" Tanda tangani surat pengalihan perusahaan Wisesa Grup, kalau tidak mau, kalian semua akan kami siksa "Gertak Vera, ibu tiri Hardiansyah.
Dengan disaksikan istrinya Kiara, Hardiansyah menandatangani pernyataan penyerahan pengelolaan perusahaan.
Juna menantu Hardiansyah mendengar dibalik pintu baja, ia bersembunyi di lorong bersama Alissa istrinya yang baru melahirkan satu minggu.
Aruna Putri Permana yang baru berusia satu minggu dibawa Jono dan Isah, supir serta pengasuh setia keluarga Hardiansyah, mereka telah menunggu Juna yang lewat lorong di rumah kecil disebelah rumah utama sampai dua jam tak kunjung datang, sehingga mereka berpendapat kalau keluarga Hardiansyah telah dibunuh maka untuk menyelamatkan Aruna sebagai keturunan Wisesa, Jono dan Isah lari ke Jogja.
AFfandra cowok tampan anak Ferdiansyah harus pindah sekolah ke Jogja di SMA Aruna sekolah bahkan sekelas dengan Aruna.
Tasya, ikut pindah ke sekolah Ffandra dan sekelas dengan Ffandra juga Runa.
Penasaran? baca ya cerita ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika77h, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33 Ke Rumah Juna
" Bu lik, dulu Tasya saat kesini bilang apa ya, kok dia merasa rumah ini telah ia miliki."
" Anaknya yang seperti apa Run?"
" Ayuk kita masuk ke kamar atas, bersama paman juga, aku kok jadi penasaran sama anak itu, aku takut kalau dia anak gila," semua menuju keatas, perasaan aneh menyelimuti hatinya dan semua berprasangka kalau Tasya anak yang seteres, Sisi yang tahu saat dia masuk kamar iapun memberitahukannya.
" Thok thok thok, tidak di buka," gerutu Aruna, ia jadi merinding lihat wajah kaku Tasya tadi jangan jangan ia memang anak seteres.
" Ffand, kamu yang pernah jadi temanmya di Jakarta, gimana apa ia anak waras?" tanya Rinda.
" Atau kita panggil beberapa polisi ya, cewek tadi mengganggu kami sebagai orang yang di beri tanggung jawab menungguinya," ucap Pak lik.
" Iya aku mau telpon kantor polisi, kami juga tidak nyaman jangan jangan cewek ini tak beres," ucap Ferdi, dan tiba tiba Tasya buka pintunya, terus Bu lik menarik lengannya dan meminta Ferdi agar nelpon polisi saja, karena ia takut kalau sewaktu waktu datang terus tanpa bicara ia masuk rumah ini.
" Jaangan telpon polisi," Tasya kaya ketakutan.
" Tetapi kamu masuk rumah orang tanpa permisi, bahkan kamu punya kunci duplikatnya semua kamar selalu terkunci kalau habis aku bersihin," Bu lik menarik kunci kamar yang menancap di lobang kunci dan ada yang menggantung.
" Ini, berarti kamu yang mengambil kunci, kini sudah terjawab 2 kunci kamar raib ternyata kamu yang membawa, aku tak nyaman dengan cewek ini lho nantinya," ucap Pak lik.
" Mas, sewaktu waktu anak ini datang kesini tanpa permisi, langsung panggil polisi," ucap Papinya Dani, akhirnya yang sudah memasukkan tas di kamar atas membawa tas ke bawah, mereka pada takut sama Tasya kalau kalau ia memang seteres.
Jam makan siang,
" Tasya, ayuk makan siang," Bulik diikuti Pak lik juga beberapa anak membuka kamar yang ditempati Tasya, ia sedang berdiri di dekat jendela kamar, sedang memandang pekarangan belakang, mendengar ada yang manggil apalagi disuruh makan cepat cepat ia membalik badannya, terus berjalan dengan wajah ditekuk dan tak mau bicara, bahkan ditanya juga tidak mau menjawab, semua pada kawatir kalau cewek ini benar benar tidak sehat jiwanya, ini tentu meresahkan penghuni disini.
" Aku jadi takut kalau malam malam kita pada tidur menuju ke dapur menyetel kompor dan membiarkannya, iiiihhh bayangin aku takut juga lho Dan."
" Bisa terjadi ia akan nekad kaya gitu Ffand."
" Tentu Dan, kamu belum tahu kan, selama ia tak berangkat sekolah itu mendekam di kantor polisi, tuh aku kirim video tentang tindakan Tasya," Dani menyetel video kiriman Ffandra,
" Aahhh, ini benar benar berbahaya Ffand, kita harus waspada bisa bisa ia melakukan aksi yang kamu utarakan, penghuni sini perlu diberi tahu tentang Tasya, video akan aku kirim."
