Kyalowng, nama dunia dari sebuah game petualangan online bernama Deep Dive.
Tak disangka ngototnya seorang pemuda tampan ketika harus mempertahankan gelarnya sebagai pemain terbaik pada game tersebut justru mengundang mala petaka. Tanpa diduga dia masuk ke dalam dunia milik Deep Dive.
Siapa yang membawanya ke sana? Bagaimana mungkin di dunia nyata, seseorang bisa masuk ke dalam dunia game? Tidakkah itu hanya mimpi semata?
Entahlah! Author tidak bisa membuat deskripsi dengan baik. Selanjutnya akan author sertakan nomor bab yang ada gelutnya, menghindari bosan terhadap cerita yang tidak jelas. Mohon dimaklumi. Thanks
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BaDiPra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Petualangan Baru (revisi)
Rombongan Natura beserta tiga pengawalnya kini berada di depan gerbang rumah Abara. Mereka pamit untuk pulang ke penginapan.
"Terimakasih atas jamuan yang begitu luar biasa. Sungguh aku tak akan melupakan kebaikan ahli buff Abara," ujar Natura.
"Aku merasa bahagia atas kedatangan rombongan saudara Natura ke tempat kami," tanggap Abara.
"Kalau begitu kami undur diri. Jika aku mampir ke kota ini lagi, aku pasti akan menaikkan level-ku di tempatmu." ucap nenek Alia.
"Mohon tunggu sejenak, kalian mendapatkan kompensasi dari pihak keamanan kota Yasa." ujar Abara.
Ketiga lawan bicara Abara saling pandang dan memperlihatkan wajah heran.
Abara memanggil salah satu pelayan yang bertugas sebagai penerima tamu.
"Ini tuanku," ucap pelayan itu sambil membawa nampan yang di atasnya ada tiga karung segenggaman tangan berisi koin.
"Ini untuk nenek Alia dan saudari Enenga. Dan yang ini untuk saudara Natura," ucap Abara sambil membagikan tiga karung kecil itu.
"Ini? Mengapa kami dibayar padahal kami yang menggunakan jasa ahli buff anda?" tanya Natura.
"Karena peristiwa tak menyenangkan yang tadi pagi terjadi di tempatku. Pihak keamanan kota memberikan kompensasi kepada pihak terimbas. Sekarang saudara Natura paham 'kan mengapa tiga prajurit kota ini dibayar cukup mahal?"
"Baiklah, aku paham. Jasat orang itu yang membayar kompensasi ini, 'kan?"
"Ya, demikian yang terjadi. Jangan sungkan kepadaku, sebab aku pun mendapatkan kompensasi. Saudara-saudari sekalian, apabila singgah di kota Yasa, alangkah senang jika kalian menggunakan jasa peningkat level milikku yang ada di sana." ucap Abara sambil menunjuk toko jasa peningkat level yang tak jauh dari kediamannya.
"Baiklah, kami akan mampir ke toko itu lagi jika kami berada di kota ini," tanggap nenek Alia.
"Terimakasih atas jamuannya," sahut Enenga.
Rombongan Natura pun berjalan meninggalkan kediaman ahli buff Abara.
Abara tetap berdiri di gerbang rumahnya sambil memandang kepergian tamunya yang kian menjauh.
"Ninja, informasi apa yang kau dapatkan tentang saudara Natura?" tanya Abara tanpa memperhatikan sekitarnya.
Tiba-tiba muncul seseorang berpakaian ala ninja yang ternyata berkamuflase dengan tembok. Pakaian ninja itu lalu berubah warna menjadi hitam.
"Tuanku, remaja bernama Natura memiliki kemampuan lari yang sangat cepat. Selain itu, banyak status karakternya yang tak dapat dibaca oleh batu piramida. Tadi pagi, dia berbicara seorang diri dan menyebut nama Ortuna," ungkap ninja itu.
"Kerja bagus walau aku sudah tahu akan hal itu. Saudara Natura bahkan tadi berbicara hal yang menakjubkan namun dia mengemasnya dengan percakapan biasa. Sulit bagiku menyakini ucapannya yang terdengar mengada-ada. Tetapi, saudara Natura bahkan berani membentak Super System dan terlihat tak mempermasalahkan seluruh koin miliknya yang lenyap begitu saja," ungkap Abara.
