Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.
Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Satu bulan berlalu sejak hari pertama Cia bertugas di RS Pelita Medika.
Rutinitas baru mereka terbentuk dengan sangat rapi, layaknya jadwal jaga prajurit. Pukul lima pagi, Ren akan berolahraga sementara Cia menyiapkan sarapan (atau sebaliknya, jika Cia sedang ingin tidur lebih lama dan membiarkan suaminya menguasai dapur). Pukul enam lebih lima belas menit, Ren akan mengantar Cia ke rumah sakit, lalu meluncur ke Cipatat. Sore harinya, jika jadwal mereka bertepatan, Ren akan menjemputnya. Jika tidak, Cia akan pulang menggunakan taksi daring, yang tentu saja perjalanannya dipantau secara real-time oleh sang Mayor melalui fitur berbagi lokasi.
Kehidupan pernikahan mereka di rumah sipil ini terasa sangat damai. Namun, jika ada satu hal yang tidak bisa diprediksi dalam hidup mereka, itu adalah dinamika pekerjaan Cia di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Jumat sore itu, hujan turun dengan sangat deras mengguyur Kota Bandung.
Suasana IGD RS Pelita Medika sedang berada pada tingkat kekacauan maksimal. Kecelakaan beruntun di jalan tol basah baru saja mengirimkan setengah lusin pasien trauma dalam waktu bersamaan.
Cia berlari dari satu bilik ke bilik lain. Jas putihnya sudah dilepas, menyisakan scrub hijau yang lengannya digulung hingga siku. Rambutnya dikuncir asal-asalan.
"Dokter Cia! Pasien bed dua tachycardia, tekanan darahnya turun terus!" teriak Siska, perawat jaga yang sedang memompa kantong darah.
"Siapkan epinefrin! Saya pasang akses vena sentral sekarang!" Cia langsung mengambil alih, tangannya bergerak cepat dan sangat presisi menembus kulit pasien. Kepanikan tidak memiliki ruang di kepalanya. Di saat-saat seperti ini, adrenalin Cia bekerja mirip dengan insting tempur suaminya.
Setelah hampir dua jam bertarung melawan maut, kondisi pasien-pasien kecelakaan itu akhirnya berhasil distabilkan dan dipindahkan ke ruang rawat intensif.
Cia menjatuhkan dirinya di kursi nurse station, mengusap wajahnya yang berpeluh. Napasnya terengah-engah. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 18.30 WIB. Shift jaganya seharusnya sudah selesai setengah jam yang lalu.
"Kerja bagus, Tim," ucap dr. Surya yang kebetulan menjadi konsulen jaga hari itu. Konsulen killer itu menepuk bahu Cia sekilas. "Kamu boleh pulang, Almeera. Biar shift malam yang ambil alih sisa observasinya."
Cia baru saja akan mengangguk lega saat suara decit ban mobil yang mengerem mendadak di depan pintu masuk IGD terdengar nyaring.
Pintu kaca otomatis terbuka lebar. Dua orang prajurit berseragam loreng PDL basah kuyup melangkah masuk setengah berlari. Salah satunya adalah Letnan Bima, yang terlihat panik.
"Medis! Tolong, kami butuh penanganan luka robek darurat!" teriak Bima.
Jantung Cia serasa copot. Jika Bima ada di sini dengan seragam lapangan yang berlumuran lumpur... pikiran Cia langsung tertuju pada satu nama.
Gadis itu melompat dari kursinya, berlari mendahului perawat lain menuju pintu masuk. Dan benar saja, di belakang Bima, berjalan sesosok pria tegap yang memegangi lengan kirinya menggunakan kain tourniquet darurat.
Mayor Ren Adhyaksa.
Seragam PDL pria itu kotor oleh tanah merah. Wajahnya datar seperti biasa, seolah ia hanya sedang mampir untuk membeli kopi, bukan datang dengan lengan seragam yang robek dan bersimbah darah segar.
"Mas Ren!" pekik Cia tertahan. Kakinya nyaris lemas, namun ia memaksakan diri mendekat.
Melihat istrinya berlari dengan wajah panik, raut datar Ren sedikit berubah. Pria itu menghela napas, menatap tajam ke arah Letnan Bima. "Sudah saya bilang, tidak usah berteriak, Letnan. Ini hanya luka gores kecil."
"Luka gores kecil dari mana, Komandan?! Lengan Anda robek kena sabetan sangkur!" balas Bima frustrasi, mengabaikan hierarki sejenak saking paniknya.
