NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Mamba Hitam

Rahasia Sang Mamba Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Joko Joko

Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 02 - Luka Lama di Jakarta

Empat tahun lalu, Ayla pernah pulang.

Saat itu usianya baru lima belas tahun. Rambutnya lebih pendek, tubuhnya lebih kurus, dan wajahnya masih menyimpan sisa kekanak-kanakan yang belum sempat benar-benar hilang.

Dia datang ke rumah keluarga Prameswari dengan membawa hasil tes DNA, surat dari penyelidik swasta, dan keyakinan polos yang kini terasa lucu bila diingat.

Waktu itu dia mengira darah akan berarti sesuatu.

Ternyata tidak.

Di ruang tamu besar rumah itu, Marwan Prameswari, ayah kandungnya, membaca hasil tes sambil duduk tegak. Wajahnya pucat, tetapi bukan karena bahagia menemukan anak yang hilang. Lebih seperti orang yang menemukan masalah baru di meja kerjanya.

Di sampingnya, Ratna, ibu kandung Ayla, menutup mulut sambil menangis.

Ayla masih ingat sempat berpikir, mungkin tangisan itu untuknya.

Lalu Ratna berkata, “Bagaimana dengan Alina?”

Begitulah.

Kalimat pertama yang keluar setelah mereka tahu Ayla adalah anak kandung mereka bukan tentang Ayla. Bukan tentang bagaimana dia hidup selama bertahun-tahun. Bukan tentang siapa yang menculiknya. Bukan tentang luka di lengannya, bekas peluru di bahunya, atau mata anak lima belas tahun yang sudah terlalu sering melihat kematian.

Kalimat pertama itu tentang Alina.

Gadis yang duduk di sofa lain dengan wajah pucat.

Alina Prameswari. Cantik, berkulit bersih, rambut panjang rapi, dan mata yang begitu mudah berkaca-kaca sampai semua orang ingin melindunginya.

“Papa,” suara Alina bergetar, “kalau Kak Ayla kembali, berarti aku harus pergi?”

Ratna langsung memeluknya.

“Tidak, Nak. Kamu tidak akan pergi ke mana-mana.”

Ayla berdiri di dekat pintu. Dia masih membawa ransel hitam. Sepatunya kotor karena tadi turun dari kapal lalu naik mobil tanpa mengganti pakaian. Pengurus rumah memandangnya seperti dia noda di lantai marmer.

Marwan menghela napas panjang.

“Ayla, kami tentu senang kamu masih hidup.”

Tentu.

Kata itu terdengar seperti awal kontrak bisnis.

“Tapi situasi ini rumit,” lanjut Marwan. “Alina sudah kami besarkan sejak kecil. Semua orang mengenalnya sebagai putri keluarga Prameswari.”

Ayla menatapnya.

“Lalu?”

Ratna menoleh cepat. “Jangan bicara begitu pada papamu.”

Papa.

Kata itu asing sekali.

Marwan meletakkan kertas hasil tes DNA di meja. “Untuk sementara, kami akan memperkenalkanmu sebagai anak angkat keluarga. Nanti pelan-pelan kita cari cara yang tidak melukai siapa pun.”

Ayla tertawa pelan.

Semua orang menatapnya.

“Tidak melukai siapa pun?” ulang Ayla. “Maksudnya tidak melukai Alina?”

Wajah Alina langsung basah oleh air mata. “Kak, aku tidak pernah minta semua ini.”

“Aku juga tidak minta diculik.”

Ruangan itu membeku.

Ratna mengusap punggung Alina, lalu menatap Ayla dengan kecewa. “Ayla, Alina juga korban. Dia tidak tahu apa-apa.”

“Kalau tidak tahu apa-apa, kenapa dia lebih dulu menangis daripada aku?”

“Cukup,” kata Marwan.

Nada itu bukan nada seorang ayah yang baru menemukan anaknya. Itu nada pemilik rumah pada tamu yang kurang sopan.

Malam itu berakhir buruk.

Beberapa hari kemudian, Alina menuduh Ayla merusak gaun Ratna yang akan dipakai untuk acara yayasan. Semua bukti dibuat rapi. Pengurus rumah bersaksi melihat Ayla masuk ruang pakaian. Ratna menangis karena kecewa. Marwan memutuskan Ayla harus kembali ke luar negeri dulu sampai keadaan tenang.

Tidak ada yang bertanya kenapa Ayla perlu merusak gaun.

Tidak ada yang bertanya kenapa gunting ditemukan di kamar Ayla padahal dia lebih suka pisau lipat.