" Dan, yang sudah punya video ini orang orang yang nginep disini, orang tuaku sama Runa." Danipun kirim video ke orang orang yang ikut menginap disini kecuali Tasya atau yang disebutkan oleh Ffandra barusan, semua terkejut, dan pada koment,
" Ini tindak kriminal bener lho, dan kita nanti harus berjaga bergantian, kalau bisa nyewa polisi," komen Rinda, dan rata rata koment pada video kiriman supaya nyewa polisi untuk berjaga terutama malam hari.
Acara makan siangpun usai, semua sudah melakukan kewajibannya sebelum makan, hanya Tasya yang tak mau gabung seperti di sekolah, kecuali makan siang tadi ia ngantri lebih dulu, malah orang tua Ffandra sama Dani dan yang lebih tua lainnya belum mendatangi Tasya sudah ngambil dulu, lalu duduk tak jauh dari makanan seorang diri.
" Jangan jangan ia memang anak konslet, tapi di sekolah bisa mengikuti pelajaran juga cara berpakaian tetap modis, atau anak muka tembok," guman Runa, ia agak merindiiing tubuhnya lihat wajah nekuk yang sedang makan lahab.
" Ffand siap ya keluar."
" Iya siap, gimana kalau Runa diajak, aku selalu ingin ia ikut kemanapun."
" Belum tentu dia mau lho Ffand, jelas ia tak tega ninggalin para tamunya."
" Ya di coba dulu lah, kan ada bu lik, Rinda sama Sisi juga seneng bantu bantu di dapur," Dani akhirnya menyerah sedang Ffandra mendekati Runa.
" Runa yuk temani sebentar Dani ke rumah tante Alissa," Ferdi yang sedang berada dekat dengan Runa bersama Mia kaget mendengar nama Alissa,
" Ffand, bukankah rencana kamu mau berdua sama Dani?"
" Danis juga diajak kok," Ferdi yang ikut nyimak daadaanya bergemuruh hibat, kaya gunung berapi yang mau memuntahkan material ke permukaan.
" Run, ikut saja sana." Ferdi mampu buka suara dengan tetap bergemuruh daadaanya, dan ia tak berani bertanya banyak tentang Alissa, atau bahkan ngikut bisa bisa ia ketakutan pada Ferdi, sehingga semua biarlah si Dani, ia berpura pura dulu tak mengenalnya karena sambil menunggu reaksi Alissa,
Selama ini Ferdi memang tak mau tanya tentang keberadaan seluruh keluarga Hardiansyah pada Papa Manyu, dia takutlah membuat kakeknya Ffandra jadi marah, sehingga mending tak mau urusan.
" Run, ayuk cepet tuh Dani dah ngikut," karena Runa di desak oleh Ferdi juga Mia akhirnya menuruti.
" Aku enggak ganti kostum Ffand."
" Ya sudah enggak apa apa kok, layak juga." berdua mendekati Dani sama Danis, dan berpamitan pada orang tuanya Ffandra, lalu berjalan keluar menuju jalan besar, Dani pesan car online, lima menit menunggu datanglah mobil tersebut.
Hanya sekitar dua puluh menit sampai ke gerai roti Selera, tak lupa Ffandra memesan berbagai roti dengan aneka rasa, juga kudapan baik yang di kukus maupun yang digoreng titipan dagangan dari para pembuat khas kota ini, lalu keempatnya menuju ke garasi.
" Dani, kamu apa yang nyetir?"
" Kamu saja Ffand, aku pengin jadi bos sama Danis dibelakang," Ffandra masuk ke mobil setelah membuka pintu pakai remote.
" Sudah masuk semua, Runa enggak tertinggal di gerai," biasa Ffandra suka canda hanya ingin merangkul pundak Runa, atau mendekatkan wajahnya ke bagian tubuhnya saja, syukur Ffandra bisa nyiumm pipinya, tapi ini sulit kecuali kalau Runa lagi terlena.
" Huuuh modusnya dah mulai kamu nih Ffand, udah kangen ku tonyor ya."
" Aaah ampun tuan putri."
" Ffand, malahan enggak jalan jalan, cuman candaan saja."
" Ok ok mau jalanin nih Dan," Ffandra nyetater mobil 3 menit dipanasi terus dijalankan mobilnya, Dani di belakang memandu, sengaja tak pakai aplikasi, duapuluh lima menit sampailah ke sebuah jalan kecil tetapi tetap bisa lewat dua mobil dan berhenti di sebuah rumah yang tak terlalu besar, rumah dengan pekarangan cukup luas dipinggiran kota, pintu gerbang telah dibuka sehingga Ffandra di suruh sekalian memasukan mobil karena kalau di parkir di jalan mengganggu yang lain.
