Mengharuskan menjalani pernikahan disaat istri pertamanya masih hidup? Lebih uniknya harus dijodohkan oleh istrinya sendiri.
Pernikahan yang diawali dengan niat untuk agar dapat merawat suaminya dan bersiap jika operasi yang akan dijalani gagal oleh sang istri pertama.
Akankah Alva dapat bertahan dengan niat itu? Bisakah dia menjadi istri selamanya sosok bernama Adnan dan menjadi satu satunya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fatmass, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 33
Satu jam sudah cukup bagi Adnan membuat Alva lemas dan mengingat bagaimana mereka melakukannya sebelumnya.
Adnan pun menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Adnan yang melihat Alva terkulai disampingnya pun tersenyum sebelum pada akhirnya ia pun mencium kening gadisnya itu.
Ralat, karena memang Alva sudah bukan lagi seorang gadis. Adnan pun mencium kening wanitanya.
"Kenapa aku dengan cepat menaruh hatiku padamu?" Tanya Alva membatin kepada dirinya sendiri dengan mata yang menatap ke arah Adnan yang terbaring di sampingnya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau menginginkannya lagi?" Tanya Adnan.
Alva pun dengan segera menarik selimutnya dan menutupi wajahnya dengan selimut karena malu.
"Kenapa kau malu? Bukankah kau seharusnya mengingat---
"Diamlah!!!" Geram Alva.
Adnan pun mencoba menarik selimut yang menutupi wajah Alva karena ia ingin melihat wanitanya.
Namun Alva malah mempererat membuat Adnan tertawa kecil. Sampai Alva pun membuka selimut yang menutupi wajahnya.
"Semenjak om pulang, aku belum mendengar kabar mbak Melanie!" Ujar Alva
"Kau bisa menjenguknya besok, sekarang kita sedang berdua dan jangan membahas orang lai!" Seru Adnan dengan lembut dan tangan yang mengelus rambut Alva.
"Memang kenapa? Mbak Melanie kan juga istrimu!" Seru Alva.
"Tapi kau juga istriku bahkan sekarang aku sudah menyentuhmu 2 kali!" Ujar Adnan membuat Alva menatap intens ke arahnya.
"Kau menganggapku istrimu?" Tanya Alva membuat Adnan tidak habis pikir dengan jalan pemikiran Alva.
"Kau itu ternyata memang bodoh!" Ejek Adnan yang bangkit dan memakai boxernya.
Mengatainya bodoh membuat Alva kecewa dengan jawaban Adnan.
"Jika aku tidak menganggapmu istri kenapa aku melakukan ini?" Kekeh Adnan sebelum dirinya masuk ke kamar mandi.
Alva pun tercengang mendengar pernyataan Adnan. Membuat dirinya tersenyum mendengar pernyataan Adnan.
"Apa kau tidak ingin mandi bersama?" Tanya Adnan tiba tiba keluar dari pintu kamar mandi.
Membuat Alva kembaki menutupi wajahnya dengan selimut.
"Kenapa sekarang kau jadi suka sekali bersembunyi di selimutku!" Kekeh Adnan
"Astaga!!" Pekik Alva saat tubuhnya tiba tiba terangkat.
"Aaaa Aku tidak mau!" Gerutu Alva dengan menyembunyikan wajahnya di dada Adnan karena malu dirinya yang digendong tanpa satupun kain menutupinya.
"Akan menjadi bakteri jika tidak dibersihkan!" Seru Adnan membuat Alva mau tidak mau mengikuti apa yang dimau
oleh Adnan.
....
Sementaa kini dirumah Ritha, Ritha pun yang baru masuk ke rumahnya terkejut saat melihat ibunya yang tengah meluruskan kakinya.
"Loh ibu kenapa? Ibu sehat walafiatkan? Ada yang sakit dengan kaki ibu?" Tanya Ritha yang segera menghampiri ibunya yang tengah seakan menahan sakit di kakinya.
"Ya ampun Ritha bisa tidak sih kau itu tidak berisik? Ibu itu hanya keserempet motor" Ujar ibu Ritha.
"Hanya ibu bilang? Ibu itu sedang nglantur atau gimana sih masa keserempet motor dibilang hanya!" Gerutu Ritha membuat ibunya memukul lengannya.
"Aduh bu kenapa Ritha malah dipukul si" Gerutu Ritha/
"Mana ada ibunya sendiri dikatai nglantur" Timpal kembali ibu Ritha.
"Tadi ada yang bantu ibu pulang ke rumah!" Ucap kembali ibunya.
