NovelToon NovelToon
Married To Captain Ren

Married To Captain Ren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Taraline

Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.

Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Satu minggu setelah Kapten Ren Adhyaksa membuka mata di ruang ICU, pria itu akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan VIP paviliun bedah.

Bagi para perawat rumah sakit, ini adalah kabar baik sekaligus bencana. Kabar baiknya, masa kritis sang pahlawan militer telah lewat. Bencananya? Pasien VIP mereka adalah seorang komandan pasukan khusus yang sangat benci menjadi pasien.

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah tirai yang baru saja ditarik terbuka oleh Cia. Gadis itu berdiri di dekat jendela, mengenakan kemeja santai berwarna peach dan celana jeans, karena hari ini adalah hari libur jaganya.

Di atas ranjang rumah sakit, Ren duduk bersandar pada tumpukan bantal. Wajahnya sudah tidak sepucat minggu lalu, namun rahangnya mengeras menatap semangkuk bubur ayam hambar di atas meja dorong lipat di depannya.

"Ini makanan atau bubur kertas?" komentar Ren datar, menyingkirkan mangkuk itu dengan ujung telunjuknya yang sehat. "Saya butuh protein hewani yang utuh, Cia. Bukan sesuatu yang bentuknya mirip makanan bayi."

Cia berbalik, berkacak pinggang menatap suaminya. "Mas Ren, ususmu itu baru saja beristirahat panjang gara-gara infeksi dan malnutrisi. Kalau kamu langsung makan rendang padang atau steak daging, ususmu bisa kaget dan infeksi lagi. Mau balik ke ICU?"

"Saya bisa mengunyah dengan baik," bantah Ren keras kepala.

"Nggak ada negosiasi," putus Cia mutlak. Gadis itu berjalan mendekat, menarik kursi di sebelah ranjang, dan mengambil mangkuk bubur tersebut. Ia menyendoknya sedikit, meniupnya pelan, lalu menyodorkannya ke depan mulut Ren. "Buka mulutnya, Kapten. Aaa."

Ren menatap sendok itu, lalu menatap wajah Cia dengan pandangan yang biasanya cukup untuk membuat prajurit baru lari keliling lapangan sepuluh kali. Namun di mata Cia, tatapan mematikan suaminya saat ini tidak lebih mengintimidasi daripada seekor singa besar yang sedang sakit gigi.

"Saya bisa makan sendiri," gerutu Ren. Ia mengangkat tangan kirinya untuk merebut sendok itu, namun gerakannya tertahan karena infus yang masih terpasang.

"Tangan kirimu dipasang jalur infus untuk antibiotik. Bahu kananmu baru selesai operasi dan dilarang banyak gerak," Cia mengingatkan, alisnya bertaut galak layaknya dokter konsulen. "Jadi berhentilah gengsi dan buka mulutmu sebelum buburnya dingin."

Ren menghela napas pasrah. Dengan raut wajah sangat terpaksa, pria berotot baja itu akhirnya membuka mulut dan menerima suapan dari istrinya.

Cia tersenyum puas, menyuapkan sendok demi sendok dengan telaten. Melihat Ren patuh dan menurut di bawah omelannya memberikan sensasi kemenangan tersendiri bagi Cia. Tembok baja pria itu perlahan runtuh, menyisakan seorang manusia biasa yang juga butuh dirawat.

Tepat saat mangkuk bubur itu tandas, terdengar suara ketukan di pintu.

Pintu terbuka, menampilkan pemandangan yang membuat ujung bibir Ren berkedut tipis. Letnan Bima masuk ke dalam ruangan... dengan didorong menggunakan kursi roda oleh Lettu Maya.

Bima terlihat jauh lebih kurus. Wajahnya masih pucat, dan ia mengenakan piyama rumah sakit yang kebesaran. Namun, senyum jail yang menjadi ciri khas pria itu sudah kembali terpasang sempurna.

"Lapor, Komandan! Pasukan cacat siap menghadap!" seru Bima dengan nada dibuat-buat, mencoba mengangkat tangan kanannya untuk memberi hormat meski langsung meringis karena lukanya sendiri.

Ren mendengus pelan. "Istirahat di tempat, Letnan. Simpan tenagamu. Kamu terlihat seperti mayat hidup."