****
Arine sudah diberi tahu kalau Dani mau datang bersama temannya, sehingga ia sudah menyiapkan cemilan, keluarga juga sudah di beri tahu demikian Davka, sehingga iapun sudah standby di rumah Arine.
Dani dan Danis turun duluan sedang Ffandra sibuk modus sama Aruna.
" Run, tolongin punggungku gatal, garukkan dulu, kan malu tamu garuk garuk di dalam, bisa tersinggung tuan rumahnya dikiranya tak pernah dibersihin, padahal rumahnya saja sudah kelihatan bersih," apa boleh buat Runa nuruti Ffandra.
" Lagi, atasnya terus sebelahnya."
" Uuuuhhhh dasar modus nih kamu Ffand," tangan Runa nyubit yang gatal.
" Ha ha ha, cup," bibir Ffandra mendarat di bibir Runa yang manyun dengan muka nekuk, tambah nekuklah Runa kecolongan bibirnya oleh bibir Ffandra.
" Ffand, kamu kalau seharian enggak buat dongkol aku, gataal ya, nyesel deh ngikutin kamuuu," tangan Runa nyubit keras lengan gempal Ffandra, yang dicubil cuman cengesaan.
" Haaiii turun, cuman sibuk mesra mesranan saja," tangan Dani membuka pintu dekat Ffandra duduk.
" Iya iya Dan, sabar donk, tadi punggungku gatal, minta tolong di garuk dulu."
" Paling kakak cuman modus sama Mba."
" Tuh Danis juga tahu isi otakmu Ffand," tonyor Runa, Ffandra terus turun demikian Aruna, Ffandra tak mau jauh darinya, ia memegang telapak tangan Runa kenceng setelah lihat yang nyambut kedatangannya Davka.
" Kok cowok itu bersama cewek Arine, ahh bukan Arine tadi juga bersamaku sekarang lagi bantu Mamanya di dalam nyiapin minuman, atau kembarannya?" Davka berkali kali pegang kening, terus mengacak jambul di kepala.
" Woooi, sobat jangan bengong lihat cewek," sengol Dani, Davka wajahnya sampai memerah dengar ucapan Dani, Ffandra juga lihat Davka matanya melotot tajam.
" Haaiii, ngapain kamu lihat lihat cewekku," tangan Ffandra diangkat, ia ingin nampar wajah memerah Davka, Dani cepat cepat menangkap tangan Ffandra.
" Sudah, tenang dulu Ffand, jangan main tampar di rumah orang."
" Tapi Dan, aku kesal, dia ini yang dulu menendang sepedaku sampai kami terjungkal, untung kami terjerembab ke pinggir, lha kalau di tengah kami berdua sudah bablas donk, abis dibelakang ada mobil," sedang Runa melingkarkan kedua tangan ke pinggang Ffandra sambil menyenderkan kepala dipunggungnya.
" Ffand, kita malu donk, ini di rumah orang,"Arine, Juna, Alissa, dan kedua orang tua keluar setelah mendengar keributan di luar, mereka mendekat maka Aruna melepas pelukan ke Ffandra, dan Ffandra tak berkedip memandang Arine.
" Kok mirip Aruna!" tubuhnya sempat mundur selangkah ke belakang, sampai kaki Runa keinjak karena ia masih di belakangnya ketutup tubuh Ffandra, Dani, juga Danis yang sengaja menutupi wajah Runa biar keluarga Arine tak lihat dulu.
Dani, Danis yang sudah bersekongkol sejak pertemuan di pemancingan agar jangan cerita tentang kemiripan Arine dan Aruna tak bisa lama lama menutupi Aruna yang dibelakang Ffandra, karena mereka harus berjabat tangan satu satu, Alissa, Juna, Hardiansya, Kiara terkejut saat berjabat tangan dengan Aruna, semua berguman dihati tentang miripnya Aruna sama Arine.
Dani dan rombongan dipersilahkan masuk ke ruang tamu yang sudah lengkap di meja penuh dengan cemilan sama buah hasil kebun.
" Run, tas plastik di mobil enggak ke bawa, diambil yuk," bisik Ffandra ditelinganya, Aruna bangkit sambil membungkukkan badan pada tuan rumah yang tak berkedip menatap dari ujung kepala sampai ujung kaki, Ffandra ikut juga dibelakang Aruna untuk membuka pintu mobil pakai remote, karena agak berat bawaannya makanya yang bawa ke ruang tamu akhirnya Ffandra.
" Run, di bawa ke dalam mungkin," Runa nurut perintah Ffandra.
Aruna sama Ferdi dan Mia, di mulai dgn keakraban sm Jono dan isah, juga Ffamdra, sehingga hati nya sudah tertata, bahkan sebelum ketemu Juna sama Alissa, Aruna tidak tahu kalau mereka masih saudara.