"A-apa?" tanya ninja dengan tatapan yang menunjukkan ketidakpercayaannya kepada ucapan lawan bicara.
"Dia bahkan hanya butuh tidur untuk melupakan kepergian sekitar 150 koin besar miliknya," jawab Abara sambil tersenyum.
"Se-seratus lima puluh koin besar?" tanya ninja tanpa sadar. Ninja itu membayangkan rumah sebesar apa yang bisa Natura dapatkan dari koin sebanyak itu. Di kepalanya terlintas sosok Natura yang menggenggam pedang dan memakai armour berkilauan dengan level yang sangat tinggi sedang duduk di singgasana. "Ti-tidakkah remaja itu sangat menakutkan?"
"Tanya saja kepada pelayan jika kau ingin mendengar cerita lain. Itu akan menjawab pertanyaanmu mengapa mereka bertiga mendapatkan kompensasi," ujar Abara sambil berjalan masuk.
"Untung aku tak lengah ketika memantaunya. Natura ya? Sungguh aku harus berhati-hati jika bertemu lagi dengannya," batin ninja.
***
Di tempat lain, Enenga dan nenek Alia terlihat bahagia memandang Natura.
"Mengapa kalian memandangku seperti itu?" tanya Natura.
"Kau mendapat 0,5 koin besar. Sungguh keberanianmu di hadapan pria berjanggut pantas diacungi jempol. Karena kejadian itu juga kami mendapat koin sebesar 0,1B. Itu dapat menjadi bekal perjalanan yang sangat menguntungkan," terang nenek Alia.
"0,5B ya? Ditambah pengambilan kembali sebesar 99S, maka aku tak kekurangan harta untuk kebutuhan hidup."
"Tadi ahli buff Abara mengabarkan kepada kami jika kau dibuat miskin oleh Super System. Apakah itu tak masalah bagimu? Mengapa kau begitu konyol, membayar sesuatu yang semestinya gratis?" tanya Enenga.
"Itu, hahahaha. Si Super System itu menjahiliku lagi. Dia tahu apa yang aku maksud tetapi dia mengabulkan hal yang serupa dengan keinginanku. Tidak masalah bagiku. Terlalu bodoh jika aku harus bersedih akan kehilangan koin-koin itu," jawab Natura.
Ketika Natura berjalan sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana, dia tiba-tiba merasakan seperti memegang koin jelly setelah berpikir menyayangkan apa yang tadi pagi dibelinya. Dia begitu gembira sebab koin sabun ajaib miliknya tak ikut hilang.
"I-ini? Sungguh aku beruntung benda berharga ini tetap menjadi milikku," ungkap Natura.
Tidak hanya Enenga dan nenek Alia yang bingung mengapa Natura sebahagia itu, bahkan orang-orang yang ada di jalan mencibir Natura.
Remaja tampan itu lalu mencoba mengambil apa yang masih ada di sakunya. Dia duduk dan menaruh benda-benda berharga di depannya. Benda itu berupa; perisai logam kokoh berwarna ungu dengan ukiran Dragon Sunguungu; busur beserta anak panah dan tasnya yang identik dengan Dragon Sunguungu lengkap dengan dagger; pedang indah bersisik dragon berwarna ungu; aksesoris kepala berupa topeng ciri khas Dragon Sunguungu. Selain benda-benda itu, terdapat armour yang pada punggungnya seperti memiliki sepasang sayap dan juga memiliki dua puluh tentakel yang bergerak-gerak seperti hidup.
Ketiga prajurit segera mengepung Natura sambil mengacungkan pedangnya. Orang-orang yang tadinya mencibir kini menjadi pucat pasi dan langsung mempercepat jalan menghindari Natura.
"Tu-tuan muda Natura, apa yang akan anda lakukan terhadap kota ini dengan menggunakan armour dan senjata itu?" tanya salah satu prajurit dengan tangan gemetar tanda takut.
"Hah?" tanya balik Natura.