"Yaelah, Ndan. Sendirinya juga disuapin bubur sama istri," goda Bima, melirik mangkuk kosong di tangan Cia. Bima menoleh ke arah Cia dan memberikan cengiran lebar. "Pagi, Mbak Cia. Makasih lho, minggu lalu udah bantu mompa jantung saya. Tarikan tangan Mbak Cia mantap juga."

Cia tertawa pelan, meletakkan mangkuk ke meja. "Pagi, Bima. Kalau kamu berani bercanda begitu, berarti kondisimu udah membaik. Ginjal kananmu masih bisa kompromi?"

"Aman, Mbak. Sisa satu ginjal cukup lah buat lari pagi sepuluh keliling asrama nanti," Bima membusungkan dada, meski akhirnya terbatuk pelan.

Maya, yang berdiri di belakang kursi roda Bima, menghela napas melihat kelakuan rekannya itu. Wanita berseragam PDH itu kemudian melangkah maju, menghadap Cia, dan memberikan hormat kecil yang sedikit canggung.

"Mbak Cia," panggil Maya. Suaranya tidak lagi sekaku dan sedingin dulu. Ada kelembutan dan rasa hormat yang mendalam di matanya. "Saya ingin mengucapkan terima kasih secara resmi. Mewakili kompi, dan... sebagai diri saya sendiri. Mbak Cia sudah menyelamatkan Bima, Yuda, dan tetap berdiri tegar untuk Komandan kami. Saya mohon maaf atas sikap saya selama ini yang sering meremehkan Mbak."

Cia terpaku sejenak. Mendengar permintaan maaf dari seorang perwira wanita yang begitu tangguh dan terpandang di asrama membuat dada Cia menghangat.

Gadis itu melangkah maju, meraih tangan Maya, dan menggenggamnya erat. "Mbak Maya nggak perlu minta maaf. Kita sama-sama berusaha ngelindungin apa yang penting buat kita. Cepat sembuh buat lukamu juga, ya," ucap Cia tulus, menyadari ada goresan luka baru di pelipis Maya akibat ikut dalam operasi penyelamatan.

Maya tersenyum, sebuah senyum yang akhirnya mencapai mata. "Siap, Mbak Cia."

Kunjungan Bima dan Maya tidak berlangsung lama karena jadwal pemeriksaan dokter. Setelah mereka keluar, ruangan kembali sepi, hanya menyisakan suara detik jam dan rintik hujan yang mulai membasahi jendela kaca VIP.

Malam harinya, suhu udara mendingin.

Cia sedang duduk di sofa panjang sudut ruangan, membaca jurnal medis di tabletnya dengan kacamata baca bertengger di hidung. Ia sangat fokus hingga tidak menyadari sepasang mata elang sedang memperhatikannya dari atas ranjang.

Ren belum tidur. Obat pereda nyerinya sudah habis efeknya satu jam yang lalu, membuat rasa ngilu dari sayatan di perut dan bahunya terasa berdenyut-denyut. Namun, alih-alih memencet bel perawat untuk meminta tambahan analgesik, pria itu memilih diam dan menjadikan wajah istrinya sebagai obat penawar sakit.

Cia di malam hari, dengan kacamata baca dan rambut yang dijepit asal, terlihat sangat berbeda dari Cia yang bar-bar di IGD atau Cia yang panik saat memasak. Gadis itu tampak sangat cerdas, tenang, dan... mempesona.

"Cia."

Panggilan serak itu memecah kesunyian. Cia segera meletakkan tabletnya, melepas kacamata, dan bergegas menghampiri ranjang Ren.

"Kenapa, Mas? Lukamu sakit? Mau aku panggilin perawat jaga buat nambah dosis antinyerinya?" tanya Cia panik, matanya memindai layar monitor vital sign suaminya dengan sigap.

Ren menggeleng pelan. Dengan sisa tenaganya, pria itu menggeser tubuh besarnya sedikit ke sisi kiri ranjang VIP yang cukup lebar itu. Tangan kirinya menepuk ruang kosong di sebelah kanannya.

"Duduk sini," perintah Ren pelan.

Cia mengerjap ragu. "T-tapi ini ranjang pasien, Mas. Nanti kalau aku nggak sengaja nyenggol lukamu gimana?"

"Duduk, Cia." Nada suara Ren sedikit lebih tegas, meski tetap diselimuti kelembutan.

