Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 - Di Rumah
Adnan mengangguk pelan, lalu berjalan menuju lorong pendek di sisi kanan ruang tamu. "Ayo, aku tunjukkan kamarmu. Rumah ini memang sederhana, tapi setidaknya ada dua kamar tidur yang terpisah, jadi kita punya privasi masing-masing." Ia membuka pintu kayu yang warnanya mulai memudar namun tetap kokoh.
Ruangan itu berukuran cukup pas, ada sebuah tempat tidur tunggal beralas kain polos, lemari kayu tua, dan meja kecil di dekat jendela yang terbuka sedikit membiarkan angin sore masuk. "Semoga kau nyaman di sini. Kalau ada yang kurang atau kasurnya keras, bilang saja ya."
Gladys melangkah masuk perlahan, jemarinya menyentuh pinggiran meja yang halus. Ia menatap sekeliling, terkesan dengan kebersihan dan suasana tenang yang jarang ia temukan selama bertahun-tahun hidupnya dikelilingi ketegangan. "Indah sekali... jauh lebih baik daripada tempat yang kubayangkan. Terima kasih, Ad. Kau terlalu baik padaku."
Adnan tersenyum tipis lalu menutup pintu kembali setengah terbuka agar sirkulasi udara lancar. "Istirahatlah sebentar di sana kalau mau. Aku mau beres-beres barang bawaan kita sebentar."
Sementara Adnan sibuk di ruang depan dan menyusun perlengkapan di kamarnya sendiri, Gladys berjalan pelan menyusuri setiap sudut rumah itu. Ia mengagumi tata letak yang sederhana namun hangat, penuh sentuhan pribadi yang membuatnya terasa betah.
Hatinya dipenuhi rasa syukur yang mendalam, bagaimana mungkin seseorang yang baru ia kenal sebegitu baiknya berani menolong orang yang penuh masalah seperti dirinya? Tanpa sadar dia menuju dapur yang bersih dan rapi. Ia membuka pintu kulkas dan melihat ada bahan-bahan segar, sayuran, telur, sedikit daging, dan bumbu dapur yang lengkap. Sebuah ide muncul, dia ingin membalas kebaikan itu dengan hal kecil yang bisa ia lakukan.
Segera ia bergerak lincah. Ia mencuci tangan, menyiapkan talenan dan pisau, lalu mulai mengupas dan memotong dengan cekatan. Dapur itu perlahan dipenuhi aroma masakan yang menggugah selera. Suara pisau yang beradu pelan dan bunyi wajan di atas kompor menjadi melodi damai yang baru baginya.
Tak lama kemudian, Adnan muncul di ambang pintu dapur. Ia melihat meja yang mulai tertata rapi dan uap panas yang mengepul harum. "Wah, ternyata kau sibuk di sini. Apa kau butuh bantuan untuk mengangkat atau mengaduk?" Ia melangkah maju hendak meraih sendok besar.
Gladys menoleh cepat sambil tersenyum, tangannya sedikit mengelus keringat di dahi. "Tidak usah, Ad. Sudah hampir selesai. Kau sudah lelah seharian mengurusku dan segala kekacauan ini, lebih baik kau pergi istirahatkan badanmu. Biar aku yang menyelesaikan sisa sedikit ini."
Adnan menatapnya sejenak, melihat ketulusan di mata itu. "Baiklah kalau begitu. Jangan sungkan ya kalau butuh apa-apa." Ia pun berbalik menuju kamar mandi yang terletak di ujung lorong.
Suasana hening sejenak di dapur, hanya suara air dari arah kamar mandi terdengar samar. Gladys mematikan kompor, menata piring dan gelas di meja makan dengan rapi. Hatinya terasa hangat namun ada sedikit kegelisahan yang tak dimengerti. Tak lama kemudian, suara pintu terbuka dan langkah kaki terdengar mendekat.
Saat dia menoleh, napasnya seolah tertahan seketika. Adnan baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah berjatuhan membasahi bahu yang kekar. Tubuhnya yang tegap kini hanya terbalut handuk putih yang dililitkan pas di pinggang.
Air menetes pelan dari ujung rambutnya turun menyusuri leher, ke bahu yang bidang, hingga ke dada yang rata dan berotot. Kulitnya tampak bersih dan segar terkena sisa air, menonjolkan garis-garis otot yang halus namun kuat, pemandangan yang begitu memikat mata Gladys yang tak terbiasa melihat ketampanan yang begitu alami dan jantan.
Darahnya seketika berdesir pelan, wajahnya terasa hangat tiba-tiba. Ia buru-buru memalingkan wajah kembali ke arah piring di meja, berusaha sekuat tenaga menyembunyikan kekaguman dan rasa malu yang tiba-tiba menyerangnya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
'Apa yang terjadi padaku?' batinnya mengomel sendiri. 'Fokuslah, Gladys... Kau harus ingat kau sedang menyamar.'
Padahal Adnan seolah tak menyadari efek penampilannya sama sekali. Ia berjalan santai mendekatinya, langkah kakinya ringan tanpa beban, aroma sabun segar menguar lembut di udara. Ia berdiri tepat di samping Gladys yang masih kaku menahan diri.
"Baunya sangat enak sekali," ucapnya dengan suara rendah dan santai, seolah tak ada yang aneh dengan pakaiannya, atau ketidakberadaannya. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan untuk melihat masakan yang tersaji, bahunya yang lebar hampir menyentuh bahu Gladys. "Kau benar-benar hebat juga ternyata di dapur. Makasih ya sudah menyiapkan ini semua."
Gladys menelan ludah dengan susah payah, memberanikan diri melirik sekilas meski jantungnya seperti mau meledak. "Sama-sama..." jawabnya hampir berbisik, berusaha menjaga suaranya tetap rendah dan stabil sesuai samaran barunya. "Kau... cepat sekali selesai mandinya."
Adnan tersenyum santai, bahkan menoleh tepat ke arah matanya dengan tatapan yang jernih dan polos tanpa curiga sedikit pun. "Iya, aku biasa mandi cepat. Lagipula, aku sudah lapar sekali mencium aroma masakanmu ini."
udah baca Thor novel terbarunya 🔥🔥🔥🔥seru