"Bawa ke bilik tiga! Sekarang!" perintah Cia, mode dokternya langsung menimpa kepanikannya sebagai istri.
Cia menuntun suaminya masuk ke bilik tindakan. Ren duduk di atas brankar dengan patuh. Perawat Siska dan satu perawat pria lainnya segera mendekat membawa troli alat jahit darurat, namun langkah mereka terhenti saat melihat aura intimidasi yang menguar dari pasien VIP tersebut.
Lengan kiri baju PDL Ren digunting oleh perawat pria dengan tangan gemetar, mengekspos luka sayatan yang cukup dalam memanjang dari bisep hingga ke dekat siku. Darahnya masih merembes.
"Kenapa bisa begini?" tanya Cia dingin, nadanya persis seperti saat Ren sedang menginterogasi prajurit yang indisipliner. Sambil bertanya, tangan Cia dengan cekatan membersihkan darah di sekitar luka menggunakan kassa yang dicelupkan ke cairan NaCL.
Bima, yang berdiri di luar tirai bilik, menjawab dengan nada bersalah. "Tadi sore ada simulasi pertarungan jarak dekat di hutan lumpur Cipatat, Dok. Ada satu taruna yang panik saat disergap, manuver sangkurnya salah arah. Mayor Ren mencoba menepis biar sangkurnya nggak nancep ke leher taruna itu, tapi malah lengan beliau yang kena sabet."
Cia menghentikan gerakannya sejenak. Ia mendongak, menatap mata elang suaminya. "Terus kenapa dibawa ke sini? Klinik kesehatan di Pusdikif kan ada, Mas. Jarak dari Cipatat ke sini macet-macetan bisa satu jam! Kalau kamu kehabisan darah di jalan gimana?!"
Ren menatap istrinya dengan sorot mata yang luar biasa tenang. Pria itu mengabaikan rasa perih akibat cairan antiseptik yang dituang Cia ke lukanya terbuka.
"Klinik Pusdikif hanya akan menjahitnya asal-asalan. Bekas lukanya akan jelek," jawab Ren dengan alasan yang terdengar sangat tidak masuk akal untuk ukuran seorang prajurit. "Saya punya dokter spesialis pribadi di sini."
Cia memutar bola matanya. "Alasan."
"Lagipula," Ren sedikit mencondongkan wajahnya ke depan, memelankan suaranya agar hanya bisa didengar oleh Cia. "Jam jaga shift soremu selesai pukul enam. Jika saya ke sini, saya bisa langsung membawamu pulang sekalian. Menghemat waktu logistik."
Mulut Cia sedikit terbuka. Gadis itu menatap suaminya tak percaya. Dia... rela menahan darah merembes selama satu jam perjalanan dari Cipatat ke Bandung kota cuma karena mau dijemput sekalian?!
"Kamu bener-bener orang gila, Mayor Ren Adhyaksa," desis Cia, menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu harus marah atau terharu dengan logika tempur suaminya yang sinting ini.
Cia mengambil spuit berisi bius lokal. "Tahan, ini bakal agak perih."
"Silakan, Dokter," jawab Ren tanpa berkedip.
Proses penjahitan berlangsung dalam keheningan yang menegangkan bagi para perawat yang menonton. Siska bergidik ngeri melihat jarum melengkung itu menembus kulit dan otot sang Mayor. Normalnya, pasien dengan bius lokal pun akan sedikit meringis atau mengernyit saat dijahit ototnya.
Namun Ren? Pria itu duduk tegap bagai patung lilin. Mata elangnya bahkan tidak menatap lukanya sendiri, melainkan terus mengawasi wajah serius istrinya. Tatapannya begitu intens, seolah ia sedang mengagumi sebuah karya seni, bukannya sedang menjalani operasi kecil.
"Selesai. Tujuh belas jahitan luar dalam," lapor Cia akhirnya, menggunting sisa benang jahit dan membalut luka itu dengan kassa steril. "Lengan kirimu nggak boleh dipakai angkat beban berat selama minimal satu minggu. Mandi harus pakai pelindung anti-air."
Ren mengangguk. "Diterima."
Cia melepas sarung tangannya dan membuangnya ke tempat sampah medis. Gadis itu lalu berkacak pinggang, menatap suaminya dengan alis bertaut.
"Sekali lagi kamu nekat nahan luka pendarahan begini cuma demi 'menghemat waktu logistik' dan modus ngejemput istri... malamnya kamu tidur di sofa, Mas. Aku nggak main-main," ancam Cia dengan suara tegas, mengeluarkan aura 'Panglima'-nya.