Mengalah pada sifat keras kepala suaminya, Cia perlahan naik ke atas ranjang. Ia duduk dengan sangat hati-hati, menjaga jarak aman agar tidak menyentuh bagian kanan tubuh Ren yang penuh perban. Ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, sejajar dengan Ren.

Udara mendadak terasa jauh lebih intim. Aroma maskulin Ren berpadu dengan bau khas rumah sakit mengelilingi Cia, membuat jantungnya mulai berdetak dengan ritme yang tidak wajar.

Ren menoleh, menatap profil samping Cia. "Kamu pernah bertanya padaku, di parkiran studio foto waktu itu. Tentang alasan di balik perjodohan kita."

Cia menahan napas. Ia menoleh menatap Ren. "Kamu mau ceritain sekarang? Kalau kamu masih capek, nggak usah dipaksa, Mas."

"Saya rasa sudah saatnya kamu tahu," ucap Ren tenang. Matanya menerawang, menembus dinding ruangan, kembali ke ingatan masa lalunya.

"Lima tahun yang lalu," Ren memulai ceritanya, suaranya mengalun rendah bagai cello di tengah rintik hujan. "Saat itu saya masih berpangkat Letnan Satu. Kompi saya ditugaskan untuk mengawal sebuah proyek infrastruktur jembatan pemerintah di pedalaman wilayah konflik. Ayahmu, Herman Prasetyo, adalah kepala arsitek lapangan proyek tersebut."

Cia membelalakkan mata. Papanya memang sering dinas ke luar kota berbulan-bulan saat Cia masih SMA, namun ayahnya selalu beralasan proyek itu aman dan terkendali.

"Suatu sore, konvoi kami disergap dari dua arah," lanjut Ren. Rahangnya sedikit menegang mengingat kilas balik pertempuran itu. "Kekuatan tidak seimbang. Tembak-menembak terjadi sangat kacau. Saya terkena serpihan granat di paha dan tidak bisa berjalan. Posisi saya sangat terbuka di tengah jalan tanah."

Jantung Cia berdegup kencang. Ia tanpa sadar meremas selimut rumah sakit.

"Saat pasukan saya terdesak mundur dan saya bersiap menembakkan peluru terakhir saya..." Ren menelan ludah, menatap lurus ke mata Cia. "Ayahmu, seorang warga sipil yang sama sekali tidak punya pelatihan militer, berlari keluar dari tempat perlindungannya di balik truk logistik. Di tengah hujan peluru, pria paruh baya itu menarik kerah rompi taktis saya, menyeret tubuh saya ke dalam parit yang aman."

Bibir Cia terbuka sedikit. Papanya... pria pemaaf yang lebih suka merawat tanaman hias di balkon apartemen, melakukan hal senekat itu?

"Helm ayahmu terserempet peluru, tapi dia tidak melepaskan saya," suara Ren terdengar sangat sarat akan rasa hormat. "Berkat ayahmu, saya selamat. Saat keadaan sudah aman, Panglima ingin memberikan penghargaan pada ayahmu, tapi beliau menolak mentah-mentah. Ayahmu bilang, beliau hanya melakukan apa yang harus dilakukan sesama manusia."

Hening merayap di antara mereka. Air mata menggenang di pelupuk mata Cia karena bangga yang luar biasa pada ayahnya.

"Lalu... gimana ceritanya bisa nyambung ke perjodohan kita?" bisik Cia parau.

Ren memiringkan tubuhnya sedikit menghadap Cia, mengabaikan rasa ngilu di perutnya.

"Tahun lalu, ayahmu tiba-tiba mendatangi komandan ayah saya, Jenderal Arman. Beliau tampak sangat terpukul dan menagih utang nyawa itu," Ren memberikan jeda. Tangannya yang bebas bergerak perlahan, merapikan sehelai rambut Cia yang jatuh ke dahi gadis itu. "Ayahmu menceritakan tentang putri bungsunya yang baru saja dikhianati dan menangis setiap malam. Ayahmu takut suatu saat beliau tidak berumur panjang dan tidak ada yang bisa melindungi putrinya."

Cia menunduk. Masa lalu dengan Davin benar-benar membuat keluarganya menderita secara batin, dan ia baru menyadarinya sekarang.