"Natura, mohon simpan kembali armour dan senjata legendaris itu. Kami menjadi takut akan dirimu," ucap Enenga dengan gugup.
Remaja tampan itu lalu menyimpan barang-barangnya lagi. Dia terlihat kebingungan dengan sikap semua orang yang kini terlihat takut kepadanya.
Di saat kebingungannya itu, suara imut Ortuna terdengar kembali di kepala Natura. "Beruntunglah kau tak sempat menunjukkan pin berwarna ungu milikmu. Sungguh kau masih tak bisa membedakan benda biasa dengan benda legendaris. Mau sekaya apapun, Natura tenyata memanglah Natura."
"Kaya? Masihkah aku memiliki koin lebih dari yang sekarang aku miliki?" tanya Natura dalam batin.
"Aku merasa terhina menjadi pembawa pesan untukmu. Natura tak pernah membaca pesan yang kini telah menumpuk," tanggap Ortuna dengan memperdengarkan suara gadis imut yang sedang kesal.
"A-aku sungguh minta maaf. Aku hanya belum sempat membaca pesan-pesan itu," tanggap Natura sambil tersenyum.
"Pesan? ... Entahlah apa yang tuan muda Natura katakan. Yang jelas, jangan lagi melakukan hal ini. Terlalu beresiko menyebabkan kesalahpahaman besar," ucap prajurit sebab mendengar Natura yang tak sengaja berbicara.
"Hah? Ah iya. Aku sungguh mohon maaf atas kebodohanku ini."
Setelah mengambil kembali uang jaminan di gerbang kota Yasa, rombongan Natura langsung bergegas pulang ke penginapan.
Mereka duduk di kantin penginapan itu untuk sekedar menghilangkan dahaga. Natura duduk sambil memejamkan mata. Dia berkonsentrasi untuk membaca kembali fitur-fitur apa saja yang saat ini telah terbuka.
Dalam pikiran, Natura dapat melihat dua lingkaran kosong yang biasanya berisi skill dari senjata. Selain itu, Natura kini juga dapat menggunakan fitur penggagal serangan berpenetrasi ataupun skill bawaan senjata. Fitur regenerasi mana dan stamina kini juga telah tersedia, yang mana itu berarti Natura tak perlu melewati hari untuk memulihkan mana dan stamina. Fitur pemulih bar darah sebesar 5% dari serangan yang berhasil mengurangi darah lawan menggunakan serangan apapun.
Melihat Natura menutup mata sambil tersenyum, membuat nenek bercucu itu tahu jika Abara berhasil meningkatkan kemampuan bertarungnya.
"Nah Natura, jika kau belum memiliki rencana meningkatkan peringkat petualangmu lagi, bagaimana jika ikut kami berpetualang ke hutan Lergia? Di sana tentu masih banyak monster aneh yang pasti akan membuat ingatanmu pulih. Siapa tahu di sana juga terdapat monster yang kau cari ... Bagaimana? Apakah kau setuju? Tentu jika kami dirasa membebani, maka kami tak akan menjadi bagian dari kelompokmu. Dengan demikian maka kau dapat menikmati hasil usahamu sendiri," ungkap nenek Alia.
"Baiklah, aku akan berpetualang lagi bersama kalian. Nenek mohon jangan anggap aku sesombong itu. Kalian justru membantuku. Lagi pula, aku tak mengumpulkan harta untuk membuat istana. Tentu berbagi hadiah tak masalah bagiku," ungkap Natura.
"Yosh ... Besok pagi, kita akan langsung bergerak menuju hutan Lergia. Kita akan membeli kereta kencana lagi. Apakah kau setuju?" ungkap nenek Alia.
"Siap. Itu akan lebih mempersingkat perjalanan," tanggap Natura dengan wajah penuh semangat.
.
BERSAMBUNG.....
Dan semoga novel2 tentang olahraga ranjang yg ikut nimbrung di genre ini bisa terpindah semuanya ☺
rya anda bagus👍
trus kata notifikesong nya lumayan mengganggu 🤭
di tambah setiap kata dari karakter MCnya yang pintar main game tapi tolol saat di dalam game gak masuk akal.. 👎