Bima yang sedari tadi mengintip dari balik tirai menahan tawa hingga bahunya bergetar, sementara perawat Siska dan rekannya melongo tak percaya. Dokter baru mereka ini baru saja mengancam seorang Mayor yang ditakuti separatis untuk tidur di sofa?
Ren tidak terlihat marah sedikit pun. Sudut bibirnya justru berkedut menahan senyum. Pria itu turun dari brankar, postur tubuhnya kembali menjulang tinggi di depan Cia.
"Perintah diterima, Panglima," bisik Ren, mengusap puncak kepala Cia menggunakan tangan kanannya yang bersih dari darah. "Sekarang, karena kamu sudah selesai menyelamatkan nyawa saya... bisa kita pulang? Saya lapar."
Cia mendesah panjang, namun pertahanannya runtuh melihat wajah lelah suaminya. Ia mengangguk. "Aku ganti baju dulu."
Perjalanan pulang malam itu diwarnai gerimis sisa hujan. Karena lengan kiri Ren terluka, Cia mengambil alih kemudi Jeep Wrangler hitam itu.
Ren duduk bersandar di kursi penumpang, matanya terpejam rileks menikmati alunan musik jazz pelan dari radio mobil. Bau antiseptik dari lengannya berbaur dengan aroma pengharum kabin mobil.
"Taruna yang nyabet lenganmu... dia kena hukuman?" tanya Cia, matanya fokus menatap jalanan yang licin.
"Tidak," jawab Ren santai, tanpa membuka mata. "Di medan tempur nyata, kesalahan seperti itu akan dibayar dengan nyawa rekannya sendiri. Dia sudah cukup trauma melihat lengan instrukturnya robek di depan matanya. Rasa bersalahnya adalah hukuman yang lebih dari cukup untuk membentuk instingnya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama."
Cia tersenyum tipis. Di balik kerasnya metode latihan Ren, pria ini selalu tahu bagaimana cara membentuk mental prajuritnya, bukan sekadar menghancurkannya.
"Lagipula," Ren perlahan membuka matanya, menoleh menatap profil samping wajah istrinya yang diterangi lampu jalan. "Jika dia tidak melakukan kesalahan itu, saya mungkin harus terjebak di rapat evaluasi membosankan bersama para Perwira Menengah malam ini, bukannya duduk di sini diantar pulang oleh dokter tercantik se-Jawa Barat."
Laju Jeep itu sempat sedikit oleng saat Cia tak sengaja menginjak gas lebih dalam karena kaget. Pipinya memanas.
"Gombalan bapak-bapak militer ini makin hari makin out of the box, ya," gerutu Cia, berusaha menutupi senyum salah tingkahnya. "Tangan sakit masih sempat-sempatnya ngerayu."
Ren terkekeh pelan. Pria itu menggeser posisi duduknya. Tangan kanannya terulur, meraih tangan kiri Cia yang sedang berada di tuas persneling, lalu menggenggamnya erat dan meletakkannya di atas pahanya sendiri.
"Saya tidak merayu, Almeera. Saya hanya melaporkan fakta lapangan," bisik Ren lembut. Ibu jarinya mengelus cincin emas putih yang melingkar di jari manis Cia.
Keheningan malam di dalam kabin mobil itu terasa sangat nyaman. Rasa lelah setelah seharian berjibaku dengan pasien dan luka sobek seolah sirna.
"Mas," panggil Cia pelan, melirik suaminya sekilas.
"Hm."
"Besok kan hari Sabtu. Kamu libur ngajar, lukamu juga lagi nggak bisa dipakai olahraga berat," Cia mengulas senyum kecil. "Gimana kalau besok kita bangun agak siang? Terus sarapan bubur ayam di depan kompleks, sekalian belanja bulanan ke supermarket?"
Ren menatap istrinya, membayangkan rutinitas sipil biasa yang dulu tak pernah ada dalam kamus hidupnya. Membayangkan dirinya mendorong troli belanja, mengikuti gadis ini memilih sayuran, dan menghabiskan hari Sabtu layaknya pasangan suami istri normal.
Senyum yang sangat tulus dan hangat merekah di wajah sang Mayor. Ia membawa tangan Cia ke depan bibirnya, mengecup punggung tangan itu dalam-dalam.
"Proposal kegiatan disetujui, Dokter Cia," jawab Ren mantap. "Besok, saya sepenuhnya di bawah komandomu."