"Ayahmu meminta Jenderal Arman untuk mencarikan seorang perwira yang tangguh, yang tidak akan pernah ingkar janji, dan bersedia menjadikan putrinya sebagai satu-satunya prioritas di luar tugas negara," lanjut Ren.

"Dan... ayahmu memilihmu?" tanya Cia. "Karena utang nyawa itu, kamu merasa terpaksa mendaftarkan diri?"

Ren menggeleng pelan. Pria itu menyentuh dagu Cia dengan telunjuknya, mengangkat wajah gadis itu agar mata mereka kembali bertubrukan.

"Jenderal Arman tidak menunjuk saya. Ayah saya bahkan berniat mencarikan perwira lain karena tahu saya tidak pernah tertarik pada pernikahan," jawab Ren tegas. "Sayalah yang mengajukan diri. Saya yang memaksa Jenderal Arman agar sayalah yang maju menemui ayahmu."

Cia terpaku. "K-kenapa?"

Sudut bibir Ren melengkung ke atas, membentuk senyuman tipis yang begitu hangat, meruntuhkan sisa-sisa citra 'kanebo kering' yang selama ini melekat padanya.

"Karena malam setelah kejadian lima tahun lalu itu, ayahmu sempat menunjukkan sebuah foto dari dompetnya saat kami sedang dirawat di tenda medis," suara Ren berubah menjadi bisikan yang sangat lembut. "Foto seorang gadis remaja SMA yang tersenyum sangat lebar sambil memegang piala lomba cerdas cermat biologi."

Ren mengusap pipi Cia dengan ibu jarinya, menghapus setetes air mata yang lolos.

"Saat ayahmu datang kembali tahun lalu dan bercerita bahwa senyum di foto itu telah hilang karena pria berengsek..." Tatapan mata Ren menggelap sejenak, penuh insting melindungi, sebelum kembali melembut. "Saya memutuskan, utang nyawa saya hanya bisa dibayar lunas jika saya bisa memastikan gadis di foto itu kembali tersenyum, dan tidak akan pernah menangis lagi karena merasa ditinggalkan."

Dada Cia serasa mau meledak. Semua prasangkanya selama ini hancur tak bersisa. Pernikahan ini bukan sekadar tugas militer yang dipaksakan. Dari awal, sebelum Cia bahkan mengetahui nama pria ini, Ren sudah melangkah masuk dengan tujuan untuk melindunginya.

"Mas..." isak Cia pelan. Gadis itu tidak bisa lagi menahan diri. Ia mencondongkan tubuhnya dengan sangat hati-hati, lalu memeluk leher Ren, menenggelamkan wajahnya di celah perpotongan leher pria itu yang aman dari luka.

Ren membalas pelukan itu dengan tangan kirinya, mendekap punggung istrinya erat-erat. Ia menghirup aroma sabun stroberi dari rambut Cia, aroma yang selama berbulan-bulan menjadi alasannya untuk bertahan dari siksaan kelompok separatis di dalam gua gelap yang dingin.

"Saya mencintaimu, Almeera," bisik Ren di telinga Cia. Tiga kata yang tak pernah terbayangkan akan keluar dari bibir seorang Kapten Ren Adhyaksa, kini terucap dengan begitu mudah, nyata, dan tanpa keraguan sedikit pun. "Lebih dari sekadar utang nyawa."

Cia semakin mengeratkan pelukannya, menangis bahagia di pelukan pria yang kini benar-benar telah menjadi rumahnya. "Aku juga, Mas. Aku sayang banget sama kamu. Tolong, jangan hilang lagi. Jangan pernah hilang lagi."

"Tidak akan," janji Ren mencium puncak kepala istrinya. "Medan perang saya yang paling berharga ada di sini, di pelukanmu."

Di luar jendela VIP, hujan mulai mereda. Malam itu, di atas ranjang rumah sakit yang sempit, tidak ada lagi jarak antara dunia kedokteran dan militer. Yang tersisa hanyalah dua manusia yang akhirnya menemukan jawaban atas segala ketidakpastian, saling mengikat rindu dan masa depan dalam dekap yang tak ingin lagi dilepaskan.

1
NonaAns
Wakakak ngebanyangin ekspresinya 🤣
sri wahyuni
smngat thor
sri wahyuni
/Scowl//Scowl//Scowl/
sri wahyuni
lanjut thor
sri wahyuni
😍😍😍
sri wahyuni
smngat thor
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!