pintu dengan wajah belum siap.
Begitu melihat Margaret, mulutnya langsung terbuka.
"Kamu berani datang?"
Margaret tidak menjawab.
Ia mendorong pintu.
Susan terhuyung mundur. Jason berdiri di belakang Margaret seperti tembok. Vanessa masuk menyusul, menutup pintu setengah supaya tetangga tetap bisa melihat, tetapi tidak mudah masuk.
"Kemarin kamu bilang mau ambil Sophie," kata Margaret.
Susan memekik, "Dia anakku!"
Tamparan Margaret jatuh sebelum kalimat itu selesai.
Suaranya tajam.
Lorong langsung sunyi.
Susan memegang pipi. "Kamu pukul aku?"
"Itu untuk telepon kemarin."
Tamparan kedua jatuh.
"Itu untuk semua malam anak itu gemetar karena namamu."
Susan berusaha mencakar. Jason maju setengah langkah, tidak menyentuhnya, tetapi bayangannya saja cukup membuat Susan mundur.
Vanessa langsung mengambil posisi di pintu.
"Yang mau masuk, antre! Ini urusan keluarga. Kalau mau menonton, dari luar saja. Jangan menghalangi perempuan tua sedang menegakkan keadilan!"
Seorang tetangga yang hendak mendekat berhenti bingung. "Perempuan tua siapa?"
Ama sudah berdiri di lorong, kedua tangan di pinggang.
"Aku!" serunya. "Aku perempuan tua yang dibayar! Kalian semua dengar baik-baik!"
Margaret hampir kehilangan irama karena kalimat itu.
Ama tidak peduli. Ia menunjuk pintu Susan dan mulai berbicara seperti pengeras suara rusak.
"Susan ini mulutnya lebih tajam dari pisau karatan! Suami sudah mati masih tidak tahu diri! Anak sendiri disiksa, dikunci, dipermalukan, lalu sekarang mau teriak mama? Mama macam apa yang membuat anak takut pada suara telepon?"
Tetangga mulai berkumpul. Ada yang berbisik, ada yang menutup mulut, ada yang jelas-jelas puas karena akhirnya ada tontonan pagi.
Susan ingin membantah, tetapi Margaret mencengkeram kerah bajunya dan menariknya ke tengah ruang.
"Kamu pernah membuat Sophie berlutut di depan orang?"
"Aku mendidik anakku!"
"Kalau begitu hari ini aku mendidikmu."
Margaret tidak menelanjangi, tidak mempermalukan dengan cara yang sama. Ia tahu luka Sophie tidak boleh ditiru untuk hiburan orang. Tetapi ia membuat Susan berlutut di lantai ruang tamu, tepat di depan pintu yang terbuka, supaya semua orang melihat wajah perempuan yang selama ini bersembunyi di balik kata "mama".
Susan meronta. Rambutnya berantakan, kerahnya miring, suaranya pecah.
"Lepaskan! Aku lapor polisi!"
"Lapor," kata Margaret. "Aku juga lapor. Tentang anak di bawah umur, tentang rumahmu yang kuncinya bisa dipegang laki-laki luar, tentang Brian."
Nama itu membuat Susan pucat.
Vanessa menangkap perubahan itu secepat kucing melihat ikan.
"Oh, jadi benar? Ada laki-laki luar masuk rumah? Astaga, tetangga-tetangga, dengar tidak? Aku baru sekali datang sudah dapat cerita besar!"
Susan menjerit, "Diam!"
Margaret menamparnya sekali lagi. Lebih pelan daripada yang pertama, tetapi cukup membuat ruangan berhenti bernapas.
"Maaf ya," kata Margaret datar. "Tidak sengaja."
Jason menoleh ke samping, bahunya bergetar menahan tawa.
Seorang perempuan tua di ujung lorong tiba-tiba berbisik pada tetangganya, cukup keras untuk didengar semua orang.
"Aku pernah lihat laki-laki itu. Tinggi, pakai jaket cokelat. Datangnya kalau Susan kerja malam."
Susan langsung menoleh. "Kamu jangan fitnah!"
Tetangga itu mundur, tetapi mulutnya sudah terbuka. "Aku tidak bilang apa-apa. Aku cuma bilang pernah lihat."