Saat Alina menunduk sambil berkata, “Aku yakin Kak Ayla tidak sengaja,” Ayla akhirnya mengerti.

Gadis lembut itu tidak lemah.

Dia hanya memilih senjata yang berbeda.

Ayla memukulinya.

Tidak parah menurut standar Besi Kelabu. Sangat parah menurut standar rumah keluarga Prameswari.

Sejak itu, Ayla pergi.

Empat tahun berlalu.

Pesawat mendarat di Jakarta menjelang subuh. Langit masih abu-abu, jalan tol belum terlalu padat, dan gedung-gedung tinggi terlihat seperti bayangan kaca.

Ayla keluar dari bandara dengan satu koper kecil. Dia memakai celana hitam, kemeja putih longgar, jaket tipis, dan sepatu kets. Tidak ada yang melihatnya dua kali, kecuali seorang sopir pribadi yang memegang papan nama.

AYLA PRAMESWARI.

Dia berhenti di depan pria itu.

“Dari rumah?”

Sopir itu tampak gugup. “Iya, Nona.”

“Siapa yang menyuruh?”

“Pak Marwan.”

Ayla tersenyum tipis. “Dia masih ingat aku bisa pulang sendiri?”

Sopir itu tidak tahu harus menjawab apa.

Perjalanan menuju kawasan rumah Prameswari memakan waktu hampir satu jam. Jakarta mulai bangun. Warung bubur di pinggir jalan mengeluarkan uap panas. Pengendara motor berdesakan di lampu merah. Ojol berhenti di depan minimarket. Semua terasa bising, padat, hidup.

Ayla menatap keluar jendela.

Pulau Seraya punya suara ombak dan tembakan.

Jakarta punya klakson dan rahasia.

Ponselnya bergetar.

Bara mengirim pesan.

Sudah sampai?

Ayla mengetik: Belum membunuh siapa pun.

Bara membalas cepat.

Itu bukan jawaban yang menenangkan.

Ayla memasukkan ponsel ke saku.

Mobil berhenti di depan gerbang tinggi. Rumah keluarga Prameswari tidak banyak berubah. Masih megah, masih dingin, masih seperti tempat yang lebih peduli pada simetri taman daripada manusia yang tinggal di dalamnya.

Begitu Ayla masuk, seorang asisten rumah tangga tua hampir menjatuhkan nampan.

“Non Ayla?”

Ayla menoleh. “Masih ingat?”

Perempuan itu tampak ingin tersenyum, tetapi ragu. “Iya, Non.”

Dari ruang makan terdengar suara sendok. Keluarga itu sedang sarapan.

Bagus.

Ayla paling suka masuk saat orang belum siap.

Dia berjalan ke ruang makan tanpa menunggu diumumkan.

Di meja panjang itu duduk Marwan, Ratna, Alina, dan Reno Prameswari, kakak laki-laki Ayla yang kini dikenal sebagai aktor papan atas. Reno sedang menunduk melihat ponsel, sementara Alina menyuapkan potongan buah ke mulut dengan gerakan anggun.

Ratna yang pertama melihatnya.

Sendoknya jatuh ke piring.

“Ayla?”

Alina menoleh.

Wajahnya langsung berubah.

Untuk sepersekian detik, Ayla melihat rasa takut yang sangat jujur di mata gadis itu. Namun detik berikutnya, mata itu sudah berkaca-kaca.

Hebat.

Empat tahun berlalu, kemampuan aktingnya makin halus.

Marwan berdiri. “Kenapa kamu datang mendadak?”

Ayla menarik kursi kosong lalu duduk.

“Rumah sendiri harus pakai jadwal?”

Reno mengangkat wajah dari ponsel. Dahinya berkerut. “Ini Ayla?”

Ayla meliriknya. “Kamu siapa?”

Reno terdiam.

Ratna tampak tidak senang. “Ayla, dia kakakmu.”

“Oh.”

Ayla mengambil roti panggang dari piring tengah.

“Kakak yang waktu adiknya ditemukan kembali malah sibuk syuting di Bali itu?”

Wajah Reno menegang.

Alina menggigit bibir. “Kak Ayla, jangan mulai pagi-pagi begini. Papa baru pulih dari sakit.”

Ayla menoleh padanya.

“Aku baru duduk. Kamu sudah merasa diserang?”

Mata Alina langsung basah.

Ratna memegang tangan Alina. “Ayla.”

Nada peringatan.

Nada yang sama seperti empat tahun lalu.

Ayla mengunyah roti perlahan. “Tenang, Bu. Aku tidak datang untuk minta dipeluk.”