"Siapa? Mana orangnya?" Tanya Ritha sekaligus.
"Di dapur!" Jawab singkat ibu Ritha.
"Bu ini teh hangatnya!" Seru pria yang baru datang yang keluar dari dapur dengan membawa segelas teh hangat.
"Haaaahhhhhh?????" Pekik Ritha saat mengetahui siapa pria itu.
James melototkan matanya saat melihat gadis aneh yang selalu mengatakan bahwa dirinya adalah jodohnya kini berasa di depannya.
'Pantas saja suaranya sangat familiar!' Batin James.
James pun menaruh gelas yang berisi teh hangat itu ke tangan ibu dari Ritha.
"Kenapa kau? Dia memang tampan tidak usah kaget!" Celoteh ibunya tiba tiba karena melihat ekspresi anaknya yang heboh.
"Bukan ibu ku tercantik, dia ini menantu ibu" Ujar Ritha membuat tak hanya ibunya tapi James tersedak.
"Wah ngaco nih anak!" Gumam ibu Ritha menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah anaknya.
"Om ternyata kita ini benar benar jodoh ya?" Tanya Ritha tanpa malunya di deoan ibunya.
Sedangkan ibunya sendiri memijit pelipisnya melihat tingkah Ritha.
"Ini hanya kebetulan Rithaaa!!!!" Tekan ibu Ritha.
"Nah karena itu ibuu, mana ada kebetulan terlalu sering. Kita in benar benar jodoh tau" Seru Ritha yang tetap ngotot bahwa pertemuannya dengan James bukanlah karena kebetulan tapi karena mereka adalah jodoh.
"Maaf ya James, anak ibu ini memang agak ya seperti inilah!" Seru Ibu Ritha yang dijawab senyuman oleh James.
"Ya ampun manis banget sih jodoh Ritha. Oh iya tadi namanya siapa? James? Kalau dipanggil sayang gimana om? Setuju nggak?" Cerocos RItha.
"Nak James makasih sudah bantuin ibu, lebih baik kayaknya kamu pergi saja!" Seru ibu Ritha.
"Ibu kuu, ya masa diusir sih pamali tau!" Celoteh Ritha kembali
Ibu Ritha yang kesal dengan anaknya sendiri pun melempar bantal yang ada di kursinya saat ini.
"Aduh ibu!!!" Pekik Ritha.
Melihat pertengkaran mereka dan kekonyolan Ritha sedari dari tadi sangat menghibur James.
Membuat James tertawa kecil saat ibu Ritha melempar bantal ke arah anaknya.
"Kalau begitu saya pamit pergi!" Pamit James membuat Ritha dan ibunya menatap menoleh ke arahnya.
"Terimakasih nak dan mampirlah kemari jika sempat, ibu brterima kasih banyak kepadamu!" Seru Ibu Ritha sebelum James pun pegi dari sana.
"Ya ampun memang jodoh itu tidak kemana mana ya om" Seru Ritha dengan senyumannya sembari langkkah kakinya yang mengejar James.
"Ritha kembali!!!" Teriak ibu Ritha kepada Ritha karena yang terus mengoceh dan mengganggu James.
"Ya Allah ibu, Ritha mau anterin om Jamesnya" Teriak Ritha kembali menempali.
"Mengantar mengantar, itu mobilnya ada di depan buat apa kau mengantarnya" Geram sang ibu karena anaknya yang satu itu benar benar membuat seorang yan telah menolongnya menjadi risih.
"Mengantar om james ke orang tuanya dan langsung ke pelaminan dan Ritha nggak ngajak ibu" Ejek Ritha membuta James dalam hati menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ritha.
Yang ternyata tak hanya di luar sikap Ritha yang heboh bahkan di rumah dan di depan ibunya bersikap seperti apa dirinya tanpa malu.
"Om pasti sangat beruntung!" Ser Ritha tiba tiba membuat James mengangkat alisnya bingung.
Namun ia tidak mengucapkan sepatah kata apapun untuk menanggapi Ritha
"Ya karena om selalu saja tanpa sengaja bertemu denganku. Bukankah om selalu beruntung masalah jodoh?" Tanya Ritha dengan tersenyum meatap ke arah James.
Namun James hanya diam dan memasuki mobilnya.
"Syukurlah setidaknya om tidak bilang 'kau bukan jodohku'" Seru Ritha.
Ritha pun melambaikan tangannya saat mobil James menjauh.
"Oh iya nomor teleponnya! Seharusnya aku minta nomor teleponnya" kesal Ritha.
hihihi...