NovelToon NovelToon
AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG AKAN MEMENJARAKAN AYAHKU

AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG AKAN MEMENJARAKAN AYAHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seranovelle

Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19 - Pengkhianatan yang Paling Dekat

Ruangan tunggu rumah sakit mendadak terasa sesak.

Tatapan Alea terpaku pada foto di tangan Adrian.

Pria berusia sekitar lima puluh tahun yang berdiri di samping Arga itu tidak mungkin ia salah kenali.

Om Surya.

Sahabat ayahnya sejak masih merintis usaha dari nol.

Orang yang hampir setiap akhir pekan datang ke rumah mereka.

Orang yang selalu membawakan cokelat kesukaan Alea ketika ia masih kecil.

"Ini... pasti ada penjelasannya."

Suara Alea terdengar pelan, lebih seperti mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Raka tidak langsung menanggapi.

Ia mengambil foto itu dan memperbesarnya.

Tanggal di sudut kanan bawah membuat alisnya berkerut.

"Dua minggu sebelum dana perusahaan hilang."

Adrian mengangguk.

"Itu hasil pemulihan dari ponsel Arga."

"Bukan hasil editan."

Alea menarik napas dalam-dalam.

Dadanya terasa sesak.

Kalau Om Surya benar-benar terlibat...

Berarti pengkhianatan itu sudah dimulai jauh sebelum Arga menghilang.

---

"Ayah belum boleh tahu."

Alea memecah keheningan.

Raka menoleh.

"Kita belum punya bukti yang cukup."

"Kalau sekarang Ayah melihat foto ini..."

"...beliau pasti hancur."

Raka memahami kekhawatiran itu.

Pram selama ini selalu menganggap Surya sebagai saudara.

Mereka membangun perusahaan bersama sejak awal, meski akhirnya Surya memilih membuka usaha sendiri.

Hubungan mereka tidak pernah benar-benar putus.

Justru karena itu...

Kalau dugaan ini benar, luka yang ditinggalkan akan jauh lebih dalam.

"Aku setuju," kata Raka.

"Kita cari bukti lain dulu."

---

Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruang ICU.

"Pasien sudah lebih stabil."

"Tapi hanya satu orang yang boleh masuk selama lima menit."

Adrian memandang Alea.

"Kamu siap?"

Alea menggenggam tali tasnya.

Entah siap atau tidak, ia harus menghadapi kenyataan.

"Aku masuk."

---

Arga tampak jauh lebih sadar dibanding beberapa jam sebelumnya.

Meski wajahnya masih pucat, matanya sudah bisa mengikuti setiap gerakan Alea.

Begitu Alea berdiri di samping ranjang, Arga menundukkan kepala.

"Aku tidak pantas meminta maaf."

Kalimat pertamanya membuat Alea terdiam.

"Aku juga tidak datang untuk memaafkanmu."

Suara Alea tenang.

"Aku hanya ingin tahu... kenapa."

Arga memejamkan mata.

"Awalnya..."

"...aku hanya ingin cepat sukses."

"Aku ingin bisa menikahimu tanpa merasa rendah diri."

Alea tidak menyela.

"Dimas mendatangiku."

"Dia bilang ada proyek investasi."

"Hanya memindahkan dana beberapa hari."

"Setelah itu uang dikembalikan."

"Aku percaya."

"Ternyata?"

"Itu jebakan."

Arga mengangguk lemah.

"Saat aku sadar, semuanya sudah terlambat."

"Mereka merekam semua pertemuanku."

"Kalau aku mundur..."

"...mereka mengancam akan mencelakai keluargaku."

Alea menggenggam ujung selimut.

"Termasuk menyuruhmu kabur di hari pernikahan?"

Air mata Arga jatuh.

"Tidak."

"Saat itu..."

"Aku memang pengecut."

"Aku memilih lari."

"Bukan demi mereka."

"Tapi karena aku takut melihat wajahmu."

Ruangan kembali sunyi.

Untuk pertama kalinya, Arga mengakui kesalahannya tanpa mencari alasan.

---

"Ada satu hal lagi."

Arga berbicara pelan.

"Jangan percaya siapa pun yang pernah memegang keuangan perusahaan."

Alea mengernyit.

"Maksudmu?"

Arga menggeleng pelan.

"Aku tidak tahu siapa."

"Tapi..."

"Aku pernah mendengar Dimas berkata..."

Suara Arga melemah.

"'Orang kita masih bekerja di dalam perusahaan.'"

Alea membelalak.

Berarti...

Pengkhianat itu mungkin masih aktif sampai sekarang.

---

Di luar ruang ICU, Raka menerima telepon.

"Ya."

Suara di seberang adalah Adrian yang baru saja turun ke ruang forensik.

"Kami berhasil melacak asal kunci loker nomor 317."

"Di mana?"

"Stasiun Kereta Sentral."

"Loker penyimpanan otomatis."

Raka langsung berdiri.

"Sudah dibuka?"

"Belum."

"Kami menunggu kamu."

Raka menoleh ke arah pintu ICU.

Di dalam, Alea masih berbicara dengan Arga.

Ia ragu meninggalkannya.

Namun firasatnya mengatakan isi loker itu sangat penting.

Saat itulah Alea keluar dari ruang ICU.

Matanya sedikit merah, tetapi langkahnya mantap.

"Ada apa?"

Raka tidak ingin menyembunyikan lagi.

"Kunci yang ditemukan di jaket Arga."

"Kami tahu lokernya."

Alea langsung mengangguk.

"Kita pergi."

"Kamu yakin?"

"Kalau di sana ada jawaban..."

"...aku tidak mau terlambat lagi."

---

Satu jam kemudian...

Mereka tiba di stasiun yang mulai ramai oleh penumpang siang hari.

Adrian sudah menunggu di depan deretan loker otomatis.

Nomor **317** berada di sudut paling ujung.

Raka memasukkan kunci.

**Klik.**

Pintu loker terbuka perlahan.

Di dalam hanya ada sebuah tas kanvas hitam.

Tidak besar.

Namun cukup berat.

Raka mengeluarkannya dan meletakkannya di lantai.

Perlahan ia membuka resleting.

Alea menahan napas.

Di dalam tas itu terdapat beberapa map dokumen...

Sebuah hard disk eksternal...

Dan sebuah amplop cokelat yang bertuliskan tangan.

> **"Untuk Alea. Jangan dibuka kecuali kamu sudah tahu siapa yang mengkhianati Ayahmu."**

Alea memandang tulisan itu dengan jantung berdegup keras.

Tulisan tersebut...

Adalah tulisan tangan ayahnya sendiri.

**Bersambung...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!