Kalimat itu membuat Ratna pucat.

Marwan duduk kembali, mencoba menguasai keadaan. “Kalau kamu butuh uang, bilang saja. Tidak perlu membuat suasana begini.”

Ayla tertawa.

Reno menatap ayahnya dengan ekspresi tidak nyaman.

“Uang?” Ayla mengulang. “Pak Marwan, harta keluarga ini bahkan tidak cukup untuk membayar satu bulan biaya operasional tempatku bekerja.”

Marwan merasa tersinggung. “Jaga ucapanmu.”

“Aku sudah menjaganya. Kalau tidak, sarapan ini selesai dari tadi.”

Alina memucat.

Ayla mengambil serbet, mengusap sudut bibir, lalu menatap Marwan.

“Aku akan tinggal di sini beberapa hari.”

Ratna spontan berkata, “Tapi kamar tamu belum disiapkan.”

“Aku tidak bilang kamar tamu.”

Semua orang diam.

Ayla tersenyum pada Alina.

“Kamarku yang dulu dipakai siapa sekarang?”

Alina menggenggam garpu lebih erat. “Kak, kamar itu...”

“Punyamu?”

Alina menunduk. Air matanya jatuh.

“Aku tidak tahu Kak Ayla masih ingin kamar itu. Kalau Kakak mau, aku bisa pindah. Aku tidak apa-apa.”

Reno langsung mengerutkan dahi. “Ayla, jangan keterlaluan. Alina tidak salah.”

Ayla menatapnya.

Reno merasa tengkuknya dingin.

“Aku baru bertanya satu kamar,” kata Ayla. “Kalian sudah seperti aku membakar rumah.”

Ratna mengusap mata. “Ayla, kamu harus mengerti. Alina sudah lama tinggal di sini. Kamu baru pulang. Jangan langsung merusak suasana.”

Nah.

Kalimat itu.

Jangan merusak suasana.

Ayla menaruh serbet di meja.

“Empat tahun lalu, kalian memperkenalkan aku sebagai anak angkat agar suasana Alina tidak rusak. Sekarang aku pulang ke rumah kandungku sendiri, aku masih diminta menjaga suasana.”

Ratna tampak ingin bicara, tetapi tidak jadi.

“Aku tidak peduli kalian menyayangi siapa,” lanjut Ayla. “Aku juga tidak butuh kursi Alina di meja ini. Tapi ada saham delapan belas persen Prameswari Group yang ditinggalkan Kakek untukku saat aku dewasa.”

Wajah Marwan berubah.

Ayla melihat perubahan itu dan tersenyum.

“Nah. Akhirnya kita sampai pada hal yang kalian pedulikan.”

Alina mengangkat wajah. Kali ini air matanya benar-benar berhenti sebentar.

Ayla berdiri.

“Aku akan mandi. Siapkan kamarku.”

Ratna masih terpaku.

Ayla berjalan melewati Alina, lalu berhenti di samping kursinya.

Dia menunduk sedikit.

“Alina.”

Alina menoleh pelan.

Ayla tersenyum lembut.

“Empat tahun lalu kamu menang karena aku masih berharap punya keluarga. Sekarang aku sudah sembuh.”

Wajah Alina kehilangan warna.

Ayla menegakkan tubuh dan berjalan keluar ruang makan.

Di belakangnya, sarapan keluarga Prameswari tidak lagi terasa hangat.

Dan untuk pertama kalinya sejak pagi, tidak ada yang berani menyuruhnya menjaga suasana.

1
Osie
masih penuh misteri tapi seru..gak bosan nulis up lanjutannya thor💪💪💪💪💪💪
Bonny Liberty
cerita elit,cerdas,no menyerang.. menye...semangat!!!!!
Osie
up lagi ya thoorr🙏🙏🙏🙏🙏 ceritanya bagus bangeett..suka suka suka suka
Osie
datang lagi 1 teman mamba🤣🤣 makin seruuu
Osie
thoor aku baca udah sampai bab ini lho..sumpeh bagus banget alur ceritanya..tapi sayang msh sepi..pdhal kereen abiiss/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/so haraoanku ini cerita sampai end..i hope
Osie
yaaacckk arga kenapa gak langsung di bogor aja sisurya nya..kabutkan dia
Osie
jangan bilang emaknya si ratna juga ikut terlibat
Osie
alina siap siap menuju lubang kematian
Osie
ayla dilawan..ya manaaa bisaaaa..mama cuuyy udah biasa membunuh dlm senyap
Osie
wwaaww aku aku gaya ayla..kereen abiizzz..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!