Margaret menyimpan kalimat itu di kepala.
Brian masih belum muncul, tetapi jejaknya ada di mana-mana: kunci rumah, bisik tetangga, dan wajah Susan yang berubah putih setiap namanya disebut. Hari ini Margaret datang untuk menekan Susan. Besok atau lusa, laki-laki itu juga akan mendapat gilirannya.
Jason membungkuk sedikit ke arah ibunya.
"Mama, mau kucari sekarang?"
"Belum," kata Margaret. "Orang seperti itu paling enak ditangkap saat merasa aman."
Vanessa mendengar kalimat itu dan merinding senang.
"Mama," bisiknya, "kalau nanti butuh orang menyebar kabar, aku bisa."
"Aku tahu. Karena itu kamu dibawa."
Keributan itu akhirnya memanggil satpam pabrik. Dua orang datang dengan wajah serba salah. Mereka mengenal Susan sebagai karyawan lama, tetapi mereka juga melihat lorong penuh tetangga, Ama yang masih berkhotbah, Vanessa yang siap menggigit siapa pun dengan kata-kata, dan Jason yang lengannya sebesar tiang jemuran.
"Tolong jangan ribut di area karyawan," kata salah satu satpam.
Margaret berdiri, merapikan bajunya.
"Bagus. Bawa kami ke depan pabrik. Aku ingin bicara soal karyawan kalian yang menyiksa anak sampai anak itu masuk Polsek."
Satpam langsung kaku.
Susan berteriak, "Itu urusan rumah!"
"Kalau urusan rumah membuat polisi menerima laporan, itu bukan urusan rumah lagi."
Mereka bergerak ke gerbang pabrik. Susan tidak ikut. Ia mengunci diri di kamar seperti orang yang baru sadar dunia di luar pintu tidak lagi memihaknya.
Di depan gerbang, Ama memulai babak kedua.
Ia duduk di tanah, memukul pahanya, dan menangis keras tanpa air mata.
"Cucu keluargaku disiksa! Pabrik memelihara orang jahat! Kalau tidak ada keadilan, nenek tua ini mati saja di sini!"
Margaret berdiri di samping, wajah tenang. Vanessa mengipasi Ama supaya suaranya makin panjang. Jason menahan beberapa karyawan yang ingin terlalu dekat.
Satpam panik.
"Nek, jangan begitu. Tolong berdiri."
Ama melirik Margaret.
Margaret mengangkat dua jari.
Rp 200.000.
Ama langsung menambah volume.
"Tidak! Aku sudah tua! Aku tidak takut mati!"
Beberapa karyawan yang baru keluar istirahat mulai berhenti di balik pagar. Ada yang mengenali Susan, ada yang tidak. Tetapi semua orang mendengar kata "anak disiksa" dan "Polsek". Di tempat seperti pabrik, kabar bergerak lebih cepat daripada mesin produksi.
Seorang kepala bagian berlari dari dalam, kemejanya belum rapi.
"Ada apa ini? Jangan bikin ramai di depan pabrik!"
Margaret menunjuk Ama yang sedang duduk di tanah.
"Kalau tidak mau ramai, panggil orang yang bisa bertanggung jawab. Karyawan kalian membuat anak masuk laporan polisi, lalu sekarang masih kerja seolah tidak terjadi apa-apa."
Wajah kepala bagian berubah.
Lalu ia melihat bangku kecil dekat pos satpam.
Margaret belum sempat mencegah. Ama sudah naik ke bangku itu, mengangkat selendang di tangannya, dan berteriak lebih keras, "Aku buktikan!"
Bangku itu goyang.
Kaki Ama terpeleset.
"Ama!"
Jason melompat dan menangkap pinggangnya sebelum ia jatuh. Selendang melayang ke wajah satpam. Vanessa menjerit setengah takut, setengah kagum.
Gerbang pabrik kacau.
Satpam pucat. Beberapa karyawan berlari memanggil mandor lain. Ama, yang masih dipeluk Jason, sempat berbisik, "Tambahannya berapa kalau hampir jatuh?"
Margaret menutup mulut dengan punggung tangan.
Ia hampir tertawa.